QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
SELAMAT TINGGAL


__ADS_3

Queena terkejut, saat ia yang baru keluar dari kamar mandi mendapati Brachon yang sudah duduk di sofa kamarnya. Padahal tadi pria itu belum ada saat Queena pergi mandi.


"Pagi, Brach! Kau sudah pulang?" Sapa Queena yang bergegas menghampiri Brachon yang sudah mengenakan kemeja pantai serta celana selutut.


"Apa benar, Jeff meneleponmu kemarin?" Tanya Brachon menginterogasi.


"Ya!" Jawab Queena cepat.


"Jeff hanya bertanya, apa aku mual dan muntah disini," imbuh Queena lagi menerangkan pada Brachon yang sepertinya terlihat tak percaya.


"Kau bisa menanyakannya sendiri pada Jeff kalau tidak percaya!" Ujar Queena lagi dengan nada kesal. Wanita itu tak jadi duduk di pangkuan Brachon dan memilih berbalik. Namun Brachon sudah bergerak cepat untuk meraih tangan Queen, lalu menariknya ke pengkuan.


"Mau kemana? Kau belum menyapaku tadi." Brachon menyibak rambut Queena, lalu mencium dan menghirup aroma yang menguar dari tengkuk wanita itu.


"Aku sudah menyapamu!" Sergah Queena dengan nada kesal.


"Lakukan lagi!" Perintah Brachon yang langsung membuat Queena berdecak.


"Oh, kau tidak mau?" Brachon menangkup dagu Queena, lalu menatap tajam pada wanita di pangkuannya tersebut.


"Selamat pagi, Brach! Kau akan mengajakku ke pantai pagi ini?" Ucap Queena yang akhir menyapa Brachon dengan nada merayu. Tentu saja hal itu sukses membuat Brachon menepis bibirnya, lalu mengecup singkat bibir Queena.


"Aku bahkan baru pulang dan kau sudah menagih ke pantai," ujar Brachon seraya berdecak.


"Kau sudah janji kemarin." Queena tetap keras kepala. Wanita itu juga sudah bangkit dari atas pangkuan Brachon, lalu membuka almari besar di kamarnya.


"Sebaiknya aku memakai gaun pantai atau langsung memakai baju renang, ya?" Queena bertanya pada dirinya sendiri, sembari memindai isi dari almari besar tersebut.


Brachon sudah menyusul berdiri, lalu pria itu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Queena, serta menyusupkan kepalanya di ceruk leher Queena.


"Pakai gaun pantai," bisik Brachon pada Queena. Tangan pria itu lalu terulur ke depan untuk meraih satu gaun pantai berwarna putih dengan motif bunga merah muda yang cukup besar.


"Pilihan yang bagus!" Puji Queena seraya mengambil gaun tadi dari tangan Brachon, lalu melepaskan bathrobe-nya dan memakai gaun tadi di depan Brachon.


"Ayo pergi!" Ajak Queena selanjutnya seraya menarik tangan Brachon dengan penuh semangat. Pasangan itu keliar dari pintu utama villa sembari bergandengan tangan menuju ke arah pantai yang hanya berjarak beberapa meter.


"Kita akan naik ke bukit itu!" Ujar Queena begitu ia dan Brachon tiba di pantai.


"Tidak!" Tolak Brachon tegas.


"Kau sedang mengandung dan-"


"Kau bisa menggendongku ke atas sana!" Potong Queena memberikan solusi.


"Ayolah, Brach! Pemandangan di atas sana begitu indah dan aku ingin melihatnya sekali lagi sebelum kita pulang." Queena sudah memasang raut memohon pada Brachon.

__ADS_1


"Please!" Rayu Queena lagi seraya menggamit lengan Brachon. Pria di sebelah Queena tersebut terlihat menarik nafas panjang.


"Baiklah!" Ucap Brachon akhirnya menyetujui permintaan Queena.


Queena langsung bersorak senang, hingga wanita itu refleks melompat ke dalam pelukan Brachon.


"Pelan-pelan, Queen!"


"Baiklah, maaf!" Ucap Queena seraya mencium bibir Brachon.


"Aku akan jalan saja-"


"Tidak!" Brachon dengan cepat meraih tangan Queena yang hendak berjalan mendahuluinya.


"Jalannya terlalu terjal dan berbahaya!" Brachon menatap tegas pada Queena.


"Baiklah! Gendong aku!" Ucao Queena seraya mengusap wajah Brachon.


Brachon langsung bersimpuh di depan Queena dan meminta wanita itu untuk naik ke punggungnya.


