
Queena mengerjapkan kedua matanya, saat wanita itu merasakan tangannya yang seperti sedang diikat. Queena mencoba menarik tangannya sekali lagi, saat akhirnya Queena menyadari kalau tangannya memang sedang diikat sekarang.
Queena membuka mata dan kembali mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya di sekitar. Setelah sedikit memindai ke sekelilingnya, Queena akhirnya sadar kalau ia masih berada di kamarnya di dalam apartemen Brachon. Dan yang mengikat kedua tangannya semalam memanglah Brachon.
"Brach!" Panggil Queena seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar, berharap Brachon belum pergi dari apartemen dan mungkin pria itu mau bermurah hati untuk melepaskan ikatan di tangan Queena.
"Brachon!" Panggil Queena lagi sedikit putus asa karena kamarnya terlihat sepi dan sepertinya di luar kamar juga sepi. Apa itu artinya Brachon sudah pergi?
Lalu para maid kemana?
"Brach!" Queena berteriak lebih keras dan wanita itu mulai kesal sekarang.
"Brach! Lepaskan ikatanku karena aku lapar sekali!" Teriak Q4lagi mulai frustasi. Tak berselang lama, pintu kamar Queena akhirnya dibuka dari luar, dan terlihat dua maid yang masuk ke kamar.
"Syukurlah!" Seru Queena lega.
Maid segera melepaskan ikatan di tangan Queena. Lalu Queena juga bergegas menarik selimut untuk menutupi tubuh nakednya.
"Brachon kemana?" Tanya Queena menatap bergantian ke arah dua maid di hadapannya.
"Sedang sarapan di bawah, Nona!"
Queena tak menunggu lagi, dan wanita itu segera menyambar gaun tidurnya. Queena masuk ke kamar mandi dengan cepat untuk bersih-bersih ala kadarnya, sebelum ia lanjut keluar kamar. Namun Queena baru membuka pintu, saat tiba-tiba ia sudah menabrak Brachon yang entah sejak kapan berada di depan pintu kamarnya.
"Mau kemana?" Tanya Brachon seraua memindai penampilan Queena, dan ekspresi wajah pria itu seketika berubah tak senang.
"Menemuimu di bawah dan menemanimu sarapan," jawab Queena tanpa raut berdosa.
Brachon langsung berdecak, lalu menarik tangan Queena dan membawanya masuk ke kamar lagi.
"Maid akan membawakan sarapanmu kesini!" Ucap Brachon lantang seolah memberikan kode pada dua maid yang tadi berada di kamar Queena. Dua maid itu langsung keluar dari kamar dan menutup pintu.
"Kenapa kau selalu meninggalkanku setiap kita selesai melakukannya?" Tanya Queena seraya mengusap-usap pergelangan tangannya yang masih terdapat bekas ikatan tadi. Brachon meraih tangan Queena dan memeriksanya sejenak.
"Memangnya kau mau aku bagaimana setelah memakaimu? Memelukmu sampai pagi dan melakukan pillow talk?" Ujar Brachon dengan nada sinis.
"Apa salahnya jika aku berharap?"
"Aku tidak mau selamanya menjadi jal*ngmu!" Sergah Queena blak-blakan yang langsung membuat Brachon menatapnya dengan tajam.
"Baiklah, lupakan saja!" Queena bangkit dari duduknya dan hebdak meninggalkan Brachon. Namun gerakan tangan Brachon begitu sigap dan pria itu sudah mebarik Queena ke pangkuannya lagi.
"Aku mau mandi," ucap Queena seraya menahan wajah Brachon yang hebdak mel*mat bibirnya.
Ya, Queena sampai hafal dengan pergerakan Brachon, saking seringnya mereka melakukan kontak fisik.
"Jangan pernah menolak atau mengelak dariku!" Brachon menyentak kasar tangan Queena yang menghalangi bibirnya. Pria itu lalu mel*mat bibir Queena dengan kasar. Cukup lama mereka berpagutan, hingga kedatangan maid yang mengantar sarapan Queena menghentikan pagutan panas keduanya.
"Kau mau pergi?" Tanya Queena seraya mengambil satu piring berisi sandwich yang disajikan oleh maid.
