
Queena mengerjapkan mata, saat Samar-samar wanita itu mendengar suara Brachon yang sepertinya sedang berbicara pada seseorang. Queena berusaha membuka matanya yang terasa berat karena penasaran. Namun ternyata Brachon hanya berbicara di telepon!
Ck!
"Lepaskan saja kalau begitu!" Ucapan Brachon membuat Queena yang tadinya ingin memejamkan matanya lagi, mengurungkan niatnya dan memasang baik-baik pendengarannya.
Lepaskan saja?
Apa Brachon sedang membicarakan Queena?
"Jaga ucapanmu dan jangan sok tahu! Aku tidak selemah itu!"
"Lagipula, jika aku menghabisi wanita hamil itu rasanya hanya akan sia-sia! Karena yang ingin aku habisi itu, si tua bangka Mahardika bukan wanita yang katamu adalah simpanan dari anak Frans Mahardika!"
"Kau itu yang sudah salah menculik orang dan sekarang kau malah mengataiku sebagai pria yang lemah! Dasar tidak berguna!" Maki Brachon panjang lebar yang sepertinya sedang kesal pada seseorang yang berbicara padanya di telepon.
Apa orang itu adalah Vincent?
Kalau benar, Queen akan tertawa terbahak-bahak sekarang. Asisten Brachon itu sepertinya memang tak berguma belakangan ini dan kerap berbuat kesalahan.
"Iya! Berapa kali aku harus mengulanginya, Vin!" Brachonasih terlihat kesal. Dan Queena refleks terkekeh saat Brachon menyebut nama Vin.
Asisten tak berguna yang sedang dimaki-maki Brachon itu ternyata memanglah Vincent!
Brachon menoleh ke arah Queena yang masih berbaring tengkurap di atas tempat tidur dan pria itu langsunh menghampiri Queena masih sambil meletakkan ponsel di telinganya.
"Dan cepat siapkan helikopter, karena aku akan mengantar Queen pulang hari ini!" Perintah Brachon lagi sebelum pria itu mel*mat bibir Queena.
"Apa keputusanmu ini tidak terlalu gegabah, Brach?" Samar-samar Queena bisa mendengar suara Vincent di seberang telepon.
"Aku tahu yang aku lakukan dan berhentilah mengguruiku! Siapkan saja helikopternya!" Pungkas Brachon tegas, sebelum kemudian pria itu menutup telepon, lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas. Brachon kembali mel*mat bibir Queena kali ini dengan sedikit kasar namun penuh n*fsu gairah.
Nafas Queena terengah-engah, saat Brachon akhirnya melepaskan pagutannya pada bibit Queena.
"Apa kau senang karena akhirnya kau akan lepas dari seorang Brachon Ley?" Tanya Brachon seraya mencengkeram dagu Queena.
"Ya! Aku senang sekali!" Jawab Queena sinis.
"Aku sudah merekam percintaan panas kita tadi malam sebagai oleh-oleh untuk suami tercintamu," Brachon menunjukkan sebuah flashdisk pada Queena dan terang saja wanita itu langsung membelalakkan matanya.
"Keparat kau, Brach!" Queena secepat kilat langsung berusaha untum menyambar flashdisk tadi dari tangan Brachon, namun gagal!
"Berikan benda itu!" Gertak Queena seraya mendelik pada Brachon.
"Ambil saja!" Brachon kembali menggoyang-goyangkan flashdisk tadi di atas kepala Queena. Queena sudah bergerak secepat mungkin untuk menyambarnya, nsmun masih saja kalah cepat dari Brachon.
Brengsek!
"Kau tahu, Queen! Kau sudah pergi berapa lama dari rumah?" Tanya Brachon seraya memainkan flashdisk di tangannya.
"Enam bulan! Tujuh bulan!" Jawab Queena menerka-nerka.
__ADS_1
Ya, pasti kisaran itu karena saat Queena bertanya tanggal dan bulan pada Vincent beberapa waktu lalu, waktu itu masih November.
Lalu perjanjiannya dengan Brachon yang tadinya enam bulan ternyata malah dipercepat oleh pria baj*ngan ini menjadi sekitar satu atau dua bulan saja.
Itupun kalau Queena tak salah hitung!
"Kau tahu sekarang tanggal berapa, bulan apa dan tahun berapa?" Tanya Brachon lagi pada Queena yang matanya masih tak beralih dari benda kecil di tangan Brachon.
Flashdisk tadi!
"Aku tidak tahu! Kau yak pernah menaruh jam.atau kalender di kamarku, dan kau hanya mengurungku sepanjang hari, menjadikan aku alat pemuas n*fsumu!" Queena mengungkapkan segala uneg-uneg di dalam hatinya.
"Aku akan memberitahumu kalau begitu, karena malam ini akan ada perayaan besar dan kembang api juga akan terlihat dimana-mana-"
"Apa ini sudah di penghujung Desember?" Potong Queena menebak dan menyela.
