
Queena terbangun dengan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Wanita itu juga merasakan kepalanya yang berdebum serta pandangannya yang masoh sedikit kabur. Queena mencoba untuk mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, demi memastikan saja ia tidur dimana sekarang.
"Ooooh!" Erang Queena saat kepalanya terasa semakin sakit hanya karena wanita itu mengangkatnya sedikit.
Queena mengerjap sejenak dan merasa asing dengan kamar ini. Mungkinkah Queena masih berada di SkyLeyland Tower?
Lalu Brachon dimana?
Pria itu tak terlihat di sudut manapunn di kamar ini!
"Biar saja! Siapa yang peduli memang?" Gumam Queena akhirnya seraya kembali merebahkan kepalanya ke atas bantal. Queena meraba-raba selimut di sekitarnya, lalu menarik bebda tersebut untuk menutupi tubuhnya yang masih full naked. Hembusan pendingin udara benar-benar membuat bulu kuduk Queena seketika berdiri.
Queena baru memejamkan matanya beberapa menit, saat telrpon di samping tempat tidur tiba-tiba berdering. Tentu saja hal itu langsung .embuat Queena teelonjak kaget dan tak berhenti mengumpat.
Ditambah lagi, Queena yang sudah berbulan-bulan hidup tanpa telepon dan alat komunikasi lain,mendadak merasa asing pada benda yang kini masih berdering tersebut.
Namun meskipun sedikit malas, Queena akhirnya tetap mengangkatnya.
"Queen!" Langsung terdengar suara Brachon dari ujung telepon.
"Kau mengganggu tidurku, Brach!" Omel Queena sambil kembali merebahkan kepalanya di atas bantal. Kepala Queena masih terasa sakit sekali. Queena mungkin butuh obat sakit kepala sekarang. Dan obat pereda nyeri lain karena bagian bawah tubuh Queena juga terasa sakit dan perih.
Entah permainan macam apa yang tadi malam Queena dan Brachon lakukan.
"Akan ada pelayan yang mengantar sarapanmu. Jadi pakai bajumu-"
"Memang kenapa kalau aku tidak pakai baju saat ada pelayan yang datang mengantar sarapan?" Queena memotong kalimat Brachon dengan berani.
Sekarang Queena akan ganti membuat Brachon menjadi kesal.
"Kau tidak perlu sarapan kalau begitu!"
Queena bisa menangkap geraman kesal dari nada bicara Brachon.
"Ya! Agar aku juga lebih cepat mati dan rak perlu lagi menjadi mainanmu!" Timpal Queena sebelum kemudian wanita itu menutup telepon dari Brachon.
Telepon kembali berdering tak berselang lama.
"Berisik!" Gerutu Queena yang akhirnya mencopot kabel di belakang telepon. Queena lanjut merebahkan kepalanya, dan kembali memejamkan mata, dengan posisi tengkurap.
****
"Mama!"
"Hai, Barley! Mama beliin susu kesukaan Barley!" Queena menunjuk satu kantong belanja yang penuh dengan susu UHT rasa coklat favorit Barley.
"Yeay! Yeay!" Barley langsung bersorak senang dan hendak meraih kantung belanja yang dibawa oleh Queena. Namun Queena malah sedikit menggoda putranya tersebut danntak langsung memberikannya.
"Mama!" Rengek Barley manja.
"Cium pipi mama dulu!" Queena sudah berlutut dan menyodorkan pipinya pada Barley.
"Mmuuaaah!" Barley dengan cepat mencium pipi kanan Queena.
"Satu lagi!" Queena ganti menyodorkan pipinya yang sebelah kiri.
"Mmmuuaaah! Mmmuaaah!"
"Udah!" Lapor Barley sedikit merengut.
"Susunya mana?" Tagih Barley lagi.
__ADS_1
"Ini!" Queena memberikan satu kotak susu untuk Barley.
"Kok cuma satu?" Barley mengajukan protes.
"Yang lainnya buat nanti!" Queena mencubit gemas pipi Barley, saat tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pipi Queena.
"Mmmmuaaaah!" Queena terlonjak dan langsung mendapati Bagus yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Papa mau susu juga, Ma!" Rengek Bagus bertingkah seperti Barley. Bagus juga sudah mendekap Queena dengan manja.
"Susu apa?" Tanya Queena pura-pura tak paham.
"Susunya mama," jawab Bagus seraya tangannya bergerak nakal dan sudah merem*s dada Queena.
"Ck! Apa, sih, Mas!" Queena refleks menyikut perut sang suami.
"Aku tadi malam belum jadi dapat jatah," bisik Bagus di telinga Queena.
"Salah sendiri, dipijitin malah tidur!" Omel Queena yang langsung balik menyalahkan Bagus.
"Kan capek!" Ujar Bagus beralasan.
"Aku minta jatah sekarang boleh berarti-" Bagus tiba-tiba sudah menindih tubuh Queena yang entah bagaimana ceritanya sudah dalam posisi telentang di lantai.
"Sekarang?" Queena mengernyit dan merasa ada yang salah dengan wajah Bagus karena mendadak wajah suami Queena itu menjadi kabur seperti sebiah layar monitor yang hampir rusak.
"Sekarang, Queen!"
Queena terlonjak saat mendengar suara Brachon, lalu melihat wajah Brachon juga yang ternyata sudah berada di atasnya. Kedua mata Queena langsung membelalak lebar dan wanita itu hebdak berontak, saat akhirnya Queena menyadari kalau kedua tangannya sedang ditahan dan dikunci oleh Brachon.
