QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
TERNYATA


__ADS_3

"Aku rasa keputusanmu untuk melepaskan wanita itu terlalu gegabah, Brach!" Pendapat Vincent yang baru saja masuk ke dalam mobil, sesaat setelah Queena turun dari mobil dan menghilang ke gang sempit menuju ke rumahnya.


"Seharusnya kau menghabisi saja wanita itu dan bukannya malah melepaskannya! Kau benar-benar sudah terpengaruh!" Sambung Vincent berapi-api yang malah ditanggapi Brachon dengan ekspresi datar


"Kau sedang demam?" Tanya Brachon tak nyambung seraya meletakkan punggung tangannya ke dahu Vincent.


"Aku sehat!" Jawab Vincent cepat.


"Kau amnesia?" Tanya Brachon lagi dan Vincent sontak semakin mengernyit bingung.


"Apa kau lupa, kalau aku sudah mengubah wajah Queen menjadi Queen yang aku inginkan sekarang!" Ujar Brachon lagi seolah sedang mengingatkan Vincent yang tampak berpikir.


"Aku juga sudah membuat skenario tentang Queena Alesha Ferdinand yang sudah tewas dalam kecelakaan," sambung Brachon seraya tersenyum sombong.


"Jadi itu alasan kau melepaskan Queen?" Tanya Vincent sedikit bergumam.


"Apa kau masih harus bertanya?"


"Queen tak akan pernah lepas dari cengkeramanku wanita itu pasti akan kembali-"


Tuk tuk!


Brachon belum menyelesaikan kalimatnya, saat terdengar ketukan dari luar jendela mobil. Ada Queena yang berdiri dan wajahnya terlihat menahan amarah.


"Kau lihat, Queen-ku sudah kembali," Brachon kembali tersenyum sombong, dan pria itu segera membuka pintu mobil untuk Queena.


"Kau benar-benar keparat, Brachon Ley!" Queena serta meeta langsung menerjang Brachon, sesaat setelah pintu mobil dibuka. Namun Brachon yang sepertinya sudah tanggap, langsung menangkus serangan Queena dengan sigap.


"Apa yang sudah kau lakukan pada wajahku? Kenapa kau mengubahnya?" Queena berucap dengan berapi-api seraya melempar tatapan sengit pada Brachon.


"Kenapa kau mengubah wajahku, Ley?" Teriak Queena emosi.


"Aku menyukai wajahmu yang cantik ini, Queen!"


"Kau adalah Queen yang diinginkan Brachon!"


"Sudah selesai bertemu Barley dan Mas Bagus? Dan biar kutebak.


"Sekarang kau berubah pikiran untuk kembali padaku dan menjadi tawananku lagi," Brachon berucap panjang lebat dan emosi Queena benar-benar sudah naik ke ubun-ubun sekarang.


"Kau pikir aku sedang kembali padamu sekarang?" Queena berteriak marah pada Brachon.


"Kau pikir aku sedang kembali padamu, Baj*ngan?"


"Kau salah!" Queena mengacungkan jarinya pada Brachon.


"Aku kembali untuk memberikanmu pelajaran-" Queena melancarkan satu tinjunya ke arah Brachon, yang tentu saja langsung ditangkis dengan sigap oleh pria itu.


"Keluar dan kunci pintunya, Vin!" Perintah Brachon pada Vincent yang masih berada di belakangnya. Brachon masih menahan tangan Queena yang kini mengepal dengan kuat seolah sedang meluapkan semua emosi di dalam dadanya.


"Kau keparat!" Queena berusaha berontak dan melepaskan cekalan Brachon di tangannya.


"Terima kasih pujiannya!" Jawab Brachon seraya membalas tatapan tajam Queena.


"Aku tidak sedang memujimu, Baj*ngan!" Teriak Queena penuh amarah.


"Lepaskan tanganku dan kembalikan wajahku seperti semula!" Teriak Queena lantang dan Brachon malah tertawa terbahak-bahak.


"Seperti semula bagaimana maksudmu? Wajahmu yang lama sudah rusak dan jika aku mengembalikannya, Barley akan takut dan menangis dan dia tak akan mau memelukmu lagi-"


"Lalu kau pikir dengan wajahku yang sekarang Barley mau memelukku?" Teriak Queena marah.


"Barley dan Mas Bagus bahkan tak lagi mengenaliku!" Queena berteriak lagi dan kali ini terdengar frustasi. Namun ekspresi wajah Brachon hanya biasa saja dan pria itu seolah tak peduli.


"Kenapa kau melakukan semua ini, Brach?"


"Kenapa kau melakukan semua ini kepadaku?" Teriak Queena lagi meminta penjelasan Brachon.


"Kau berada di waktu dan tempat yang salah, saat aku membunuh Indah!" Jawab Brachon seraya mencondongkan wajahnya ke arah Queena.


