
"Kenapa aku harus membunuhmu, jika aku bisa menjadikan kau mainan yang menyenangkan?"
Queena seketika langsung membeku saat nendengar kalimat yang dilontarkan oleh Brachon. Wanita itu terdiam dan berusaha mencerna kata-kata Brachon barusan.
Mainan?
Menjadikan Queena mainan?
Apa maksud Brachon?
"Buka perbannya sekarang!" Perintah Brachon lantang yang langsung membuyarkan lamunan Queena.
Dokter dan beberapa perawat mendekat ke arah Queena dan sepertinya mereka hendak melakukan sebuah tindakan. Queena hanya diam, seraya menatap tajam pada Brachon yang juga balik menatapnya dengan tajam.
Dokter mulai membuka perban ya g membalut wajah Queena dengan perlahan. Bisa Queena rasakan, rasa nyeri dan perih saat perban terus dibuka perlahan. Sepertinya ada berlapis-lapis perban yang membalut wajah Queena. Semuanya karena perbuatan sadis Brachon waktu itu yang bisa dengan mudahnya menyayatkan pisau ke pipi Queena.
Ya, pria itu memang sadis dan kejam!
Dan Queena tidak akan pasrah begitu saja dengan semua perlakuan kejam Brachon. Queena akan kabut dari kekangan pria itu saat nanti Queena punya kesempatan.
Queena harus bisa lepas dari Brachon Ley, lalu kembali pulang ke keluarga kecilnya. Bersama Mas Bagus dan Barley.
Perban terakhir sudah dilepaskan oleh Dokter bersamaan dengan Brachon yang kini kembali menghampiri Queena. Ingin rasanya Queena menyentuh wajahnya sendiri, namun tangan Queena masih mati rasa dan belum bisa digerakkan.
Ya, Queena masih tak ubahnya seperti wanita lumpuh sekarang.
"Lumayan!" Komentar Brachon seraya tersenyum miring
"Bengkaknya akan berkurang sedikit demi sedikit, Tuan!"
"Lalu wajah Nona Queen akan kembali normal lagi," terang dokter panjang lebar yang sama sekali tak ditanggapi oleh Brachon.
Brachon masih menatap lekat wajah Queena seolah pria itu sedang mengagumi sesuatu.
"Bagus menurutmu, Vin?" Tanya Brachon pada Vincent yang sejak tadi hanya berdiri di sudut ruangan.
"Bagus dan wajahnya sudah tak menjemukan lagi," komentar Vincent, menjawab pertanyaan Brachon.
"Kau dengar itu, Queen? Wajahmu tak lagi menjemukan dan sudah sedikit enak untuk dipandang," ucap Brachon dengan nada serta ekspresi wajah pongah.
"Aku tak butuh komentarmu atau komentar dari asistenmu!"
"Aku hanya ingin kau melepaskanku, Ley!" Teriak Queena dengan nada marah pada Brachon.
__ADS_1
"Dalam mimpimu!" Brachon mengusap bibir Queena, yang sedikit terasa berbeda bagi Queena.
Apa yang sudah dilakukan Brachon pada bibir Queena?
"Kau adalah tawananku, Queen!" Ucap Brachon dengan suara yang dibuat-buat.
"Sekaligus mainanku!" Lanjut Brachon lagi yang sudah ganti menatap tajam pada Queena.
"Jadi, tak usah berharap kalau kau akan bisa lari atau bahkan kabur dari seorang Brachon Ley!" Brachon kembali mengusap bibir Queena, sebelum kemudian pria itu memberikan sebuah kode pada Vincent.
Queena tak tahu kode apa yang diberikan oleh Brachon,karena setelah pria itu mengangkat satu tangannya, Vincent bersama dokter dan beberapa perawat berjalan ke arah pintu kamar perawatan,lalu mereka semua pergi meninggalkan Queen yang kini hanya tinggal berdua bersama Brachon.
Pintu juga bahkan sudah ditutup sekarang.
"Aku dengar, bercinta dengan wanita yang lumpuh itu menyenangkan," bisik Brachon dengan nada sensual, sebelum kemudian pria itu mel*mat bibir Queena dengan cepat. Queena bahkan tak siap untuk mengambil ancang-ancang, hingga akhirnya wanita tiga puluh tahun itu hanya membelalak, lalu mengumpati Brachon.
"Keparat!" Maki Queena kesal.
Namun Brachon sepertinya tak ambil pusing dengan makian serta delikan tajam Queena. Pria itu malah menggulung lengan kemejanya sekarang sembari memindai tubuh Queena yang masih di posisi setengah berbaring. Brachon lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Queena sembari berbisik,
"Apa tanganmu itu bisa menamparku jika aku melakukan-" Brachon kembu mel*mat bibir Queena tanpa aba-aba dan Queena yang tak siap juga tak sempat menghindar.
