QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
SIAPA BRACHON LEY?


__ADS_3

"Barley!!" Sapa Mbak Melody saaf Bagus dan Barley baru tiba di jediaman Orlando.


Kakak sepupu Bagus itu langsung memeluk Barley dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sementara Bagus ikut menyusul dan sedikit mengedarkan pandangannya ke kediaman Orlando yang sepi.


"Abang Matthew ada, Mbak?" Tanya Bagus to the point serelah pria itu duduk di sofa. Sementara Barley sudah berada di pangkuan Mbak Melody dan sibuk memakan biskuit yang tadi diberikan okeh Aunty-nya tersebut.


"Ada."


"Matt!" Panggil Mbak Melody tanpa beranjak dari sofa.


"Matt! Ada Bagus!" Panggil Mbak Melody sekali lagi bersamaan dengan Abang Matthew yang akhirnya menampakkan diri.


"Bagus!" Sapa Abang Matthew seraya menepuk punggung Bagus, lalu duduk di samping pria itu.


"Hai, Barley!" Abang Matthew juga menyapa Barley yang masih berada di pangkuan Mbak Melody.


"Bagaimana, pekerjaan lancar?" Tanya Abang Matthew selanjutnya membuka obrolan.


"Lancar, Bang!" Jawab Bagus cepat.


"Ini Bagus juga harus ke luar kota lagi, makanya Bagus mau nitipin Barley disini. Maaf merepotkan," lanjut Barley lagi yang hanya menbuat Abang Matthew dan Mbak Melody tertawa kecil.


"Sama sekali tidak merepotkan, Gus! Barley mau tinggal disini juga boleh, kok! Biar rumah rame," ujar Mbak Melody kemudian.


"Gretha sudah pindah ke rumah suaminya?" Tanya Bagus berbasa-basi. Baru beberapa hari yang lalu, Gretha yang merupakan putri sulung Mbak Melody dan Abang Matthew menggelar pernikahan dadakan karena sebuah kejadian yang tak diinginkan. Tapi sepertinya suami Gretha adalah pria yang baik, meskipun Abang Matthew terlihat kurang menyukainya. Mungkin karena usia Gretha yang masih terbilang belia untuk menikah. Keponakan Bagus itu memang baru delapan belas tahun.


"Gretha dan Sakya tinggal disini dan tak akan pindah kemana-mana," jawab Abang Matthew akhirnya dan Bagus langsung mengangguk.


"Oh, ya Ngomong-ngomong Bagus boleh tanya sesuatu, Bang?" Tanya Bagus selanjutnya langsung pada inti. Ada satu hal yang mengganjal yang ingin segera Bagus ketahui.


"Brachon Ley yang sudah membuat skenario palsu tentang kecelakaan itu!"


"Brachon juga yang sudah mengubah wajahku!"


Kalimat yang dilontarkan oleh wanita yang mengaku sebagai Queena itu kembali berkelebat di benak Bagus.


Siapa Brachon Ley?


Dan kalau memang kata-kata wanita itu benar, apa tujuan Brachon Ley membuat skenario tentang kecelakaan Queena dan mengubah wajah Queena?


"Mau tanya apa?" Jawaban dari Abang Matthew sedikit menyentak lamunan Bagus.


"Abang tahu sesuatu tentang Brachon Ley?" Tanya Bagus to the point dan raut wajah Abang Matthew langsung berubah.


"Kau tidak ada masalah dengan Brachon Ley, kan?" Tanya Abang Matthew tiba-tiba yang langsung membuat Bagus mengernyit


"Abang tahu sesuatu?"


"Brachon Ley, dia terkenal sebagai seorang pengusaha sekaligus pemilik beberapa mall dan tempat hiburan di kota ini. Tapi dibalik itu semua ada juga desas-desus yang nengatakan kalau Brachon punya bisnis gelap."


"Kau tidak sedang terlibat sesuatu dengan Brachon Ley, kan, Bagus? Dia pria yang kejam yang tak segan menghabisi musuh-musuhnya." Abang Matthew menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak! Katakan kalau kau tidak sedang terlibat apapun dengan Brachon Ley!" Ulang Abang Matthew lagi yang langsung membuat Bagus menggeleng.


