
"Aaaarrrgghhh!" Queena menjerit sekali lagi saat Brachon ganti melesakkan miliknya ke dalam milik Queena namun dari jalan yang berbeda.
Ya, benda sialan milik Brachon tadi masih menyumpal milik Queena yang seharusnya dimasuki oleh Brachon, dan sekarang Brachon malah menambah penderitaan Queena dengan melesakkan miliknya di tempat yang tak seharusnya.
Pria psikopat gila!
"Brach, hentikan!"
"Kau menyakitiku!" Mohon Queena seraya menarik-narik tangannya yang terikat borgol di sudut ranjang. Queena hanya ingin mendorong atau mencekik Brachon sekarang, lalu mencabut benda sialan yang masih menyumpal miliknya itu dan membuangnya keluar jendela. Queena benar-benar tersiksa sekarang!
"Brach!"
"Eemmmpphhh!"
"Aaarrgghhh!" Erangan dan lenguhan tak berhenti keluar dari mulut Queena. Dan Brachon wajahnya menunjukkan ekspresi puas, seolah ia merasa senang karena bisa membuat Queena merasa kesakitan sekaligus melenguh penuh kenikmatan.
Masokis!!
"Hentikan!"
"Aku mohon!" Suara Queena mulai terbata-bata dan nafas wanita itu sudah tak lagi beraturan. Cucuran keringat juga mulai memenuhi wajah dan tubuh naked Queena.
"Hentikan!"
"Sudah!" Nafas Queena semakin terengah dan pandangan matanya mulai kabur. Queena merasa tak berdaya lagi untuk terus berontak karena tubuhnya kini seperti tak berasa. Queena begitu lelah hingga akhirnya tak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya. Queena juga tak lagi berontak dan wanita itu akhirnya hanya memejamkan kedua matanya, larut dalam rasa sakit yang tak lagi bisa dijelaskan dengan kata-kata.
****
Queena mengerjapkan kedua matanya, saat wanita itu merasakan hangatnya sinar mentari yang seolah sedang menerpa wajahnya.
"Pssstttt!"
"Bangun, Sayang!" Suara lembut dari Bagus saat membangunkan Queena langsung membuat bibir Queena melengkungkan senyuman lebar.
"Ayo bangun!"
Senyum Queena semakin lebar saat ia merasakan belaian lembut tangan Bagus di pipinya. Namun Queena masih enggan membuka mata karena ia tahu kalau semua ini hanya mimpi.
Ini hanya ilusi dan Mas Bagus tak benar-benar sedang berada di samping Queena sekarang.
Queena mengusap pipinya sendiri yang terasa hangat dan sedikit basah juga karena airmata Queena yang ram lagi bisa terbendung.
"Mas Bagus," gumam Queena yang akhirnya membuka mata.
Hanya ada tirai warna putih di hadapannya sekarang. Di sebuah kamar di dalam apartemen Brachon.
Queena menyeka airmata yang masih menggenang di pelupuk matanya, dan wanita itu malah kembali tergugu sekarang. Queena merem*s selimut yang menutupi tubuhnya dan kembali harus menyeka air mata yang membasahi wajahnya.
Wanita itu lalu bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang. Queena sudah mengenakan gaun tidur warna putih dan berada di kamarnya. Entah kapan Brachon memindahkan Queena dari kamar serba hitam itu, Queena juga tak ingat. Queena terlalu lelah dengan permainan Brachon semalam hingga akhirnya ia entah tertidur entah pingsan. Namun satu hal yang pasti, rasa perih di pangkal paha Queena masih sedikit menyiksa.
__ADS_1
Queena mengedarkan pandangannya saat kemudian tatapannya tertumbuk pada troli berisi makanan di dekat sofa. Segera Queena menyibak selimut, lalj menghampiri troli berisi makanan tersebut. Tanpa berpikir lagi, Queena langsung mengambil beberapa makanan, lalu duduk di sofa dan mulai makan. Perut Queena memang sudah sangat-sangat lapar, setelah apa yang dilakukan Brachon padanya semalam.
Mata Queena mengamati jam dinding yang tergantung di dalam kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, dan Queena masih terus menyumpalkan makanan ke dalam mulutnya. Queena benar-benar kelaparan.
Ceklek!
Suara pintu kamar yang dibuka dari luar, hanya membuat Queena menoleh sejenak, sebelun kemudian wanita itu lanjut makan lagi.
"Kau sudah bangun?" Brachon yang sudah mengenakan kemeja dan celana serba hitam, menghampiri Queena dan langsung mengusap kepala Queena. Brachon mengamati Queena yang masoh sibuk mengunyah makanan, seolah pria itu sedang menunggu sesuatu.
"Kau mau makan juga?" Tawar Queena seraya menyodorkan piring di pangkuannya ke arah Brachon. Kelebat perbuatan Brachon tadi malam mendadak melintas di benak Queena.
Rasa sakit sekaligus rasa nikmatnya, seolah masih bisa Queena rasakan sekarang.
Sial!
Apa itu artinya Queena mulai menyukai dan menikmati permainan kasar Brachon saat di atas ranjang?
