QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
PULANG


__ADS_3

Queena menatap ke arah Brachon, saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan gang yang menuju ke rumah Queena.


Rasanya baru kemarin Queena meninggalkan gang ini untuk mengantarkan pesanan sprei ke seorang konsumen di apartemen pusat kota. Satu kejadian konyol yang malah mengantarkan Queena menjadi tawanan Brachon Ley selama satu setengah tahun lamanya.


Gang ini bahkan belum banyak berubah dan kondisinya masih hampir sama dengan satu setengah tahun lalu saat Queena melewatinya untuk terakhir kali, sebelum dirinya hilang begitu lama.


"Apa kau berubah pikiran?" Pertanyaan Brachon langsung membuyarkan lamunan Queena.


"Tentu saja tidak!" Jawab Queena cepat sembari menatap tegas pada Brachon.


"Aku akan turun sekarang!" Ucap Queena lagi seraya melepaskan sabuk pengamannya. Queena lalu membuka sendiri pintu mobil dan wanita itu langsung memejamkan matanya, seraya menghirup nafas dalam-dalan seperti seorang tahanan yang baru saja menikmati kebebasannya.


Ya,


Queena memang baru saja bebas dari cengkeraman seorang Brachon Ley! Queena sudah benar-benar bebas sekarang.


Queena kembali menatap ke arah Brachon, sebelum wanita itu menutup pintu mobil.


"Selamat tinggal! Aku tak akan pernah menemuimu lagi untuk selamanya!" Ucap Queena sinis pada Brachon yang hanya tersenyum tipis.


"Pintu mansion-ku selalu terbuka untukmu, Queen!" Ucap Brachon yang hanya dijawab Queena dengan bantingan pintu mobil.


Queena lalu berjalan cepat meninggalkan mobil Brachon dan masuk ke dalam gang yang akan mengantarkan dirinya ke rumah keluarga kecilnya.


"Barley, mama pulang!" Gumam Queena yang matanya mulai terasa memanas. Queena sudah semakin tak sabar untuk bertemu dan memeluk sang putra. Lalu menjelaskan tentang semua hal yang sudah menimpanya setahun belakangan.


Queena semakin menoercepat langkahnya, saat gerbang rumah mungilnya sudah terlihat dari kejauhan. Wanita itu bahkan sudah berlari ke arah rumahnya sembari menggumamkan nama Barley berulang kali.


"Barley! Mama pulang!"


"Barley!"


Queena mengulurkan tangannya ke depan dan secepat kilat meraih pagar besi warna putih rumahnya. Merasa tak sabar untuk segera membuka gerbang yang ternyata....


Terkunci!


"Mas Bagus!" Queena menggoyang-goyangkan pagar besi tersebut dan berusaha membukanya namun gagal karena gerbang dikunci dari luar. Sepertinya Barley dan Mas Bagus sedang pergi.


Kekecewaan seketika melingkupi hati Queena. Wanita itu berusaha melongok ke dalam rumaj dan mencari celah kecil dari fiber yang menutup bagian dalam gerbang. Namin rumah juga tampak sepi dan sepertinya memang benar dugaan Queena kalau Barley dan Mas Bagus sedang pergi.


"Ck!" Queena menggoyangkan sekali lagi gerbang besi itu dengan rasa frustasi, saat deru suara motor mendekat ke arahnya.


Queena langsung menoleh saat motor matic warna hitam itu berhenti di depan rumah. Kedua mata Queena seketika membulat sempurna, saat ia melihat siapa yang berada di atas motor matic tadi.


"Barley!"


"Mas Bagus?"


Queena langsung menghampiri Mas Bagus dan Barley yang duduk di atas kursi bonceng dan terlihat kebingungan. Bocah laki-laki itu juga terlihat mengucek-ngucek matanya.


"Barley-" Queena hendak memeluk sang putra saat Mas Bagus dengan cepat mencegah.


"Maaf, anda siapa?" Tanya Bagus yang sudah dengan cepat turun dari atas motor, lalu mengambil Barley dari kursi bonceng san menggendongnya.

__ADS_1


"Mas, aku Queena!" Ucap Queena seraya menatap ke dalam wajah Bagus yang terlihat kebingungan.


"Jangan bercanda!"


"Tapi aku istrimu, Mas! Bagaimana kau bisa lupa?" Queena sudah ganti berteriak pada Bagus.


Berteriak frustasi lebih tepatnya!


Lagipula, bgaimana Mas Bagus bisa lupa pada Queena?


Queena baru pergi selama setahun!


Apa suami Queena ini amnesia?


"Jangan bercanda!"


