QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
MASA LALU


__ADS_3

Queena menggosokkan kedua tangannya, demi mengusir hawa dingin yang kini menyergap tubuhnya. Namun sepertinya, apa yang dilakukan oleh Queena tak banyak berpengaruh. Queena tetap merasa kedinginan karena baju yang ia kenakan terlanjur basah terkena air hujan.


"Lepaskan saja jaketmu, Queen!" Ucap Bagus yang sudah menghampiri Queena, lalu membantu melepaskan jaket gadis itu yang memang sudah basah. Bagus sedikit mengibaskan jaket Queena, sebelum menyampirkannya di punggung kursi panjang yang kini Queena duduki. Saat ini Bagus dan Queena memang tengah berteduh di sebuah warung yang kebetulan sedang tutup. Ada bangku panjang di depan warung tersebut.


"Dingin, Mas!" Keluh Queena yang sydah ganti mengusap lengannya sendiri.


"Mau aku hangatkan?" Tanya Bagus dengan nada bercanda.


"Canda!" Kekeh Bagus selang seraya merangkul Queena.


"Tadi lupa bawa jas hujan. Maaf, ya!" Ucap Bagus lagi yang hanya membuat Queena mengangguk.


"Boleh nyender?" Tanya Queena seraya mendongakkan wajahnya ke arah Bagus yang masih merangkulnya.


"Apa?" Bagus balik bertanya karena kerasnya suara hujan membuat Bagus tak terlalu mendengar suara Queena.


"Boleh nyender, Mas?" Queena mengulangi pertanyaannya seraya menunjuk ke dada Bagus.


"Boleh!" Jawab Bagus seraya menarik tubuh Queena, lalu mendekap pacarnya itu ke dalam pelukannya.


"Kesempatan sekali!" Queena memukul dada Bagus seraya terkekeh.


"Iya, nih!"


"Sebelum-sebelumnya kan nggak pernah begini," jawab Bagus jujur.


"Ck! Ketemu aja jarang. Bagaimana mau rangkul-rangkulan begini!" Decak Queena mengingatkan Bagus tentang hubungan mereka yang hingga kini masih berstatus LDR. Selain karena mereka tinggal beda kota, juga karena pekerjaan Bagus yang mengharuskan pria itu berpindah dari kota ke kota. Tapi setidaknya, Bagus tetap setia pada Queena hingga detik ini dan pria itu juga rajin menghubungi Queena saat sedang luang.


"Iya juga, ya," Bagus ikut terkekeh menanggapi decakan Queena tadi.


"Tapi ngomong-ngomong, itu motor temannya Mas Bagus nggak dicariin sama pemiliknya?" Tanya Queena mengalihkan pembicaraan. Gadis itu mengendikkan dagu ke arah motor yang tadi ia dan Bagus pakai berjalan-jalan, lalu berakhir dengan kehujanan dan berteduh di tempat sepi ini.


"Enggak!


Kan udah aku sewa sehari penuh!" Jawab Bagus seraya terkekeh.


"Berapa uang sewanya?" Tanya Queen penasaran.


"Kepo!" Bagus mencolek hidung Queena, bersamaan dengan ponsel gadis itu yang tiba-tiba berdering.


"Bentar, Mas!" Queena merogoh ke dalam tas selempangnya,dan Bagus sedikit mengedurkan dekapannya pada Queena. Setelah berhasil menemukan ponselnya, Queena segera mengangkat telepon yang rupanya dari Mami Friska tersebut.


"Halo, Mi!"


"Sudah dimana, Queen? Masih jalan-jalan sama Bagus?"


"Iya, Mi! Ini baru berteduh karena terjebak hu-" Kalimat Queena belum selesaj saat terdengar peringatan low batterey. Tak berselang lama, ponsel Queena langsung mati.


"Yah, kok mati!" Gumam Queena seeaya mencoba menghidupkan kembali ponselnyam namun tak bisa.


"Ck!"


"Mas, pinjam ponsel!" Queena menengadahkan tangannya ke arah Bagus.


"Lowbat juga. Tadi biat foto-foto," lapor Bagus seraya menunjukkan ponselnya yang juga sudah mati.


"Ya ampun!" Queena bergunam sambil sedikit berdecak.


"Mami ngomong apa?" Tanya Bagus yang rupanya tahu kalau telepon tadi dari Mami Friska.


"Mami tanya, kita udah dimana."