"Bagus hanya bertanya, Bang! Dan Bagus tak terlibat apapun dengan Brachon Ley," ujar Bagus yang langsung membuat Abang Matthew terlihat menarik nafas lega.


Berbeda dengan Bagus yang kini pikirannya malah bercabang kemana-mana.

__ADS_1


Jika benar yang dikatakan oleh Abang Matthew, apa itu artinya Queena terlibat sesuatu dengan Brachon Ley?


Tapi apa?


Queena bahkan tak pernah menceritakan apapun pada Bagus yang menyangkut tentang Brachon Ley!


Dan rasanya mustahil juga kalau kecelakaan Queena itu adalah hal yang disengaja.


"Barley!"


"Hai Sayang!" Suara Gretha yang sepertinya baru pulang langsung membuyarkan lamunan Bagus.


Bagus segera menyapa keponakannya tersebut sekaligus Sakya yang merupakan suami Gretha.


"Mamanya Barley tidak ikut, Om?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Sakya seketika langsung membuat wajah Bagus berubah muram.


Tapi suami Gretha ini memang belum tahu tentang Queena yang sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu.


"Pak Dokter! Kenapa pertanyaannya itu?" Tegur Gretha cepat yang langsung membuat Sakya mengernyit bingung.


"Tidak apa-apa, Gretha!" Ujar Bagus cepat berusaha menengahi sembari menutupi raut muram-nya.


"Mamanya Barley sudah meninggal satu tahun lalu, Sakya!" Mbak Melody yang akhirnya menjekaskan pada Sakya. Wanita paruh baya itu mengecup puncak kepala Barley berulang-ulang seraya mendekap sang keponakan yang sibuk memakan biskuit di tangannya.


"Oh."


"Maaf, jika pertanyaan Sakya tadi menyinggung hati Om Bagus. Dan Sakya turut berduka," ucap Sakya akhirnya sembari menatap prihatin pada Om Bagus dan juga Barley.


"Tidak apa-apa, Sakya! Kau kan tidak tahu," jawab Bagus lagi berusaha mencairkan suasana.


"Barley jadinya mau nginap disini, Om Bagus?" Tanya Gretha seraya menggoda sang sepupu dengan pura-pura menyodorkan susu kotak, namun menariknya kembali, lalu menyodorkannya kembali.


"Lalu wanita yang kau bicarakan waktu itu, masih suka mengganggu Barley?" Gantian Mbak Melody yang melontarkan pertanyaan.


Kemarin saat pernikahan Gretha dan Sakya, Bagus memang sempat curhat tentang wanita yang mengaku-ngaku sebagai Queena itu pada Mbak Melody.


"Sudah tidak belakangan ini, Mbak!" Jawab Bagus lirih.


Ya, sejak Bagus mengusir wanita itu satu pekan lalu, Bagus memang tak pernah lagi melihatnya datang ke rumah. Semoga seterusnya begitu!


"Syukurlah kalau begitu," ucao Mbak Melody yang terlihat lega dan Bagus hanya tersenyum tipis.


"Aku titip Barley, ya, Mbak! Semoga tidak rewel," pamit Bagus akhirnya setelah ia mengobrol beberapa hal bersama keluarga Orlando. Beruntung Bagus memiliki saudara seperti Mbak Melody dan Abang Matthew yang begitu baik dan menyayangi Barley.


"Tidak akan rewel! Barley selalu betah kalau disini," jawab Mbak Melody meyakinkan Bagus yang hanya mengulas senyum.


Bagus kemudian menghampiri Barley dan menciun putranya itu beberapa kali sebelum dirinya benar-benar pamit dari kediaman Orlando.


"Bye!" Pamit Bagus seraya mengecup kening Barley yang hanya diam tanpa mengoceh apapun. Barley yang ceria masih belum kembali hingga detik ini dan sekali lagi, Bagus hanya bisa bersabar.


****


Queena masih bergeming di atas sofa, saat pintu kamarnya menjeblak terbuka. Brachon masuk ke dalam kamar dengan wajah pongah seperti biasa.


