
Queena baru keluar dari kamar mandi, saat dua orang maid sudah menunggunya di dalam kamar.
Ya, setelah sepuluh hari menghabiskan waktu dengan sangat menjemukan di rumah sakit, Queena akhirnya bisa pulang atau lebih tepatnya bisa kembali ke penjara mansion Brachon yang lebih menjemukan ini.
Tapi ini tak akan lama!
Queena hanya perlu menjadi Queen yang diinginkan Brachon selama satu hari lalu setelah itu Brachon akan melepaskan Queena dan membiarkan wanita itu kembali ke keluarga kecilnya. Bersama Barley dan Mas Bagus.
"Kalian sedang apa disini?" Tanya Queena to the point pada dua maid yang masih berdiri di dalam kamarnya.
"Kami mengantarkan gaun yang akan anda kenakan, Nona!" Jawab salah satu maid.
"Tuan Vincent juga meminta kami untuk membantu anda bersiap," timpal maid yang satunya.
"Aku bisa bersiap sendiri!" Tolak Queena cepat seraya duduk di depan meja rias tanpa kaca. Tapi Queena sudah biasa menyisir rambutnya tanpa bantuan kaca. Dan soal merias wajah, Queena sudah lama tak melakukan hal itu.
"Kalian pergilah dari sini!" Usir Queena akhirnya pada dua maid tadi.
"Anda yakin tidak ingin kami bantu-"
"Tidak!" Jawab Queena cepat.
"Pergi!" Usir Queen sekali lagi dan dua maid itu akhirnya keluar dari kamar Queena.
Queena mengambil gaun yang sydah disiapkan oleh maid tadi dari atas ranjang, lalu mengepaskannya ke badan.
"Coba beli baju yang seperti ini satu," ujar Bagus seraya menunjuk ke satu foto baju sexy yang sedang di scroll oleh Queena di sebuah marketplace.
"Untuk?" Tanya Queena pura-pura tak paham.
"Untuk menggodaku!" Jawab Bagus seraya mendekap Queena.
"Aku pakai kaos longgar juga kami sudah tergoda, Mas! Kenapa harus repot-repot pakai baju sexy!" Ujar Queena yang sontak membuat Bagus terkekeh.
"Apalagi kalau pakai kaos longgar tanpa dalaman," timpal Bagus yang langsung membuat Queena berdecak.
__ADS_1
"Mulai!"
"Coba praktekin dulu, aku mau lihat!" Tangan Bagus sudah menyusup ke dalam kaus Queena untuk melepaskan pengait bra istrinya itu.
"Mas!"
"Coba dulu!"
"Ada Barley-"
"Sudah selesai yang mengagumi gaun itu?" Sebuah teguran menyentak lamunan Queena yang sejak tadi masih menge-pas-kan gaun di tubuhnya.
Queena refleks menoleh dan waniat itu langsung berdecak,lalu melemparkan gaunnya kembali ke atas ranjang.
"Aku bahkan tak bisa melohat apa gaun itu pas aku pakai atau tidak!"
"Tidak ada kaca di kamar ini," gerutu Queena yang sudah kembali duduk di depan meja rias dan menyisir rambutnya.
"Tentu saja gaun itu bagus dan pas di tubuhmu! Aku sendiri yang memilihkan gaun itu untukmu!" Ucap Brachon yang sudah menghampiri Queena, lali menurunkan bathrobe Queena di bagian pundak.
Brachon mengecup pundak Queena hingga meninggalkan bekas tanda kemerahan di sana, lalu tangannya juga sigap menarik tali bathrobe wanita tersebut dan Queena hanya menarik nafas jengah.
Queena akhirnya hanya diam dan tak berkomentar apa-apa lagi, saat Brachon mulai melepaskan bathrobe yang ia kenakan, lalu pria itu juga memakaikan gaun ke tubuh Queena.