"Aku baru bilang kita baru berteduh karena kejebak hujan, eh, udah mati aja teleponnya," cerita Queena dengan nada sedikit kesal.


"Mana hujannya awet begini! Udah mau malam," keluh Queena lagi seraya bangkit berdiri dan memeriksa langit, dimana mendung terlihat masih tebal dan berwarna putih. Sepertinya hujan akan awet sampai besok pagi.


"Mau menerobos hujan?" Tawar Bagus yang sudah ikut berdiri dan menghampiri Queena.


"Rumah masih jauh, Mas! Nanti masuk angin bagaimana?" Jawab Queena ragu.


"Iya juga, sih!" Bagus garuk-garuk kepala. Bagus lalu mondar-mandir dan bersandar pada pintu kayu di sebelah kirsi panjang tadi, saat tiba-tiba pintu itu tak sengaja terbuka.


"Eh!" Bagus buru-buru menjauh dari kursi karena mengira ada yang membukanya dari dalam.


"Ada orang, Mas?" Tanya Queena yang langsung memeriksa ke dalam.pintu, setelah membuka sedikit lebar daun pintu tadi.


"Nggak tahu,", jawab Bagus seraya berbisik.


"Halo! Permisi! Apa ada orang?" Ucap Queena sedikit berseru, seraya melongokkan kepalanya ke dalam rumah berbilik bambu tersebut. Tadinya Queena pikir itu adalah sebuah warung.


"Halo!"


"Pak, Bu!" Bagus ikut berseru dan melongokkan kepalanya juga ke dalam rumah.


Namun tak ada jawaban dan sepertinya tak ada orang juga.


"Nggak ada orang kayaknya, Mas!" Di dalam juga nggak ada apa-apa," bisik Queena pada Bagus, setelah gadis itu memindai bagian dalam rumah yang minim cahaya tersebut.


Bagus membuka pintu lebih lebar, untuk memastikan dugaan Queena. Dan benar saja, rumah tersebut memang kosong.

__ADS_1


Tidak ada perabotan apapun, dan ganya terdapat sebuah dipan dari bambu di rumah berukuran tiga kali empat meter tersebut.


"Sepertinya memang tak ada yang tinggal disini, Queen! Mungkin ini hanya rumah singgah." Ujar Bagus menerka-nerka.


"Siapa yang singgah di rumah sekecil ini, Mas?" Tanya Queena heran. Gadus itu sudah duduk di dipan bambu yang ada di dalam rumah tadi.


"Pemilik lahan di belakang itu mungkin." Bagus mengendikkan kedua bahunya.


"Dulu Mas Bagus pas di kampung dan bantu-bantu mendiang ibu di sawah." Queena tak melanjutkan kalimatnya dan gadis itu menatap Bagus yang wajahnya hanya terlihat samar, karena langit yang memang sudah semakin gelap.


Tahun ini tepat lima tahun, ibu kandung Bagus meninggal.


"Dulu hanya ada saung kecil di sawah yang digarap ibu. Tak ada rumah singgah seperti ini. Karena kan letaknya juga tidak jauh dari pemukiman," jelas Bagis akhirnya yang seolah paham arah pertanyaan Queena tadi.


"Maaf, Mas!" Gumam Queena merasa bersalah.


"Tidak apa, Queen! Ibu sudah bahagia di surga dan tidak metasakan sakit lagi," ucap Bagus yang terlihat begitu tegar.


"Ya!" Gumam Queena lirih.


"Tapi di dalam sini lebih hangat ketimbang di luar tadi, Mas," ujar Queena mengganti bahan pembicaraan dan sedikit mencairkan suasana.


"Ya! Dan kita bisa berbaring." Bagus sudah berbaring di atas dipan yang tadi diduduki oleh Queena. Namun kemudian pria itu bangun lagi, lalu keluar dari rumah singgah tersebut. Bagus memasukkan motor temannya yang tadi ia bawa ke dalam rumah, lalu menutup pintu.


"Gelap, Mas!" Ucao Queena yang masih duduk di atas dipan.


"Kenapa? Kau takut gelap?" Goda Bagus yang tiba-tiba sudah dengan cepat duduk di samping Queena. Pacar Bagus itu sedikit terlonjak kaget.


"Masih kelihatan samar-samar," ujar Bagus lagi yang hanya dijawab anggukan oleh Queena.


"Kita jadinya bermalam disini?" Tanya Queena ragu.


