QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
JANGAN MENGUSIKNYA!


__ADS_3

"Hai, Barley!" Sapa Brachon dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil. Barley yang tadinya sedang fokus melihat mobil-mobilan di rak swalayan, sontak langsung menatap takut ke arah Brachon.


Sedangkan Bagus yang memang berdiri tak jauh dari Barley, buru-buru menghampiri sang putra dan membawanya ke dalam gendongan.


"Hai!" Sapa Brachon lagi masih dengan suara yang dibuat-buat.


"Maaf, anda siapa? Dan bagaimana anda bisa tahu nama anak saya?" Tanya Bagus menatap penuh curiga pada Brachon yang langsung mengulas senyuman lebar.


"Anda tidak ingat siapa saya?" Brachon malah balik bertanya pada Bagus yang langsung mengernyit dan tampak mengingat-ingat.


"Kita pernah bertemu beberapa bulan lalu di sebuah swalayan juga," ujar Brachon lagi seolah sedang memberikan clue.


Bagus masih mencoba mengingat-ingat sembari menatap lekat wajah Brachon.


"Anda...."


"Yang waktu itu membelikan Barley mobil-mobilan?" Tebak Bagus akhirnya meskipun terlihat ragu.


"Tepat!" Jawab Brachon seraya mengangguk.


"Astaga!" Bagus menepuk keningnya sendiri.


"Maaf, saya benar-benar tidak ingat, Tuan-"


"Ley!" Ujar Brachon memperkenalkan namanya pada Bagus yang langsung mengernyit.


"Tuan Ley?" Bagus bergumam tak percaya. Mungkin karena nama belakang Brachon dan nama Barley yang terdengar sama.


"Sama seperti nama putramu! Makanya aku selalu mengingat wajah Barley," Brachon sudah mengusap wajah Barley, lalu mencolek dagu bocah itu juga.


"Sebenarnya, dulu mendiang mamanya Barley yang memilih nama Barley," cerita Bagus dengan raut sendu.


"Nama yang bagus!" Puji Brachon yang tangannya masih mengusap-usap dagu Barley yang bentuknya memang serupa dengan milik Queena.


"Mau Om gendong?" Tawar Brachon seraya mengulurkan tangannya ke arah Barley dan memasang raut wajah semanis mungkin. Barley refleks menggeleng, namun Bagus berusaha membujuk sang putra agar mau digendong Brachon sebentar saja.


"Ayo, Barley!" Brachon sudah mengambil alih Barley dari gendongan Bagus.


"Kita beli mobil lagi, ya! Barley mau yang mana?" Tanya Brachon kembali memakai suara kecil yang dibuat-buat.


"Tuan Ley, tidak perlu membelikan mobil-mobilan untuk Barley lagi! Mobil-mobilan Barley sudah banyak," ujar Bagus mencegah Brachon yang kini sedang mengajak Barley untuk memilih mobil-mobilan di rak maianan.


"Tidak apa-apa! Barley sepertinya menyukai yang paling besar," jawab Brachon enteng seraya menunjukkan mobil-mobilan yang berumur lumayan besar yang kini sedang dipegang oleh Barley.


"Astaga! Itu besar sekali, Barley! Beli yang kecil saja!" Bagus hendak mengambil mobil-mobil-mobilan tadi dari tangan Barley, saat kemudian Brachon dengan cepat mencegah.


"Barley menyukainya, Papanya Barley-"


"Bagus." Ucap Bagus cepat memperkenalkan namanya pada Brachon.

__ADS_1


"Ah, iya! Kita tadi belum berkenalan," Brachon tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Bagus.


"Anda tadi sudah menyebutkan nama anda, Tuan Ley-"


"Panggil Ley saja, dan aku juga akan memanggilmu Bagus saja," potong Brachon mencetuskan ide.


"Baiklah, Ley!"


"Tolong jangan terus-terusan membelikan mainan untuk Barley," ucap Bagus dengan nada memohon.


"Kenapa memangnya? Barley menyukai mobil-mobilan dan akh hanya ingin membuat Barley bahagia."


"Barley mengingatkan aku pada adik laki-lakiku yang sudah lama meninggal." Ujar Brachon lagi.


"Aku turut berduka, Ley!" Ucap Bagus merasa prihatin.


"Terima kasih."


"Aku menyayangi adikku, dan Barley benar-benar mengingatkan aku pada mendiang adikku," cerita Brachon panjang lebar.


"Baiklah kalau memang begitu!" Bagus akhirnya memilih untuk mengalah dan memaklumi alasan Brachon memanjakan Barley.


"Kau mau yang ini, Barley?" Tanya Brachon selanjutnya pada Barley yang hanya diam. Namun tangan bocah itu memegang erat mobil-mobilan yang ditunjuk oleh Brachon. Barley juga terlihat mengamati mobil-mobilan tersebut dengan serius sekali.


"Kita akan membelinya!" Ucap Brachon lagi seraya berjalan ke arah kasir. Sementara Bagus memilih untuk mengekori dari belakang.


