
Queena masih diam, saat seorang maid mendorong kursi roda Queena masuk ke dalam sebuah mansion mewah yang bangunannya bak istana. Namun tentu saja bagi Queena ini bukanlah istana!
Ini adalah penjara!
"Apa perlu aku menyakiti Bagus dan Barley juga agar kau menjadi Queen yang penurut untukku?"
Ancaman dari Brachon kembali terngiang di benak Queena. Entah seberapa banyak informasi yang Brachon ketahui tentang Queena dan keluarganya. Satu hal yang pasti, keluarga Queena saat ini sedang dalam bahaya, karena mungkin Brachon terus saja mengintai dan mengawasi mereka.
"Welcome!" Ucap Vincent yang sedikit menyentak lamunan Queena. Ekspresi wajah pria yang entah saudara atau anak buah Brachon itu terap saja terlihat mengesalkan.
Ya, Vincent memang sebelas dua belas dengan Brachon. Mungkin mereka memang saudara!
Queena sedikit mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Brachon. Tidak ada!
"Sedang mencari siapa, Queen? Brachon?" Tanya Vincent menerka-nerka yang sontak langsung membuat Queena mengumpat dalam hati. Bagaimana Vincent bisa tahu?
Namun Queena tak menjawab sepatah katapun dan wanita itu hanya berekspresi datar.
Ya, sepertinya Queena memang tak perlu membuang-buang tenaga untuk meluapkan emosinya lagi pada Vincent maupun Brachon. Lebih baik Queena menyimpan tenaganya baik-baik untuk merencanakan pelarian diri. Queena akan mencari info sebanyak-banyaknya dulu tentang mansion ini sebelum ia merencanakan sebuah pelarian diri.
"Brachon sudah menyiapkan kamar yang luar biasa untukmu, Queen!" Ucap Vincent selanjutnya seraya membuka sepasang pintu kokoh di hadapan Queena.
"Silahkan!" Ucap Vincent lagi bersamaan dengan kursi rida Queena yang sudah didorong masuk ke dalam kamar. Queena langsung mengedarkan pandangannya ke kamar yang sepertinya berbeda dengan kamar terakhir tempat Queena disekap, lalu disiksa oleh Brachon, sebelum akhirnya Queena berakhir di rumah sakit dan bergelut dengan semua kesakitan di wajah dan tubuhnya.
Brachon keparat!
"Sekarang tanggal berapa, Vin?" Tanya Queena yang benar-benar penasaran, sudah berapa lama ia diculik dan ditawan oleh Brachon Ley. Queena merasa sudah terlalu banyak malam yang ia lalui dalam kesakitan beberapa waktu lalu.
"Tanggal tiga belas November." Jawab Vincent yang sesaat langsung membuat Queena tertegun.
"Tiga belas November?" Queena bergumam tak percaya.
Terakhir kali Queena meninggalkan rumah adalah tanggal dua puluh di bulan Juli. Itu artinya....
Sudah hampir empat bulan Queena meninggalkan Barley.
"Ada apa?"
"Terkejut? Merasa kaget? Sedikit shock?" Vincent tertawa mengejek pada Queena yang masih diam dan wajahnya sudah cukup menggambarkan suasana hatinya. Ya, Queena shock serta tak percaya!
"Kau berbohong?" Queena akhirnya buka suara dan menatap tajam pada Vincent.
"Sama sekali tidak!"
"Kau bisa melihatnya sendiri, Queen!" Vincent menunjukkan arlojinya yang memang menunjukkan tanggal hari ini.
Tanggal tiga belas bulan sebelas!
"Tapi baru kemarin aku meninggalkan rumah!" Queena menyugar rambutnya dengan kedua tangan, saat kemudian wanita itu meringis dan merasakan ada yang janggal dengan wajahnya. Queena meraba garis wajahnya yang berbatasan langsung dengan rambut. Seperti ada jahitan....
Queena lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar seolah sedang mencari sesuatu. Wanita itu bahkan juga sudah bangkit dari atas kursi rodanya dan berjalan memakai kedua kakinya meskipun masih sedikit tertatih.
__ADS_1
Ya, empat bulan terbaring tanpa bangun apalagi berjalan membuat Queena sedikit kaku untuk memijakkan kakinya.
Apa yang sudah dilakukan Brachon pada Queena selama empat bulan itu?
Queena masih mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar, namun wanita itu tak juga menemukan satu benda yang saat ini ia cari.
Bukankah biasanya di setiap kamar, benda itu selalu ada?
Lalu kenapa di kamar yang besar dan mewah ini malah tak ada satupun?
