QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
JANJI


__ADS_3

Queena lagi-lagi harus dibuat tertegun, saat turun dari mobil yang tadi ia naiki setelah turun darj pesawat. Kali ini Queena di hadapkan pada deburan ombak menabrak dermaga.


Ya, Brachon rupanya baru saja membawa Queena ke sebuah dermaga, dimana ada beberapa speedboat yang bersandar di sana. Kemana sebenarnya Brachon akan membawa Queena?


"Mmmpphh! Mmmpphh!"


Queena refleks menoleh, saat beberapa anak buah Brachon membawa seorang wanita yang wajahnya ditutup oleh kain hitam.


Siapa wanita itu?


Tawanan Brachon juga?


Pertanyaan Queena belum menemukan jawaban, saat wanita tadi digelansang naik ke atas sebuab speedboat oleh anak buah Brachon. Queena tak bisa berbuat apa-apa dan hanya mampu menatap iba pada wanita yang entah siapa tersebut.


"Ayo kita pergi!" Rangkulan dari Brachon, membuat Queena mendadak terlonjak.


"Kau sebenarnya mau membawaku kemana? Kenapa kita pergi begitu jauh?" Cecar Queena menuntut jawaban dari Brachon.


"Bersenang-senang!" Jawab Brachon seraya berbisik di telinga Queena. Pria itu juga mencium tengkuk Queena, lalu menggigit cuping telinga Queena hingga wanita itu menggeliat.


Setelah puas bermain-main dengan leher, tengkuk, dan telinga Queena, Brachon lanjut mengajak Queena untuk naik ke atas salah satu speedboat yang bersandar di dermaga. Queena kembali mencari-cari wanita yang dibawa oleh anak buah Brachon tadi. Rupanya mereka naik speedboat yang berbeda dengan Queena, dan kini speedboat itu sudah melaju terlebih dahulu meninggalkan dermaga.


"Apa wanita itu tawananmu juga?" Tanya Queena akhirnya karena merasa penasaran. Meskipun kecil kemungkinan juga Brachon akan menjawab dan menjelaskan pada Queena.


"Menurutmu?" Brachon balik bertanya pada Queena.


"Aku tidak tahu!" Queena mengendikkan kedua bahunya, lalu wanita itu duduk di hadapan Brachon dan masih menunggu jawaban dari Brachon.


"Jadi?"


Brachon menatap tajam pada wajah Queena, lalu pria itu merentangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan, dan punggungnya bersandar ke dinding speedboat.


"Jadi apa? Tawananku hanya kau, Queen!" Ujar Brachon tegas dan Queena akhirnya hanya mendengus. Namun pikiran Queena masih saja tertuju pada wanita asing tadi.


Entahlah!


Speedboat terus melaju membelah lautan yang berwarna hitam karena hari yang memang sudah malam. Tak ada apapun yang nampak di depan mata, kecuali kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Sepertinya itu adalah pulau yang akan menjadi tujuan Queena dan Brachon.


Brachon bangkit dari duduknya, lalu pria itu menghampiri Queena yang sejak tadi hanya duduk diam. Brachon kemudian duduk di samping Queena dan tangannya sudah merangkul pundak Queena sekarang.


"Kau terlihat tegang," bisik Brachon yang langsung membuat Queena menggeliat.


"Aku hanya penasaran, kau mau membawaku kemana," sanggah Queena membantah kata-kata Brachon.


Brachon tersenyum simpul.

__ADS_1


"Kita akan honeymoon," bisik Brachon lagi, dan kali ini tangan pria itu sudah menyusup ke pangkal paha Queena.


Bisa Queena rasakan, tangan Brachon yang mulai bergerak dan mengusap miliknya yang masih tertutup oleh underwear.


"Kemari!" Brachon memaksa untuk memutar kepala Queena, lalu pria itu langsung mel*mat bibir Queena. Sementara tangan Brachon masih terus bergerilya di bawah sana. Memasukkan satu jari ke dalam milik Queena yang sontak langsung membuat Queena menggelinjang.


"Apa kau sudah gila?" Sentak Queena yang serta merta langsung melepaskan pagutan Brachon. Namun pria itu malah terkekeh dan lanjut mel*mat bibir Queena lagi.


Queena berusaha untuk berontak, karena tingkah gila Brachon. Namun seperti biasa, Queena selalu kalah tenaga dari pria di depannya ini.


"Kenapa memang? Kau mau ingkar janji lagi?" Tanya Brachon menatap tak senang pada Queena.


"Bukan seperti itu!"


"Ada anak buahmu-"


"Abaikan saja!" Sela Brachon yang sudah bangkit berdiri, lalu menarik tangan Queena dan mengajak wanita itu ke bagian belakang speedboat.


Brachon kembali mendorong tubuh Queena hingga sedikit terbanting di atas tempat duduk. Brachon lalu berdiri di depan Queena lalu pria itu membuka ritsleting celananya.


"Apa kita harus melakukannya di atas speedboat begini?" Queena mendongakkan kepalanya dan menatap tajam pada Brachon, meskipun wajah pria itu hanya terlihat samar.


"Lakukan saja!" Brachon mencengkeram dagu Queena dan menatap tegas pada wanita itu.


Queena akhirnya hanya menarik nafas jengah, dan wanita itu menejamkan matanya, sebelum melahap milik Brachon yang sydah menyembul keluar dari dalam celana.