"Queena sudah meninggal satu tahun lalu-" suara Bagus tercekat dan wajah pria itu mendadak berubah sendu. Sementara Barley malah sudah menyembunyikan wajahnya di pelukan sang papa.


"Aku masih hidup, Mas!"


"Aku belum mati!"


"Apa aku lupa padaku? Aku Queena, Mas! Aku Queena!" Queena terus berteriak-teriak pada Bagus yang kinj menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukan!"


"Kau bukan Queena!" Ucap Bagus tegas.


"Kau bukan Queena!" Potong Bagus membentak.


"Tidak usah mengarang cerita apalagi sampai mengaku-ngaku!"


"Wajahmu bahkan tak sedikitpun mirip Queena, Wanita gila!" Ucap Bagus yang terasa bagai sambaran petir untuk Queena.


Wanita itu meraba wajahnya sendiri, saat kemudian tatapannya tertumbuk pada motor Bagus. Queena segera menghampiri motor warna hitam tersebut lalu melohat wajahnya di kaca spion motor.


Queena seketika membelalak, saat ia mendapati sebuah wajah asing di kaca spion. Tangannya meraba-raba wajahnya untuk memastikan apa itu benar adalah wajahnya.


Bukan!


Itu bukan wajah Queena!


Lalu itu wajah siapa dan kenapa wajah asing itu menempel di tubuh Queena menggantikan wajah asli Queena yang entah sudah pergi kemana.


"Pergi kau dari sini!" Usir Bagus selanjutnya pada Queena yang masih meratapi wajahnya yang kini sudah berubah menjadi sebuah wajah asing....


Queena bahkan tak lagi mengenali wajah itu....


"Pergi-"


"Mas, aku Queena!" Queena mencengkeram tangan Bagus dengan erat dan memohon pada suaminya tersebut.


"Sudah kubilang untuk tidak mengaku-ngaku!"

__ADS_1


"Aku ingat betul wajah istriku dan kau bukan Queena! Kau bukan istriku!" Siara Bagus terdengar semakin keras, disertai dengan tangis Barley yang tiba-tiba pecah.


"Barley!"


"Barley, ini mama!" Queena ganti memegang tangan Barley, namun baru beberapa saat, Bagus sudah menyentaknya dan tangis Barley terdengar semakin keras.


"Pergi kau, Wanita sinting!" Usir Bagus tegas, sebelum pria itu membuka gerbang rumah lalu membawa Barley masuk ke dalam.


"Mas Bagus!" Panggil Queena yang hebdak menyusul, namun gerakan Bagus untuk menutup gerbang lebih cepat dari gerakan Queena.


"Mas Bagus, buka pintunya! Aku Queena, Mas!" Queena menggedor-gedir pagar besi itu dan berteriak-teriak memanggil Bagus.


"Mas dengerin penjelasanku dulu! Ini aku Queena, Mas!"


"Mas Bagus!" Queena terus berteriak frustasi namun tak ada jawaban apapun dari Bagus maupun Barley.


"Aaarrgggh!" Queena menjambak rambutnya sendiri dan kembali beteriak frustasi. Wanita itu menghampiri motor Bagus lagi untuk melihat wajah asing yang kini menggantikan wajahnya.


"Kenapa...." Queena meraba-raba wajah asingnya.


"Kenapa wajahku berubah begini? Ini wajah siapa?"


"Ini...." Queena meraba-raba wajahnya dengan penuh amarah, saat kemudian ingatannya melayang ke kejadian beberapa bulan kebelakang.


Saat dirinya terbaring di rumah sakit dengan kesakitan di seluruh wajah dan hampir separuh tubuhnya.


Saat dirinya terbaring tak berdaya layaknya orang lumpuh, lalu dokter maupun perawat yang tak pernah memberikannya cermin.


Lalu ingatannya melayang lebih jauh lagi ke malam dimana Brachon menyayatkan pisau tajam ke kedua pipinya....


"Wajahmu tak lagi menjemukan, meskipun saat ini masih terlihat sedikit mengerikan!"


"Bengkaknya akan perlahan berkurang. Lalu setelahnya kau akan pulih."


Kalimat Vincent dan dokter yang menanganinya waktu itu terus berkelebat di benak Queena hingga akhirnya wanita itu menyadari satu hal....


Ini semua adalah perbuatan Brachon!


Brachon yang sudah mengubah wajah Queena menjadi sebuah wajah asing.


Pria baj*ngan keparat!


Queena akan minta penjelasan sekaligus membuat perhitungan pada pria baj*ngan itu sekarang!


"Brachon, kau benar-benar keparat!!!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2