"Tidak menemui putra dan suamimu?" Tanya Brachon dengan nada mencemooh.


Queena tak menjawab dan wanita itu hanya diam membisu, seraya menyandarkan kepalanya di punggung sofa. Queena melempar pandangannya yang kosong ke arah jendela besar di belakang sofa.

__ADS_1


"Aku sedang bertanya padamu, Queen!" Brachon menangkup kasar dagu Queena, kemudian pria itu mencoba tubuhnya dan mel*mat kasar bibir Queena.


"Balas ciumanku!" Desis Brachon pada Queena yang hanya diam seperti patung saat ia ******* bibir wanita itu.


"Aku sedang malas!" Jawab Queena berani sembari memalingkan wajahnya dari Brachon.


"Apa katamu!" Brachon yang naik darah, seketika langsung menindih Queena yang terlihat kaget karena tak siap.


"Tak perlu membuang-buang tenagamu, Brach! Bukankah kau baru sampaj dari perjalanan bisnis panjangmu? Kau juga pasti lelah. Jadi kenapa kau tidak istirahat saja ke kamarmu!" Tukas Queena panjang lebar seraya menatap berani pada Brachon.


"Kau sekarang berani mengaturku?" Brachon menatap Queena dengan tak senang.


"Aku tak sedang mengaturmu! Aku hanya memberikan saran!" Kilah Queena mencari pembenaran.


"Kata maid kau tidak keluar dari kamar selama satu pekan! Kau sudah putus asa meyakinkan Mas Bagus-mu?" Brachon mengalihkan pembicaraan dan Queena seketika langsung mendengus.


"Ya!" Jawab Queena singkat.


"Bisa kau beritahu aku sekarang, kenapa kau mengubah wajahku seperti ini?"


"Apa ada satu sejarah tentang wajah asing yang kini melekat di wajahku? Apa ini wajah seorang wanita yang mungkin sudah menolakmu dan membuatmu patah hati, hingga akhirnya kau nelekatkanmya di wajahku, ahar kau bisa balas dendam dengan cara menyiksaku?"


"Beritahu aku alasanmu karena aku sangat penasaran sekarang!" Tanya Queena dengan berapi-api seolah sedang meluapkan segala emosi yang membuncah di dadanya.


"Itu bukan wajah siapapun!" Jawab Brachon singkat.


"Aku mengubahmu menjadi seperti itu karena wajahmu yang lama sudah rusak dan mengerikan-"


"Kau yang sudah merusaknya!" Potong Queena emosi.


"Kau yang sudah menyayatnya dengan kejam dan menyakitkan!"


"Kau itu sebenarnya manusia atau iblis?" Teriak Queena yang kini sudah berurai airmata.


Habis sudah kesabaran Queena dan sekarang Queena benar-benar putus asa. Semua usaha untuk meyakinkan Mas Bagus sudah Queena lakukan namun suami Queena itu tetap tak percaya.


"Kenapa kau melakukan semua ini, Brach? Kenapa?"


"Aku sudah punya keluarga kecil yang bahagia, dan kau menghancurkan semuanya!"


"Kau menghancurkan semuanya!"


"Dasar iblis! Keparat!" Queena tak berhenti memaki dan mengumpat pada Brachon yang hanya berekspresi datar seolah tak sedikitpun terganggu dengan semua umpatan serta makian dari Queena.


Benar-benar keparat, bukan?


"Jika aku tak mengubah wajahmu, kau pasti akan bisa dengan mudah kabur dariku dan kembali pada suamimu. Lalu aku harus kembali menculikmu dan menghabisi nyawamu karena aku tak suka sebuah pengkhianatan," Brachon berucap sembari membelai wajah Queena dan menyelipkan rambut wanita itu ke belakang telinga.


"Aku tak mau melakukan itu semua. Jadi itulah alasanku mengubah wajahmu menjadi yang aku inginkan."


"Kau adalah Queen-ku dan kau hanya boleh menjadi milikku."


"Menjadi milikku untuk selamanya!"


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2