QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
KAU SEDANG MERAYU?


__ADS_3

Dear, Barley!


Mama minta maaf...


Queena bergegas merem*s kertas di pangkuannya, saat wanita itu mendengar pintu kamarnya yang dibuka dari luar.


Benar saja!


Brachon yang membuka pintu kamar, dan pria itu langsung masuk ke kamar. Queena dengan sigap menjatuhkan gumpalan kertas berisi surat untuk Barley yang tadi belum selesai ia tulis. Kaki Queena lalu menendang kertas tadi ke bawah sofa.


Sial!


"Kata maid, kau meminta kertas dan sebuah pena. Apa kau sedang menulis surat untuk seseorang?" Tebak Brachon seraya mengambil tumpukan kertas dari pangkuan Queena. Beruntung Queena tadi sempat membuat beberapa gambar sebagai alibi untuk menutupi dirinya yang sedang menulis surat untuk Barley.


"Aku hanya sedang jenuh," jawab Queena beralasan. Wanita itu memainkan pena di tangannya saat Brachon masih memeriksa beberapa gambar hasil coretannya. Brachon kemudian membanting tumpukan kertas tadi ke atas meja hingga sedikit berhamburan.


"Gambarmu jelek!" Komentar Brachon to the point.


"Terima kasih! Aku memang bukan seorang pelukis," jawab Queena sinis. Queena bangkit dari duduknya, lalu merapikan kertas-kertas yang tadi dibanting oleh Brachon.


"Kau bisa keluar dari kamar, lalu berkeliling mansion. Ada banyak fasilitas disini yang bebas kau pakai," ujar Brachon yang kini sudah duduk di sofa.


"Fasilitas apa saja? Kau mau memberitahuku?" Tanya Queena dengan wajah penuh antusias.


"Kolam renang, ruang fitness, taman, perpustakaan." Brachon menyebutkan satu persatu fasilitas yang ia maksud dengan sedikit malas.


"Sepertinya menarik."


"Kau biasanya memakai fasilitas yang mana, Brach?" Tanya Queena yang masih terlihat antusias.


"Semuanya!" Jawab Brachon datar.


"Oh!"


Queena beranjak dari duduknya, lalu menyibak sedikit tirai yang mengarah ke halaman depan.


"Cuaca sore ini sepertinya cerah. Aku akan berenang!" Cetus Queena seraya membuka lemari besar di kamarnya. Wanita itu memindai isi lemari dan mencari-cari baju renangnya.


"Dapat!" Queena memamerkan baju renangnya pada Brachon, lalu wanita itu mengayunkan langkahnya ke kamar mandi, saat tiba-tiba Brachon memanggilnya.


"Kau mau kemana, Queen!"


"Ganti baju!" Jawab Queena.


Brachon berdecak, lalu pria itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Queena.


"Kau akan membantuku ganti baju juga?" Seloroh Queena saat tangan Brachon sudah bergerak cepat untuk menurunkan ritsleting gaun Queena, lalu memelorotkan gaun tersebut ke lantai. Brachon juga melucuti baju dalam Queena hingga membuat wanita itu full naked sekarang. Queena mendadak jadi salah tingkah,meskipun ia sudah puluhan kali naked di depan Brachon Ley!

__ADS_1


"Pakai baju renangmu!" Perintah Brachon kemudian seraya melemparkan baju renang Queena. Cepat-cepat Queena memakai baju renang two piece tersebut, di bawah tatapan Brachon yang mungkin sama sekali tak berkedip.


Tak lupa, Queena juga menyambar bathrobe sebelum berjalan ke arah pintu kamar.


"Pergi ke kamarku dan jangan ke kolam di belakang!" Ucap Brachon yang langsung membuat Queena menoleh ke arah pria tersebut. Queena menatap tak mengerti pada Brachon.


"Lakukan saja!" Tegas Brachon seraya menghampiri Queena, lalu menarik tangan wanita tersebut keluar dari kamar.


Sekalipun Queena sudah berbulan-bulan tinggal di mansion Brachon, namun Queena belum pernah sekalipun masuk ke kamar Brachon. Kamar pria itu di sebelah mana saja Queena juga tidak tahu!


Brachon membuka pintu sebuah ruangan yang langsung membuat Queena berdecak kagum.


"Wow! Ini kamarmu?" Tanya Queena yang langsung menghampiri pintu kaca di sisi kamar. Rupanya Brachon punya kolam renang pribadi di kamarnya.


Queena membuka pintu kaca di hadapannya,saat tiba-tiba Brachon sudah memelukmya dari belakang. Queena berjenggit kaget, namun wanita itu cepat-cepat menguasai dirinya dan berusaha bersikap biasa saja.


Queena masih ingin menjalankan misi utamanya pada pria di belakangnya ini. Jadi Queena harus bersikap mengikuti arus.


