QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
TIDAK SUKA PENGKHIANATAN!


__ADS_3

Queena masih memejamkan kedua matanya, saat lenguhan serta des*han dari Joice dan Brachon terdengar bersahutan di dalam kamar Queena. Sedikit saja Queena membuka matanya, adegan tak senonoh itu akan langsung terpampang nyata di hadapannya bak sebuah film yang disiarkan secara live.


Gila!


Queena terus memejamkan kedua matanya, saat mendadak ada sebuah tangan yang menjamah tubuhnya yang sontak membuat Queena terjejut dan refleks membuka mata untuk melihat siapa yang sudah menyentuhnya.


Joice!


"Singkirkan tanganmu, J*lang!" Maki Queena pada Joice dengan nada galak. Ingin rasanya Queena memelototi wanita itu. Namun sayang, Queena tak bisa menolehkan kepalanya ke arah Joice karena ada pisau yang masih menancap di belakang kepala Queena yang bisa mengiris kulot kepala Queena kapan saja jika Queena memutar kepalanya.


Brachon benar-benar sudah gila!!


"Jal*ng teriak Jal*ng!" Joice berdecih, lalu tangan gatal wanita itu kembali mengusap dada Queena.


Dasar gila!


Bukankah dia juga sudah punya sendiri?


Kenapa masih pegang-pegang punya Queena dan tidak membelai miliknya sendiri.


"Brach-" Joice sepertinya hendak mengeluh pada Brachon, namun kemudian Queena melihat Brachon yang melempar tatapan penuh intimidasi pada Joice.


Oh, jadi ini perintah dan kemauan Brachon juga. Benar dugaan Queena kalau Brachon itu sebenarnya 'sakit'!


Psikopat! Maniak!


Kenapa juga Queena bisa bertemu pria sejenis Brachon?


"Lakukan, Joice!" Perintah Brachon dengan nada tegas pada Joice.


"Aku tidak mau!" Joice sudah mengangkat tangannya dari dada Queena.


Syukurlah kalau teenyata Joice adalah wanita normal juga. Tidak lucu rasanya jika Queena harus dip*rkosa atau dilecehkan oleh sesama wanita.


"Itu menjijikkan!" Lanjut Joice lagi dengan suara mencicit,saat kemudian Queena melihat tatapan penuh amarah dari Brachon pada Joice. Brachon lalu berjalan ke arah Joice yang masih berdiri di sisi ranjang yang tak bisa dilihat oleh Queena.


"Brach!" Queena mendengar pekikan keras dari Joice bersamaan dengan tubuh wanita itu yang sudah dibanting oleh Brachon tepat di hadapan Queena.


Tidak!


"Aaauuuw!" Joice mengaduh kesakitan, bersamaan dengan darah segar yang mengalir dari dahinya yang yadi terantuk sudut meja saat dibanting oleh Brachon.


"Brach, aku terluka." Cicit Joice seraya beringsut mundur, saat Brachon mendekati wanita itu.


"Aku tahu."

__ADS_1


Brachon menyeringai pada Joice yang tampak ketakutan.


"Jadi aku akan menyembuhkan rasa sakitmu itu!" Lanjut Brachon lagi seraya berjongkok dan mencondongkan tubuhnya ke arah Joice yang tak bisa mundur lagi karena punggungnya sudah menabrak dinding kamar.


"Aku akan menuntaskan semua rasa sakitmu, Sayang!" Ucap Brachon lagi yang sudah ganti mengusap wajah Joice. Wanita itu refleks menggelengkan kepalanya, bersamaan dengan Brachon yang sudah memegangi kepala Joice, lalu memutar paksa kepala wanita itu tanpa perasaan hingga terdengar suara yang membuat Queena menjerit.


"Tidaaaak!"


Queena membelalakkan kedua matanya, saat Brachon dengan tanpa beban melepaskan kepala Joice yang langsing terkulai. Kedua mata Joice tampak melotot mengerikan, membuat Queena cepat-cepat memejamkan kedua matanya dan sebisa mungkin tak menatap pada wajah Joice lagi.


"Kau tak lagi sakit sekarang!" Sinis Brachon yang sydah bangkit berdiri lagi, lalu meninggalkan tubuh Joice yang mungkin sudah tak bernyawa sekarang. Brachon ganti menghampiri Queena yang hanya membeku dan tatapan matanya kosong.


"Kau tahu, kenapa aku menghabisi Indah waktu itu?" Brachon mencabut pisau tang tadi tertancap tepat di belakang kepala Queena. Pria itu lalu memainkan pisau tersebut,dan mengusapkannya sejenak di wajah, lalu ke leher dan dada Queena.


"Wanita itu penipu!"


"Pengkhianat!" Brachon menundukkan wajahnya dan berbisik di telinga Queena.


"Dia diam-diam sudah membocorkan bisnisku dan hampir membuat semuanya berantakan!"


"Beruntung aku orang yang peka,jadi aku bisa dengan cepat turun tangan untuk menyelesaikan semuanya!" Brachon tertawa pongah seolah sedang pamer tentang kejahatan yang ia lakukan.


