
"Kenapa sedih?" Tanya Bagus suatu hari pada Queena yang terlihat murung.
"Masih negatif. Padahal aku sudah telat dua minggu," curhat Queena seraya menunjukkan sebuah testpack satu garis pada Bagus. Genap tiga tahun sudah Queena dan Bagus kehilangan calon buah hati mereka setelah insiden keguguran yang menimpa Queena.
"Apa kita memang tak pantas menjadi orang tua?" Tanya Queena dengan nada sendu yang langsung membuat Bagus meraup istrinya itu ke dalam pelukan.
"Jangan bilang seperti itu, Queen!"
"Tapi ini sudah tiga tahun lebih, Mas!" Cicit Queena yang sepertinya sedang menahan tangis.
"Iya mungkin kita masih diberi kesempatan untuk honeymoon," ujar Bagus positif thinking. Pria itu mengusap wajah Queena, lalu menangkup wajah sendu tersebut.
"Ngomong-ngomong, aku punya kejutan buat kamu," ucap Bagus yang sudah ganti menyatukan keningnya dengan kening Queena.
"Kejutan apa?"
"Ada pokoknya. Kau siap-siap dulu, nanti baru kita pergi untuk melihat kejutannya." Jawab Bagus yang langsung membuat Queena merengut.
"Nggak ada clue, gitu?"
"Warnanya putih," jawab Bagus seraya terkekeh.
"Apaan warna putih? Clue lain?" Queen mencubit perut bagus dan merasa benar-benar penasaran sekarang.
"Ck nanti kamu lihat sendiri, Sayang!" Bagus menangkup gemas wajah Queena lalu mencium sekilas bibir istrinya tersebut.
"Sekilas saja? Aku belum dapat tamu." Queena mengalungkan kedua lengannya di leher Bagus dan berucap dengan nada menggoda.
"Tapi kemungkinan malam ini atau besok bakal dapat tamu bulanan," lanjut Queena lagi.
"Dada aku sedikit sakit," imbuh Queena lagi seraya membimbing tangan Bagus lalu meletakkannya di dadanya.
"Aku tahu, kau pasti minta aku periksa," tebak Bagus seraya menyusupkan tangannya ke dalam baju Queena.
"Satu ronde saja bisa!" Bisik Queena seraya menarik kepala Bagus, lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Bagus.
Di detik selanjutnya, Queen dan Bagus sudah terlibat dalam pergelutan panas mereka di atas ranjang. Hingga hari menjelang sore, barulah pasangan suami istri itu keluar dari rumah kontrakan mereka seraya mengulas senyum bahagia.
"Kejutannya dimana?" Tanya Queena pada Bagus yang sedang membantu memasangkan tali helm Queena.
"Tidak terlalu jauh," jawab Bagus seraya tersenyum.
"Bisa kita makan dulu sebelum melihat kejutannya. Aku lapar sekali!" Queena mengusap perutnya dan Bagus langsung terkekeh.
"Baiklah! Daripada kau nanti pingsan di jalan," ujar Bagus seraya naik ke atas motor. Queena ikut naik dan langsung melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Bagus.
"Mau makan apa?" Tanya Bagus seraya menghidupkan mesin motor.
"Mie ayam!"
"Siaaap!" Bagus menarik gas dan langsung melajukan motornya ke warung mie ayam favorit Queena.
****
"Ini mau kemana, Mas?" Tanya Queena saat Bagus membelokkan motornya masuk ke sebuah gang.
Pasangan suami istri itu sudah selesai menikmati mie ayam dan hendak melihat kejutan yang sudah dipersiapkan Bagus untuk Queena.
"Melihat kejutanmu!" Jawab Bagus seraya mengusap tangan Queena. Bagis melajukan motornya perlahan di jalanan gang yang tak terlalu lebar tersebut.
"Kok masuk gang begini? Kejutannya apa, sih?" Queena masih merasa penasaran.
Bagus kemudian menghentikan motornya di depan sebuah rumah bercat putih dengan pagar besi warna hitam di depannya.
__ADS_1
"Ini rumah siapa, Mas?" Tanya Queena semakin bingung karena rumah di depannya tersebut tampak sepi.
Bagus tak langsung menjawab, dan pria itu masih sibuk memarkirkan motornya.
"Mas!"
"Apa?" Bagus sudah menghampiri Queena sekarang.
"Ini rumah siapa?" Queena mengulangi pertanyaannya.
"Menurut kamu ini rumah siapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Queena, Bagus malah balik melontarkan pertanyaan pada istrinya tersebut.
