
"Menjadi milikku untuk selamanya!"
Queena memejamkan mata dan berusaha mengusir kalimag Brachon yang terus saja terngiang di kepalanya. Wanita itu merapatkan selimut yang masih membalit tubuhnya, lalu melempar pandangannya kd arah jendela, dimana langit di luar gedung apartemen mulai menunjukkan semburat oranye.
Hari sudah beranjak malam lagi.
Ceklek!
Suara pintu yang dibuka dari luar, membuat Queena menolehkan kepalanya sejenak untuk melihat siapa yang masuk. Tadi pagi setelah Brachon keluar dari kamar, beberapa maid memang masuk ke kamar Queena untuk mengantar makanan serta menawarkan untuk membantu Queena membersihkan diri, namun Queena menolak karena ia sangat bisa membersihkan dirinya sendiri.
Queena bukan wanita lumpuh!
Queena langsung mendengus saat mengetahui siapa yang masuk ke kamarnya kali ini. Bukan Brachon dannjuga bukan maud, melainkan pria yang suaranya terdengar menjemukan bagi Queena.
"Masih belum mau keluar dari kamar?" Tanya Vincent dengan nada bicara mencemooh seperti biasa.
Queena tak menjawab, dan wanita itu memilih untuk kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Vincent meletakkan sebuah kotak di atas ranjang, lalu pria itu menghampiri Queena yang masih duduk seraya memeluk lututnya di sofa.
"Kau sedang apa disini? Kenapa lancang masuk ke kamarku padahal aku tak mengijinkanmu untuk masuk kesini!" Gertak Queena pedas tanpa sedikitpun menoleh ke arah asisten Brachon tersebut.
"Sebenarnya aku juga malas masuk ke kamarmu dan menemuimu. Tapi Brachon yang menyuruhku untuk mengantar gaun serta perlengkapan lain yang akan kau kenakan malam ini!"
"Brachon mau mengajakmu dinner di luar," terang Vincent menyampaikan tujuannya masuk ke kamar Queena. Asisten Brachon itu lalu mengeluarkan ponselnya, dan menyodorkan benda tersebut pada Queena.
Rupanya telepon dari Brachon sudah tersambung.
"Queen!"
Queena memejamkan matanya saat mendengar suara Brachon dari ujung telepon. Kalimat Brachon tadi malam kembali terngiang di benak Queena.
Menjadi milikku selamanya!
Selamanya!!
"Queen, bicaralah! Aku mau mendengar suaramu."
"Kenapa kau menyuruh asistenmu yang menyebalkan ini masuk ke kamarku?" Tanya Queena ketus. Langsung terdengar tawa aneh dari Brachon di seberang telepon.
"Vin mengantar gaun yang akan kau kenakan malam ini. Aku juga menyuruhnya membawa perias dan penata rambut-"
"Aku bisa merias diriku sendiri!" Potong Queena cepat.
"Bagus! Tepat jam tujuh, aku akan menjemputmu di bawah!"
"Dan aku ingin penampilan yang sempurna dari Queen-ku malam ini!"
"Kita akan dinner di mana memangnya?" Tanya Queena lagi.
__ADS_1
"Kau akan tahu nanti!"
Tuut! Tuut!
Telepon terputus dan Queena langsung membanting ponsel Vincent ke atas sofa hingga membuat sang empunya mendengus kesal.
"Apa kau tak tahu tata krama, Queen?" Sindir Vincent sebelum akhirnya pria itu keluar dari kamar Queena dan kembali menutup pintu.
Meskipun sedikit malas, Queena akhirnya tetap beranjak dari sofa, untuk melihat gaun yang dikirimkan oleh Brachon kepadanya.
Sebuah gaun warna hitam dengan potongan yang lumayan terbuka.
Ya, ya, ya!
Seperti Queena tak tahu saja selera Brachon!
Queena meletakkan gaun itu ke atas ranjang, sebelum kemudian wanita itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus bersiap-siap.
Queena punya sebuah rencana bagus untuk Brachon!!
****
Ting!
Queena menatap pada layar monitor kecil di atas pintu lift, bersamaan dengan pintu yang akhirnya terbuka. Segera Queena melangkah keluar, dan hendak ke loby apartemen, saat kedua netra Queena tak sengaja melihat Barley yang sedang digandeng oleh pasangan paruh baya memasuki area mall yang pintu masuknya bersebelahan dengan lobi utama apartemen. Ada jembatan kecil juga di sisi loby yang menjadi penghubung gedung loby apartemen dengan pintu masuk mall.
"Barley!" Gumam Queena yang buru-buru membelokkan langkahnya ke arah jembatan yang menuju ke mall. Queena mempercepat langkahnya agar tak kehilangan jejak dari pasangan paruh baya yang tadi bersama Barley.