Ternyata baru lima bulan Queena pergi dari rumah. Queena langsung tersenyum dan bernafas lega.
"Ya, ini tanggal tiga puluh satu bulan Desember tahun dua ribu dua puluh dua," ujar Brachon yang seketika langsung membuat senyuman merekah Queena sirna.
"Tahun dua ribu?" Queena mengernyit pada Brachon.
"Dua ribu dua puluh dua! Apa masih kurang jelas, Queen?" Jawab Brachon seraya tersenyum mengejek pada Queena.
"Mustahil!"
"Kemarin masih bulan November saat aku bertanya pada Vincent-"
"Tahun?" Queena bergumam dan berusaha mengingat-ingat.
Apa Queena menanyakan tahun pada Vincent kemarin?
Queena tak menanyakannya dan Vincent juga tak memberitahu Queena!
"Tapi mustahil aku pergi selama itu...."
"Kau keparat, Brachon! Apa yang sebenarnya telah kau lakukan pada hidupku?" Queena sudah bangkit berdiri tanpa peduli pada tubuhnya yang masih full naked. Wanita itu hanya ingin menghampiri Brachon sekarang dan meluapkan segalanya kekesalannya pada Brachon.
"Baj*ngan!"
"Sudah cukup!" Gertak Brachon tajam seraya menahan kedua tangan Queena.
"Kau keparat!" Maki Queena sekali lagi pada Brachon.
"Ya! Dan si keparat ini akan membebaskanmu sekarang setelah...." Brachon tampak berpikir.
"Ayo berhitung dulu, berapa lama kau meninggalkan Barley dan Mas Bagus-mu!" Ucap Brachon yang sepertinya sengaja membuat Queena kesal.
"Juli, Agustus-"
"Delapan belas bulan!" Sela Queena cepat.
__ADS_1
"Satu setengah tahun? Wow!"
"Apa kau yakin Mas Bagus belum menikah lagi? Bagaimana jika sudah ada Mama baru untuk Barley saat kau pulang nanti?" Tanya Brachon menakut-nakuti Queena.
"Mustahil!" Queena langsung menyalak pada Brachon. Dan pria itu malah tertawa terbahak-bahak sekarang.
"Mas Bagus pasti masih mencariku hingga detik ini! Dia pasti masih berusaha mencariku!" Ujar Queena lagi penuh keyakinan.
"Ya, kau benar!"
"Jadi kau masih tetap ingin pulang, Queen?" Tanya Brachon sekali lagi seraya meraih ponselnya.
"Apa kau mau ingkar janii lagi sekarang?" Gertak Queena penuh amarah.
"Aku hanya bertanya! Karena mungkin saat ini, keluarga besarmu sudah mengikhlaskan kepergianmu dan mereka sudah menjalani hidup dengan normal." Brachon menunjukkan sebuah foto di ponselnya, tentang berita kecelakaan satu setengah tahun silam.
Queena yang membaca nama korban kecelakaan yang dinyatakan tewas terbakar seketika membelalak tak percaya.
Itu adalah.....
Nama Queena dan plat nomor di motor Queena.
Tapi....
"Queena Alesha Ferdinand sudah tewas dalam kecelakaan satu setengah tahun silam, Queen!" Bisik Brachon yang seketika langsung membuat otak Queena menjadi blank dan buntu.
Jadi, alasan lain kenapa Queena bisa menjadi tawanan Brachon selama setahun lebih adalah karena memang tak ada siapapun yang mencari Queena selama ini!
Semua keluarga besar Queena menganggap Queena sudah tewas dan mereka tak pernah mencari Queena!
"Kau masih mau pulang sekarang dan siap menerima kenyataan terburuk?" Bisik Brachon lagi yang langsung bisa dipahami oleh Queena.
Kenyataan terburuk yang dimaksud Brachon pastilah mengacu pada Mas Bagus yang mungkin saja sudah mencari mana pengganti untuk Barley sekarang.....
Queena memejamkan kedua matanya, dan merasakan gejolak menyakitkan di dalam hatinya. Wanita itu terduduk di tepi tempat tidur dan menelan segala gumpalan pahit yang memenuhi tenggorokanmya.
"Aku akan tetap pulang untuk menemui putraku!" Jawab Queena akhirnya penuh tekad.
Ya, misalnya saat ini Mas Bagus sudah bersama wanita lain, Queena akan ikhlas menerima kenyataan tersebut. Tapi Queena hanya ingin memeluk Barley sekarang dan meluapkan rasa rindunya pada sang putra.
Queena hanya ingin memeluk Barley!
"Baiklah, Queen yang keras kepala!" Brachon mengusap wajah Queena lalu menangkupnya dengan sedikit kasar.
"Mari kita bersiap-siap dan pulang bertemu Barley!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.