"Ya!"
"Ke luar kota, mungkin dua hari-"
"Aku boleh ikut?" Tanya Queena tiba-tiba yang sudah mengalungkan kedua tangannya di leher Brachon.
"Aku pergi untuk sebuah urusan penting!" Jawab Brachon tegas
"Tidak sekalian liburan? Kau belum pernah mengajakku liburan." Queena menjeda kalimatnya sejenak.
"Kecuali saat di pulau waktu itu. Tapi aku rasa itu bukan liburan," Cerocos Queena yang hanya membuat Brachon berdecak.
Queena sudah melepaskan lengannya dari leher Brachon dan wanita itu kembali menikmati sandwichnya. Sementara Brachon sudah mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.
"Aku akan mengajak Queen!" Ucap Brachon entah oada siapa di ujung telepon, namun kalimat Brachon sudah cukup untuk membuat Queena menoleh ke arah pria itu dan mengulas senyum.
Brachon sudah menutup lagi teleponnya.
"Kita akan kemana?" Tanya Queena penasaran dan tatapan matanya begitu antusias.
"Kau akan tahu nanti!" Jawab Brachon seperti biasa dan Queena hanya mengendikkan kedua bahunya. Wanita itu lalu lanjut menggigit sandwich-nya.
****
"Wow! Kita akan ke pantai itu nanti?" Tanya Queena saat wanita itu melihat garis pantai yang indah dari jendela pesawat.
"Aku masih ada urusan hari ini. Jadi kau akan di hotel sampai urusanku selesai-
__ADS_1
"Lalu kita akan ke pantai setelahnya!" Sela Queena sok tahu dan Brachon hanya mendengus. Pria itu menyilangkan satu kakinya, lalu meneguk minuman di gelasnya hingga tandas. Sudah terdengar pemberitahuan dari pilot kalau pesawat akan mendarat sebentar lagi. Queena segera mengencangkan sabuk pengaman, dan menyandarkan kepalanya di pundak Brachon.
"Aku boleh shopping selama kau bekerja?" Tanya Queena sedikit berbisik pada Brachon.
"Tidak!" Jawab Brachon tegas dan Queena langsung merengut.
"Aku tidak akan kabur kemana-mana, Brach!"
"Lagipula, aku juga tidak tahu kita bearda di kota mana dan di pulau apa," cebik Queena yang masih berusaha merayu Brachon.
"Dan aku yakin kalau bodyguard-mu pasti ada dimana-mana untuk mengawasiku!" Imbuh Queena lagi.
"Tetap tudak boleh!" Tegas Brachon sekali lagi.
"Kau hanya boleh pergi bersamaku, dan jangan coba-coba kelayapan sendiri saat aku tidak ada!" Brachon memperingatkan sekaligus menuding pada Queena yang masih merengut.
"Kenapa memang? Kau takut aku diculik oleh pria kaya lain lalu dijadikan tawanan,' Seloroh Queena yang langsung membuat Brachon mendelik tajam pada wanita itu.
"Konyol sekali!" Gumam Queena seraya melepaskan sabuk pengaman. Pesawat sudah mendarat dengan sempurna, dan Queena segera turun duluan, mendahului Brachon yang terlihat mendengus.
"Kau sepertinya sudah mulai terpengaruh pada rayuan wanita itu, Brach!" Komentar Vincent yang sejak tadi duduk di kursi belakang dan memperhatikan interaksi antara Brachon dan Queena.
"Aku tak butuh komentarmu!" Desis Brachon yang langsung membuat Vincent mengangkat kedua tangannya. Vincent lalu mengekori Brachon yang sudah turun untuk menyusul Queena yang tadi sudah turun duluan. Wanita itu bahkan sudah duduk manis di dalam mobil yang menjemput Brachon.
"Aku sudah tak sabar untuk segera pergi ke pantai dan menikmati pemandangannya!" Ucao Queena sebelum mobil melaju pergi meninggalkan bandara, lalu menuju ke hotel tempat Queena dan Brachon akan menginap.
****
"Kau melakukan apa di rumah Bagus tempo hari?" Tanya Brachon pada Queena yang sedang tengkurap di atas pasir seraya menggoreskan jarinya ke atas pasir dan menggambar sesuatu.