"Iya, daripada pulang kehujanan, nasah, masuk angin," jawab Bagus memaparkan sederet alasan.


"Iya, sih!" Queena menyandarkan kepalanya di pundak Bagus.


"Udah ngantuk? Bobok, gih!" Titah Bagus.


"Nggak ada bantal," Queena berusaha menatap wajah Bagus di dalam suasana yang gelap. Hanya sedikit cahaya yang masuk, dan Queena juga tak teelalu jelas melihat wajah Bagus.


"Nggak bisa tidur tanpa bantal juga?" Bagus mencolek hidung Queena dan entah mengapa bisa pas sekali padahal minim cahaya.


"Hihi! Kan dipannya keras, Mas!" Ringis Queena beralasan.


"Manja!" Gumam Bagus seraya kembali mencolek hidung Queena. Bagus lalu berbaring di bagian tepi dipan seraya merentangkan tangannya.


"Tidur disini!" Titah Bagus seraya menunjuk ke lengannya. Queena masih diam.


"Genit!" Cibir Queena yang akhimau mau berbaring juga di samping Bagus, dan memakai tangan pria itu sebagai bantal.


"Empuk!" Komentar Queena seraya menatap ke langit-langit.


"Coba udah nikah," ucap Bagus tiba-tiba yang langsung membuat Queena menolehkan kepalanya ke arah Bagus.


"Maksudnya?" Tanya Queena tak paham.


"Iya coba kita udah nikah, udah sah," ujar Bagus lagi seraya tertawa kecil.


"Ck! Mas mikirin sesuatu yang mesum, ya?" Tebak Queena seolah sudah paham.


"Kalau iya kenapa? Kayak kamu enggak saja!" Kekeh Bagus seraya tergelak.


"Ck! Enggaklah!" Sergah Queena cepat. Gadis itu sedikit bersungut, lalu ganti berbaring miring dan membelakangi Bagus. Meskipun kepalanya masih berada di lengan Bagus.


"Baiklah, aku percaya!" Bagus meletakkan tangannya yang menganggur ke pinggang Queena.


"Mas Bagus!" Protes Queena saat tiba-tiba Bagusmalah menarik tubuh Queena agar mendekat ke arahnya.


"Awas,nanti jatuh kalau minggir-minggir!" Ucap Bagus yangasih memeluk Queena dari belakang. Dan Queena sama sekali tak menolak. Gadis itu malah justru menyamankan dirinya di dalam dekapan Bagus.


"Aku nggak mancing sesuatu kalau nempel begini, kan, Mas?" Tanya Queena sedikit berbisik.


"Sesuatu apa maksudnya? Kok layaknya udah fasih," goda Bagus yang tentu saja langsung berhadiah sikutan di perut dari Queena.


"Auuw! Sakit, Queen!" Bagus semakin mendekap Queena dengan erat. Lalu bisa Queena rasakan, Bagus yang juga mencium puncak kepalanya.


"Sakit tapi masih bisa ketawa," cibir Queena seraya mengusap-usap lengan Bagus yang masih melingkar di pinggangnya.


"Lagi seneng aja!" Bisik Bagus yang kembali mencium puncak kepala Queena.


"Ck!" Queena sedikit menggeliat karena merasa tak nyaman dengan bajunya yang terasa dingin dan basah.


"Kenapa?" Tanya Bagus bingung.


"Nggak nyaman aja tidur pakai baju dingin," ujar Queena.


"Jaket aku tadi udah kering belum, ya?" Tanya Queena selanjutnya pada Bagus.


"Belum! Tadi aja basah kuyup," jawab Bagus cepat.

__ADS_1


"Trus? Masa aku harus buka baju!" Gerutu Queena sedikit bergumam.


"Buka aja! Aku juga mau buka," ucap Bagus enteng bersamaan dengan pria itu yang tiba-tiba sudah meloloskan kausnya melewati kepala


"Ck! Mas Bagus!" Queena sedikit merengek dan Bagus malah tergelak.


"Ada apa? Kan buka baju saja! Bukan buka celana!" Kekeh Bagus yang kembali membuat Queena berdecak.


"Buka juga bajumu, biar besok bisa sedikit kering," ucap Bagus seraya memegangi ujung kaus Queena.