"Pas, bukan?" Ucap Brachon seraya memindai tubuh Queena dari ujung kaki hingga ujung kepala. Queena tak menjawab sepatah katapun, dan wanita itu segera memakai higheels yang juga sudah disiapkan untuknya.
Setelah semuanya siap, Queena dan Brachon keluar dari kamar bersamaan dan keduanya langsung menuju ke halaman belakang mansion, dimana ada landasan helikopter di sana. Queena sejenak tertegun saat melohat helikopter milik Brachon yang terparkir di atas landasan. Entah kemana Brachon akan membawa Queena setelah ini.
****
"Silahkan, Nona!" Seorang pramugari menyodorkan segelas minuman yang warnanya serupa dengan minuman yang diberikan oleh Brachon, kala ria itu mencekoki Queena dengan obat per*ngsang.
"Aku ingin minuman yang lain," tolak Queena cepat.
"Itu hanya jus apel, Queen!" Sahut Brachon yang duduk berjarak beberapa langkah dari Queena.
__ADS_1
Ya, saat ini Brachon dan Queena memang sedang berada dj dalam sebuah pesawaf pribadi yang entah akan .rmbawa Queena kemana. Tadj helikopter dari mansion Brachon hanya menurunkan Queena dan Brachon di bandara kota. Dan sekarang mereka lanjut naik pesawat pribadi. Sebenarnya Brachon mau membawa Queena kemana?
"Jus apel?" Queena mengernyit dan akhirnya mengambil gelas berkaki panjang tersebut. Queena mengendus aromanya sebentar untuk memastikan, dan benar saja itu memang jus apel.
"Aku tidak suka jus apel! Bisa berikan aku air mineral saja?" Pinta Queena akhirnya seraya menyodorkan gelas berisi jus apel tadi pada pramugari.
"Baik, Nona!"
"Kau mau minuman yang ini?" Tawar Brachon dari kursi depan, seraya menyodorkan minuman di tangannya, yang aroma alkoholnya begitu tajam. Queena langsung menggeleng.
"Cobalah, Queen!" Ucap Brachon lagi dengan nada yang lebih memaksa.
"Aku tidak akan minum alkohol lagi, Brach!" Tolak Queena lebih tegas.
Brachon mendengus, lalu pria itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Queena.
"Minum!" Perintah Brachon tegas, sambil memaksa untuk menyumpalkan minuman dari gelas di tangannya ke mulut Queena.
Queena yang sekuat tenaga menolak, akhirnya terap tak berkutik dan minuman sialan itu langsung terasa membakar tenggorokan Queena. Brachon pun tersenyum puas.
"Kau saat ini adalah Queen yang diinginkan oleh Brachon! Jadi kau tidak bisa menolak apapun yang aku lakukan dan aku perintahkan kepadamu!" Desis Brachon seraya menyatukan keningnya dengan kening Queena.
"Hanya sehari semalam!" Ujar Queena cepat seolaj sedang mengingatkan Brachon tentang perjanjian mereka.
"Sehari semalam setelah kita tiba di tempat tujuan, Queen! Tidak termasuk lamanya perjalanan!" Jawab Brachon enteng sebelum pria itu kembali ke tempat duduknya.
"Tidak bisa begitu, Brach! Kau bahkan tak memberitahuku kau akan membawaku kemana!" Protes Queena yang sudah beranjak dari kursinya dan hebdak menghampiri Brachon. Namun disaat bersamaan lampu peringatan sabuk pengaman malah menyala, dan Queena terpaksa mengurungkan niatnya.
Queena kembali duduk di kursinya dan memasang sabuk pengaman sambil mendengus berulang kali. Wanita itu membuang tatapannya ke jendela pesawat dimana tampak lampu-lampu dari kota di bawah mereka. Sepertinya pesawat akan mendarat sebentar lagi yang itu artinya penderitaan Queena juga akan dimulai sebentar lagi.
Penderitaan karena menjadi tawanan dari seorang Brachon Ley!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.