
"Aaaarrrggghhh!"
"Dasar j*lang keparat!!"
Plak!
Brachon menampar pipi Queena sekuat tenaga, setelah wanita itu menggigit milik Brachon dengan begitu kuat.
Brachon sudah turun dari atas ranjang dan membenarkan celananya. Pria itu lalu ganti menatap penuh amarah pada Queena yang hanya diam, setelah tamparan keras Brachon tadi.
"Hhhh!" Brachon tersenyum sinis, sebelum kemudian pria itu mengeluarkan ponselnya dan tampak menelepon seseorang.
"Bawa sekarang ke kamar Queen!" Perintah Brachon entah pada siapa di ujung telepon.
Tapi, apa yang diminta oleh Brachon untuk dibawa ke kamar Queena?
Beragam pertanyaan langsung menenuhi benak Queena. Namun wanita itu sekuat tenaga menahan ekspresi wajahnya dan pura-pura untuk tak penasaran.
Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dari luar. Brachon melangkah cepat ke arah pintu untuk membuka pintu sekaligus menjemput sesuatu yang pria itu pesan dari luar kamar.
Namun alangkah terkejutnya Queena, saat wanita itu melihat Brachon yang sudah kembali masuk ke kamar, bersama seorang wanita bertubuh tinggi ramping. Wanita itu menatap sinis pada Queena, sebelum kemudian merangkulkan kedua lengannya di leher Brachon dengan penuh gairah.
"Kenapa memelihara wanita jelek seperti itu, Brach?" Tanya wanita yang dibawa Brachon tadi to the point. Tentu saja Queena langsung paham dengan wanita jelek yang dimaksud oleh wanita berambut kemerahan tersebut.
Ya, itu adalah Queena!
Queena refleks melempar tatapan sengit pada wanita genit yang masih bergelayut pada Brachon tersebut.
"Ada apa menatapku seperti itu?" Sungut wanita genit itu, sebelum kemudian bibirnya ditangkup oleh Brachon, lalu dir*mas dengan sedikit kasar.
"Kau kesini untuk melakukan pekerjaanmu, Joice!" Desis Brachon tajam, sebelum kemudian pria itu mendorong kasar tubuh Joice hingga jatuh ke sofa. Brachon sudah kembali mengendurkan sabuk celananya, lalu menghampiri Joice yang sedang tersenyum menggoda ke arah Brachon.
Dan demi apapun!
Queena benar-benar tak mau melihat apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Joice dan Brachon.
Queena buru-buru memalingkan wajahnya serta membuang tatapannya kemana saja, asal bukan ke arah Brachon Ley dan juga wanita murahan yang kini tengah bersamanya.
"Sebentar!" Brachon yang sudah sempat mencecap sekilas bibir Joice, mendadak bangkit berdiri lagi, lalu menghampiri ranjang Queena. Ekspresi wajah Queena masih sama. Antara marah, kesal, dan mungkin ingin mendorong Brachon ke tengah laut sekarang.
"Kau harus menyaksikan pertunjukan bagus ini, Queen!" Brachon menangkup wajah Queena dengan satu tangannya
"Singkirkan tanganmu dari wajahku!" Desis Queena tajam tanpa rasa gentar sedikitpun.
__ADS_1
"Kenapa memang, hah?"
"Kenapa? Apa kau merasa cantik dan sempurna sekarang?" Brachon balik membentak Queena dan kini dua orang itu saling menatap dengan sengit.
"Aku punya sedikit ide menarik, Queen!" Brachon tiba-tiba sudah ganti tersenyum licik pada Queena. Pria itu melepaskan tangannya dari wajah Queena, lalu menghampiri satu meja yang ada di kamar Queena. Brachon membuka meja tersebut dengan password, lalu saat laci terbuka....
Brachon tersenyum simpul dan mengambil beberapa pisau dari dalam laci.
"Kau akan menghabisi wanita jelek itu sekarang, Brach?" Tanya Joice yang langsung berhadiah delikan tajam dari Brachon.
Entah sebenarnya ada apa dengan pria psikopat bernama Brachon Ley itu!
"Aku hanya-"
"Aku tidak suka kau tanyai seperti itu!" Bentak Brachon memotong kalimat Joice dan wanita itu langsung diam seribu bahasa.
Brachon sendiri sudah membawa pisau-pisau ditangannya tadi mendekat ke arah Queena.
"Aku mau kau memakai pisau yang paling besar, lalu potong saja leherku sampai putus!" Ucap Queena seraya mendelik pada Brachon.
"Maksudmu yang ini?" Brachon menunjukkan satu pisau paling besar yang ia bawa.
