QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
PIL APA?


__ADS_3

"Ini pil kontrasepsimu!" Dokter pribadi Brachon menyodorkan botol polos berisi sejumlah pil pada Queena.


"Kenapa bukan suntikan seperti biasanya?" Tanya Queena mengajukan protes.


"Brachon yang memintanya."


"Dan pastikan kau rutin meminumnya setiap hari!" Pesan dokter itu lagi sebelum ia pamit dan meninggalkan Queena yang masih menggoyang-goyangkan botol obat di tangannya. Setelah dokter pergi, Queena membuka botol obat di tangannya tersebut, lalu memeriksa isi di dalamnya.


"Brengsek!" Umpat Queena setelah ia mendapati butiran obat warna pink di dalam botol. Queena tentu hafal obat apa sebenarnya yang tadi diberikan oleh dokter.


Ini bukan pil kontrasepsi!


"Pernahkah terbersit di pikiranmu, tentang sebuah pernikahan, Brach?" Tanya Queena suatu hari pada Brachon setelah mereka sekesai sarapan.


"Tidak!" Jawab Brachon tegas dan lugas.


"Kau tidak ingin membangun sebuah keluarga? Bersama seorang wanita yang mungkin kau cintai?" Cecar Queena lagi semakin penasaran.


"Untuk apa? Ikatan pernikahan hanya akan membuat bisnisku tersendat. Lawan bisnisku akan mengincar wanita yang berstatus sebagai istriku dan itu pasti sangat merepotkan!"


"Lagipula, untuk apa aku menikah, jika setiap malam aku sudah bisa memenuhi kebutuhan ranj*ngku dengan wanita mana saja yang aku inginkan!" Jawab Brachon pongah yang langsung membuat Queena menatap tak percaya pada pria di depannya tersebut.


Hati Brachon yang sedingin es, Bagaimana Queena akan melelehkannya. Jangan sampai rencana Queena berakhir sia-sia nantinya. Queena harus membuat Brachon hancur sehancur-hancurnya saat ia melancarkan misinya!


"Tapi kau tak akan hidup selamanya, Brach!"


"Kau butuh seorang keturunan, seorang anak untuk mewarisi semua bisnis dan kekayaanmu kelak."


"Tidak mungkin kau akan mewariskan semua kekayaanmu pada maid di rumahmu, kan?" Queena sedikit berseloroh di akhir pertanyaannya pada Brachon.


"Ya! Aku juga memikirkan hal itu belakangan ini," jawab Brachon seraya menyeruput kopinya. Pria itu lalu menatap ke arah Queena dengan tatapan aneh.


"Tapi aku sudah tak khawatir, karena aku sudah punya seorang kandidat yang akan mengandung dan melahirkan keturunan dari Brachon Ley!" Lanjut Brachon lagi mempertegas tatapannya pada Queena.


Queena yang seketika langsung paham dengan maksud kata-kata Brachon sontak tertawa sumbang.


"Maaf!"


"Jika yang kau maksud sebagai kandidat itu adalah aku...." Queena kembali tertawa kecil.


"Aku tidak mau melakukannya!" Lanjut Queena lagi menatap tegas pada Brachon.

__ADS_1


"Aku tidak perlu persetujuanmu untuk membuat kau mengandung calon anakku!" Ucap Brachon sinis yang langsung membuat Queena menatap tak percaya pada Brachon. Jika Queena hamil anak Brachon rencana Queena juga hanya akan sia-sia belaka.


"Queen!" Teguran Brachon membuyarkan lamunan Queena. Wanita itu masih memegang botol obat yangvyadi diberikan oleh dokter.


Ya, itu bukan pil kontrasepsi!


Itu adalah asam folat yang pasti sengaja Brachon berikan pada Queena agar pria itu bisa segera menghamili Queena.


"Aku akan menyimpan pil ini di kamar agar tak lupa meminumnya," ujar Queena seraya memamerkan botol berisi asam folat tadi pada Brachon.


"Sebaiknya memang begitu!" Brachon sudah mencerukkan kepakanya di leher Queena, lalu tangan pria itu mengusap perut Queena, entah apa maksudnya.


Satu hal yang pasti, Queena tak akan pernah membiarkan Brachon menanamkan benihnya di dalam perut Queena!


Queena tak sudi mengandung anak dari pria brengsek dan baj*ngan ini!!


"Ngomong-ngomong, kau sudah makan tadi?" Queena menggeliat saat bibir Brachon terus saja menjamah leher dan tengkuknya.