"Ck! Orang ditanya malah balik nanya!" Queena berdecak kesal dan Bagus malah ganti terkekeh sekarang.
"Yaudah, ayo kita lihat ini rumah siapa!" Ujar Bagus seraya membuka gembok di pagar.
"Loh! Kok Mas Bagus punya kuncinya?" Queena memicing curiga bersamaan dengan Bagus yang sudah menggeser pagar besi warna hitam tadi. Ada sebuah teras yang langsung menyambut Queena dan Bagus.
"Mas, ini rumah siapa?" Tanya Queena yang mendadak merasa ragu untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Wanita itu hanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling teras.
"Rumah siapa, ya?" Bagus tersenyum aneh dan pria itu sudah ganti membuka pintu depan. Tepat saat Bagus membuka lebar pintu depan, langsung terlihat foto pernikahan Bagus dan Queena di depan pintu masuk.
"Loh! Itu foto kita, Mas-" Suara Queena tercekat di tenggorokan dan wanita itu sudah menatap lekat wajah Bagus.
"Selamat datang di rumah milik kita, Queen!" Ucap Bagus yang langsung membuat Queena kaget tak percaya. Wanita itu menutup mulutnya dengan telapak tangan, sebelum kemudian berlari menghambur ke pelukan Bagus.
"Serius ini rumah kita, Mas?" Tanya Queena yang masih merasa tak percaya.
"Iya!"
"Mungil dan sederhana, tapi setidaknya aku beli dengan cash!" Jawab Bagus sedikit pamer. Queena kembali menghambur ke pelukan sang suami.
"Rumahnya bagus, kok!" Puji Queena begitu bahagia.
"Sangat!" Queena mengangguk-angguk di pelukan Bagus.
"Ayo masuk dan melihat dalamnya!" Ajak Bagus selanjutnya seraya merangkul Queena dan masuk ke dalam rumah, untuk melihat satu per satu ruangan yang ada di dalam rumah mungil tersebut.
****
Bagus menelan ganjalan pahit di tenggorokannya, saat ia membuka pintu pagar besi rumah mungilnya. Bayangan wajah bahagia Queena saat dulu Bagus pertama kali membawa istrinya itu ke rumah ini, kembali berkelebat dan membuat rasa rindu di hati Bagus kembali membubung tinggi.
Sekarang Bagus hanya bisa memeluk erat Barley, saat ia merasa rindu pada Queena.
Benar memang kata pepatah, kalau rindu paling menyakitkan adalah merindukan orang yang sudat tiada.
Rasanya sakit sekali!
"Barley makan dulu, ya!" Bujuk Bagus setelah pria itu menurunkan Barley dan mendudukkan putranya tersebut di sofa ruang depan. Barley langsung meraih satu mobil mainan dari rak dan mengamati mobil tersebut dengan mulut yang terkatup rapat. Keceriaan serta ocehan Barley seolah hilang setelah Queena pergi untuk selamanya. Balita tiga setengah tahun itu kini benar-benar jadi sosok yang pendiam dan jarang bersuara.
Bagus tak berkata apa-apa lagi dan pria tiga puluh delapan tahun tersebut, segera pergi ke dapur untuk mengambil piring, sendok, serta air minum untuk Barley. Tadi sepulang dari makam Queena, Bagus memang mampur sebentar ke restorant cepat saji untuk membeli ayam krispi favorit Barley.
"Ayo makan dulu!" Bagus menyuapi Barley dengan sabat dan pelan-pelan. Meskipun tak sedikitpun bersuara,Barley tetap mau membuka mulut dan mengunyah makanan yang disuapkan oleh Bagus.
Sesekali Bagus juga akan menyuapkan nasi beserta potongan ayam ke mulutnya sendiri.
Ya, sekalipun Bagus tak terlalu berselera, tapi Bagus tetap harus makan dan menjaga kesehatan karena ia masih harus bekerja keras serta merawat Barley. Putra semata wayang Bagus dan Queena ini masih butuh banyak biaya untuk masa depannya kelak.
Bagus pasti akan merawat dan membesarkan Barley dengan penuh kasih sayang, agar Queena juga bahagia di atas sana.
****
Queena mengerjapkan kedua matanya, saat rasa perih terasa menjalar di kedua tangan Queena. Langit-langit ruangan berwarna putih menjemukan langsung menyambut Queena seperti beberapa bulan silam saat dirinya harus terbaring di rumah sakit selama berbulan-bulan.
