
Brachon melepaskan tangannya yang sudah berlumuran darah dari bibir Queena.
"Kau senang sekarang, Jal*ng?" Brachon tersenyum miring, lalu pria itu menyambar tisu untuk membersihkan darah-darah yang tadi mengotori tangannya.
"Lihat yang sudah kau lakukan!"
"Kau sudah membuat wajahmu yang menjemukan itu semakin terlihat jelek!" Cerca Brachon seraya menunjuk-nunjuk ke wajah Queena yang kini berlumuran darah, terutama di area mulut. Rasanya perih sekali.
"Tapi mendadak aku punya ide cemerlang." Brachon sudah kembali tersenyum licik, bersamaan dengan tangan pria itu yang sudah meraih pisau kecil di atas nakas.
"Jadi bagaimana kalau kita perbaiki sedikit wajahmu yang menjemukan ini!" Brachon sudah mengarahkan pisau kecilnya tadi ke wajah Queena lalu dengan entengnya menyayat pipi kanan Queena hingga mengucurkan darah segar.
"Aaaarrgggh!" Queena menjerit kencang dan Brachon malah tertawa terbahak-bahak.
"Uuppps! Kau berdarah." Ucap Brachon dengan ekspresi tanpa dosa.
"Tapi tidak terlalu dalam, Queen! Jadi ayo kita lakukan dengan pipi sebelahnya!" Brachon ganti menyayat pipi kiri Queena hingga berdarah juga.
"Aaarrrgggh!" Queena kembali menjerit kencang, dan kini bukan hanya area mulut Queena yang berdarah, melainkan kefua pipi Queena juga sudah terluka dan berdarah. Dan pria baj*ngan yang sudah melukai Queena dengan sadis ini malah tertawa terbahak-bahak.
"Bagus sekali! Kau akan jadi mainanku mulai sekarang." Brachon masih mengusap-ngusapkan pisau di tangan tadi ke wajah Queena, tapi tak lagi menyayatkan benda tajam tersebut.
"Kau gila!" Suara Queena tercekat di tenggorokan dan wanita itu hanya mampu meringis bersamaan denga darah yang semakin memenuhi wajahnya. Tawa Brachon terdengar semakin keras dan suaranya terus saja berputar-putar di kepala Queena, sebelun kemudian Queena kehilangan kesadaran karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
****
Vincent langsung membelalak sekaligus menatap tak percaya pada apa yang sudah dilakukan Brachon pada Queena. Namun Vincent juga tak tinggal diam dan bergegas memeriksa denyut nadi Queena yang sudah bersimbah darah. Masih ada tanda-tanda kehidupan meskipun sedikit lemah.
"Kau akan menyelesaikannya, Brach? Atau perlu aku bantu-"
"Bawa dia ke rumah sakit!" Perintah Brachon tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Vincent kembali membelalakkan matanya.
"Ke rumah sakit? Kenapa tak langsung menghabisi nyawanya saja?" Tanya Vincent menyarankan.
"Bawa saja dan tak perlu banyak bicara, Vin!" Perintah Brachon sekali lagi dengan nada lebih tegas.
"Baiklah!" Vincent berdecak lalu menghampiri tubuh Queena dengan perasaan malas. Meskipun setengah hati, Vincent tetap membopong tubuh Queena, lalu membawa wanita itu keluar dari mansion milik Brachon. Tak berselang lama, mobil yang membawa Queena sudah melaju meninggalkan mansion milik Brachon.
****
"Aku ingin kau mengubahnya!" Ucap Brachon singkat pada dokter ahli bedah plastik yang akan menangani Queena. Brachon lalu memberikan sebuah kertas berisi sketsa wajah pada dokter tersebut.
"Lakukan dengan cepat dan aku akan membayar lima kali lipat!"
"Tapi aku ingin ruangan yang steril serta tenaga kesehatan yang bisa menjaga rahasia!" Brachon sedikit berbisik pada dokter di hadapannya tersebut yang terlihat menarik nafas berat.
"Brachon, bukannya aku menolak tawaranmu. Tapi masalahnya, ada prosedur-" Dokter tak melanjutkan kalimatnya saat Brachon sudah menunjukkan pistol yang sejak tadi Brachon sembunyikan di dalam mantelnya.
__ADS_1
"B-baiklah."
"Kami akan melakukan semaksimal yang kami bisa," ucap Dokter akhirnya yang langsung mengubah keputusannya karena tekanan serta ancaman Brachon.
"Bagus!" Pungkas Brachon sebelum kemudian pria itu berlalu pergi.
Ciiit!
Suara decit rem yang diinjak secara mendadak, membuat semua lamunan Brachon menguap pergi.
"Maaf, Tuan! Tadi ada anak kecil yang hendak menyeberang." Ucap supir Brachon dengan wajah yang sudah ketakutan. Mungkin supir Brachon saat ini merasa takut kalau Brachon akan langsung memecatnya akibat ia yang menginjak rem secara mendadak.
Brachon tak berkomentar apapun dan hanya melayangkan tatapan tajam pada supirnya yang masih terlihat ketakutan tersebut.
"Cepat jalan!" Perintah Brachon nasih dengan tatapan tajamnya melalui spion tengah.
"B-baik, Tuan!"
Mobil kembali melaju, dan saat Brachon membuang pandangannya ke trotoar jalan, pria itu langsung bisa mengenali pria dewasa serta anak laki-laki yang tadi membuat supirnya harus menginjak rem secara mendadak.
"Dia sudah menikah dan memiliki seorang putra berusia tiga tahun."
