
Queena memejamkan mata, saat merasakan hembusan angin pantai yang menerpa wajahnya, begitu wanita itu keluar dari mobil. Queena dan Brachon sudah tiba di sebuah villa yang letaknya tak jauh dari pantai suara debur ombak bahkan bisa terdengar dari depan villa.
"Ayo masuk!" Ajak Brachon yang sudah melingkarkan lengannya ke pinggang Queena. Brachon dan Queena segera masuk ke dalam villa mewah tersebut dan keduanya langsung menuju ke kamar utama yang berada di lantai dua.
"Terima kasih-" kalimat Queena belum selesai, saat tiba-tiba Brachon sudah mel*mat bibir Queena, begitu mereka masuk ke kamar.
"Kau terlihat buru-buru," ujar Queena di sela-sela pagutannya bersama Brachon.
"Aku harus pergi." Brachon sudah mengangkat tubuh Queena, lalu membaringkan wanita itu dengan hati-hati ke atas ranjang yang bernuansa serba putih.
"Tiga puluh menit lagi!" Brachon menyambung kalimatnya yang teputus tadi.
"Kita bisa melakukannya setelah urusanmu selesai, Brach!" Ucap Queena lembut seraya mengusap wajah Brachon dengan tangan kanannya. Sementara tangan kiri Queena sudah melingkar di leher Brachon.
"Aku mungkin pergi hingga tengah malam." Brachon mengecup singkat bibir Queena.
"Tapi kau tak perlu khawatir." Mengecup sekali lagi.
"Karena akan ada beberapa pengawal yang berjaga di luar." Ujar Brachon lagi seraya menatap ke dalam manik mata Queena.
"Bukan karena aku curiga padamu, Queen! Tapi ini semua demi keselamatanmu," tukas Brachon mengungkapkan alasan tentang adanya pengawal di sekitar Queena.
"Aku tahu." Jawab Queena lirih.
"Nanti juga akan ada yang mengantar makanan untukmu. Jadi kau di villa saja-"
"Aku boleh ke pantai?" Tanya Queena menyela.
"Kau bisa melihat matahari terbenam dari balkon atau teras depan. Jadi aku rasa kau tak perlu pergi ke pantai," jawab Brachon tegas.
"Kau masih belum percaya kepadaku!" Queena berdecak tak percaya.
"Bukan seperti itu! Tapi ini semua demi keselamatanmu dan keselamatan calon anakku," ujar Brachon beralasan, sembari pria itu mengusap perut Queena.
Ah, iya!
Queena sampai lupa kalau ia sedang pura-pura hamil sekarang.
"Kau bisa pergi ke pantai bersamaku besok, saat semua urusanku disini sudah selesai," ujar Brachon lagi me ghibur Queena yang masih cemberut.
"Baiklah!" Ucap Queena akhirnya seraya memalingkan wajahnya. Namun gerakan Brachon ternyata lebih cepat dan tiba-tiba pria itu sudah mencecap bibir Queena lagi.
Queena benar-benar tak berkutik kalo ini menghadapi cecapan bibir Brachon yang begitu lembut menjelajah setiap inchi bibirnya. Queena mulai terhanyut dalam pagutan lembut Brachon.
"Emmmhhh!" Queena melenguh saat ciuman Brachon mulai turun ke leher, lalu ke dadanya. Bisa Queena rasakan rem*san lembut tangan Brachon di dadanya yang membuat Queena menggeliat.
Kecupan Brachon terus turun ke bagian bawah tubuh Queena, bersamaan dengan tangan Brachon yang sudah bergerak lincah untuk melepaskan underwear yang dikenakan oleh Queena.
"Aaarrrgghhh!" Queena memekik tertahan saat lidah Brachon terasa bergerilya di dalam miliknya.
__ADS_1
"Brach!" Queena menjambak rambut Brachon yang semakin liar memainkan lidahnya hingga membuat Queena hilang kendali dan terus mendes*h berulang-ulang.
"Sudah!" Nafas Queena mulai memburu dan tersengal tak beraturan. Namun Brachon masih belum berhenti.
"Brachon!" Queena mulai meracau tak karuan, bersamaan dengan gerakan lidah Brachon yang semakin cepat. Hingga akhirnya terdengar lenguhan panajng Queena yang membuat Brachon tersenyum tipis. Pria itu menyudahi aksinya pada milik Queena, lalu ganti nengusao bibir wanita di depannya tersebut. Brachon baru mendekatkan bibirnya pada bibir Queena, saat tangan Queena sydah terangkat untuk menahan bibir Brachon.
"Kau gila!" Delik Queena dengan nafas yang masih tak beraturan. Brachon terkekeh kecil,lalu pria itu ganti mengecup kening Queena.