Naif sekali!!
Brachon masih tak menjawab pertanyaan Queena, dan sekarang pria itu duduk di samping Queena, lalu menyilangkan kakinya serta merentangkan tangan ke belakang punggung Queena.
"Aku minta uang!" Ucap Queena akhirnya to the point yang langsung membuat Brachon mengernyit.
"Biar kutebak!"
"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau sudah melepaskan aku dan tak lagi menjadikan aku sebagai tawanan. Jadi apa masalahnya jika aku keluar dari apartemenmu dan memulai hidupku yang baru sebagai Queena-" Queena meletakkan piring di pangkuannya ke atas trolo dengan kasar.
"Atau Alesha karena Queena sudah mati seperti katamu!" Ujar Queena lagi sedikit mengoreksi kalimatnya.
"Aku memang sydah mekepaskanmu! Tapi kau yang tak pernah mau lepas dariku. Kau selalu kembali pulang untuk menemuiku," tukas Brachon mencari pembenaran yang langsung membuat Queena berdecih.
"Berikan aku uang sekarang!" Perintah Queena selanjutnya seraya menengadahkan tangannya ke arah Brachon.
"Atau berikan aku bayaran karena semalam aku sudah melayanimu," ujar Queena lagi yang langsung membuat Brachon melemparkan tatapan tajam pada wanita tersebut.
"Apa kau sedang menganggap dirimu sebagai jal*ng?" Tanya Brachon tak senang.
"Ya! Bukankah selama ini aku memang menjadi jal*ng untukmu karena setiap malam yang aku lakukan hanyalah menjadi penghangat di ranjang sekaligus pemuas n*fsu birah*mu."
"Aku adalah seorang jal*ng untuk Brachon Ley!" Ucap Queena lantang seraya tertawa terbahak-bahak. Brachon yang emosi sontak menangkup kasar wajah Queena dan menatap tajam pada wanita itu.
"Ada apa? Kenapa kau marah?" Queena bertanya pongah pada Brachon seolah wanita itu sedang menantang pria di depannya tersebut.
"Aku bisa saja mengulangi apa yang aku lakukan semalam kepadamu, dan membuatmu kembali memohon agar aku berhenti-"
"Lalu kenapa kau tak mengulanginya?" Tantang Queena memotong.
"Aku sedang tak berselera untuk menyentuhmu!" Jawab Brachon yang langsung membuat raut wajah Queena seketika berubah. Meskipun Queena cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya, namun Brachon masih sempat menangkap kekecewaan sekilas di wajah Queena tadi dan sekarang pria itu sedang tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kau terlihat kecewa, Queen! Apa itu artinya kau menikmati permaian kita sema-"
"Dalam mimpimu!" Sahut Queena lantang seraya mendelik pada Brachon. Queena juga sudah menyentak tangan Brachon yang sejak tadi menangkup wajahnya. Pria itu kembali tertawa mengejek.
"Apa Bagus tak pernah melakukan yang seperti itu padamu?" Olok Brachon lagi yang langsung membuat Queena semakin mendelik pada Brachon.
"Tidak usah membawa-bawa suamiku!" Gertak Queena pada Brachon.
"Oh, masih menganggap pria yang berulang kali mengusirmu itu sebagai suami?" Brachon ganti tersenyum miris.
"Itu semua karena ulahmu! Kau yang membuat Mas Bagus tak lagi mengenaliku!" Marah Queena pada Brachon yang malah tertawa tanpa dosa. Dasar iblis!!
"Kau mungkin bisa meyakinkan suamimu itu lagi kalau kau adalah Queena Alesha Ferdinand," ujar Brachon memberikan ide untuk Queena yang wajahnya masih terlihat marah.
"Aku ada urusan di luar kota sampai lusa-"
"Berikan aku uang!" Potong Queena cepat.
"Kau akan lebih aman tinggal disini!" Ujar Brachon cepat.
"Aku ingin shopping di bawah!" Ujar Queena beralasan.
Brachon mengangguk, lalu pria itu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan mengangsurkan benda berupa kartu pada Queena.
"Ini bukan kartu debet!" Protes Queena selanjutnya seraya mengacungkan kartu di tangannya pada Brachon.
"Itu kartu akses sekaligus kartu member eksklusif. Kau bisa membeli apapun di dalam mall memakai kartu itu. Bukankah katamu tadi kau hanya ingin shopping di bawah?" Tukas Brachon panjang lebar yang seketika langsung membuat Queena mengumpat dalam hati.
Brengsek!
"Aku butuh uang untuk naik taksi!" Queena kembali beralasan.
"Kau tidak akan butuh taksi lagi!" Brachon sudah bangkit berdiri, lalu pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Queena dan mel*mat bibir Queena.
Selalu saja!
"Kau benar-benar tak mau memberikan aku uang? Kau hanya meninggalkan kartu bodoh ini untukku?" Queena bersungut-sungut dan mengacung-acungkan kartu warna pink di tangannya dengan rasa kesal.
Tak ada jawaban dari Brachon hingga pria itu keluar dari kamar dan meninggalkan Queena begitu saja.
Menyebalkan!!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1