"Aku pikir kau sudah tahu. Bukankah kau selalu memata-mataiku? Atau mungkin kau juga memasang chip di kepalaku?" Jawab Queena seraya terkekeh dan tentu saja jawaban Queena tersebut langsung membuat ekspresi wajah Brachon berubah.
Dasar pemarah!
"Aku hanya menitipkan surat untuk Barley," ujar Queena akhirnya berkata jujur pada Brachon.
"Bagus tak mengusirmu? Apa akhirnya peia itu percaya kalau kau adalah Queena Alesha Ferdinand?" Tanya Brachon penuh selidik.
"Aku tak akan disini bersamu, kalau memang Mas Bagus percaya kalau aku adalah istrinya!" Jawab Queena blak-blakan seraya memondahkan jarinya ke atas dada Brachon.
"Bisa saja kau kembali padaku karena kau sudah merencanakan sesuatu bersama Bagus untuk melenyapkanku! Meracuni minumanku misalnya! Atau menyuntikkan racun diam-diam ke tubuhku saat aku terlelap!" Tukas Brachon yang sesaat langsung membuat Queena terdiam.
"Tapi perubahan sikapmu sudah menunjukkan semuanya, Queen!" Ucap Brachon lagi yang kembali membuat Queena terdiam.
"Lalu kau mau aku bagaimana? Terus-terusan menjadi Queena yang keras kepala dan menentangmu?"
"Menjadi Queena yang terus-terusan mengendap-endap kabur dari apartemenmu hanya untuk menemui seorang pria yang dulu berstatus sebagai suamiku! Tapi sekarang dia tak pernah lagi percaya kalau aku adalah Queena!"
"Dia sudah menganggap aku mati! Jadu untuk apa aku terus-terusan membujuk dan meyakinkannya!"
"Aku lelah, Brach!".
"Aku lelah dengan semuanya!" Queena meluapkan semua emosinya pada Brachon.
"Jadi jika sekarang aku tiba-tiba bersikap manis padamu, itu semua bukan karena aku ingin melenyapkanmu atau aku punya rencana kotor untukmu!"
"Itu semua aku lakukan karen aku sudah lelah melawanmu!"
"Aku sudah lelah memaki dan mengumpat padamu!" Queena berteriak frustasi pada Brachon.
"Kau yang sudah nengubah hidupku, wajahku, identitasiu, dan semuanya. Kau yang sudah menbuatku jadi seperti ini! Jadi Queen yang kau inginkan!"
"Jadi aku pikir, kenapa aku tak mengikuti saja arus permainanmu, agar kau juga berhenti menyiksaku dan bersikap kasar padaku!" Ujar Queena lagi masih dengan berapi-api
"Aku lelah dengan semua perlakuan kasarmu, Brach!"
"Aku lelah menerima semua siksaanmu!"
"Aku hanya ingin menjadi Queen yang penurut, agar kau juga bisa memperlakukan aku dengan lemah lembut...."
"Meskipun itu semua mustahil!" Queena berdecih lalu tertawa kecil seolah wanita itu sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Kau adalah Brachon yang kejam sejak dulu, jadi mana mungkin kau bersikap lemah lembut dan romantis padaku?" Queena tertawa lagi semakin keras.
"Astaga! Aku sepertinya berkhayal terlalu tinggi!"
"Seorang Brachon Ley bersikap lemah lembut pada wanita tawanannya!" Queena tertawa semakin keras dan Brachon hanya membisu. Namun tatapan pria itu tak sedikitpun beralih dari Queena yang masih terus tertawa.
__ADS_1
Entah wanita itu sedang menertawakan Brachon atau malah ia sedang menertawakan dirinya sendiri?
"Sepertinya angin pantai ini sudah membuat otakku meracau kemana-mana!" Queena bangkit berdiri, lalu meraih kain pantainya, dan melilitkan kain itu di pinggangnya dengan asal.
"Aku akan ke kamar saja dan membuang semua pikiran konyolku, tentang Brachon yang bersikap lemah lembut dan romantis pada Queen!" Queena kembali tergelak sekarang.