"Ck! Mas Bagus cari-cari kesempatan!" Protes Queena yang kini sudah berbalik dan menghadap ke arah Bagus yang ternyata sedang menghadap ke arah Queena. Kini jarak wajah Bagus dan Queena sudah sangat dekat. Bagus mengulurkan tangannya dan mengusap wajah Queena di dalam kegelapan rumah bilik bambu ini.


"Ingat ciuman pertama kita?" Tanya Bagus tiba-tiba yang langsung membuat Queena tertawa kecil. Tepatnya satu tahun lalu saat Queena dan Bagus resmi jadian, mereka memang iseng mencoba untuk ciuman bibir. Meskipun akhirnya ciuman itu malah kacau dan hanya berlangsung beberapa detik saja.


"Kacau!" Gumam Queena menjawab pertanyaan Bagus.


"Kita salah teknik waktu itu, Mas!" Ucap Queena lagi.


"Masa? Tahu darimana?" Tanya Bagus memancing.


"Dari video!" Queena cepat-cepat membungkam mulutnya dengan telapak tangan.


"Hmmmm! Sudah terkontaminasi ternyata!" Gumam Bagus seraya mengusap kepala Queena.


"Bentar lagi kan udah legal age!" Ujar Queena mencari pembenaran.


"Udah bisa nikah berarti kalau udah legal age!" Seloroh Bagus.


"Tunggu selesai kuliah dulu, Mas Bagus!" Queena menangkup gemas wajah Bagus, yang justru malah semakin memangkas jarak di antara mereka. Queena memejamkan mata, saat Bagus semakin mendekatkan wajahnya pada Queena. Sedetik kemudian, tanpa Queena sadari, Bagus sudah meletakkan bibirnya di atas bibir Queena. Namun tentu saja hal itu hanya beberapa detik saja dan Bagus sama sekali tak mel*mat bibir Queena.


"Mas-"


"Bobok!" Titah Bagus yang sudah ganti mencium kening Queena yang terlihat kesal.


Queena lalu berbalik dan memunggungi Bagus lagi. Wanita itu menatap ke arah pintu gubuk yang kini tertutup rapat.


Duaaaaar!


"Aaarrgh!" Queena terlonjak saat suara petir terasa begitu keras, dekat, dan nyata. Gadis itu bahkan sudah menyembunyikan wajahnya di pelukan Bagus.


"Aku takut, Mas!" Cicit Queena masih bersembunyi.


"Yaudah, jangan kemana-mana! Disini saja dekat-dekat aku!" Ucap Bagus seraya tertawa kecil.


"Baju kamu terasa dingin tapi," ujar Bagus lagi berkomentar tentang baju Queena yang masih setengah basah.


"Trus aku harus buka baju, gitu?" Queena mendongak pada Bagus yang malah mengangguk.


"Cari-cari kesempatan!" Queena memukul dada Bagus yang kini naked.


"Kamu juga! Mentang-mentang aku nggak pakai baju, trus kamu nyender seenaknya," ujar Bagus membalikkan kata-kata Queena.


"Anget!" Ringis Queena yang malah semakin membenamkan wajahnya di dada Bagus. Pun dengan Bagus yang juga semakin erat mendekap Queena, lalu membelitkan kakinya ke kaki Queena juga.


"Mas," panggil Queena bergumam.


"Ada apa?"


"Nggak jadi!" Queena geleng-geleng sebentar, lalu menyamankan tubuhnya di dalam dekapan Bagus.


"Begini sampai pagi?" Tanya Queena sedikit bercicit.


"Iya! Biar kamu nggak hypothermia," jawab Bagus asal.


"Ck! Enggaklah, Mas!" Sanggah Queena cepat.


"Baiklah, aku percaya! Cepat bobok," titah Bagus sekali lagi, bersamaan dengan Queena yang menguap lebar.


"Bobok!" Titah Bagus sekali lagi, dan Queena hanya mengangguk saat kemudian Queena merasakan percikan air hujan yang mengenai wajahnya.


Hah?


Bagaimana bisa-


"Bangun, Queen!"


Queena terlonjak dan lamunannya seketika langsung menguap pergi, saat ia mendapati dirinya yang kini sudah berbaring di atas ranjang king size. Bagus tak lagi ada di depan Queena, karena kini yang ada di depan Queena adalah Brachon Ley!


Brengsek.


Dan yang lebih brengsek dari semuanya adalah, Brachon yang kini sydah mengikat kedua tangan dan kaki Queena ke setiap sudut ranjang.


Dasar pria psikopat dan mesum!!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2