
"Aku kebelet dan harus ke toilet sekarang!" Ucap Queena seraya berlalu meninggalkan dua pengawal Brachon yang sedari tadi terus membuntutinya. Queena langsung menuju ke toilet wanita dan masuk dengan sedikit tergesa. Queena hampir menabrak seorang ibu hamil yang hendak keluar dari toilet.
"Astaga! Maaf, Nyonya!" Ucap Queena cepat seraya memegangi lengan ibu hamil yang kaget tadi.
"Tidak apa-apa!" Ucap sang ibu hamil hendak keluar. Namun Queena mencegah dengan cepat.
"Nyonya sebentar!"
"Maaf!" Ibu hamil tadi menatap tidak senang pada lengannya yang ditahan oleh Queena.
"Maaf jika saya tidak sopan!" Queena menangkupkan kedua tangannya di depan dada, lalu menatap melas pada ibu hamil tadi.
"Saya hanya ingin minta tolong," ucap Queena lagi memohon dan si ibu hamil langsung mengernyit tak paham.
"Minta tolong apa?"
"Di luar, ada suami saya sedang menunggu saya. Yang bajunya serba hitam." Queena sedikit mengarang cerita.
"Suami saya selalu memaksa saya untuk hamil." Queena sudah ganti menatap sedih je arah perut ibu hamil di depannya tersebut. Terang saja, apa yang dilakukan oleh Queena langsung membuat si ibu hamil mengusap perutnya sendiri.
"Tapi sudah dua tahun lebih saya melakukan promil dan selalu gagal," curhat Queena lagi mengarang indah.
"Aku turut prihatin," ucap ibu hamil di depan Queena tersebut.
"Mungkin kau bisa mencoba promil ke dokter kandungan langgananku. Beberapa temanku mencoba promil disana dan banyak yang berhasil," ujar ibu hamil yadi lagi yang langsung membuat Queena menatap tak percaya ke arahnya.
"Aku boleh minta alamatnya?"
"Ya!" Wanita hamil itu mengangsurkan sebuah kertas yang ia keluarkan dari tasnya pada Queena.
"Terima kasih, Nyonya!" Ucap Queena tulus.
"Sama-sama!" Ibu hamil itu hendak pergi namun lagi-lagi Queena mencegah.
"Tunggu!"
"Ada apa lagi?" Tanyanya bingung.
"Saya boleh minta bantuan satu lagi, Nyonya?" Queena mengeluarkan sebuah cup kecil dari dalam tasnya yang langsung membuat si ibu hamil mengernyit.
"Suami saya mengancam kalau ia akan membunuh saya jika saya tak kunjung hamil-"
"Kau mau menipunya?" Tebak ibu hamil itu memotong dan menerka-nerka.
__ADS_1
"Please!" Mohon Queena yang wajahnya sudah kembali melas.
"Tapi bagaimana kalau dia memaksamu melakukan USG?" Tanya wanita hamil itu khawatir.
"Itu urusan saya, Nyonya! Saat ini saya hamya minta tolong anda untuk membuat testpack saya positif," Queena juga mengeluarkan sebuah testpack dari dalam tasnya. Namun wanita hamil di depan Queena itu langsung menggeleng.
"Nyonya, tolong saya!" Mohon Queena sekali lagi.
"Kau akan kesulitan ke depannya! Lalu kau akan minta tolong padaku untuk meminjamlan bayiku juga?" Tuduh wanita hamil itu.
"Tidak sama sekali!" Sergah Queena cepat.
"Kita bahkan tak saling kenal dan saya hanya minta anda membuat testpack saya jadi positif. Serelah itu anda bisa pergi, menikmati kehamilan anda lagi hungga melahirkan, dan saya tak akan pernah mengusik hidup anda ke depannya."
"Saya bersumpah!" Queena mengangkat satu tangannya sebagai tanda sumpah.
"Aku baru saja buang air kecil!" Wanita hamil itu beralasan.
"Saya yakin anda sudah merasa ingin buang air kecil lagi," ujar Queena seeaya tertawa kecil.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Wanita hamil itu menyambar cup kecil di tangan Queena, lalu berjalan ke salah satu bilik toilet.
"Saya juga pernah hamil sebelumnya. Namun Tuhan belum mengizinkan saya memeluk putri saya."
