QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
LAMUNAN


__ADS_3

"Seorang Brachon tak pernah ingkar janji, Queen!" Ucap Brachon seraya menatap tegas pada Queena. Pria itu juga sudah mencondongkan wajah dan tubuhnya ke arah Queena yang langsung beringsut mundur.


"Kau tidak lupa pada janjimu barusan,kan, Queen?" Tanya Brachon yang langsung membuat Queena berpikir untuk beberapa saat.


"Janji?" Queena bergumam pelan.


"Janji!"


"Aku akan melayani Brachon dengan sepenuh hati!" Ucap Brachon mengingatkan Queena yang langsung tergagap.


"Tentu saja aku ingat!" Queena membalas tatapan tajam Brachon.


"Tapi seharusnya kau juga ingat kalau aku masih terbaring sebagai pasien sekarang."


"Aku akan melayanimu nanti, saat aku sudah pulih dan sudah pulang ke mansionmu!" Ujar Queena lagi beralasan.


Tentu saja Queena sambil memikirkan tentang apa yang nanti ia lakukan saat dirinya sudah pulih, agar ia masuk rumah sakit lagi dan tak perlu melayani Brachon dengan sepenuh hati.


Cih!


Queena tak akan melakukannya!


"Alasan!" Decih Brachon seraya menatap tak senang pada Queena.


"Lagipula, bukankah yang terluka adalah tanganmu dan bukan bibirmu!" Ucap Brachon lagi yang tiba-tiba sudah meraup bibir Queena lalu mel*matnya dengan kasar.


"Tepati janjimu atau kau memang tak mau bertemu lagi dengan Barley, hah?" Ancam Brachon yang tentu saja langsung membuat Queena ingin marah. Tapi Queena juga tak mampu berkutik dan ancaman Brachon adalah sebuah intimidasi untuknya.


Queena akhirnya memejamkan mata, lalu membalas ciuman kasar Brachon, meskipun dalam hati Queena sedang memaki dan mengumpati pria sialan ini.


"Kau masih belum melakukannya sepenuh hati, Queen!" Gumam Brachon di sela-sela lum*tannya pada bibir Queena.


Meskipun terpaksa, Queena akhirnya tetap menggerakkan lidahnya, dan berusaha mengimbangi gerakan serta cecapan penuh gairah dari Brachon.


Menyebalkan!


"Bagus sekali!" Lenguh Brachon yang semakin menekan kepala Queena dan memperdalam pagutan mereka. Queena tak berhenti merutuk dan menjerit dalam hati.


"Maaf, Mas Bagus!"

__ADS_1


"Maafkan aku!"


****


Sudah hampir sepekan Queen dirawat di rumah sakit dengan penjagaan yang ketat dari anak buah Brachon. Wanita itu kini sedang berdiri seraya menatap keluar jendela kamarnya. Saat ini hujan sedang mengguyur bumi, dan membuat kaca sedikit buram.


Queena mengangkat tangan kirinya yang beberapa hari lalu masih terbalut perban. Entah pengobatan macam apa yang dilakukan oleh dokter,karena kini luka sayatan di tangan Queena sudah hampir tak terlihay. Bahkan bekas jahitannya juga begitu rapi dan menyatu dengan kulit.


Dulu, Queena pernah terluka di jari telunjuknya saat memotongkan apel untuk Barley. Dan saat itu Queena juga sempat mendapat dua jahitan karena darah yang tak berhenti mengalir. Dan butuh waktu hampir sebulan untuk menyembuhkan luka tersebut. Namun sekarang, belum ada satu pekan dan luka sayatan yang begitu dalam di pergelangan tangan Queena sudah nyaris tak terlihat.


Queena masih menatap pada pergelangan tangannya, saat terdengar suara pintu kamar perawatan yang dibuka dari luar.


"Selamat sore, Nona Queen!" Sapa perawat yang memang rutin melakukan kunjungan untuk sekedar memantau kondisi Queena.


"Sore." Jawab Queena tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari jendela kaca yang basah dan buram.


"Saya akan melepaskan infus anda, Nona. Hari ini anda sudah diperbolehkan untuk pulang," jelas perawat yang masih membuat Queena tak bereaksi apapu.


Pasien lain saat mendengar kata sudah diperbolehkan untuk pulang, mungkin akan langsung bersorak senang. Namun tidak bagi Queena.


