QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
PERUBAHAN


__ADS_3

Queena menghampiri Brachon yang sedang menelepon seseorang, lalu mengalungkan kedua lengannya ke leher pria itu.


"Ya! Aku akan mengajak Queen lagi. Jadi siapkan semuanya!" Ucap Brachon pada seseorang di seberang telepon. Sepertinya itu adalah Vincent.


Brachon kemudian menutup telepon dan menarik lengan Queena, hingga membuat wanita itu jatuh ke pangkuannya. Brachon lalu mel*mat bibir Queena beberapa saat.


"Kita akan pergi kemana?" Tanya Queena setelah Brachon melepaskan pagutannya.


"Nanti kau juga tahu!" Jawab Brachon seperti biasa. Brachon kemudian menyodorkan sebuah cup kecil pada Queena.


"Apa ini? Cup untuk pudding?" Tanya Queena sedikit berseloroh.


"Pergi ke kamar mandi sekarang, lalu tampung air senimu di dalam cup ini,lalu berikan padaku!" Tukas Brachon memberikan instruksi pada Queena.


"Kau mau apa? Melakukan tes urin untuk memeriksa apa aku memakai narkoba dan obat-obatan terlarang?" Tanya Queena lagi kembali berkelakar. Meskipun sebenarnya Queena sangat paham kalau Brachon pasti ingin melakukan tes kehamilan pada Queena. Pria itu masih percaya kalau pil yang setiap malam Queena minum adalah asam folat yang tempo hari diberikan dokter. Padahal Queena sudah mengganti isinya.


Brachon pikir Queena masih bodoh, apa?


"Anggap saja begitu!" Ujar Brachon menjawab pertanya Queena.


"Jadi lakukan sekarang!" Perintah Brachon sekali lagi dan Queena hanya menghela nafas. Wanita itu lalu bangkit dari pangkuan Brachon dan membawa cup yang tadi diberikan oleh Brachon ke kamarnya. Brachon ikut bangkit dan menyusul Queena ke dalam kamar.


****


"Satu garis."


"Masih negatif, Brach!" Lapor dokter yang langsung membuat Brachon emosi dan menarik kerah baju dokter muda tersebut.


"Kau memberikan apa pada Queen? Bukankah sudah kusuruh untuk memberikannya vitamin yang membuatnya cepat hamil?"


"Aku sudah melakukannya!" Sergah Dokter cepat.


"Tapi yang jadi pertanyaan, apa Queen meminum vitamin itu atau tidak?" Ujar Dokter lagi menerka-nerka.


"Queen selalu meminumnya di depanku!" Jawab Brachon tegas. Dokter hanya mengendikkan bahu.


"Mungkin masih ada sedikit efek dari penggunaan kontrasepsi jangka panjang kemarin. Kau bisa berusaha lagi dan bulan depan semoga Queen sudah hamil!" Tukas Dokter akhirnya berusaha menghibur Brachon yang hanya mendengus.


"Jika bulan depan Queen belum hamil, aku akan langsung membunuhmu!" Ancam Brachon yang langsung membuat dokter di depannya tersebut tersentak.


"Aku bukan Tuhan yang bisa membuat Queen-mu itu hamil!"


"Berhentilah merokok dan minum alkohol mulai sekarang, lalu perbanyak olahraga dan makan buah serta sayur, agar kualitas sp*rmamu juga bagus dan kau bisa segera menghamili Queen!" Saran Dokter panjang lebar yang lagi-lagi hanya membuat Brachon mendengus.


"Tak perlu mengguruiku! Aku tahu yang harus aku lakukan!" Ketus Brachon seraya bangkit dari duduknya dan meninggalkan dokter yang hanya geleng-geleng kepala


Queena yang sejak tadi menguping pembicaraan Brachon dan dokter, langsung buru-buru pergi saat Brachon bangkit dari duduknya. Queena mendadak punya sebuah ide cemerlang setelah ia mendengarkan obrolan Brachon dan Dokter tadi.


Brachon ingin Queen segera hamil, kan?


Baiklah, Queena akan dengan senang hati mengabulkan keinginan Brachon tersebut!


"Queen, kau darimana?" Teguran Brachon membuat Queena pura-pura kaget.


"Dari halaman belakang, menghirup udara segar," jawab Queena berdusta.


"Kau sudah selesai bicara dengan dokter tadi?" Tanya Queena selanjutnya pada Brachon yang hanya membisu.


Queena mengendikkan bahu, lalu berlalu dari hadapan Brachon dan masuk ke kamarnya. Tak berselang lama, Brachon sudah ikut masuk ke kamar Queena.


