
Queena berjalan menyusuri trotoar yang entah akan membawanya ke mana. Queena tak punya tujuan sekarang dan Queena tak akan kemabli ke apartemen Brachon!
Lebih baik Queena menjadi tunawisma sekarang!
Kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya masih begitu padat. Sorot lampu serta deru mesin yang terdengar, seolah menjadi teman Queena yang hanya berjalan sendiri malam ini.
"Cewek, mau kemana?" Segerombolan pemuda yang kebetulan berpapasan dengan Queena, tiba-tiba menggoda Queena dan salah satu dari mereka hendak mengganggu Queena, saat tiba-tiba datang seseorang yang tak Queena kenal yang membuat gerakan cepat untuk menghajar para pemuda iseng tadi.
Queena kaget dan buru-buru menjauh, saat tiba-tiba muncul orang kedua yang berpakaian serba hitam juga dan ikut memberikan oelajaran pada gerombolan pemuda tadi.
"Ampun, Om! Ampun!" Para pemuda tadi sontak lari tunggang langgang meninggalkan Queena serta dua pria asing tadi.
Oh, ya!
Sekarang Queena paham siapa dua pria asing serba hitam ini. Brachon memang benar-benar tak melepaskan Queena begitu saja. Terbukti, anak buahnya saja masih mengekori Queena kemana-mana.
Menyebalkan!
"Nona Queen, sebaiknya anda kembali ke apartemen," ucap salah satu daru dia pria yang berpakaian hitam tadi.
"Tidak!" Jawab Queena tegas. Queena melanjutkan langkahnya sembari sesekali melirik ke belakang, memastikan apa dia pria tadi akan mengikuti Queena lagi.
Ya, mereka memang mengikuti Queena lagi dengan jarak yang tak terlalu dekat. Queena cepat-cepat menghentikan langkahnya lagi.
"Bisakah kalian pergi dan tak mengikuti aku lagi?" Bentak Queena pada dua pengawal Brachon yang hanya diam tersebut.
"Kalian punya telinga, kan? Jadi cepat pergi dan jangan mengikuti aku lagi!" Usir Queena sekali lagi sebelum wanita itu berbalikdan melanjutkan langkah.
Dan dua pengawal tadi lagi-lagi mengikuti langkah Queena, hingga membuat Queena menggeram marah. Queena lalu menghampiri dua pengawal tadi dengan langkah bersungut-sungut.
"Aku mau bicara pada Brachon!" Ucap Queena pada dua pria berbaju hitam tersebut. Keduanya berpandangan sejenak, sebelum akhirnya salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Selamat malam, Pak Vin-" pengawal belum selesai bicara di telepon, saat Queena dengan cepat merebut ponsel.
"Aku mau bicara pada Brachon!" Ucap Queena lantang pada Vincent di ujung telepon.
"Brachon sedang ada pertemuan penting dan sedang tidak bisa diganggu!"
"Kau mau titip pesan apa? Kau akhirnya pulang lagi ke apartemen karena suamimu mengusirmu?"
"Kau keparat!" Maki Queena kesal sebelum wanita itu menutup telepon dan mengembalikan dengan kasar ponsel pengawal Brachon.
"Berikan aku uang untuk naik taksi!" Queena ganti menengadahkan tangannya pada dua pengawal di depannya tersebut.
"Anda bisa naik mobil jika ingin kembali ke apartemen, Nona! Tidak perlu naik taksi." Salah satu pengawal sudah kembali mengangkat telepon dan sepertinya sedang menelepon sopir.
"Kalian akan mengekoriku di dalam mobil juga?" Tanya Queena galak.
__ADS_1
"Kami hanya memastikan keamanan anda, Nona!" Jawab salah satu pengawal, bersamaan dengan mobil hitam mewah yang sudah berhenti di dekat Queena.
Secepat itu jemputan datang?
Apa mereka semua memang mengekori Queena sejak tadi?
Salah satu pengawal membukakan pintu mobil dan Queena langsung masuk ke dalam mobil dengan rasa frustasi. Wanita itu duduk sambil bersedekap merasa tak tahu lagi harus bagaimana.
Jika Queena ingin keluar dari apartemen Brachon, mau tak mau Queena harus punya uang dulu untuk mencari kost-kostan. Lalu Queena juga harus bekerja agar ia bisa makan dan membayar kontrakan. Queena tidak bisa lagi berjualan sprei, karena dirinya sudah lama sekali tak memegang ponsel. Entah bagaimana nasib olshop Queena sekarang.
Atau Queena mencuri uang Brachon saja?
Tapi dimana pria keparat itu menyembunyikan uangnya yang mungkin tak berseri?
Di dompet di saku belakang celana?
Mustahil tentu saja!
Brachon bukan Mas Bagus yang hobi menyelipkan uang di saku baju atau celananya hanya agar Queena merasa bahagia saat mencuci bahu suaminya itu karena menemukan harta karun.
