
Puas membeli beberapa baju yang sesuai keinginannya, Queena melanjutkan langkahnya untuk berkeliling di dalam mall yang masih menyatu dengan gedung apartemen milik Brachon. Mungin mall ini juga adalah milik Brachon, mengingat adanya logo huruf L di setiap sudutnya.
Queena menghentikan langkahnya di depan toko mainan yang ia lewati. Wanita itu lalu memutuskan masuk ke dalam toko mainan untuk membelikan beberapa mainan untuk Barley. Sesuai saran dari Brachon, Queena akan kembali menemui Barley hari ini dan sedikit membujuk bicah itu dengan mainan dan juga susu mungkin.
Barley suka susu UHT rasa cokelat!
Queena akan membelikan banyak untuk Barley nanti!
Queena langsung menuju ke bagian etalase berbagai jenis mobil mainan. Wanita itu masih memilih-milih mobil-mobilan untuk Barley, saat telinganya tak sengaja menangkap obrolan dari sepasang pasutri yang berada tak jauh dari temoat Queena berdiri. Pasutri itu juga menbawa putra mereka yang seusia dengan Barley.
Ya ampun!
Queena terdiam sebentar dan mengamati keluarga kecil itu. Kedua mata Queena seketika terasa memanas, karena ingat pada keluarga kecilnya yang sekarang berantakan.
Seharusnya Queena dan Mas Bagus sedang mengajak Barley jalan-jalan ke toko mainan juga sekarang. Tapi yang terjadi....
Kenapa hidup tak pernah adil?
"Eh, maaf, Tante!" Celetukan bocah laki-laki yang tadi Queena amati membuyarkan lamunan Queena. Bocah itu memungut mobil mainan yang tak sengaja ia jatuhkan dari rak dan berlari lagi ke arah kedua orangtuanya.
Sementara Queena buru-buru menyeka genangan air mata di pelupuk matanya. Queena lanjut memilih mainan untuk Barley dan kali ini Queena bergerak cepat karena ia tak mau lagi bertemu keluarga kecil lain yang akan membuat hatinya kembali nelangsa.
Selesai memilih mainan, Queena lanjut pergi ke kasir dan tak butuh waktu lama, semua hadiah untuk Barley sudah terbungkus rapi.
Queena siap menemui Barley lagi sekarang!!
****
"Papa buatin susu dulu, ya!" Pamit Bagus seraya bangkit berdiri dan masuk ke dalam rumah. Barley tak menjawab sepatah katapun, dan bocah empat tahun itu hanya fokus memainkan mobilnya.
Ya, sudah satu tahun terakhir Barley kehilangan keceriaannya. Bocah itu tak lagi cerewet dan lebih banyak diam. Sepertinya Barley benar-benar terpukul atas kepergian Queena yang mendadak dan tanpa pamit.
"Barley!" Suara seseorang dari pagar membuat Barley menoleh ke arah pagar, lalu bocah itu memperhatikan pagar dengan seksama.
"Barley, ini mama!" Barley melihat sebuah tangan yang masuk melalui lubang di fiber yang menutupi pagar. Tangan itu meraba-raba untuk mencari kuncian pagar.
"Mama!" Ucap Barley seraya bangkit dari duduknya.
"Mama!" Panggil Barley lagi bersamaan dengan tangan dari luar pagar yang akhirnya berhasil membuka kuncian pagar.
"Mama!" Panggil Barley penuh semangat saat pintu pagar digeser oleh Queena dari luar.
"Barley!" Queena sudah merentangkan kedua tangannya dan siap untuk memeluk Barley, saat tiba-tiba Barley terlihat mematung di tempatnya, dan wajah bkcah itu tak lagi antusias.
__ADS_1
"Barley!" Queena bersimpuh dan hendak memeluk Barley, saat tiba-tiba bocah itu berbalik dan langsung meninggalkan Queena.
"Barley, ini Mama, Sayang! Mama bawa mainan dan susu coklat untuk Barley!" Queena bangkit berdiri dengan cepat lalu mengejar Barley yang sudah masuk ke dalam rumah dan terlihat ketakutan. Tepat di depan pintu, Queena hampir menabrak Bagus yang baru keluar.
