
"Putramu seperti sedang sedih dan aku rasa dia harus punya banyak mainan agar kesedihannya teralihkan!"
Bagus sontak terdiam, saat pria yang berpakaian serba hitam yang entah siapa itu tiba-tiba membelikan satu kantong mainan untuk Barley dan memaksa agar Bagus menerimanya. Bagus bahkan tak mengenal pria asing itu!
Pria yang mengenakan keneja warna hitam,serta kacamata hitam tadi langsung keluar dari toko, setelah memberikan mainan yang ia beli pada Barley. Tadinya Bagus hendak menyusul pria itu, namun langlah Bagus kalah cepat karena ia yang harus menggendong Barley, sementara pria tadi langsung menghilang di dalam kerumunan orang-orang yang hendak menyeberang jalan.
"Siapa pria itu?" Gumam Bagus yang masih bertanya-tanya.
"Mama," panggil Barley lirih yang hanya bisa membuat Bagus menelan gumpalan pahit di tenggorokannya.
"Mama kapan pulang, Pa?" Tanya Barley seraya menatap pada Bagus yang tentu saja tak punya jawaban untuk pertanyaan sang putra.
Mama kapan pulang?
Kapan Mama pulang?
Bagus mengeratkan dekapannya pada
Barley karena kini hati Bagus juga begitu nelangsa. Kepergian Queena yang mendadak dan mengenaskan, tentu saja membuat hancur hati Bagus.
"Ayo kita pulang!" Ajak Bagus akhirnya pada Barley yang tak lagi bersuara. Bagus hanya menghela nafas, lalu kembali menyeberang jalan,karena tadi Bagus memang memarkirkan motornya di depan restorant siap saji di seberang jalan. Biasanya saat weekend, Bagus dan Queena akan mengajak Barley berjalan-jalan di kawasan pusat kota ini, lalu makan di restorant cepat saji juga yang merupakan favorit Barley.
Namun hari ini, saat Bagus membawa sang putra ke restorant cepat saji langganan mereka,Barley tak mau makan sama sekali, dan bocah tiga tahun itu hanya diam di kursinya, serta tatapan matanya kosong.
Ya, Barley masih terpukul dan merasa kehilangan sosok sang Mama.
Bagus tentu saja bisa merasakan itu semua.
Bagus baru selesai mendudukkan Barley di atas motor, saat ponsel pria itu tiba-tiba berdering. Ada nama Mbak Melody yang tertera di layar ponsel.
"Halo, Mbak!" Sambut Bagus cepat masih sambil memegangi Barley.
"Gus, Papi dan Maminya Queena datang ke rumah."
Deg!
Bagus terdiam sebentar setelah mendengar kalimat yang disampaikan Mbak Melody.
"Kamu dan Barley cepat pulang, ya!"
"Iya, Mbak! Ini Bagus juga sudah siap-siap mau pulang." Ujar Bagus setelah menghela nafas beberapa kali.
"Yaudah! Hati-hati naik motornya! Tidak usah ngebut!"
"Iya, Mbak!" Pungkas Bagus sebelum telepon terputus. Setelah membenarkan posisi Barley di atas motor, segera Bagus memacu kendaraan roda duanya tersebut ke arah rumah Mbak Melody yang selama sebulan terakhir menjadi tempat tinggal Bagus dan Barley untuk sementara waktu.
****
Queena mengerang, saat lagi-lagi ia haris bangun dengan rasa sakit di sekujur wajahnya. Susah payah, Queena berusaha untuk membuka kelopak matanya,hanya demi melihat lagi langit-langit kamar berwarna putih yang sekarang benar-benar terasa menjemukan.
Queena mengerang lagi dan berusaha menggerakkan tangan maupun kakinya, seperti sebelum-sebelumnya. Namun sia-sia!
Kaki dan tangan Queena masih tak bisa digerakkan. Hanya rasa sakit yang menjalar dari leher sampai ubun-ubunnya saja yang terasa.
Sakit sekali!
Tapi Queena tak bisa berteriak atau mengeluh. Queena hanya bisa diam bersama wajahnya yang masih terbalut perban.
__ADS_1
"Kau senang sekarang, Jal*ng??"
"Lihat yang sudah kau lakukan!"
"Kau sudah membuat wajahmu yang menjemukan itu semakin terlihat jelek!"
"Jadi bagaimana kalau kita perbaiki sedikit wajahmu yang menjemukan ini!"