"Nanti kapan-kapan kita beli mobil-mobilan lagi, ya!" Ujar Brachon pada Barley yang akhirnya mau menjawab meskipun hanya dengan anggukan samar.


"Atau kau mobil sesungguhnya seperti yang ada di sana?" Tanya Brachon lagi sambil tangannya menunjuk ke arah parkiran. Barley sontak menggeleng.


"Ayo, Barley!" Ajak Bagus seraya merentangkan tangannya ke arah Barley. Saat itulah, tiba-tiba Brachon melakukan satu gerakan cepat seolah-olah pria itu hendak melemparkan Barley ke arah Bagus.


"Hah!" Queena terlonjak dan refleks memekikkan nama sang putra,bersamaan dengan video yang tiba-tiba terhenti.


"Barley!"


Brachon yang masih berada di depan Queena dan menunjukkan video dirinya bersama Bagus dan Barley pada Queena, sontak tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau ketakutan seperti itu, Queen?" Olok Brachon pada Queena yang langsung menatapnya dengan sengit.


"Aku tak sungguh-sungguh membanting Barley!" Brachon kembali tergelak dan video kembali berputar.


"Ley-"


"Hanya bercanda!" Ucap Brachon dengan raut wajah tanpa dosa, saat Bagus yang berada di depan Brachon wajahnya sudah pucat dan tampak kaget.


"Bukankah biasanya anak-anak suka dibeginikan?" Brachon lagi-lagi mengayunkan tubuh Barley seolah hendak membanting bocah itu atau melemparkannya pada Bagus. Tapi tak jadi. Dua pria itu akhirat tertawa bersama dan video juga sudah berakhir.


"Keparat kau!" Queena yang emosi langsung mendorong dan memukul dada Brachon.

__ADS_1


"Sudah lihat, kan?"


"Aku bisa membanting atau melempar Barley kapan saja, jika kau terus-terusan berontak!" Desis Brachon seraya mencengkeram tangan Queena yang sejak tadi memukuli dadanya.


"Sudah kubilang untuk tidak mengusik Barley!" Teriak Queena antara marah dan frustasi.


"Kenapa memangnya? Kau tidak mau Barley aku ajak tinggal disini juga?" Brachon sudah meraih dan mencengkeram dagu Queena lagi. Wanita itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tolong jangan usik Barley! Jangan menyakitinya!" Mohon Queena pada Brachon yang langsung tertawa keras hingga kepala pria itu terlontar ke belakang.


"Tidak akan, selama kau mau jadi Queen yang penurut untuk Brachon-"


Brachon menarik tangan Queena dengan kasar, hingga wanita itu terduduk di pangkuannya. Brachon lalu memagut sejenak bibir Queena dan menggelitikinya. Queena sendiri langsung membalas pagutan Brachon, meskipun hatinya tak mau! Hati dan pikiran Queena malah tertuju pada Bagus sekarang. Queena memejamkan mata, dan memilih untuk membayangkan kalau ia kini tengah berpagutan bersama Bagus.


Brachon sudah melepaskan pagutannya pada Queena, lalu pria itu tersenyum puas.


"Aku boleh melihat video Barley tadi lagi?" Tanya Queena sedikit memohon pada Brachon.


"Video yang mana?" Brachon balik bertanya seolah-olah pria itu baru saja amnesia.


"Yang kau tunjukkan padaku tadi, Brach! Yang ada di ponselmu!" Queena mengendikkan dagunya ke ponsel Brachon yang tergeletak di atas meja.


"Ambil ponselnya!" Titah Brachon seray tangannya merem*s gundukan kenyal milik Queena.


Queena yang masih berada di pangkuan Brachon, refleks terlonjak. Brachon langsung menatap tak senang pada wanita di pangkuannya tersebut.


"Maaf," gumam Queena seraya menundukkan wajah. Wanita itu sudah mengambil ponsel Brachon dan memberikannya pada sang empunya.


"Aku boleh melihat videonya lagi, Brach?" Pinta Queena sekali lagi pada Brachon.


"Video yang ini maksudmu?" Brachon yang sudah membuka ponselnya, menunjukkan video pertemuannya dengan Barley dan Bagus tadi.


"Iya," jawab Queena antusias. Namun sedetik kemudian, rasa antusias Queena langsung menguap karena Brachon yang malah menekan menu "delete" di video tadi.


"Jangan dihapus!" Tangan Queena refleks mencegah tindakan Brachon, meskipun akhirnya terlambat dan gagal.


"Ups! Kau terlambat, Queen!" Ejek Brachon yang langsung membuat ekspresi wajah Queena berubah penuh rasa kecewa. Queena memalingkan wajahnya sembari menahan geram dalam hatinya sekarang.


"Kau harus bersiap-siap ke acara sekarang, Queen! Aku sudah menyiapkan baju yang akan kau pakai malam ini!" Bisik Brachon seraya menggigit kecil telinga Queena.


Pria itu lalu bangkit berdiri dan menggendong Queena ala bridal. Lalu membawa wanita tersebut masuk ke dalam kamar.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2