"Lakukan dengan benar, Queen!" Brachon mengumpulkan rambut Queena di dalam genggamannya,lalu pria itu menarik serta mendorong kepala Queena sambil sesekali melenguh.


"Aaarrrgggh!"


"Iya, seperti itu!" Brachon mendirikan dan menarik kepala Queena dengan lebih cepat, tanpa peduli pada Queena yang mulai kewalahan.


"Lebih cepat!"


"Lebih cepat!"


Bisa Queena rasakan jambakan Brachon pada rambutnya yang terasa semakin kuat. Milik Brachon yang berulang kali menyentuh kerongkongannya, juga mulai membuat Queena kesulitan bernafas dan ingin muntah sekarang.


"Bagus sekali!" Brachon menahan kepala Queena agar tak bergerak lagi, dan pria itu menatap tajam pada wajah Queena yang kini merah padam. Milik Brachon masih menyumpal mulut Queena sekarang.


"Sekarang bangun dan berbalik!" Brachon menarik miliknya dari dalam mulut Queena, lalu pria itu dengan cepat membalik posisi Queena. Tangan Brachon menyibak gaun yang dikenakan oleh Queena, lalu tanpa aba-aba pria itu sudah menghujamkan miliknya ke dalam milik Queena.


"Aaaarrggghhh!" Queena mengerang dan tangannya merem*s sandaran tempat duduk dengan kuat. Tubuh Queena mulai berguncang, saat Brachon mulai bergerak untuk menghujam milik Queena berkali-kali. Queena menatap kosong ke arah lautan yang terlihat hitam di bagian belakang speedboat. Queena tak tahu, kenapa ia mau saja melakukan semua ini hanya karena iming-iming dari Brachon yang akan melepaskan dirinya. Padahal Brachon sangat bisa mengingkari janjinya seperti yang sudah-sudah. Dan Queena masih saja percaya sekarang.


Bodoh!

__ADS_1


Queena masih tenggelam di dalam lamunannya, saat Brachon tiba-tiba sudah mencabut miliknya dan pria itu membalik tubuh Queena dengan cepat. Brachon ganti menyumpalkan miliknya ke dalam mulut Queena yang langsung membelalak.


Queena bahkan masih bisa mencium aroma khas miliknya sendiri dari milik Brachon yang kini menyumpal mulutnya.


"Aaarrrgggh!" Brachon mengerang panjang bersamaan dengan miliknya yang sudah menyemburkan cairan yang kini memenuhi mulut Queena. Brachon menangkup wajah Queena dengan satu tangan,dan memaksa wanita itu untuk menelannya. Terlihat ekspresi ingin muntah dari wajah Queena, namun tentusaja Brachon tak peduli. Yang pria itu inginkan hanyalah Queena yang harus menelan cairan miliknya hingga tak tersisa sedikitpun.


"Nikmat, bukan?" Brachon tersenyum puas,dan pria itu sudah merapikan kembali celananya. Sementara Queena hanya bisa menggerutu dalam hati dan wanita itu ingin secepatnya turun dari atas speedboat, agar ia juga bisa secepatnya menguras isi perutnya, lalu minum air pulih sebanyak-banyaknya.


Yang dilakukan Brachon tadi benar-benar menjijikkan!


Kerlap-kerlip lampu dari sebuah pulau yang tadi hanya tampak dari kejauhan, perlahan mulai terlihat semakin dekat. Benar dugaan Queena, kalau Brachon pastilah membawa Queena ke pulau tersebut.


Tak butuh waktu lama, dan speedboat akhirnya benar-benar bersandar di dermaga yang ada di pulau. Queena segera bangkit berdiri, dan mengikuti langkah Brachon yang sudah terlebih dahulu turun dari atas speedboat.


Dermaga tersebut rupanya langsung menyambung ke sebuah resort.


"Kita akan honeymoon disini!" Bisik Brachon pada Queena yang hanya berekspresi datar. Namun wanita itu masih terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempatnya berdiri, seolah sedang mencari celah untuk kabur.


"Tuan Ley, kamar anda sudah siap," lapor seorang anak buah Brachon.


Brachon tak berucap sepatah katapun dan pria itu langsung menarik tangan Queena yang sejak tadi masih sibuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling resort.


"Sedang mencari celah untuk kabur, hah?" Desis Brachon yang langsung membuat Queena berdecih.


"Iya! Jika kau kembali ingkar janji kali ini," jawab Queena blak-blakan.


Brachon seketika langsung mendirikan tubuh Queena dan mengunci wanita itu di dinding.


"Sudah kubilang, kalau aku tak akan ingkar janji kali ini! Kalau perlu aku akan langsung mengantarmu ke rumahmu yang kumuh itu, setelah nanti kita pulang dari sini!" Ucap Brachon seraya menatap tajam pada Queena.


Queena membalas tatapan tajam Brachon.


"Aku akan menagih janjimu, kalau-kalau kau lupa!"


"Lakukan dulu tugasmu, dan aku tak akan lupa pada janjiku!" Pungkas Brachon sebelum kemudian pria itu kembali menarik tangan Queena, lalu membawa wanita tersebut menyusuri lorong panjang di dalam resort. Brachon kemudian membawa Queena masuk ke sebuah kamar di ujung lorong, menutup pintu dan menguncinya.


Saatnya bersenang-senang!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2