"Aku mendadak merasa gerah dan aku mau berendam," ucap Queena seraya menghampiri Brachon, lalu berbalik dan memberikan kode agar Brachon membantu menurunkan ritsleting gaun Queena. Meskipun sebenarnya Queena juga bisa melakukannya sendiri, namun apa salahnya sedikit menggoda pria ini.


"Mau aku temani?" Bisik Brachon seraya mengecup pundak Queena.


"Tumben kau bertanya?" Queena tertawa kecil, lalu memelorotkan gaunnya ke lantai sembari melangkah ke arah kamar mandi. Queena juga menanggalkan bra dan underwear-nya secara bergantian, sebelum wanita itu masuk ke dalam.kamar mandi. Sepertinya Queena memang niat sekali untuk menggoda Brachon. Brachon yang tak mau membuang waktu langsung menyusul Queena ke kamar mandi, setelah pria itu menanggalkan bajunya juga.


****

__ADS_1


"Belikan satu untukku!" Rayu Queena seraya bergelayut pada Brachon, saat mereka melihat pameran perhiasan dari mutiara. Queena terus saja mengamati satu kalung mutiara seolah wanita itu begitu menginginkannya.


"Perhiasan ini tidak cocok untukmu! Terlalu norak!" Pendapat Brachon yang langsung membuat Queena merengut. Queena lalu berbalik dan meninggalkan Brachon yang hanya menipiskan bibirnya. Pria itu lalu memanggil Vincent dan berbicara sesuatu, sebelum lanjut menyusul Queena yang pergi ke arah pantai.


"Kau sedang apa? Kita harus ke bandara dan pulang sekarang!" Ucap Brachon dengan nada ketus seolah sedang mengingatkan Queena.


"Pesawatmu berangkat jam berapa memang? Tidak bisakah kita disini satu hari lagi?" Tanya Queena mengajukan negosiasi.


"Tidak!" Jawab Brachon tegas.


"Baiklah!" Ketus Queena seraya meninggalkan Brachon lagi, lalu pergi menghampiri Vincent yang sedang mengobrol dengan seseorang.


"Jangan mengobrol terus! Brachon sudah ketinggalan pesawat!" Queena memukul punggung Vincent dengan barbar yang sontak langsung berhadiah delikan tajam dari pria itu.


"Aku sedang bicara penting! Bisakah kau bersikap sedikit sopan, Queen!" Desis Vincent geregetan.


"Sudahi pembicaraanmu dan cepat pergi ke bandara! Dasar asisten tak berguna!" Queena balik mendesis tajam pada Vincent.


"Kau!" Vincent sudah mengangkat tangannya dengan geregetan dan hendak memukul Queena, saat Brachon sudah datang melerai.


"Vin, kita harus ke bandara sekarang!" Ucap Brachon pada sang asisten.


"Aku sudah bilang!" Delik Queena sebelum tangan wanita itu ditarik oleh Brachon,lalu Queena dibawa Brachon ke arah mobil.


Setelah Vincent menyusul masuk ke mobil, kuda besi itu segera melaju menuju ke bandara kota.


****


Beberapa minggu berlalu....


"Brach?" Queena mengerjapkan matanya beberapa kali saat wanita itu merasakan tubuhnya yang seperti sedang digendong oleh Brachon.


"Kita mau kemana?" Tanya Queena yang akhirnya menyadari kalau dirinya sedang dibawa oleh Brachon masuk ke dalam lift. Suara deru mesin helikopter yang tadi sempat memekakkan telinga, tak lagi terdengar begitu pintu lift tertutup.


"Pindah ke apartemen," ujar Brachon menjawab pertanyaan Queena.


Brachon berdecak namun akhirnya pria itu menurunkan Queena dari gendongannya.


"Aku bahkan tidak tahu kau membawaku naik helikopter tadi," kekeh Queena yang hanya membuat Brachon berdecak.


"Kau tidur seperti orang pingsan," komentar Brachon selanjutnya.


"Benarkah? Aku sangat kelelahan," tukas Queena beralasan.


"Kau bisa istirahat kalau begitu, dan jangan kelayapan sampai aku pulang!" Ucap Brachon bersamaan dengan pintu lift yang akhirnya terbuka.


"Aku boleh belanja di bawah? Aku sudah lama tak ke mall," tanya Queena meminta izin.


"Bukankah katamu tadi kau lelah?"


"Aku sudah segar! Aku sudah tidur dan sekarang aku ingin belanja, Brach!"


"Aku janji kalau aku tak akan keluar dari mall. Aku hanya ingin belanja beberapa barang," tutur Queena panjang lebar mencoba merayu Brachon agar memberikannya izin.


"Kau bisa menyuruh maid membeli barang yang kau butuhkan!" Ujar Brachon memberikan solusi yang langsung membuat Queena berdecak.


