
Queena membuka pelan pintu rumah sambil sesekali menatap pada Bagus yang kini berdiri di belakangnya.
"Sssttt!" Queena memberikan kode untuk Bagus agar tak bersuara, bersamaan dengan pintu yang akhirnya berhasil Queena buka. Namun sedetik kemudian deheman dari Papi Briel langsung membuat Queena terlonjak.
"Baru pulang, Queen!" Tegur Papi Briel dengan nada galak.
"Eh, Papi." Queena meringis dan Bagus bergegas mendekat ke arah Queena demi menjelaskan pada Papi Briel.
"Kamu bawa Queena kemana semalaman, Bagus? Ponsel dimatikan dan tak bisa dihubungi!" Papi Briel ganti mengomeli Bagus yang sudah berdiri di samping Queena.
"Maaf, Pi! Kemarin kami berteduh karena kehujanan saat malam-"
"Berteduh selama semalaman?" Papi Briel memotong kalimat Bagus.
"Hujannya semalam suntuk, Pi!" Timpal Queena ikut beralasan.
"Lalu kalian berteduh dimana semalaman? Jangan bilang di hotel!" Papi Briel sudah mengangkat satu tangannya ke arah Bagus.
"Eeee, di rumah teman, Pi!" Jawab Bagus berdusta.
"Teman?" Papi Briel memicing curiga.
"Iya, teman Bagus, Pi! Kebetulan pas lewat dekat rumahnya, jadi kami numpang berteduh dan numpang bermalam." Jelas Bagus berusaha untuk tak gugup.
Ya ampun!
Ini kali pertama Bagus berbohong sepertinya.
"Masuk, Queen!" Titah Papi Briel selanjutnya dan Queena hanya mengangguk lalu masuk ke dalam rumah.
"Dan kau pulang sana! Masih terlalu pagi untuk bertamu!" Usir Papi Briel selanjutnya pada Bagus.
"Tapi Bagus mau ngomong sesuatu dulu-"
"Aduh aduh!" Queena tiba-tiba mengaduh sembari memegangi perutnya saat Bagus hendak bicara serius pada Papi Briel.
Ya ampun!
"Ada apa, Queen?" Tanya Papi Briel yang bergegas menghampiri sang putri.
"Sakit perut, Pi!" Keluh Queena seraya memberikan kode pada Bagus agar cepat-cepat pergi.
"Cepat pulang sana, Gus! Kalau mau bertamu nanti pas sudah terang! Queena sampai sakit perut dan masuk angin kamu bawa main semalaman!" Gerutu Papi Briel akhirnya seraya menutup pintu tanpa sempat Bagus menyampaikan perihal apa yang semalam ia lakukan bersama Queena.
"Bodoh!" Gumam Bagus merutuki dirinya sendiri sebelum akhirnya pria itu meninggal rumah kedua orang tua Queena.
Tepat saat Bagus hendak pergi, ada pesan masuk dari Queena.
[Tidak usah bilang ke papi, Mas!] -Queena-
[Maaf, Queen! Aku benar-benar minta maaf!] -Bagus-
[Apa masih sakit?] -Bagus-
[Sakit sedikit] -Queena-
[Maaf, ya! Aku bakal secepatnya nikahin kamu] -Bagus-
[Aku selesaikan kuliah dulu, Mas! Kan tinggal setahun lagi]-Queena-
[Baiklah, aku akan menabung dulu] -Bagus-
[Trus, Mas Bagus di kota ini sampai kapan?] -Queena-
[Minggu depan aku udah berangkat ke kota lain] -Bagus-
[Oh. Masih bisa jalan-jalan lagi berarti? Hari Jumat aku nggak ada kelas] -Queena-
[Nanti aku kabari kalau aku nganggur. Tapi tidak usah jauh-jauh, ya! Ke mall atau ke kafe dalam kota saja] -Bagus-
[Atau ke mess Mas Bagus lagi] - Queena-
__ADS_1
[Queen!] -Bagus-
[Bercanda, Mas!] -Queena-
[Tidak usah diulangi! Nanti saja kalau sudah menikah baru kita lakukan sering-sering. Aku masih merasa bersalah, Queen!] -Bagus-
[Aku percaya kok sama Mas Bagus!] -Queena-
[Memancing?] -Bagus-
[Enggak! Hanya mengatakan yang perlu dikatakan] -Queena-
[Kau yang pertama, dan aku mau kau jadi yang terakhir juga, Queen! I love you] -Bagus-
[I love you too mas Bagus. Kok masih kebayang terus, ya?] -Queena-
Bagus baru saja akan mengetikkan pesan balasan saat terdengar teguran dari Papi Briel.