"Mmmmphh!" Queena mengatupkan erat bibirnya, saat Brachon mulai mencecap bibirnya dengan rakus, lalu berusaha untuk menyusup masuk juga ke dalam bibir Queena.
"Mmmmpphhh!" Queena meronta-ronta dan sekuat tenaga berusaha melepaskan cecapan Brachon di bibirnya.
Ya, Brachon sialan dan mesum!
"Le-pas-" Brachon seolah tak memberikan Queena kesempatan untuk buka suara, karena kini tangan pria itu malah sudah memaksa untuk menangkup wajah Queena yang masih sedikit perih.
"Aaaarrrggghhh!" Queena hanya mampu menjerit dalam hati, karena mulutnya masoh dibungkam oleh Brachon. Tindakan Brachon benar-benar kasar terutama ciuman pria itu di bibir Queena, terkesan seperti seorang drakula yang hendak memangsa korbannya.
"Diam, atau kau mau aku mer*mas bibirmu yang sudah seksi ini, hah?" Brachon sudah ganti menangkup bibir Queena yang rasanya masih sedikit nyeri saat perban dibuka tadi. Lalu ditambah cecapan Brachon yang beringas membuatnya terasa semakin perih saja.
"Lalu kau akan berakhir lagi di atas meja operasi, diperban lagi, dan berada di ruang menjemukan ini lagi!" Brachon berucap penuh emosi pada Queena yang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagus!" Brachon mulai mengendurkan rem*sannya pada bibir Queena. Namun tatapan tajam Brachon masih mengintimidasi Queena yang tentu saja tak merasa gentar.
"Kau akan jadi anak baik?" Lanjut Brachon lagi yang akhirnya melepaskan tangannya dari bibir Queena.
"Baj*ngan keparat!" Maki Queena begitu tangan Brachon tak lagi membungkam mulutnya.
"Kau pikir, aku akan menurut dan pasrah begitu saja menjadi mainanmu?" Queena menatap sengit pada Brachon.
__ADS_1
"Cuih! Jangan harap!" Lanjut Queena lagu seraya meludah ke arab Brachon, meskipun gagal mengenai wajah pria kejam itu.
Dan ekspresi wajah Brachon sekarang benar-benar di luar dugaan, karena pria itu justru tersenyum sembari menatap sinis ke arah Queena. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Brachon, hingga pria itu berbalik lalu keluar dari kamar perawatan Queena.
Tak berselang lama, dokter dan perawat sudah kembali masuk, ditambah ada juga beberapa pria bertubuh tegap yang mengenakan kaus dan celana warna hitam, serta kaca mata hitam juga.
"Kalian mau apa?" Queena berteriak dan meronta-ronta, saat seorang pria berbaju hitam tadi menutupi kepala dan wajah Queena dengan kain hitam.
"Lepaskan aku!'"
"Tolong!! Tolong aku!" Queena menjerit sekuat tenaga, berharap ada seseorang yang mendengar jeritanya.
Ini sebuah rumah sakit, kan?
Jadi pasti ada banyak orang di tempat ini!
Dan salah satu dari mereka pastilah bukan anak buah Brachon Ley!
"Tolong aku!"
"Toloong!!!!" Queena terus berteriak minta tolong hingga wanita itu merasa putus asa.
Kenapa tak ada seorangpun yang mendengar teriakan Queena?
Kenapa tak ada yang menoolong dan menyelamatkan Queena dari Brachon Ley?
Ditengah keputusasaan Queena, wanita itu tiba-tiba merasakan ada seseorang yang sedang mencabut jarum infus dari tangannya. Queena menoleh ke sisi kanan, dimana rasa itu berasal, meskipun Queena tak bisa melihat apapun karena kain hitam sialan yang kini menutupi wajah dan kepalanya.
Tapi jika Queena bisa merasakan jarum infus yang dilepas, itu artinya...
Queena tak berpikir panjang lagi, dan segera menggerakkan tangannya di sebelah kiri. Saat itulah, Queena merasakan sebuah benda dingin yang menyentuh kulitnya. Dingin seperti besi....
Queena berusaha mengangkat tangan kirinya, saat kemudian wanita itu sadar kalau tangannya tengah diborgol ke bed perawatan sekarang. Dan tak cukup sampai disitu, tangan kanan Queena yang baru baru lepas dari jarum infus, rupanya ikut dipasangi borgol juga oleh seseorang.
"Dasar keparat!"
"Lepaskan aku!!!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like.