"Aku mau belanja seperti wanita normal, Brach!"


"Kau pikir aku tidak bosan terus-terusan kau kurung di mansion dan di apartemenmu!" Marah Queena seraya meninggalkan Brachon. Wanita itu lalu naik ke lantai dua apartemen, masuk ke kamar dan membanting pintu.


Sementara Brachon memilih untuk langsung turun ke bawah, karena masih ada urusan yang harus Brachon selesaikan.


****


Queena keluar dari kamar dan segera turun ke lantai bawah apartemen, saat dua pengawal Brachon langsung menyambutnya.


Queena pura-pura mengabaikan keberadaan dua orang tersebut dan langsung melangkah ke pintu keluar apartemen.

__ADS_1


"Nona Queen-"


"Aku ingin belanja ke bawah!" Jawab Queena to the point.


"Tapi Tuan Brachon melarang anda keluar, Nona!" Ujar salah satu pengawal.


"Apa Brachon di sini sekarang? Tidak, kan? Jadi tidak usah mendengarkan dia!"


"Toh aku hanya belanja dan tak akan kemana-mana!" Ujar Queena tegas seraya netranya nenatap ke arah CCTV yang ada di atas pintu keluar. Tak berselang lama, terdengar bunyi ponsel dari salah satu pengawal Brachon.


"Iya, Tuan Ley!" Sambut pengawal Brachon yang ponselnya langsung disambar oleh Queena.


"Kau keras kepala sekali, Queen!"


"Aku tetap akan turun ke bawah sekarang!" Ucap Queena tegas sebelum wanita itu mengembalikan ponsel pengawal Brachon, lalu membuka pintu depan dan keluar begitu saja dari unit apartemen. Queena langsung menuju ke lift dan meninggalkan pengawal Brachon yang berusaha mengejarnya. Queena bergerak cepat untuk menutup pintu lift, lalu turun ke bawah meninggalkan pengawal Brachon yang mungkin sudah ganti berlari menuruni tangga darurat sekarang untuk mengejar Queena.


Konyol!


Lift akhirnya tiba di lantai bawah. Queena bergegas keluar, lalu setengah berlari menyusuri lorong yang menghubungkan lobi utama apartemen ke area mall. Wanita itu langsung menuju ke salah satu toko obat yang berada di dalam mall.


"Ada yang bisa-"


"Aku butuh ini." Queena menunjuk ke sebotol multivitamin.


"Lalu pil kontrasepsi. Tukarkan isi dari botol ini dengan pil kontrasepsi!" Queena menjelaskan dengan sedikit tergesa, sembari wanita itu memastikan kalau pengawal Brachon belum menyusulnya.


"Tapi-"


"Lakukan cepat! Aku sedang buru-buru!" Bentak Queena pada penjaga di toko obat tersebut.


"Ba-baik, Nona!"


Queena kembali mengedarkan pandangannya ke luar toko dan saat ia melihat pengawal Brachon, buru-buru Queena menunduk dan bersembunyi.


"Cepatlah!" Perintah Queena lagi pada penjaga toko yang masih memindahkan pil kontrasepsi ke dalam botol multivitamin.


"Sampai penuh?" Tanya penjaga toko.


"Iya!"


"Cepat!" Perintah Queena sekali lagi.


"Sudah, Nona!" Penjaga toko memberikan botol multivitamin tadi, bersamaan dengan pengawal Brachon yang masuk ke dalam toko obat.


"Ambilkan juga dua testpack!" Ucap Queena pada penjaga toko yang langsung mengangguk dan sigap mengambil dua buah testpack yang langsung Queena jejalkan ke dalam tasnya.


"Nona Queen! Anda membeli obat-"


"Hanya multivitamin!" Jawab Queena santai seraya menunjukkan botol multivitamin berisi pil kontrasepsi tadi pada pengawal Brachon.


"Ini kartu anda, Nona!" Ucap penjaga toko obat seraya memberikan kartu member Queena.


"Terima kasih banyak!" Queena mengulas senyum tipis sebelum wanita itu keluar dari toko obat, dan disusul oleh dua pengawal Brachon.


"Queena lalu naik ke lantai dua mall dan wanita itu terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling seakan sedang mencari sesuatu. Sedangkan pengawal Brachon terus saja mengekori Queena seolah mereka tak pernah bosan.


"Anda mencari toko apa, Nona?" Salah satu pengawal berbasa-basi.


"Toko ba-" Kedua mata Queena melebar saat ia melihat sesuatu yang sejak tadi ia cari-cari.


"Aku mendadak kebelet! Aku akan ke toilet dulu!" Pamit Queena pada dua pengawal Brachon. Wanita itu tak membuang waktu lagi dan segera berlari ke arah toilet wanita.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2