__ADS_1
Oh, astaga!
Tadinya Queena pikir ia akan langsung mati kehabisan darah setelah ia menyayat kuat nadi di tangannya. Tapu sekarang, Queena malah kembali ke rumah sakit lagi dan menjadi tawanan Brachon Ley lagi.
Kenapa jalan hidup Queena harus seperti ini?
Queena mengangkat tangan kirinya yang terasa begitu nyeri. Pergelangan tandanjya sudah dibalut dengan rapi memakai perban. Sedangkan di tangan kanan Queena, ada jarum infus yang tersambung ke selang, lalu ke kantong berisi cairan bening yang kini tergantung di atas kepala Queena.
"Kau senang sekarang setelah melakukan hal gila yang hampir membuat tanganmu putus?" Suara brengsek dari Brachon sudah langsung menyambut Queena yang baru bangun dari tidur panjangnya.
Ya, pria itu bahkan tak pernah memberikan kesempatan pada Queena untuk menikmati ketenangan, tanpa suaranya yang membuat emosi itu!
"Akan lebih menyenangkan jika aku langsung pergi ke surga, tanpa perlu menatap langit-langit putih menjemukan itu!" Ujar Queena dengan nada sinis, yang langsung berhadiah delikan tajam dari Brachon. Queena langsung membalas delikan Brachon tersebut dengan tatapan tak kalah tajam.
"Bisa berikan aku pisau, gunting atau benda tajam lain untuk menyayat leherku?" Ujar Queena selanjutnya yang langsung mengundang murka dari seorang Brachon.
"Jadi, kau masih berpikir untuk mati dan bunuh diri?"
"Kau tidak mau lagi bertemu dengan Barley atau Bagus?" Brachon menatap tajam pada Queena yang terlihat sedikit goyah.
"Aku bahkan tak punya kesempatan apa-apa lagi dan jika aku hidup, selamanya aku hanya akan menjadi tawanan serta mainanmu!"
"Lebih baik aku mati sekarang saja-"
"Aku berubah pikiran!" Sergah Brachon yang langsung membuat Queena mebatap tajam pada pria di sampingnya tersebut.
"Aku sudah mengambil sebuah keputusan, Queen!" Ujar Brachon lagi. Secercah harapan seolah kembali mencuat di hati Queena.
"Aku akan mengijinkan kau bertemu dengan Barley serta keluargamu, setelah kau memenuhi kesepakatan diantara kita-"
"Kesepakatan apa?" Tanya Queena tak sabar.
"Kesepakatan kalau kau akan melayaniku dengan sepenuh hati tanpa keterpaksaan, tanpa pemberontakan seperti yang sebelumnya kau katakan." Brachon menatap tegas pada Queena seolah sedang mengingatkan wanita itu perihal negosiasi yang diajukan Queena sebelumnya.
"Baiklah aku bersedia! Aku akan melakukan! Rapi setelah aku mebemui putraku-"
"No no no!"
"Tidak semudah itu, Queen!" Brachon tersenyum licik pada Queena dan seketika Queena langsung bisa menangkap niatan jahat dari pria kejam di depannya tersebut.
"Kau haris melakukannya selama enam bulan, sebelum kau nisa bertemu dengan Barley dan Bagus." Brachon menampilka seringai liciknya yang benar-benar membuat Queena ingin mencakar wajah pria kejam tersebut hingga tak berbentuk.
"Kau keparat, Brach!" Desis Queena tajam.
"Itu sudah negosiasi paling bagus yang aku tawarkan! Tapi misalnya kau tidak setuju, aku tak rugi apapun!"
"Kesempatan hanya datang satu kali, Queen!" Bisik Brachon seraya mencondongkan wajahnya ke arah Queena yang langsung menggeram marah.
"Jadi, iya atau tidak?" Tanya Brachon sekali lagi pada Queena yang wajahnya terlihat menahan emosi.
"Hanya enam bulan, kan?" Tanya Queena akhirnya setelah wanita itu sekuat tenaga menguasai emosinya.
"Hanya rnam bulan dan mungkin akan lebih cepat jika kau bisa memberikan aku pelayanan yang memuaskan," ujar Brachon mengiming-imingi.
"Baiklah aku bersedia! Tapi kau jangan ingkar janji atau aku akan menebas leherku sendiri jika kau mengingkari janjimu!" Ancam Queena yang langsung membuat Brachon terkekeh.
"Seorang Brachon tak pernah ingkar janji, Queen!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.