Queena mengerjapkan matanya yang mendadak terasa memanas karena mengingat semua hal kecil namun romantis yang dilakukan oleh Mas Bagis sepanjang pernikahan mereka dulu. Sayangnya semua hak romantis itu harus lenyap sekarang karena kelakuan sadis Brachon Ley.
Kau memang keparat, Brachon Ley!
Queena baru selesai mengumpati Brachon dalam hati, saat pintu mobil dibuka dari luar dan pria brengsek itu sudah berdiri di luar mobil.
Sial!
Queena langsung menatap marah pada Vincent yang hanya berdiri tanpa dosa di luar mobil.
"Sudah selesai yang berkeliaran?" Tanya Brachon seraya mengusap wajah Queena.
Queena masih memikirkan tentang uang untuk kabur dari Brachon Ley. Bagaimana kalau malam ini Queena merayu Brachon agar pria ini memberikan Queena uang atau ponsel baru?
Tidak!
Queena tak akan pernah merayu Brachon Ley baj*ngan ini!
"Ayo masuk!" Brachon sedikit menarik tangan Queena agar turun dari mobil. Pria itu lalu segera membawa Queena masuk ke dalam lift dan melesat ke lantai paling atas.
Queena hanya berdiri sembari bersedekap saat wanita itu merasakan tangan Brachon yang sudah bergerilya di bokongnya. Queena sedikit berjenggit, namun ia juga berusaha untuk bersikap biasa saja.
Brengsek!
Brachon tersenyum simpul, saat tangannya sudah ganti menelusup ke bawah gaun Queena. Pria ini bahkan seperti tak peduli kalau mereka saat ini sedang berada di dalam lift.
Queena masih berdiri diam dan berusaha untuk tak terpengaruh dengan gerakan tangan serta jari Brachon yang sudah berhasil menyusup satu serta melesak ke dalam miliknya.
__ADS_1
Sial!
Queena memejamkan mata dan berusaha mengendalikan dirinya sendiri agar tidak melenguh dan mendes*h. Queena menggigit bibir bawahnya, bersamaan dengan suara lift yang menandakan kalau mereka sudah tiba di lantai tujuan.
Queena bernafas lega dan wanita itu menunggu pintu lift terbuka, sembari berharap ada seseorang yang berdiri di depan lift, meskipun rasanya mustahil mengingat yang ada di lantai tersebut hanyalah unit apartemen milik Brachon.
Pintu lift sudah terbuka dan memang tak ada siapapun di depan pintu. Queena melangkah gontai keluar dari lift dan langsung menuju ke unit apartemen Brachon. Wanita itu baru saja masuk dan melepaskan sepatunya, saat tiba-tiba Brachon sudah menghimpitnya ke dinding, lalu mel*mat bibir Queena dengan barbar hingga membuat Queena gelagapan.
"Mmmmpphhh!" Queena berontak sekuat tenaga dan terus berusaha untuk mendorong Brachon. Wanita itu bahkan tak segan menggigit bibir Brachon hingga akhirnya pagutan mereka terlepas.
Queena baru saja akan berlari ke kamarnya, saat Brachon sudah dengan cepat menarik tangan wanita itu lalu membawanya ke salah satu kamar di lantai dua.
Queena terus berontak saat Brachon mengetikkan sebuah password sebelum membuka pintu warna hitam tersebut.
"Lepas!" Ronta Queena seraya menyentak-nyentak tangan Brachon, meskipun itu hanya sia-sia belaka. Brachon langsung membanting tubuh Queena ke atas sofa, begitu pintu terbuka. Ruangan itu berwarna serba hitam dan Queena yang sudah tahu itu ruangan apa, buru-buru bangkit dari sofa dan menuju ke arah pintu. Wanita itu mencoba membuka pintu yang sudah dikunci lagi oleh Brachon memakai password.
"Buka!" Queena menggedor-gedor pintu dengan frustasi saat terdengar suara nyaring dari besi yang beradu.
"Buka pintunya, Brengsek!" Umpat Queena kesal bersamaan dengan suara besi yang sudah mendekat ke arahnya. Brachon meraih tangan Queena lalu menguncinya memakai borgol hingga Queena meronta-ronta.
"Aku tidak mau!" Teriak Queena yang hanya diabaikan oleh Brachon.
"Lepaskan aku!"
"Lepaskan aku!!"
Queena terus berontak dan meronta, saat Brachon menyeretnya ke ranjang yang tertutupi sprei warna hitam di ruangan tersebut.
Brachon lalu mengaitkan borgol di tangan Queena ke sudut ranjang.
"Lepas!"
"Lepaskan aku!" Queena terus-terusan meronta dan berontak, saat Brachon mulai merobek kasar gaun wanita itu.
"Kita akan bermain sebentar, sebelum ke inti, Queen!"
"Aku yakin kau akan menyukainya!" Brachon tersenyum smirk sebelum kemudian pria itu melesakkan sesuatu di tangannya ke dalam milik Queena hingga membuat wanita itu menjerit keras.
"Aaaarrrgggh!!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir
__ADS_1