Kalimat Vincent tentang asal-usul Queena kembali berkelebat di benak Brachon.
"Hilangkan jejaknya, buat kecelakaan parah hingga keluarganya tak bisa lagi mengenali wajahnya."
"Kenapa harus repot-repot melakukan itu? Bukankah kau juga akan melenyapkan wanita itu?" Tanya Vincent tak mengerti.
"Aku berubah pikiran." Jawab Brachon datar.
"Aku akan menjadikannya mainan di mansion saja." Ujar Brachon lagi sebelum kemudian pria itu berlalu dari hadapan Vincent.
"Tapi bagaimana kalau wanita itu berhasil kabur dari genggamanmu seperti yang sebelumnya, Brachon?" Seruan Vincent menghentikan langkah Brachon, dan mengingatkan pria itu pada luka hati yang pernah ditorehkan oleh seorang wanita beberapa tahun silam. Raut wajah Brachon seketika langsung berubah dingin menyeramkan.
"Aku sudah memikirkan yang itu, dan Queen tak akan pernah bisa lepas dari genggaman seorang Brachon Ley!"
"Dia adalah tawananku mulai sekarang!"
"Hentikan mobilnya!" Perintah Brachon pada sang supir yang langsung tergagap. Namun kali ini supir Brachon tak melakukan kesalahan untuk kedua kali, dan ia segera menepikan mobil dengan perlahan.
Sementara Brachon masih mengamati pria dan bocah tiga tahun yang kini sudah berpindah ke dalam gendongan pria yang Brachon ketahui sebagai suami dari Queena tersebut.
Cih!
Tapi Queena sudah tewas dalam kecelakaan dan yang sekarang sedang menjadi tawanan Brachon adalah Queen!
Brachon terus mengamati suami dan putra Queena dari kaca spion, hingga akhirnya dua pria beda generasi itu menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah swalayan dua puluh empat jam.
__ADS_1
Brachon mengeluarkan kacamata hitamnya, melepaskan jas dan kini menyisakan kemeja warna hitam yang membalut tubuh kekarnya.
"Buka pintunya!" Perintah Brachon selanjutnya pada sang supir yang langsung dengan cepat turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk sang bos. Brachon turun dari mobil dengan wajah pongah, serta kaca mata hitam.yang hampir menutupi seluruh wajahnya.
"Tuan-"
Brachon mengangkat satu tangannya dan memberikan kode agar sang supir tak mengikutinya.
"Baik, Tuan. Saya akan menunggu disini." Ucap sang supir seraya membungkuk. Sementara Brachon sudah menyeberang dengan cepat, lalu masuk ke swalayan, dimana suami dan anak Queena tadi juga masuk ke dalamnya.
Brachon mengedarkan pandangannya terlebih dahulu ke dalam swalayan yang luasnya tak lebih luas dari gudang di mansionnya tersebut. Pria itu menyusuri lorong demi lorong, hingga akhirnya ia menemukan suami dan anak dari Queena di salah satu lorong dan sepertinya sedang memilih-milih mainan.
Brachon segera mengeluarkan ponselnya, lalu mengambil foto suami dan anak Queena itu secara diam-diam. Brachon juga niat sekali mendekati keduanya lalu menyapa putra dari Queena.
"Hai, Jagoan! Sedang memilih-milih mainan?" Tanya Brachon dengan suara yang dibuat-buat yang justru membuat putra Queena ketakutan.
"Aku juga sedang memilih mainan untuk keponakanku!" Ucap Brachon selanjutnya seraya menatap pada suami Queena yang sedang menatapnya juga dengan tatapan aneh. Suami Queena yang bernama Bagus Yudistira itu lalu mengangguk dan sedikit bergeser untuk memberikan ruang pada Brachon.
"Putramu terlihat ketakutan," ujar Brachon lagi berpendapat seraya mengamati deretan mobil mainan kecil di depannya.
"Ya, dia selalu begini jika bertemu orang asing," tukas Bagus yang sudah mengambil satu mobil mainan, lalu menawarkannya pada sang putra. Namun putra dari Queena itu langsung menggeleng dan malah menyusupkan kepalanya ke dekapan sang papa.
"Kau mau membeli semuanya?" Tawar Brachon seraya mengambil semua mobil yang ada di display dan menyodorkannya pada putra dari Bagus dan Queena tersebut.
"Tuan jangan-"
"Aku yang akan membayarnya!" Jawab Brachon enteng.
"Ambil semuanya...." Brachon mengernyit seolah sedang bertanya nama dari putra Queena tersebut.
"Barley. Namanya Barley." Ujar Bagus yang langsung membuat Brachon mengangguk.
"Ambil semuanya, Barley!" Titah Brachon lagi oada Barley kembali dengan suara yang dibuat-buat seperti suara anak kecil. Namun Barley hanya menggeleng.
"Ah, bagaimana kalau kita bungkus saja semuanya!" Brachon sudah berjalan ke arah kasir masih sambil membawa segenggam mobil mainan tadi. Pria itu lalu membayarnya dengan cepat, dan kembali lagi pada Bagus dan Barley.
"Tuan, tidak usah!" Tolak Bagus halus.
"Tidak masalah! Putramu seperti sedang sedih dan aku rasa dia harus punya banyak mainan agar kesedihannya teralihkan!" Pungkas Brachon seraya memaksa untuk memberikan kantung berisi mainan tadi pada Barley. Brachon kemudian keluar dari swalayan,dan langsung menghilang di antara kerumunan orang yang hendak menyeberang jalan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like.