"Lalu kenapa kau tidak membunuhku saja? Kenapa kau malah membuatku menderita seperti ini?" Cecar Queena lagi masih penuh emosi. Brachon tak menjawab kali ini, dan pria itu malah tersenyum lebar seolah ia adalah penjahat, psikopat, apapun itu!.


"Jawab pertanyaanku! Kenapa kau tidak membunuhku saja?" Tanya Queena lagi berteriak lebih keras.

__ADS_1


"Aku sudah pernah menjawab dan menjelaskannya padamu, dan aku tak suka menjelaskan hal yang sama dua kali!" Jawab Brachon sembari menyentak tangan Queena yang sejak tadi masih ia cekal.


Queena langsung berusaha membuka pintu mobil dan hendak keluar, namun pintu terkunci.


Sial!


Ini ulah Vincent!


"Kau tidak mau mengucapkan terima kasih karena aku sudah memberikanmu kesempatan untuk menemui Barley dan Mas Bagus, Queen?" Tanya Brachon yang tentu saja malah berhadiah delikan tajam dari Queena.


Brachon tertawa kecil dan Queena semakin tak mengerti dengan isi kepala pria gila di depannya ini. Queena kembali berisaha untukembuka pintu mobil, meskipun hadilnya masih nihil


"Biarkan aku keluar dari mobil terkutukmu ini!" Teriak Queena sembari menyikut-nyikut pintu mobil, bersamaan dengan mobil yang mulai melaju.


"Aku tak akan ikut denganmu lagi! Bukankah katamu kau sudah melepaskanku?" Queena kembali berteriak marah pada Brachon.


"Aku memang sudah melepaskanmu!"


"Tapi jika keluargamu saja menolak untuk menerimamu, lalu kau mau tinggal dimana, hah? Menjadi tunawisma dan gelandangan?" Brachon menatap tajam pada Queena.


"Kau pria yang licik!"


"Kau pria licik, baj*ngan, keparat!" Queena hendak menyerang Brachon, namun seperti sebelumnya Brachon langsung sigap menangkis serangan Queena yang tak seberapa tersebut.


"Dan aku tak mau lagi tinggal di mansion-mu!"


"Turunkan aku, Ley!"


"Lebih baik aku jadi gelandangan daripada aku harus jadi tawananmu lagi!" Queena terus berteriak-teriak pada Brachon.


"Kau benar-benar keras kepala, Queen!" Gumam Brachon tanpa sedikitpun menghiraukan teriak Queena. Pria itu sudah kembali melepaskan kedua tangan Queena. Sekali lagi, Queena yang keras kepala berusaha untuk membuka pintu mobil Brachon meskipun hanya sia-sia belaka.


"Brengsek!"


"Keparat!" Queena tak berhentilah mengumpat dan memaki, demi meluapkan emosi dan rasa kesal di hatinya.


"Aku punya opsi menarik untukmu, Queen-"


"Aku tak tertarik!" Queena langsung menyalak pada Brachon.


Queena seketika langsung berdecih.


"Pengawalmu pasti tetap akan bertebaran dimana-mana, sekalipun aku tinggal di apartemen! Kau pikir aku bodoh?"


"Mereka tak pernah mengganggumu, dan mereka hanya menjagamu dari hal -hal jahat-"


"Lalu kau pikir dirimu itu bukan penjahat?" Queena memotong kalimat Brachon dengan penuh emosi dan amarah.


"Kau pikir kau itu orang baik, hah?"


"Kau sudah menculikku, lalu menjadikan aku tawananmu selama satu tahun lebih, kau sudah memisahkan aku dari anak dan suamiku!" Queena menyebutkan satu persatu kejahatan yang dilakukan oleh Brachon.


"Kau pikir kau itu orang baik, Brachon Ley?" Teriak Queena lagi penuh emosi.


"Aku tak pernah mengatakan kalau aku orang baik!"


"Aku memang seorang penjahat dari dulu!" Brachon sudah mengulurkan tangannya dan hendak mengusap wajah Queena, saat tangan Queena sudah dengan cepat menyentak tangan Brachon. Seketika ekspresi wajah Brachon langsung berubah marah.


"Aku tak akan membiarkan diriku kau jadikan mainan lagi!" Desis Queena membalas tatapan tajam Brachon dengan sebuah tatapan sengit dan berani.


"Lalu kau mau apa, hah?"


"Mau kabur dari seorang Brachon Ley dan kembali pada keluarga yang sudah menganggapmu mati?" Nada bicara Brachon terdengar mencibir.


Queena terdiam dan wanita itu menatap marah pada Brachon.


"Pasti kau yang sudah menyebarkan berita bohong itu pada keluargaku!"


"Kenapa kau nelakukann semua hal konyol ini? Kenapa, Brachon?" Tanya Queena lagi berapi-api, meskipun Queena sudah tahu jawaban dari semua pertanyaannya tersebut.


"Aku terobsesi padamu!" Jawab Brachon membuat pengakuan.