Queena menelan saliva sejenak, sebelum akhirnya wanita itu mengiyakan. Queena sudah putus asa sekarang, dan jika ini satu-satunya jalan agar Queena bisa lepas dari Brachon serta tak jadi mainan pria psikopat ini lagi, maka Queena akan pasrah saja.
"Maaf, Barley. Maaf, Mas Bagus." Gumam Queena dalam hati.
Dinginnya pisau tersebut sangat bisa Queena rasakan, saat Brachon menggesekkannya langsung di beberapa bagian kulit Queena.
"Bagusnya aku menyayatkan benda ini dimana, Queen?" Tanya Brachon lagi masih sambil menggesek-gesekkan pisau tadi di atas perut Queena.
"Kenapa tidak di leher saja? Atau di dada tepat di depan jantung," jawab Queena seraya menahan nafas
"Di dada?" Brachon menggerakkan pisau tadi ke bagian dada Queena atau lebih tepatnya ke bagian gundukan yang ada di dada wanita tersebut.
"Maksudmu di sebelah sini?" Tepat di puncak gundukan Queena, Brachon menggesekkan pisau yang berkilat tersebut, menimbulkan sensasi serta gelenyar aneh yang merasuki setiap sumsum darah Queena.
Tidak!
Queena harus menahannya dan Queena sangat tidak mau bergairah di depan pria kejam dan gila bernama Brachon Ley ini!
"Seperti ini!" Brachon masih terus menggesekkan pisau tadi dan sepertinya sengaja memancing Queena yang sudah memalingkan wajahnya. Queena sedikit menggeliat dan wanita itu sudah mulai menggigit bibirnya.
Sial sekali!
__ADS_1
"Kau terlihat bergairah, Queen!" Ejek Brachon yang langsung membuat Queena berdecih sombong.
"Sama sekali tidak!" Jawab Queena membantah.
"Oh, ya?" Brachon mempercepat gerakan pisaunya di puncak dada Queena, hingga akhirnya wanita itu terlihat mulai gelisah dan intens menggeliat. Brachon tentu saja langsung tertawa puas melihat reaksi Queena tersebut.
"Keparat...."
"Kau...."
"Ley!" Terengah-engah Queena memaki Brachon yang kini tawanya semakin terdengar menggelegar.
"Kau butuh pelampiasan sekarang, Queen?" Tanya Brachon dengan nada mengejek seperti biasa.
"Tidak!" Jawab Queena yang langsung menyalak pada Brachon.
"Oh, baiklah! Aku juga malas melakukannya bersamamu malam ini!" Brachon sudah ganti tersenyum sinis pada Queena yang seperti tak menghiraukan Brachon.
"Berhentilah membuang wajahmu mulai sekarang, Queena!" Brachon kembali mengambil pisau-pisau yang ada di atas nakas, lalu dengan tanpa perasaan, Brachon menancapkan pisau-pisau tersebut di atas kasur, tepat di samping kanan wajah dan kepala Queena. Kini wajah Queena seolah sudah terkunci dan hanya bisa menoleh ke sebelah kiri saja, dimana ada sofa tempat Joice duduk.
"Coba saja untuk berpaling sedikit, atau mengubah posisi kepalamu sedikit!"
"Pisau yang tajam ini akan langsung menggores wajahmu, lalu kau akan mati perlahan karena kehabisan darah." Brachon menangkup dagu Queena dan mengusapnya dengan usapan kasar.
"Atau kalau aku sedang baik hati, maka kau akan berakhir lagi di meja operasi, lalu...." Brachon menatap licik pada Queena seolah mengingatkan Queena perihal kesakitan Queena selama beberapa bulan terbaring di rumah sakit akibat operasi pemulihan di wajahnya.
Ya, rasanya sakit sekali dan seumur hidup Queena tak mau lagi mengulanginya.
"Apa maumu sebenarnya, Ley?" Desis Queena penuh emosi.
"Mauku?" Brachon bangkit dari atas ranjang, lalu kembali menghampiri Joice yang masih menunggunya di sofa.
"Mauku adalah memberikanmu sebuah pertunjukan dan tontonan yang menarik!" Brachon menarik tubuh Joice dari atas sofa, lalu pria itu ganti duduk di sofa dan membuka celananya bagian depan. Joice yang seperti sudah sangat pengalaman, langsung menangkup milik Brachon tanpa ragu, dan melahapnya dengan penuh gairah.
Dasar sinting!
Dan adegan yang terjadi selanjutnya, benar-benar harus membuat Queena memejamkan mata berulang kali. Namun sayangnya, lenguhan yang keluar bersahut-sahutan dari mulut Brachon dan Joice, benar-benar membuat Queena menjadi gila.
Kenapa Queena harus mengalami semua hal mengerikan ini?
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.