"Gus! Kamu tadi sudah Papi suruh pulang! Kenapa malah senyum-senyum disitu?"
"Eh, iya, Pi!" Ringis Bagus yang kembali menyalakan mesin motornya lagi.
"Senyum-senyum seperti orang gila!"
"Dasar bucin!" Gerutu Papi Briel sebelum akhirnya Bagus berpamitan sekali lagi dan benar-benar meninggalkan rumah orang tua Queena tersebut.
****
"Papa!" Panggilan dari Barley menyentak lamunan Bagus tentang kejadian sepuluh tahun silam, saat Bagus untuk pertama kalinya menyentuh Queena.
Itu adalah kesalahan terbodoh dalam hidup Bagus yang juga sudah membuat Papi Briel murka, hingga akhirnya papi kandung Queena itu mendiamkan Bagus dan Queena.
Ya, setelah kesalahan pertama kali itu, Bagus dan Queena memang tergoda untuk melakukan kesalahan selanjutnya setiap kali mereka bertemu. Atas dasar suka saling suka tentu saja!
Hingga akhirnya sesuatu yang diluar dugaan terjadi. Queena hamil karena keteledoran Bagus, padahal kuliah Queena masih belum selesai.
Papi Briel tentu saja langsung marah, dan meminta Bagus untuk menikahi Queena. Meskipun setelah keguguran, Queena tetap menyelesaikan kuliahnya, namun sikap Papi Briel sudah sedikit berbeda. Seperti ada kekecewaan besar yang dipendam oleh Papi Briel, dan Bagus benar-benar masih merasa bersalah hingga detik ini.
"Sekitar tiga puluh menit, Pi!" Jawab Bagus seraya memeluk dan menciumi Barley.
"Tak terasa, sudah enam bulan lebih Queena pergi," gumam Papi Briel seraya menaburkan bunga di atas makam Queena.
"Rasanya baru kemarin," timpal Bagus dengan nada sendu.
Papi Briel menatap ke arah Bagus yang wajahmu berusaha untuk tegar. Pria itu terus saja memeluk dan menciumi Barley.
"Papi sedang ada urusan di kota ini?" Tanya Bagus berbasa-basi pada Papi Briel.
"Ya! Urusan untuk mengantar Barley."
"Kata Melody, kau libur panjang bulan ini," ujar Papi Briel yang langsung membiat Bagus mengulas senyum tipis.
"Sebenarnya, Bagus baru saja akan menjemput Barley setelah dari makam-"
"Papi sebenarnya memang ada janji bertemu seseorang di kota ini." Papi Briel menyela kalimat Bagus.
"Lalu papi berinisiatif membawa Barley saja sekalian agar kamubtak perlu bolak-balik." sambung Papi Briel lagi.
"Terima kasih, Pi!" Ucap Bagus tulus. Bagus memberikan setangkai bunga pada Barley, lalu membimbing bocah tersebut untuk meletakkannya di atas makam Queena.
"Papi juga pernah di posisi sepertimu, Bagus! Jadi Papi tahu betul bagaimana perasaanmu saat ini," ujar Papi Briel seraya menepuk punggung Bagus.
"Bagus akan fokus merawat dan membesarkan Barley, Pi!" Jawab Bagus mengungkapkan tekadnya pada Papi Briel.
"Tak perlu memaksakan diri! Jika suatu hari nanti ternyata hatimu tertambat pada seorang wanita, itu sah-sah saja, Bagus!" Nasehat Papi Briel yang hanya membuat Bagus mengangguk.
Namun Bagus benar-benar belum memikirkan hal itu hingga detik ini, karena sampai sekarang, Bagus masih merasa kalau Queena masih ada di sampingnya, lalu menyambutnya pulang saat Bagus off kerja.
Ya ampun!
Bagus masih belum.bisa move on dari Queena.