"Astaga! Sepertinya aku mulai gila!" Queena tak berhenti bercerocos sendiri, hingga wanita itu meninggalkan Brachon yang tetap di posisinya semula Brachon hanya memperhatikan Queena yang semakin lama semakin jauh dari pantai, hingga akhirnya wanita itu menghilang ke arah resort di tepi pantai, tempat Brachon menyewa kamar untuk dirinya dan Queena.
Brachon tentu saja tak khawatir Queena akan kelayapan kemana-mana, karena seperti biasa, semua pengawal Brachon selalu berjaga di sekitar Queena.
Setelah Queena tak terlihat lagi, Brachon ganti melemparkan pandangannya ke lautan lepas. Kata-kata Queena kembali berkelebat di benak Brachon.
"Kau adalah Brachon yang kejam sejak dulu, jadi mana mungkin kau bersikap lemah lembut dan romantis padaku?"
****
Malam merangkak dengan cepat. Queena baru selesai berendam air hangat, dan wanita itu segera berpakaian dengan santai. Queena lalu menyisir rambutnya, saat kemudian terdengar ketukan di pintu kamarnya.
Mustahil itu Brachon karena pria itu tak pernah mengetuk pintu seumur hidupnya!
Queena akhirnya beranjak dan membuka pintu. Dan benar saja, hanya pelayan yang mengantar makanan yang kini berdiri di depan kamar Queena.
"Makan malam anda, Nona!" Ucap pelayan resort seraya masuk ke dalam, lalu meletakkan makanan Queena di atas meja.
"Hanya satu porsi?" Tanya Queena memastikan.
Karena biasanya pelayan selalu membawakan dua porsi makan malam untuk Queena dan Brachon. Tapi entahlah malam ini.
"Sesuai pesanan Tuan Ley," ujar pelayan yang hanya membuat Queena mengangguk.
Jelas sudah!
Brachon tak akan ke kamar Queena malam ini dan itu artinya Queena bebas dari tugasnya sebagai jal*ng malam ini.
Melegakan sekali!
"Terima kasih susah mengantar makan malamku," ucap Queena akhirnya pada pelayan sebelum wanita itu menutup pintu kamarnya. Queena lanjut menyisir rambut, sebelum wanita itu menikmati makan malamnya.
****
Brachon benar-benar tak mendatangi Queena ke kamar semalam. Dan Queena bisa menikmati tidurnya yang nyenyak, hingga wanita itu terlihat segar saat bangun keesokan paginya. Queena juga mandi pagi-pagi sekali karena ia berniat untuk sarapan di restorant yang ada di resort saja, alih-alih menikmati sarapan yang biasanya dibawakan oleh oelayan ke kamarnya.
Queena ingin suasana yang berbeda!
Aroma dari roti bawang sudah langsung menusuk hidung Queena yang baru keluar dari kamar mandi. Queena buru-buru memeriksa meja tempat oelayan biasa meletakkan sarapannya.
Dan, benar saja!
Sudah ada sarapan Queena di dalam kamar.
"Ck!" Queena berdecak kesal, lalu melempar handuknya ke atas ranjang, saat kemudian wanita itu menyadari kalau ada sesuatu di atas tempat tidur.
Sebuah kotak dengan pita besar di atasnya!
Apa itu sebuah hadiah?
Queena menghampiri kotak hadiah tersebut, lalu membukanya. Ada sebuah gaun berbahan sifon warna putih. Selain itu, ada sepucuk surat juga di dalamnya.
"Jemputan akan datang jam delapan. Pakai baju ini dan jangan lupa makan sarapanmu!"
-Brachon-
Queena tersenyum tipis lalu menempelkan gaun putih tadi di tubuhnya. Wanita itu sedikit mematutnya di depan kaca.
"Aku penasaran dengan kejutan yang kau siapkan kali ini!" Gumam Queena sebelum wanita itu menanggalkan bathrobe-nya lalu memakai gaun putih pemberian Brachon tadi.
.
.
.
Ada kesalahan di bab 51-52 dan sudah berusaha saya benarkan tapi terus kena tolak oleh pihak
PF.
Jadi untuk bab 51-53 saya jadikan satu disini.
__ADS_1
Mohon maaf susah membuat bingung
Terima kasih yang sudah mampir.