"Sedang apa kau disini, Wanita gila?" Bentak Bagus pada Queena yang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mas, aku Queena! Tolong jangan usir aku!"
"Aku hanya ingin memeluk Barley!" Queena berusaha merangsek masuk ke dalam rumah, saat Bagus sudah dengan cepat mencegah.
"Sudah kubilang untuk berhenti mengaku-ngaku sebagai istriku-"
"Aku memang istrimu, Mas!" Teriak Queena lantang.
"Aku Queena, istrimu!" Ulang Queena lagi seraya menatap bersungguh-sungguh pada Bagus.
"Bukan!" Jawab Bagus tegas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau bukan Queena!" Bagus ganti menuding ke arah Queena.
"Pergi kau-" Bagus hendak mengusir Queena, saat kemudian Queena berontak.
"Mas, aku punya bukti kalau aku adalah Queena!" Ucap Queena bersikeras.
"Kau bukan Queena! Jadi tak usah mengarang-"
"Aku punya tanda itu!"
"Aku akan menunjukkan tanda itu!" Queena menyentak cekalan Bagus kemudian wanita itu berbalik, lalu mengangkat blouse yang ia kenakan. Queena memperlihatkan punggungnya pada Bagus yang diam sejenak.
"Mas!"
"Ini tanda lahir?" Tanya Bagus seraya mengusap-usap tahu lalat di punggung Queena yang terasa sedikit menonjol.
"Heem!"
"Udah, jangan dimainin begitu!" Rengek Queena manja.
"Kenapa? Geli?" Goda Bagus yang langsung membuat Queena tersipu.
"Geli dikit kalau yang pegang-pegang Mas Bagus. Tapi kalau aku yang sendiri yang pegang biasa saja, sih." Queena meraba punggungnya dan mencari-cari tahi lalatnya.
"Mmmuuah!" Bagus tiba-tiba sudah mengecup punggung tangan Queena yang masih berada di punggung.
__ADS_1
"I love you!" Bagus mendekap Queena dari belakamg dan senyuman seketika langsung tersungging di bibir Queena.
"I love you too!"
"Kau percaya sekarang, Mas?" Pertanyaan Queena seketika langsung membuyarkan lamunan Bagus.
"Kau bisa saja memalsukannya!" jawab Bagus menuding yang seketika langsung membuat Queena menatap tak percaya pada suaminya tersebut.
"Mas bisa memegangnya, merabanya, dan membuktikannya!"
"Aku Queena, Mas! Kecelakaan itu hanya sebuah skenario palsu yang dibuat okeh seorang pria jahat."
"Brachon Ley...." Queena menatap sungguh-sungguh pada Bagus yang terlihat masih tak percaya.
"Brachon yang sudah mengubah wajahku danembiat skenario palsu tentang kecelakan itu, Mas!" Cicit Queena lagi berusaha menjelaskan pada Bagus yang sama sekali terlihat tak percaya.
Sepertinya penjelasan Queena memang hanya sia-sia belaka.
"Pergi kau dari rumahku dan jangan pernah mengganggu Barley lagi!" Usir Bagus tegas yang langsung membuat Queena berurai airmata.
"Aku Queena, Mas! Aku istrimu!
"Percayalah kepadaku!" Queena bersimpuh dan memohon pada Bagus.
"Kau bukan Queena!"
"Queena sudah meninggal," ucap Bagus sembari beringsut mundur untuk menjauhi Queena.
Disaat bersamaan, pagar depan tiba-tiba dibuka dari luar, yang langsung membuat Queena dan Bagus menoleh bersamaan.
Ada Papi Briel dan Mami Friska yang berdiri di dekat pagar dan menatap bingung je arah Queena yang masih bersimpuh di lantai serta Bagus yang wajahnya terlihat marah.
"Dia siapa, Bagus?" Tanya Papi Briel memicing curiga, saat tiba-tiba Queena sydah bangkit berdiri dan langsung memeluk Papi Briel.
"Papi, ini Queena!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Sistem NT eror dan aku nggak tahu kenapa naskahku bisa ketukar-tukar begitu bab-nya.
Aku udah lapor ke pihak NT dan hari ini baru proses perbaikan. Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanannya🙏🙏