"Belum!"


"Aku belum dapat hidangan pembuka-"


"Ini masih siang, Brach!" Queena menyela kalimat Brachon dengan cepat seraya tertawa kecil.


"Tidak ada yang perlu aku temui hari ini. Dan tak perlu membahas tentang pekerjaanku saat kita sedang berdua!" Ucap Brachon tegas yang langsung membuat Queena mengangguk.


"Baiklah!"


"Aku akan memasak saja untukmu," tukas Queena seraya memaksa Brachon untuk duduk di kursi tinggi yang berada di minibar yang berbatasan langsung dengan dapur.


Queena lalu pergi ke arah kulkas dan dengan cekatan mengambil beberapa bahan untuk membuat masakan sederhana, beef steak.


Setelah hampir tiga puluh menit mengolah aneka bahan di depannya dengan cekatan, Queena akhirnya bisa menyajikan beef steak saus keju kesukaan Brachon.


"Kau membubuhkan racun di dalamnya?" Seloroh Brachon yang langsung membuat Queena tergelak.


"Kau parno sekali! Memangnya darimana aku mendapatkan racun? Sepanjang waktu aku hanya di mansionmu danntidak kemana-mana." Ujar Queena yang hanya membuat Brachon menipiskan bibirnya.


"Aku akan memakannya terlebih dahulu kalau kau tak percaya!" Imbuh Queena lagi seraya memotong daging steak di atas piring. Tepat saat Queena hebdak menyuapkan potongan daging itu ke dalam mulutnya, Brachon tiba-tiba berdehem.


"Kau membuatkan itu untukku. Lalu kenapa kau memakannya sendiri?" Protes Brachon yang langsung membuat Queena tertawa kecil. Queena lalu menyuapkan potongan daging tadi ke mulut Brachon.

__ADS_1


"Bagaimana?" Tanya Queena pada Brachon yang masih mengunyah steak-nya.


"Lumayan!"


"Dan aku mau lagi!" Brachon mengendikkan dagunya ke arah piring dan Queena bergegas menyuapi Brachon lagi.


Setelah beberapa suap, barulah Brachon ganti menyuapi Queena dan menyuruh wanita itu mencicipi masakannya sendiri.


"Iya, enak!" Komentar Queena yang langsung membuat Brachon berdecak.


"Sedang memuji masakan sendiri?" Brachon meraih tisu, lalu menyeka saus kecil yang sedikit meleleh dari sudut bibir Queena.


"Rasanya memang enak! Jadi tak berlebihan jika aku memuji masakanku sendiri!" Ujar Queena mencari pembenaran.


"Kau bisa masak apa lagi?" Tanya Brachon setelah steak di piring habis.


"Kau maunya aku masakkan apa? Aku cepat belajar dan masakanku selalu enak!" Jawab Queena penuh percaya diri. Brachon hanya mengulas senyum tipis.


"Tapi sebaiknya kau tidak usah sering-sering pergi ke dapur!"


"Karena tugasmu hanyalah melayaniku di ranjang!" Bisik Brachon seraya mencondongkan wajahnya ke arah Queena. Pria itu lalu mel*mat bibir Queena sejenak, sebelum bangkit berdiri dan mengangkat telepon karena ponselnya berbunyi.


****


Queena tersentak dan jantungnya nyaris melompat keluar, saat ia mendengar suara pintu kamar yang dibuka. Queena buru-buru menutup botol obat yang diberikan dokter siang tadi.


"Kau sudah minum pil-mu Queen?" Tanya Brachon seraya berjalan menghampiri Queena.


"Aku baru saja akan meminumnya!" Jawab Queena seraya memasukkan satu pil denagn cepat ke dalam mulut, lalu meneguk air putih dari dalam gelas hingga hanya tersisa setengah. Queena lalu menyimpan lagi botol obat tadi ke dalam laci nakas.


"Sudah selesai!" Lapor Queena selanjutnya seraya tersenyum pada Brachon.


Brachon tak berkomentar apapun dan pria itu sudah langsung menciumi tengkuk Queena, serta melakukan gerakan for*play ringan.


Queena akui, kalau Brachon memang tak se-barbar biasanya. Tapi tetap saja ini tak berpengaruh apapun. Queena masih memegang teguh misinya untuk menghancurkan Brachon Ley!


Tak peduli selembut apa perlakuan pria ini padanya, Queena tetap akan menghancurkan Brachon Ley!!


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2