Pulang artinya kembali ke mansion. Kembali menjadi tawanan serta budak n*fsu Brachon. Dan sayangnya Queena juga sudah terlanjur berjanji untuk melayani pria b*jingan itu dengan sepenuh hati tanpa sedikitpun melakukan pemberontakan.


Sepertinya Queena terlalu gegabah mengambil keputusan. Tapi bukankah semuanya demi pertemuan Queena dengan Barley dan Mas Bagus?


Queena akan melakukannya!


Maaf, Mas Bagus!


"Nona Queen!" Tegur dari perawat seketika membuat lamunan Queena menjadi buyar.


"Ya!" Jawab Queena yang akhirnya segera duduk ke atas bed perawatan, lalu membiarkan perawat tadi melepaskan jarum infus dari tangannya. Tatapan mata Queena masih tertuju ke jendela yang semakin buram, bersamaan dengan hujan lebat yang mengguyur bumi.


"Sudah selesai, Nona!" lapor perawat sebelum akhirnya perawat tersebut pamit undur diri,dan meninggalkan Queen sendirian di dalam kamar perawatan.


Hanya di dalam kamar perawatan Queena sendirian, karena di luar kamar ada lusinan bodyguard suruhan Brachon yang siap siaga mengawasi Queena agar tak kabur.


Ya, lalu apa bedanya?


"Sore!" Sapaan dari Vincent bersamaan dengan pintu kamar yang sudab kembali dibuka hanya diabaikan oleh Queena. Wanita itu tak sedikitpun membalas sapaan Vincent.

__ADS_1


"Aku membawakanmu baju ganti untuk kau pakai pulang." Vincent meletakkan sebuah paperbag ke atas bed perawatan Queena.


"Lalu ada beberapa catatan berisi pesan dari Brachon. Dia sedang pergi ke luar kota dan baru akan kembali besok."


"Tapi bukan berarti kau bebas tugas, karena Brachon memintamu melakukan beberapa hal." Ujar Vincent panjang lebar yang lagi-lagi hanya diabaikan oleh Queena.


"Ya! Aku seperti bicara pada patung!" Gerutu Vincent sebelum akhirnya pria itu kembali berjalan ke arah pintu.


"Aku akan menunggumu di depan, Queen! Sebaiknya kau cepat atau kau masih mau menginap disini dan menjadi pasien?" Vincent masih sempat tertawa sinis, sebelum pria itu keluar dari kamar perawatan Queena.


Queena meraih paperbag yang tadi dibawa oleh Vincent, lalu memeriksa isinya.


Ada sebuah gaun serta secarik kertas di sana. Queena membuka kertas tadi dan hanya membacanya sekilas, sebelum akhir wanita itu meremas kertas tersebut dan melemparkannya lagi ke dalam paperbag.


Queena memejamkan mata, lalu menarik nafas panjang. Wanita itu akhirnya pergi ke kamar mandi untuk berganti baju sekalian sedikit membasuh wajahnya. Meskipun tetap tak ada cermin di kamar mandi rumah sakit ini, seperti halnya di mansion Brachon.


Ada apa sebenarnya?


Kenapa Queena tak pernah menemukan cermin dimanapun?


****


[Queen sudah di mansion, Brach!] -Vincent-


Brachon memutar video berisi rekaman CCTV dimana Queena terlihat memasuki kamar. Cukup lama Brachon menatap pada Queena yang mengenakan gaun warna lilac tersebut, dan bahkan Brachon juga mengulangi video beberapa kali.


[Perketat keamanan dan jauhkan benda tajam apapun dari kamar Queen!] -Brachon-


[Siap!] -Vincent-


Brachon sudah menyimpan ponselnya, dan pria itu kini ganti menatap keluar dari jendela mobil. Menatap pada langit yang masih menumpahkan air gerimis ke atas bumi.


Brachon membuka pintu mobil dan meraih beberapa tangkai bunga mawar berwarna merah dari jok di sebelahnya. Pria itu lalu keluar dari mobil, bersamaan dengan sang supir yang sudah menyambut untuk memayungi Brachon dari gerimis sore ini.


Brachon tak berucap sepatah katapun, dan pria itu segera merebut kasar payung di tangan sang supir. Brachon lalu berjalan masuk ke dalam sebuah kompleks pemakaman, seraya membawa bunga di tangan kiri, serta payung di tangan kanannya.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2