"Apa aku boleh punya kamar yang seperti ini?" Tanya Queena lagi saat Brachon mulai menciumi tengkuk dan lehernya. Queena juga mulai sedikit menggeliat.


"Kau sedang merayuku?" Brachon tiba-tiba sudah membalik tubuh Queena dengan cepat, lalu tangannya mencengkedua pundak Queena yang kini tertawa kecil.


"Kau tidak suka aku rayu, ya?"


"Tidak!" Jawab Brachon tegas.


"Aku lelah jika harus bersikap seperti itu terus, Brach!" Sergah Queena memotong.


"Kau tidak boleh lelah karena aku suka Queen yang keras kepala!" Ucap Brachon sekali lagi dengan nada tegas.


"Tapi sebelumnya kau juga mengatakan kalau kau suka Queen yang penurut!"


"Jadi sebenarnya, Queen versi mana yang kau sukai? Kenapa pilihanmu labil sekali?" Cecar Queena panjang lebar mengonentari tentang sikap labil Brachon.


"Queen yang natural dan tidak dibuat-buat!" Tegas Brachon sekali lagi.


"Aku tidak paham!" Gumam Queena seraya menghela nafas. Queena memaksa untuk menyingkirkan rangan Brachon yang mencengkeram pundaknya. Wanita itu lalu membuka bathrobe, dan berjalan santai ke arah kolam renang pribadi Brachon.


Sedangkan Brachon masih mematung di tempatnya, dan hanya menatap pada Queena yang sudah menceburkan diri ke dalam kolam. Brachon terus menatap ke ara Queena yang sudah mulai berenang dengan santai di dalam kolam.


"Brach!" Panggil Queena yang sudah menumpukan kedua tangannya di tepi kolam.


"Kau tidak berenang?" Tanya Queena pada Brachon yang tetap tak beranjak dari tempatnya, dan peia itu hanya bersedekap ke arah Queena.


"Aku ada meeting sebentar lagi." Jawab Brachon beralasan.


"Kau masih bekerja malam-malam?" Tanya Queena lagi kepo.

__ADS_1


"Ya!"


"Baiklah!" Queena berbalik dan kembali berenang dari ujung ke ujung. Sedangkan Brachon sudah sibuk berbjcara di telepon entah dengan siapa, dan Queena tak peduli.


Tepat saat Queena mengangkat kepala serta mengusap wajahnya yang basah kuyup, Brachon tiba-tiba sudah menghampiri Queena dan berjongkok di tepi kolam.


"Kau berubah pikiran?" Queena menyipratkan air ke arah Brachon yang langsung membuat ekspresi wajah pria itu berubah.


"Baiklah, jangan marah!"


"Aku minta maaf!" Queena menghampiri Brachon dan hendak mengusap baju Brachon dengan tangannya yang basah, namun Brachon sigap mencegah.


"Aku akan pergi mungkin sampai jam sepuluh."


"Jangan keluar dari kamar karena aku mau saat aku kembali kau masih berada disini!" Ucap Brachon memberikan perintah untuk Queena.


"Aku harus memakai lingerie, atau langsung naked saja saat kau kembali nanti?" Tanya Queena seraya menatap Brachon dengan berani.


Brachon tak memberikan jawaban dan pria itu sudah bangkit berdiri,lalu melepaskan tangan Queena.


"Baiklah! Aku akan naked nanti!" Seru Queena pada Brachon yang sudah melangkah pergi ke arah pintu kamar. Setelah terdengar suara pintu yang ditutup, Queena mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Brachon untuk mencari keberadaan satu benda atau mungkin jumlahnya ada beberapa.


CCTV!


"Mustahil Brachon memasang CCTV di kamarnya sendiri," gumam Queena yang sudah memakai kembali bathrobe-nya, lalu wanita itu juga meraih handuk untuk mengeringkan rambutnya.


Queena masih mengedarkan pandangannya dan mencari-cari keberadaan CCTV di kamar Brachon. Tak lupa Queena juga memeriksa bagian belakang dari beberapa lukisan yang ada di kamar Brachon.


Tak ada apapun!


Queena ganti memeriksa satu persatu laci yang ada di kamar Brachon, namun tak ada benda apapun yang terlihat menarik. Mayoritas laci tersebut malah kosong!


Queena lalu mengintip ke jendela besar di kamar Brachon untuk memastikan jebda tersebut menghadap kemana. Seperti halnya kamar Queena, jendela kamar Brachon juga menghadap langsung ke halaman depan, namun dari sini pintu gerbang terlihat dengan sangat jelas. Ada beberapa pengawal yang terlihat berjaga di gerbang utama mansion ini!


Rasanya tak ada celah untuk Queena bisa kabur atau sekedar keluar.


Ck!


Bagaimana ini?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2