QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
QUEEN YANG DIINGINKAN BRACHON


__ADS_3

Queena masih menatap pada deburan ombak di lautan lepas, yang terlihat jelas dari tempatnya berada saat ini. Sesekali wanita itu akan menggeliat, saat Brachon yang kini sedang duduk dibelakang dan mendekapnya menyentuh titik sensitif di tubuh Queena.


"Kau suka pemandangannya, Queen?" Bisik Brachon sembari menyusupkan kepalanya di ceruk leher Queena.


"Ya!" Jawab Queena singkat sambil tetap mengarahkan tatapannya ke lautan lepas yang menjadi pemandangan utama dari tempat Queena berada saat ini.


Queena dan Brachon sedang berendam di dalam bathtube sekarang sembari menikmati birunya laut serta cerahnya langit siang ini.


"Kita akan pulang malam ini-" kalimat Queena langsung terpotong karena mulutnya dibungkam oleh tangan Brachon.


"Kita sedang bersenang-senang. Jadi tak perlu membahas tentang pulang," ucap Brachon tegas.


"Kau akan mengingkari janjimu lagi?" Tebak Queena mulai geram.


"Aku tak akan memulangkanmu jika kau tidak benar-benar bisa menjadi Queen yang aku inginkan!" Brachon sudah mencengkeram jedua pundak Queena dengan kuat, hingga membiat wanita itu meringis. Kuku-kuku Brachon seakan terasa menancap dan menembus kulit Queena.


"Penuhi dulu janjimu, sebelum kau menuntut apa yang harus aku lakukan!" Imbuh Brachon lagi yang langsung membuat Queena mengangguk.


"Bagus!" Brachon akhirnya melepaskan cengkeramannya pada kedua pundak Queena.


"Lihat! Kau sudah membuat aku melukai kedua pundakmu!" Omel Brachon selanjutnya seraya mengusap-usap pundak Queena.


"Tidak apa," ucap Queena lirih seolah apa yang dilakukan Brachon lagi sama sekali tak menyakitinya. Padahal rasanya begitu perih sekarang.


"Kau benar! Lukanya akan sembuh nanti," ujar Brachon yang akhirnya hanya membiat Queena tersenyum kecut. Bahkan pria di depannya tersebut ta sedikitpun berinisiatif untuk menawarkan perawatan untuk luka Queena.


"Kita akan makan malam di pantai malam ini!" Brachon kembali menecah kebisuan.


"Pasti romantis," komentar Queena seraya berekspresi semanis mungkin. Padahal dalam hati Queena sedang menggerutu sekarang.


"Sangat romantis!" Jawab Brachon seraya jarinya bergerak menelusur setiap lekukan tubuh Queena. Jari Brachon terus bergerilya, hingga akhirnya berhenti di satu tempat yang tentu saja Queena juga sudah sangat hafal. Namun kali ini jari Brachon hanya diam dan tak menyusup masuk.


Baiklah, setidaknya Queena bisa bernafas lega sekarang!


Namun Queena baru selesai membatin, saat tangan Brachon yang satunya, sudah meraih salah satu mainannya dan menunjukkan benda tersebut pada Queena.


Baiklah! Queena tak jadi bernafas lega dan Queena benci pada mainan Brachon ini!


"Aku mau kau memakai ini hingga kencan kita nanti malam," ucao Brachon selanjutnya yang benar-benar harus membuat Queena membelalak. Sepertinya pria di belakang Queena ini sudah benar-benar gila!


"Tapi itu masih beberapa jam lagi-" Suara Queena seketika tercekat, saat Brachon sudah menghujamkan mainan tadi ke dalam miliknya.


Brachon sialan!


"Bagaimana rasanya?" Brachon mulai tertawa mengejek dan Queena cepat-cepat bangkit dari dalam bathtube. Wanita itu hanya membasuh tubuhnya ala kadarnya, karena mainan Brachon yang kini menyumpal miliknya mulai terasa bergetar. Sepertinya Brachon memakai remote untuk mengendalikannya


Dasar brengsek!


Queena menyambar handuk dan langkahnya seketika terhuyung saat ia kembali merasakan getaran di dalam miliknya.


Sialan!

__ADS_1


"Eeemmmph!" Queena menggigit bibut bawahnya dan cepat-cepat mencari sandaran karena getaran yang kini merambati miliknya, lalu menjalar ke aliran darahnya dan seketika membuat Queena kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.


"Brach-"


"Henti-"


"Henti-kan!" Queena meminta dengan suara yang tersendat karena ulah Brachon. Dan pria itu sekarang malah tertawa puas sembari menyandarkan punggungnya ke sisi bathtube.


"Brachon!" Mohon Queena sekali lagi. Wanita itu bahkan tak lagi mampu berdiri di atas kedua kakinya dan kini Queena sudah terduduk di lantai. Queena membuka kedua kakinya dan meraba-raba ke dalam miliknya, mencari alat yang tadi disumpalkan oleh Brachon untuk ia tarik keluar.


Brachon baj*ngan!


"Aaarrrgghh!" Pekik Queena saat akhirnya wanita itu berhasil mebarik lepas alat terkutuk tadi.


"Aku suka melihatmu memakai alat itu, Queen!" Brachon menatap tajam pada Queena tanpa beranjak.


"Kau menyiksaku!" Jawab Queena berani.


"Apa kau lupa sesuatu?" Brachon sudah ganti memicing pada Queena yang rampak berpikir.


"Kau lupa untuk menjadi-"


"Aku ingat!" Sergah Queena cepat seraya menatap tajam pada Brachon.