"Kau sedang mencari apa, Queen?" Tanya Vincent yang melihat Queena mondar-mandir seperti orang kebingungan.
"Kaca!" Jawab Queena masih sambil mengedarkan pandangannya. Satu persatu almari Queena buka,namun tak ada satupun kaca di dalamnya.
"Kenapa tak ada kaca di kamar ini?" Tanya Queena lagi yang kini sudah menatap tajam pada Vincent.
"Bukan salahku!" Vincent mengangkat kedua tangannya seraya tersenyum sinis.
"Brachon yang melarang maid meletakkan kaca atau apapun yang bisa memantulkan bayangan dirimu di kamar ini," ujar Vincent lagi yang langsung membuat Queena berpikir keras.
"Kenapa memang? Aku ingin melihat wajahku!" Queena membentak Vincent.
"Wajahmu sudah tak lagi menjemukan, meskipun saat ini masih terlihat sedikit mengerikan." Vincent tertawa terbahak-bahak.
"Tapi kata dokter ini tak akan lama dan mungkin hanya dua minggu. Setelah itu..." Vincent ganti mengendikkan kedua bahunya bersamaan dengan Queena yang meraba pipi kanan dan pipi kirinya.
Masih lekat diingatan Queena tentang perbuatan Brachon empat bulan lalu. Saat pria itu dengan sadisnya menyayat pipi Queena.
Tak mungkin kalau lukanya tak meninggalkan bekas, karena Queena bisa merasakan dalamnya sayatan Brachon waktu itu!
Lalu kenapa sekarang....
Ceklek!
Suara pintu kamar yang dibukan dari luar membuat Queena tersentak dan cepat-cepat menoleh untuk melihat siapa yang datang.
Yeah!
Pria dingin dan kejam itu lagi!
Seharusnya Queena tak perlu menoleh tadi.
"Kau sedang apa disini, Vin?" Tanya Brachon seraya menatap tajam pada Vincent.
"Mengantarkan Queen ke kamarnya. Bukankah tadi-"
"Keluar!" Perintah Brachon pada Vincent dengan nada tegas.
"Baiklah!"
"Siapa juga yang mau berlama-lama dengan wanita buruk rupa itu!" Gerutu Vincent seraya keluar dari kamar Queena. Dan kini lagi-lagi hanya tinggal Brachon dan Queena di dalam kamar.
__ADS_1
"Sudah jadi Queen yang penurut sekarang?" Tanya Brachon seraya menghampiri Queena yang buru-buru menghindari pria itu.
"Masih jual mahal!" Gumam Brachon selanjutnya dengan nada sinis.
"Apa perlu pipi Barley aku sayat-"
"Apa sebenarnya maumu, Ley?" Gertak Queena seraya menatap tajam pada Brachon.
"Aku sudah disini! Menjadi mainan atau entah apapun kau menyebutnya!"
"Jadi berhentilah mengganggu putra dan suamiku! Mereka tidak tahu apa-apa!" Queena masih menatap tajam serta penuh amarah pada Brachon.
"Kau belum melakukan tugasmu, Queen!" Ucap Brachon dengan tangan yang sudah terulur untuk meraih dagu Queena.
"Lalu apa yang kau inginkan?" Desis Queena menahan amarah dihatinya yang benar-benar terasa ingin meledak.
"Buka bajumu!" Titah Brachon yang langsung membuat Queena mendelik pada pria itu.
"Kau ingat perjanjiannya, kan? Kau menuruti semua kemauanku disini dan aku tak akan mengusik Barley, Bagus."
"Papi Briel,"
"Mami Friska."
"Atau dua adik kesayanganmu, Kean dan Lean-"
"Kau keparat, Ley!" Maki Queena kesal karena ternyata Brachon yang menyelidiki asal-usul Queena sampai ke akar.
"Lakukan saja!" Bentak Brachon tajam.
Queena membuang nafas kasar, lalu tangannya bergerak untuk membuka kancing blouse yang ia kenakan. Kalau Queena melakukan hal ini di depan Bagus, tentu saja Queena tak akan merasa keberatan. Tapi ini di depan pria keparat bernama Brachon Ley!
"Sekalian yang lain!" Ucap Brachon lagi setelah Queena selesai membuka blouse yang ia kenakan.
Tentu saja permintaan Brachon tersebut langsung dibalas Queena dengan tatapan sengit.
"Lakukan!" Bentak Brachon yang akhirnya membuat Queena tak lagi berkutik. Wanita itu melucuti satu persatu bajunya di depan Brachon yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Yeah!
Kini Queena sudah tahu apa yang dimaksud dengan menjadi mainan Brachon Ley!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like.
__ADS_1