"Mimpimu indah?" Tanya Brachon dengan raut manis yang justru membuat Queena merasa muak. Queena rasanya ingin marah dan meledak, tapi semuanya juga tak ada gunanya karena pada akhirnya, Brachon tetap saja yang akan menang dan menbuat Queena tak bisa berkutik.
"Mimpimu indah, Queen?" Brachon mengulangi pertanyaannya yang tak dijawab oleh Queena.
"Ceritakan kalau begitu!" Titah Brachon seraya mengecup singkat bibir Queena.
Queena tak tahu ia tadi tertidur berapa lama setelah menutup senagn lancang telepon dari Brachon. Queena merasa ia baru beberapa menit menejamkan mata, lalu mimpi bercengkerama bersama Barley.
Barley....
"Kenapa diam? Kau tidak mau cerita?" Brachon sudah menatap tak senang pada Queena.
"Aku...."
"Aku hanya bermimpi bertemu dengan Barley," jawab Queena akhirnya membuka ceritanya pada Brachon.
"Kau rindu pada Barley?" Tanya Brachon lagi.
"Ya! Tapi aku masih terikat perjanjian denganmu selama enam bulan lamanya-"
"Atau mungkin bisa lebih." Brachon memotong kalimat Queena yang sontak membuat wanita itu membelalak.
"Tapi kau sudah janji kalau hanya enam bulan, Brach! Kau bilang kau tak akan ingkar janji!" Queena berteriak marah pada Brachon.
"Aku mendadak berubah pikiran."
"Dan aku sedikit terobsesi dengan bibir." Brachon mel*mat lagi bibir Queena.
"Dan tubuhmu belakangan ini!" Lanjut Brachon yang kini sudah ganti mengusap wajah Queena, lalu turun ke leher dan dada wanita itu.
"Jadi kau tak akan pernah melepaskanku?" Tanya Queena dengan tatapan putus asa.
__ADS_1
"Tergantung!"
"Jika nanti aku merasa bosan padamu, aku pasti akan melepaskanmu," jawab Brachon enteng.
"Atau menghabisi nyawaku," timpal Queena seraya berdecih.
"Bisa juga seperti itu!" Brachon tertawa kecil seolah pria itu sedang mengolok-olok Queena sekarang.
Queena tak lagi berucap sepatah katapun dan wanita itu hanya menatap tajam pada Brachon.
"Ada apa, Serigala kecil? Mau memberontak lagi? Mau marah? Mau mengamuk?" Cecar Brachon tetap dengan tatapan mengejek. Namun Queena tak menjawab satu patah katapun. Wanita itu kini hanya diam membisu.
Ya, Queena sudah lelah memberontak pada Brachon, karena hingga detik inipun, seolah tak ada secercah harapan untuk Queena bisa lepas dari cengkeraman pria psikopat ini.
"Kenapa hanya diam, Queen? Kau sengaja ingin membuatku marah?" Brachon mulai menatap tak senang oada Queena yang tetap membisu.
"Jawab aku!" Brachon mencengkeram kasar bibir Queena yang masih tak mau buka suara.
"Jawab aku, Queen!" Bentak Brachon emosi.
"Oh, kau mau aku melakukan sesuatu pada Barley?" Ancam Brachon akhirat sembari meraih ponselnya dari atas nakas. Queena sontak melebarkan kedua matanya.
"Masih tidak mau buka suara?" Brachon mulai menghubungi seseorang.
"Halo-"
"Hentikan!" Queena sudah langsung menyentak ponsel Brachon hingga benda itu terlempar ke lantai.
"Buka suara juga akhirnya!" Brachon berdecih dan mengusap kasar bibir Queena.
"Ingat pada janjimu untuk melayaniku sepenuh hati-"
"Itu hanya berlaku, jika kau mau melepaskanku setelah enam bulan!" Sergah Queena memotong.
"Kau yang tak menepati janjimu, Ley! Jadi bukan salahku jika aku juga tak menepati janjiku!" Tegas Queena lagi dengan nada berani.
"Kau duluan yang tak menepati janji!"
"Kau tak pernah melayaniku sepenuh hati dan kau selalu berontak saat bersamaku!" Brachon balik menyalahkan Queena.
"Bukankah kau suka serigala kecil yang berontak?" Queena mencari alasan.
"Aku lebih suka Queen yang penurut!" Ucap Brachon dengan nada tegas.
"Aku akan menjadi Queen yang penurut," janji Queena sekali lagi.
"Kau sudah mengatakan itu ribuan kali, tapi kau tak pernah menepatinya!" Decih Brachon tak percaya. Pria itu sudah bangkit dari atas Queena, lalu merapikan sejenak kemejanya, sebelum akhirnya berjalan ke arah pintu kamar.
"Aku akan menepati janjiku, Brach! Izinkan aku menemui Barley!" Teriak Queena frustasi pada Brachon yang sudah memegang gagang pintu kamar. Brachon menghentikan sejenak langkahnya, lalu menoleh pada Queena.
"Please!" Ucap Queena memohon.
"Makan saja sarapanmu, lalu segeralah berpakaian! Vincent akan menjemputmu tiga puluh menit lagi!" Ucap Brachon dengan ekspresi wajah dingin, sebelum pria itu benar-benar keluar dan meninggalkan Queen.
"Kau keparat, Brachon!" Maki Queena kesal pada pintu kamar yang sydah tertutup rapat.
Sirna sudah harapan Queena sekarang, untuk bisa bertemu dan kembali berkumpul bersama Barley dan Mas Bagus. Lebih baik Queena mati saja!
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.