"Kau begitu romantis ternyata," puji Queena setelah wanita itu berada di gendongan Brachon dan mereka mulai menaiki bukit karang di sisi pantai.


Memang ada tangga untuk akses naik ke atas, namun bentuknya lumayan curam dan siapapun yang ingin melaluinya harus berhati-hati.


"Kau tidak lelah menggendongku, Brach?" Tanya Queena setelah Brachon mendaki setengah jalan.


"Kau begitu keras kepala," ujar Brachon lagi yang nafasnya sedikit terengah.


"Tapi kau tak pernah keberatan menuruti semua permintaankuu belakangan ini," pendapat Queena yang sudah menyandarkan kepalanya di pundak Brachon.


"Kau sedang mengandung calon anakku," ujar Brachon beralasan.


"Apa kau juga mulai mencintaiku sekarang?" Tanya Queena lagi blak-blakan.


"Aku tak perlu mengatakannya," jawab Brachon jual mahal.


"Baiklah, kau memang mencintaiku sekarang!" Queena akhirnya mengungkapkan pendapatnya sendiri. Brachon tak berkomentar apapun, dan pria itu terus melanjutkan langkahnya untuk mendaki. Hingga akhirnya Queena dan Brachon tiba di atas tebing karang.


"Wow!" Queena langsung berdecak kagum saat menatap pada hamparan lautan luas yang nampak jelas dari atas sini.


"Queen!" Brachon menarik tangan Queena dengan cepat, saat wanita itu hebdak mendekat ke tepi tebing.


"Perhatikan langkahmu!" Ucap Brachon memperingatkan dengan sedikit galak.


"Kenapa memang? Kau takut aku jatuh?" Tanya Queena seraya tertawa renyah.

__ADS_1


"Apa kau masih haris menanyakan hal konyol itu?" Sahut Brachon dengan nada ketus. Queena kembali tertawa kecil sebelum kemudian wanita itu merentangkan kedua tangannya dan menghirup dalam-dalam angin pantai yang menerpa wajahnya.


"Seharusnya kau memasang pagar pembatas di atas sini-"


"Aku akan memasangnya besok!" Potong Brachon tegas.


"Bagus!"


"Sekalian pasang lift juga untuk akses naik, agar kau tak kehabisan nafas karena harus menggendongku ke atas," saran Queena lagi seolah sedang mengejek Brachon.


"Aku tidak selemah itu!" Brachon menatap tegas pada Queena yang hanya mengulas senyum tipis. Queena kembali memunggungi Brachon dan menatap birunya hamparan air laut di bawah sana. Wanita itu lalu memejamkan mata dan menikmati suara merdu dari deburan ombak yang menghantam karang.


"Kau menyukai pemandangannya?" Kedua lengan Brachon tiba-tiba sudah melingkar di pinggang Queena.


"Sangat!"


"Aku sangat menyukainya dan mendadak aku ingin punya satu gubuk kecil di atas bukit," jawab Queena seraya mengungkapkan mimpinya pada Brachon.


"Bukit mana yang kau inginkan?" Tanya Brachon cepat yang langsung membuat Queena berbalik dan menatap tak percaya pada pria di hadapannya tersebut.


"Kau akan mengabulkan permintaanku?" Tanya Queena dengan kedua mata yang sudah berbinar.


"Apa kau masih harus bertanya?" Jawab Brachon yang langsung membuat Queena tersenyum lebar.


Queena menatap lekat wajah Brachon sambil perlahan wanita itu bergerak mundur ke belakang dan menjauhi Brachon.


"Queen!" Brachon kembali sigap menarik tangan Queena yang sudah berdiri di bibir tebing.


"Sudah kubilang untuk-" kalimat Brachon terhenti saat tiba-tiba Queena sudah berjinjit dan meraup bibir pria itu. Queena mencecap bibir Brachon dengan agresif, hingga membuat Brachon terhanyut selama beberapa saat.


"Selamat tinggal, Brach! Aku membencimu!" Ucap Queena tiba-tiba setelah wanita itu melepaskan pagutannya pada bibir Brachon.


Dan dalam waktu sepersekian detik, saat Brachon masih berusaha mencerna kalimat terakhir Queena, tiba-tiba tubuh bergaun putih itu sudah melesat cepat dari hadapan Brachon, lalu melompat dari bibir tebing ke arah lautan lepas.


Brachon tertegun untuk beberapa saat, sebelum akhirnya pria itu menyadari apa yang baru saja terjadi. Brachon berlari ke tepi tebing hanya untuk melihat tubuh Queena yang jatuh menghantam dinding tebing, lalu terus jatuh ke bawah dan disambut oleh ombak yang menabrak dinding tebing.


"Queeeen!!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2