"Maaf! Aku turut berduka," ucap sang ibu hamil yang hanya membuat Queena mengangguk. Ibu hamil tadi akhirnya masuk ke dalam bilik toilet, dan suasana sejenak menjadi hening. Tak berselang lama,sang ibu hamil sudah keluar lagi.
"Hanya sedikit. Semoga cukup," ujar ibu hamil tersebut seraya kengangsurkan cup kecil tadi pada Queena.
"Lebih dari cukup. Terima kasih sekali lagi, Nyonya!" Ucap Queena tulus.
"Sama-sama!"
"Semoga kau lekas hamil juga setelah ini," pungkas si ibu hamil, sebelum keluar dari toilet wanita.
Queena sendiri bergegas membuka testpack di tangannya, lalu melakukan test kehamilan. Dua garis merah yang begitu jelas langsung terlihat di batang testpack.
Bagus sekali!
Queena sudah berhasil mengabulkan keinginan Brachon sekarang!
"Ehem!"
Deheman dari Brachon membuat lamunan Queena menjadi buyar seketika. Wanita itu langsung mengikat rambutnya, sebelum lanjut menikmati rujak di depannya.
__ADS_1
"Enak rujaknya?" Tanya Brachon yang sudah duduk di samping Queena.
"Ya! Kau mau?" Tawar Queena seraya menyuapi Brachon dengan satu potongan buah nanas.
"Kita akan pergi ke dokter sore ini," ujar Brachon lagi seraya mengusap perut Queena. Terang saja ucapan Brachon langsung membuat Queena berpikir keras.
"Tapi, Brach! Apa tidak sebaiknya kita ke dokternya bulan depan saja?" Usul Queena beralasan.
"Kenapa begitu? Kita harus memastikan-"
"Garis di testpack tadi sudah sangat jelas, Brachon!"
"Dan itu sudah jelas membuktikan kalau aku sedang hamil sekarang. Dan misalkan kita pergi ke dokter sekarang, kemungkinan besar janinnya belum terlihat."
"Aku sudah pernah hamil dan melahirkan jadi aku sangat paham kapan kita perlu ke dokter. Lagipula, aku tadi juga sudah membeli multivitamin yang aku butuhkan," tutur Queena menjelaskan panjang lebar pada Brachon yang langsung berdecak.
"Tak perlu kau perjelas bagian kau pernah hamil dan melahirkan!"
"Itu Queen yang lain, sedangkan kau adalah Queen-ku dan milikku saja!" Ucap Brachon posesif dengan ekspresi wajah tidak senang.
"Ya! Tapi tetap saja Bar-" Queena menahan kalimatnya karena ekspresi wajah Brachon sudah berubah semakin tak senang.
"Baiklah, lupakan saja!" Tukas Queena yang kembali menikmati rujak di hadapannya. Queena selanjutnya hanya membisu, hingga Brachon beranjak dan meninggalkan dirinya tanpa berucap sepatah katapun.
Terserah saja!
Queena masih lanjut melahap mangga muda di hadapannya, saat akhirnya Brachon sudah kembali lagi dan menghampiri Queena. Pria itu berdiri di belakang Queena, lalu di detik selanjutnya, Queena bisa merasakan kalau Brachon tengah melingkarkan sebuah benda di lehernya.
"Hadiah untukmu," bisik Brachon yang sudah mencerukkan kepalanya di leher Queena. Queena meraba lehernya, saat kemudian tangannya bisa merasakan sebuah kalung yang terdiri dari beberapa bulatan yang tersusun rapi.
"Apa ini...." Queena bangkit dari duduknya, lalu dengan cepat menghampiri cermin yang ada di sudut ruangan. Kedua mata wanita itu sontak membelalak saat melihat kalung mutiara yang tempo hari ia pinta pada Brachon tapj tak dikabulkan oleh pria tersebut.
"Bukankah ini-" Queena kehilangan kata-kata sekarang.
"Kau suka?" Brachon sudah kembali menghampiri Queena, lalu memeluk wanita itu dari belakang.
"Ya!" Jawab Queena singkat seraya mengulas senyum. Brachon membalik tubuh Queena lalu dengan cepat mel*mat bibir wanita itu. Queena tak tinggal diam dan langsung membalas pagutan Brachon, hingga akhirnya mereka berdua mulai berpagutan dengan panas.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.