"Aaaarrggghhhh!"
Kelebat kejadian, saat seorang pria menyayatkan pisau ke wajah Queena mendadak melintas di benak wanita tiga puluh tahun tersebut.
Ya, pria itu yang sudah melukai wajah Queena. Lantas, apa ia juga yang sudah membuat Queena terbaring di ruangan ini?
Tapi kenapa pria itu tak langsung membunuh Queena saja jika memang ia ada dendam pada Queena? Apa sebenarnya motif pria asing ini menculik, lalu menyiksa Queena seperti ini?
Queena bahkan tak kenal dengan pria asing tersebut.
Queena masih bergelut dengan pikirannya sendiri, saat ia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Queena sedikit menolehkan kepalanya demi melohat siapa yang datang. Seseorang dengan baju serba putih....
Ah, itu hanya perawat yang sedang memantau kondisi Queena.
"Tolong!" Queena berusaha untuk buka suara dan meminta tolong. Namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokan Queena dan rasanya Queena hanya seperti berteriak dalam hati.
"Eeerrrrgghhhh!" Queena ganti mengerang dan berusaha untuk menggerakkan tangannya.
Tidak ada reaksi apapun dari tangan Queena yang sekarang entah berada di mana.
Sial!
"Eeemmmmpphhh!" Queena kembali mengerang dengan sekuat tenaga, saat akhirnya perawat yang tadi memantau kondisi Queena sedikit peka.
Sekalian saja mereka menyuntikkan obat untuk membuat Queena berhenti bernafas dan tak perlu lagi merasakan semua kesakitan ini esok hari!
Queena ingin mati saja!
Lalu Barley akan menangis mencari Queena.
Barley....
Astaga!
Queena bahkan belum berpamitan pada Barley saat ia meninggalkannya kemarin.
Kemarin?
Sudah berapa lama Queena berada di tempat ini memangnya?
Dan bagaimana dengan Barley?
Apa putra Queena itu masih di tempat Mbak Asih?
Atau apa Bagus sudah pulang lalu menjemput Barley?
Dan apa Bagus memcari Queena sekarang?
Bagus pasti sedang mencari Queena saat ini dan mungkin Bagus juag minta bantuan pada suami Mbak Melody yang kaya.
__ADS_1
Mereka semua pasti akan menemukan Queena tak lama lagi, kan?
Mereka pasti akan tahu keberadaan Queena, kan?
Iya!
Queena juga harus bertahan berarti dan berusaha keluar dari tempat mengerikan oni dan dari pria asing yang membuatnya berda di tempat ini. Pria bernama Brachon!
Brachon!
Siapa sebenarnya Brachon itu?
Dan apa motifnya menculik serta membuat Queena menjadi seperti ini?
Apa Brachon punya dendam pribadi pada seseorang yang dekat dengan Queena?
Bagus?
Tapi mustahil!
Bagus hanya pekerja lapangan dan bukan seorang pebisnis dengan banyak saingan seperti suami Mbak Melody.
Jadi mustahil Bagus punya musuh yang begitu kejam seperti Brachon!
Lalu apa sebenarnya motif Brachon?
"Tuan Ley! Ampuni saya dan jangan-"
Srett! Sreett!
Queena sejenak terdiam, saat ingatannya malah melayang ke kejadian dimana pria bernama Ley itu membunuh Bu Indah.
Sebentar!
Queena berusaha sekuat tenaga untuk mengingat-ingat wajah Ley yang samar dan tertutupi kacaata hitam, lalu Queena ganti mengingat-ingat wajah Brachon saat kemarin pria itu melukai wajah Queena.
Ley?
Brachon?
Wajah mereka berdua sepertinya mirip.
Apa jangan-jangan Brachon adalah Tuan Ley yang sudah membunuh Bu Indah?
Dan jika itu benar, berarti motif Brachon menculik dan membuat Queena menjadi seperti ini adalah....
Pikiran Queena seketika menjadi blank, saat rasa kantuk yang teramat sangat mulai menyergapnya. Sepertinya perawat tadi baru saja menyuntikkan sesuatu ke selang infus Queena karena kini Queena merasa begitu mengantuk dan Queena ingin tidur.
Apakah Queena akan tidur untuk selamanya setelah ini, hingga esok ia tak perlu bangun lagi untuk merasakan sakit di sekujur wajahnya?
Queena sudah lelah!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like