"Barley!" Queena mencari-cari keberadaan Barley saat wanita itu tiba di dalam mall. Dan setelah mengedarkan pandangannya, Queena akhirnya menemukan Barley yang sedang naik eskalator ke lantai dua. Bergegas Queena menyusul putranya tersebut dan ikut naik eskalator juga.
"Sial!" Umpat Queena saat langkahnya tertahan oleh rombongan yang hendak naik eskalator juga.
Dan sekali lagi, Queena harus kehilangan jejak Barley di lantai dua. Putra Queena itu tak terlihat di manapun, padahal Queena sudah berkeliling di lantai dua. Queena juga memasuki satu persatu toko di lantai dua untuk mencari Barley. Namun tetap saja, putra Queena itu tak ada dimana-mana.
Queena baru saja akan menuju ke lantai tiga, saat ia melihat pengawal Brachon yang biasa mengekori Queena kemana-mana sedang celingukan mencari keberadaannya.
"Ck!" Queena berdecak dan langsung berbelok menuju ke toilet untuk bersembunyi dahulu. Queena masih ingin mencari Barley dan memeluk putranya tersebut. Jadi nanti saja Queena menemui Brachon di lantai bawah.
Meskipun konsekuensinya, Brachon akan marah dan mungkin pria itu akan melakukan hal kasar lagi pada Queena.
Sudah biasa!
Toh Brachon memang selalu kasar saat memperlakukan Queena di atas ranjang.
Dasar masokis sejati!
Cukup lama Queena bersembunyi di salah satu bilik toilet, sebelum akhirnya wanita itu keluar dengan mengendap-endap dari dalam toilet wanita.
Queena lalu memutuskan untuk naik lift saja ke lantai tiga, dan semoga pengawam Brachon sudah pergi ke lantai bawah. Tadi Queena bersembunyi lebih dari dua puluh menit!
__ADS_1
Ting!
Lift sudah tiba di lantai tiga, dimana ada pusat kecantikan dan playground untuk anak-anak. Fokus Queena tebtu saja langsung ke arah playground. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke dalam playground untuk mencari Barley, namun bocah empat tahun itu tak terlihat dimanapun.
"Barley, kamu dimana, Sayang?" Gumam Queena sambil tetap mengedarkan pandangannya ke sekeliling area playground. Hingga akhirnya pandangan mata Queena tertumbuk pada bocah laki-laki empat tahun yang sedang digandeng oleh seorang pria asing.
Tapi bocah itu adalah Barley
"Barley!" Queena bergegas menghampiri Barley yang sepertinya akan menuju ke playground bersama pria asing tadi.
"Barley!"
"Barley!" Panggil Queena selembut mungkin seraya menghampiri Barley dan hebdak memeluk sang putra. Namun Barley bergegas menghundar, dan sekarang bocah itu malah memeluk kaki pria asing yang tadi bersamanya.
"Barley, ini Mama!" Ucap Queena sekali lagi yang malah membuat Barley menggeleng-geleng. Bocah empat tahun itu terlihat ketakutan.
"Maaf, Nona! Mama kandung Barley sudah meninggal karena kecelakaan!"
"Anda jangan mengada-ada, ya!" Ucap pria asing yang yadi bersama Barley dengan nada tegas. Oria itu juga langsung mengangkat tubuh Barley yang ketakuatan dan membawanya ke dalam gendongan.
"Itu tidak benar!"
"Aku mama kandung Barley!" Ucap Queena bersikeras. Queena mengusap punggung Barley namun dengan cepat disentak okeh balita empat tahun tersebut.
"Bukan!"
"Barley, peluk Mama dan kau akan tahu kalau ini Mama, Sayang!" Mohon Quenna sekali lagi yang mulai berurai airmata.
Rasanya sakit sekali menerima penolakan dari Barley seperti ini!
Queena hanya ingin memeluk putranya tersebut, namun Barley terus saja menggeleng dan menyembunyikan kepalanya di dalam dekapan pria yang nenggendongnya tersebut.
"Silahkan pergi atau saya akan panggil security, Nona!" Usir pria asing itu kemudian pada Queena yang langsung menggeleng.
"Barley!"
"Ini Mama, Barley!" Queena masih bersikeras mengusap punggung Barley lagi, namun pria asing tadi malah langsung menghindar dan membawa pergi Barley.
"Tunggu!" Queena terus mengejar pria asing tadi, hingga wanita itu tam menyadari kehadiran kengawal dari Brachon yang mencegat langkahnya.
"Nona, Tuan Brachon sudah menunggu anda di bawah-".
"Aku mau memeluk putraku!" Queena meronta dan menolak, namun sayangnya ia kalah tenaga dengan para pengawal Brachon yang kini menggiringnya ke arah lift. Queena akhirnya hanya bisa menatap Barley yang masih digendong oleh pria asing tadi dari kejauhan.
Hati Queena rasanya begitu nelangsa....
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.