Menyelesaikan semuanya?


Terbuat dari apa sebenarnya hati dan pikiran pria ini!


Pria gila psikopat!


"Jadi, satu hal yang perlu kau tahu, Queen! Aku tak suka pengkhianat!" Tegas Brachon sekali lagi seraya mengacungkan pisau tepat di leher Queena.


"Lalu kenapa kau membunuh Joice juga?" Queena tak tahu dirinya mendapat keberanian darimana, hingga ia bisa melontarkan pertanyaan konyol itu pada Brachon.


"Bukankah sudah kukatakan kalau aku tak suka pengkhianat!"


"Joice itu pengkhianat karena dia sudah diam-diam tidur bersama Vincent di belakangku."


"Jal*ng murahan!" Brachon berdecak dan sudah menyingkirkan pisau dari leher Queena. Brachon juga mencabut beberapa pisau yang tadi masih tertancap di dekat kepala Queena. Akhirnya kini Queena bisa bernafas lega dan memutar kepalanya ke sisi lain.


Brachon terlihat menghubungi seseorang lewat telepon dan hanya berkata singkat pada seseorang untuk menyingkirkan tubuh Joice yang sudah tak bernyawa. Namun kedua mata wanita itu masih melotot ketakutan.


Joice yang malang!


"Kau menyuruh seseorang masuk ke kamar ini untuk menyingkirkan Joice?" Tanya Queena lagi pada Brachon.


"Ya!" Jawab Brachon singkat seraya melempar tatapan tajam pada Queena.

__ADS_1


"Lalu apa tubuhku terlalu murahan, hingga kau akan membiarkan anak buahmu menikmatinya juga?" Tanya Queena lagi dengan nada sinis pada Brachon yang masoh menatapnya dengan tajam.


"Baiklah, lupakan saja! Sepertinya-" Queena belum menyelesaikan kalimatnya, saat Brachon sudah melemparkan selimut untuk menutupi tubuh naked Queena.


Syukurlah!


Brachon lalu memamerkan sebuah gantungan yang berisi beberapa kunci pada Queena. Pria itu mendekati Queena yang masih menebak-nebak tindakan apa yang hendak dilakukan oleh Brachon selanjutnya.


"Brachon naik ke atas ranjang dan bersiap melepaskan borgol yang mengunci kedua tangan dan kaki Queena.


"Kau ingat ucapanku tadi, Queen?" Brachon menatap tegas pada Queena sebelum pria itu melepaskan borgol Queena.


"Aku benci pengkhianatan!" Tegas Brachon sekali lagi pada Queena yang hanya membisu.


"Kau tidak mau berakhir seperti jal*ng di sana itu, dan memupus harapanmu untuk bertemu Barley, kan?" Bisik Brachon selanjutnya yang langsung membuat hati Queena mencelos. Kerinduan Queena pada putra semata wayangnya itu tak lagi bisa digambarkan dengan kata-kata sekarang.


"Bar-Ley!" Brachon berdecih lalu mulai melepaskan borgol di tangan dan kaki Queena.


"Apa itu sebuah kebetulan saat kau memberikan nama untuk putramu?" Tanya Brachon lagi dengan nada meledek yang sama sekali tak ditanggapi oleh Queena. Sesaat setelah Brachon membebaskan tangan Queena, wanita itu segera merapatkan selimut untuk membalut tubuh naked-nya.


Tepat saat Brachon sekesai melepaskan borgol di kedua kaki Queena,terdengar suara ketukan di pintu kamar.


"Aku tidak suka pengkhianatan!" Ucao Brachon sekali lagi seraya menatap tajam pada Queena. Pria itu lalu menghampiri pintu kamar dan membuka kuncinya. Vincent dan beberapa anak buah Brachon langsung terlihat berdiri di depan pintu kamar.


"Aku membunuh pacarmu, Vin!" Ucap Brachon pada Vincent yang ekspresi wajahnya tak seperti biasa. Meskipun pria itu langsung kembali berpura-pura kalau ia sedang baik-baik saja.


Tapi sepertinya Vincent tidak sedang baik-baik saja.


"Queen!" Panggil Brachon selanjutnya pada Queena yang masih duduk di tepi ranjang seraya membalut tubuh naked-nya dengan selimut.


"Kamar di belakang sudah siap untuk Queen, Brach!" Lapor Vincent yang turut didengar oleh Queena juga.


Syukurlah jika akhirnya Brachon memindahkan Queena ke kamar lain karena rasanya ngeri juga kalau Queena harus tidur di kamar, tempat Brachon menghabisi Joice.


"Kau dengan itu, Queen?" Brachon melempar tatapan tajam pada Queena yang langsung mengangguk. Queena lalu bangkit berdiri dan menghampiri Brachon yang masih berdiri di dekat pintu.


"Bereskan semuanya!" Perintah Brachon pada Vincent, sebelun pria itu menarik tangan Queena dan membawanya ke kamar baru yang akan ditempati oleh Queena.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2