"Aku perlu mengulangi kalimatku di awal tadi?" Tanya Brachon lagi kali ini sambil tersenyum licik pada Queena.


"Kau keparat!" Maki Queena kesal yang akhirnya kembali mengarahkan mainan terkutuk Brachon tadi ke dalam miliknya.


Gila!


Queena bahkan tak pernah melakukan hal konyol seperti ini sebelum-sebelumnya!


Brachon sudah bangkit dari dalam bathtube, lalu pria itu menyambar handuk dan membalutkannya ke tubuh bagian bawah. Brachon mendekati Queena yang masih terduduk di atas lantai.


"Bangunlah, Queen!" Perintah Brachon lembut seraya mengulirkan tangannya je arah Queena.


Queena berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menyambut tangan Brachon dan bangkit berdiri.


"Kau berubah pikiran? Syukurlah!" Gumam Queena bernafas lega, saat Brachon menarik tangannya ke arah meja kayu yang berada di dalam kamar resort tersebut. Brachon lalu membimbing Queena untuk duduk di tepi meja kayu.


"Benar seperti itu!" Brachon kini ganti berlutut di depan Queena, lalu meraih kedua lutut Queena. Perlahan tetapi pasti, pria itu menekuk dan mendorong kaki Queena ke atas meja, lalu membuka lebar keduanya.


"Kau masih memegangnya, kan?" Tanya Brachon seraya menekan remote pengendali di genggamannya, yang refleks langsung membuat Queena terlonjak karena mainan milik Brachon yang mendadak terasa bergetar di tangan Queena.


Queena hendak meletakkan mainan tadi saat Brachon dengan cepat mencegah.


"Kenapa buru-buru, Queen! Aku ingin melihatmu melakukan pemanasan dengan alat itu!" Ucap Brachon seraya menatap Queena dengan licik.


"Apa maksudnya pemanasan? Aku tersiksa memakai alat ini!" Keluh Queena mengungkapkan uneg-unegnya.


"Jika memang kau ingin melakukannya padaku, lakukan saja dan selesaikan semuanya! Aku akan melayanimu-"

__ADS_1


"Maaf aku tidak tertarik!" Potong Brachon yang langsung menolak rayuan Queena.


"Aku lebih suka melihat kau melakukannya bersama asisten kecilku itu dan kau adalah Queen yang aku inginkan hingga nanti malam!" Ucap Brachon yang kembali mengingatkan Queena.


Queena sampai muak mendengarnya karena seharian ini Brachon terus saja mengulangi kalimat tentang Queen yang diinginkan Brachon, Queen yang diinginkan Brachon!


Lalu kenapa sekarang Brachon malah menyuruh Queena bercinta dengan mainan s*x kalau memang dirinya adalah Queen yang diinginkan Brachon? Apa pria ini memang sudah gila?


"Jadi lakukan saja, Queen, dan besok kau sudah bisa bertemu dengan Barley-mu!" Brachon mengiming-imingi Queena dengan membawa-bawa nama Barley yang tentu saja langsung membuat konsentrasi Queena buyar seketika.


"Barley?" Gumam Queena dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata tentang rasa rindu Queena pada Barley.


"Ayo, Queen! Kau ingin bertemu dan memeluk Barley besok, kan?" Brachon terus memancing dan mengiming-imingi Queena.


"Iya!" Jawab Queena lirih.


"Aku mau bertemu putraku!" Seru Queena lagi dengan airmata yang tak lagi terbendung.


"Maka jadilah Queen yang diinginkan Brachon!" Bisik Brachon yang entah sejak kapan sudah berada di dekat Queena. Brachon kemudian membimbing tangan Queena yang masih memegangi mainan miliknya tadi menuju ke area paling sensitif milik wanita itu.


Queena sudah hampir menghujamkannya, saat Brachon mencegah dengan cepat.


"Lakukan perlahan!" Bisik Brachon seraya menggigit kecil telinga Queena. Tangan Brachon bergerak lincah seolah sedang mengajari Queena bagaimana memakai alat itu.


Queena dengan patuh mengikuti apa yang diajarkan oleh Brachon. Tak berselang lama, wanita itu sudah mulai menggeliat saat tangannya mer*ngsang miliknya sendiri.


"Iya, seperti itu, Queen!" Brachon mundur beberapa langkah dan pria itu langsung tersenyum puas, saat melihat Queena yang menggeliat-geliat dan terus menikmati permainan solo-nya.


Samar-samar, des*han dan lenguhan mulai terdengar dari bibir Queena.


"Bagus sekali!"


"Ayo mend*sah dan mengerang lebih kuat lagi karena aku suka mendengarnya!" Tawa Brachon terdengar menggelegar dan Queena bergerak dengan semakin gila.


"Emmmmmmh! Aaaaaaaargggh!" Queena akhirnya benar-benar mengerang dan mengeluarkan semua hasrat di dalam dirinya, hingga akhirnya....


"Aaaarrggghh!" Queena mend*sah dengan panjang dan kuat setelah wanita itu mencapai pelepasannya karena mainan Brachon yang Queena benci. Nafas Queena masih terengah-engah, saat Brachon bangkit dari duduknya lalu pria itu bertepuk tangan dan menghampiri Queena.


"Bagus sekali, Queen!" Bisik Brachon seraya mel*mat bibir Queena.


.


.


.


Maaf baru UP lagi.


Habis kena covid untuk ketiga kalinya tahun ini. Dan kemarin teler berat beberapa hari. Mau ngetik, tapi otak nggak bisa mikir ternyata.


Tetep jaga kesehatan, Teman-teman!

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2