"Kita lanjutkan nanti setelah urusanku selesai," ucap Brachon setelah sekesai mengecup kening Queena.
"Aku benar-benar tak boleh turun ke pantai saat kau pergi?" Queena mencoba bernegosiasi sekali lagi.
"Berhentilah keras kepala sekali ini saja, Queen!" Brachon menatap tegas pada Queena yang langsung mengendikkan kedua bahunya.
"Baiklah!"
"Lalu bagaimana kalau aku lapar?" Queena masih berusaha mencari celah dan Brachon langsung menatap Queena penuh makna seolah pria itu sedang mengatakan kalau ada banyak pengawal di bawah yang bisa Queena perintah sesuka hati.
"Iya!" Decak Queena akhirnya seraya mendorong Brachon.
"Pergi sana!" Usir Queena selanjutnya seraya wanita itu bangkit berdiru. Queena tak berkata apapun dan langsung masuk ke kamar mandi.
Sementara Brachon terpaksa mengurungkan niatnya untuk menyusul Queena karena ponselnya sudah berdering, pertanda ia sudah ditunggu sekarang.
Sial!
Queena menatap bayangan wajah asingnya di cermin, sembari melepaskan handuk yang membalut rambutnya.
"Kau siapa sebenarnya?" Tanya Queena pada wajah asing yang kini ia lihat di pantulan cermin.
"Pacar Brachon di masa lalu?" Queena tertawa sinis.
"Atau mungkin cinta pertama Brachon?" Tanya Queena lagi. Wanita itu menarik talo bathrobe-nya, lalu membuka jubah berwarna putih tersebut. Tatapan mata Queena langsung tertuju pada tanda kepemilikan yang disematkan oleh Brachon tadi.
Selama berbulan-bulan menjadi pemuas n*fsu Brachon, seoerbaru kali ini pria itu meninggalkan tanda kepemilikan di leher Queena.
Tangan Queena sudah bergerak untuk mengusap lehernya sendiri, lalu kedua mata wanita itu terpejam. Membayangkan sentuhan lembut dari bibir Brachon di seluruh tubuhnya tadi.
Queena kembali merasa melayang seolah ia kembali bisa merasakan semuanya..
"Sial!" Umpat Queena seraya membuka kedua matanya dan berusaha menguasai dirinya sendiri yang seperti sudah terbuai oleh pesona Brachon Ley.
"Tetap pada rencana awalmu, Queen!"
"Jangan lengah dan jangan goyah!!" Queena berucap tegas pada dirinya sendiri, saat mendadak terdengar suara pintu yang diketuk dari luar hingga membuat Queena terlonjak.
Tok tok tok!
"Nona Queen!" Terdengar suara pengawal Brachon dari luar pintu. Bergegas Queena membenarkan bathrobe-nya, sebelum wanita itu beranjak dan membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Queena pada pengawal di depan kamarnya.
"Ada telepon, Nona! Dari Dokter Jeff." Pengawal menyodorkan sebuah ponsel pada Queena.
"Kata Dokter Jeff ada hal penting dan mendesak," imbuh pengawal lagi.
Queena tak berucap sepatah katapun dan langsung mengambil ponsel dari tangan pengawal, masuk ke kamar, lalu menutup pintu.
"Halo!" Sapa Queena dengan nada ketus.
"Kau sudah punya jawaban, Queen?"
"Jawaban apa maksudmu?" Nada bicara Queena semakin ketus.
"Tidak usah pura-pura lupa!"
Queena hanya berdecak dan mendadak sebuah ide konyol melintas di benaknya.
Bagaimana kalau Queena memanfaatkan Jeff untuk menghancurkan Brachon?
Queena berselingkuh di belakang Brachon yang sudah mulai jatuh cinta padanya. Lalu Brachon akan merasa patah hati, hancur....
"Aku tidak suka pengkhianatan!"
Kalimat peringatan Brachon mendadak melintas di benak Queena.
"Aku tak segan untuk membunuh siapapun yang berkhianat kepadaku!"
Queena terdiam dan berpikir cukup lama, saat suara Jeff yang masih tersambung via telepon membuyarkan lamunan Queena.
"Queen, kau mendengarku? Kenapa kau diam?"
"Aku..." Queena tak langsung menjawab.
"Kau setuju, kan?"
"Kau atur saja!" Pungkas Queena sebelum wanita itu menutup telepon dari Jeff. Queena berjalan ke arah jendela kamarnya, lalu menatap ke arah bukit karang di sisi pantai.
Jika Queena mengkhianati Brachon, hal itu tak akan membuat pria itu merasa hancur. Brachon hanya akan menjelma menjadi pria yang semakin kejam. Queena harus tetap pada rencana awal dan ia tak boleh goyah lagi sekarang.
Tidak akan!!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1