"Dan aku rasa itu semua sudah mebjawab semua pertanyaan yang kau ulang-ulang itu!" Lanjut Brachon lagi. Queena seketika langsung berdecih.

__ADS_1


"Terobsesi pada wanita yang sudah bersuami! Kau bisa mencari wanita lain yang lebih segala-segalanya!".


"Masih banyak jal*ng diluaran sana yang bisa kau jadikan mainan-"


"Tidak perlu mengaturku!" Gertak Brachon memotong.


"Aku sudah bosan pada jal*ng di luaran sana dan sikap keras kepalamu itu yang membuatku tertarik sejak pertemuan pertama kita!" Brachon sudah mencekal lengan Queena sekarang.


"Seharusnya kau itu bersyukur karena aku masih memeliharamu hingga detik ini, memberikanmu semua kemewahan dan fasilitas, dan bahkan aku juga sudah bermurah hati untuk mengijinkan kau menemui anak dan suamimu!"


"Bermurah hati?" Queena langsung mencibir pada Brachon.


"Aku memang murah hati karena aku memilih untuk memeliharamu, alih-alih membunuhmu-"


"Lebih baik kau membunuhku saja larena saat ini yang sudah kau lakukan pada hidupku, itu lebih kejam daripada kau membunuhku!"


"Kau sudah melecehkan aku, memperkosaku berulang kali, lalu mengubah wajahku menjadi sebuah wajah asing..." Queena mengusap kasar wajahnya sendiri.


"Aku bahkan tidak tahu ini wajah siapa!"


"Kau mau mengubahku menjadi siapa sebenarnya, Brachon? Aku Queena Alesha Ferdinand dan aku bukan piaraanmu!" Queena berteriak emosi pada Brachon.


"Queena Alesha sudah mati!"


"Kau adalah Queen milik Ley!"


"Kau adalah Queen-ku sekarang!" Brachon menangkup dagu Queena lalu sedikit mendongakkan wajah wanita di depannya tersebut.


"Lihatlah wajah sempurna ini, Queen! Kau begitu cantik sekarang. Lekuk wajahmu sempurna, dan kau adalah Queen-ku!" Brachon memuji sembari menyusuri setiap lekuk wajah Queena seolah pria itu sedang mengagumi wajah di depannya tersebut.


"Kau adalah Queen-ku yang sempurna!" Ulang Brachon lagi yang langsung membuat Queena memalingkan wajahnya. Namun Brachon tentu saja langsung cepat meraih wajah Queena lagi dan memaksa wanita itu agar menatapnya.


"Kau keparat!" Maki Queena kesal. Namun seperti biasa, makian Queena tak berpengaruh apapun untuk Brachon karena pria itu malah tersenyum sekarang seolah baru saja mendapatkan sebuah pujian.


Dasar sinting!!


"Vincent!" Queena ganti menggedor dinding pembatas antara tempat duduk belakang dengan tempat duduk sopir.


"Vincent, aku tahu kau sedang duduk di depan!"


"Buka pintu mobil sialan ini!" Perintah Queena galak sambil tangannya rak berhenti menggedor dinding. Tangan Brachon akhirnya bergerak untuk membuka jendela kecil yang ada di dinding, seolah memberikan akses untuk Queena bicara langsung pada Vincent yang ternyata memang duduk di depan.


"Buka pintu mobilnya!" Perintah Queena pada Vincent dengan nada tegas. Namun tak ada jawaban dari asisten Brachon itu.


Dasar menyebalkan!


Mobil terap melaju entah kemana. Queena tak lagi peduli dan wanita itu hanya memalingkan wajahnya dari Brachon sekarang.


"Kau yakin akan membawa Queen ke apartemen, Brach?" Tanya Vincent memastikan dan delikan tajam langsung dilontarkan oleh Brachon seolah menjawab pertanyaan Vincent.


"Baiklah, aku hanya memastikan barangkali kau-"


Sreet!!


Brachon langsung menutup jendela kecil di depannya sebelum kalimat Vincent selesai.


Lumayan menghibur untuk Queena!


"Kenapa tidak membawaku ke mansion-mu dan mengurungku lagi?"


"Mengikat tangan dan kakiku ke setiap sudut ranjang, lalu menyumpalkan mainan sialanmu itu di dalam milikku?" Tanya Queena berapi-api seolah sedang mengeluarkan semua emosinya pada Brachon.


"Aku bisa melakukannya di apartemen jika kau menyukainya, Queen!" Jawab Brachon santai seraya menatap serius pada Queena.


Queena tak menyahut lagi dan wanita itu kembali membuang wajahnya keluar jebdela mobil. Mengamati mobil-mobil lain yang juga melaju di jalan raya serta hujan yang perlahan turun membasahi bumi.


Queena akan mencari cara untuk kabur dari apartemen Brachon nanti dan menemui Barley serta Mas Bagus lagi!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2