__ADS_1
Bagus benar-benar mencintai istrinya itu.
"Papi harus pergi sekarang, Gus! Sudah ditunggu," ucapan Papi Briel membuyarkan lamunan Bagus.
"Iya, Pi! Hati-hati!" Pesan Bagus pada sang papi mertua yang akhirnya pergi meninggalkan area pemakaman tersebut. Sementara Bagus dan Barley baru pergi selang beberapa waktu, setelah matahari sedikit bergulir ke arah barat.
****
Ceklek!
Queena yang sedang serius membaca buku, terlonjak saat pintu kamar dibuka dari luar. Wanita itu langsung menatap awas pada seseorang yang masuk ke kamar....
Brachon!
Sial!
Kenapa pria itu cepat sekali kembali dari luar kota?
Queena segera menarik selimut, berbaring, lalu pura-pura tidur.
"Tidak usah pura-pura, Queen! Kau pikir aku bodoh!" Gertak Brachon yang sudah dengan cepat menghampiri ranjang Queena, lalu menyibak kasar selimut wanita tersebut.
"Aku sedang datang bulan!" Ucap Queena seraya beringsut dan menarik kembali selimut yang tadi disibak Brachon.
"Kita bisa melakukannya lewat jalan lain kalau begitu! Milikmu yang itu masih sempit dan terasa nikmat!" Seringai Brachon yang langsung membuat Queena memejamkan kedua matanya.
Beberapa minggu yang lalu saat kali pertama Brachon melakukan lewat jalan yang itu, Queena langsung kesakitan sepanjang malam dan tak bisa tidur. Dan sekarang....
Dasar pria gila psikopat dan maniak!
"Baiklah, aku tak jadi datang bulan!" Sergah Queena menatap takut pada Brachon.
"Terlambat! Kau sudah menipuku tadi,jadi kau harus menerima hukuman!" Brachon menghampiri nakas di samping tempat tidur, lalu mengambil satu benda yang sangat-sangat dibenci oleh Queena.
Queena menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Brach, aku tidak mau!" Queena melempar tatapan tajam pada Brachon, meskipun Queena juga tahu apa konsekuensinya jika ia melawan Brachon seperti ini.
Brachon bisa saja mencekik, mimiting, atau melukainya lagi meskipun hingga detik ini Brachon belum melakukannya.
"Kau pikir aku peduli dengan penolakanmu atau perasaanmu?" Brachon sudah menghampiri Queena yang bergegas berdiri lalu melesat turun dari atas ranjang. Namun sekuat apapun Queena melawan, Queen juga tak akan bisa lari dari kamar atau bahkan dari mansion Brachon ini!
Tempat ini sudah menjelma layaknya sebuah penjara berkeamanan super ketat bagi Queena.
Pernah satu kali Queena mencoba untuk kabur dan yang terjadi adalah dirinya memang tak bisa keluar kemana-mana. Semua jendela besar ada tralisnya dan banyak sekali penjaga serta CCTV di mansion ini.
"Aku tidak mau, Brach! Bisakah kau berperasaan sedikit saja saat menyentuhku?" Teriak Queena frustasi yang tentu saja hanya seperti angin lalu untuk Brachon.
Queena terus berusaha menghindar dari Brachon yang malah terlihat begitu santai saat mengejarnya, seolah Brachon sedang meledek Queena sekarang.
Queena akhirnya menghentikan langkahnya di sofa, dan wanita itu menatap marah pada Brachon.
"Oh, kau mau melakukannya di sofa?" Brachon tersenyum licik pada Queena, lalu pria itu menghampiri Queena yang kini sudah duduk di sofa.
Brachon mulanya hanya membelai wajah Queena dan menyibak rambut wanita itu ke belakang. Lalu seperti yang sudah-sudah Brachon akan mulai merobek baju kurang bahan yang Queena kenakan dan tanpa pemanasan pria itu akan langsung menerjang Queena tanpa perasaan.
Jangan salahkan Queena yang selalu memakai baju kurang bahan, karena memang hanya baju-baju itu yang Brachon sediakan di almari kamar Queena.
Queena sebenarnya juga tak mau memakai semua baju tersebut. Tapi ketimbang dirinya harus naked sepanjang waktu!
"Aaaarrrggghhh!" Queena menjerit keras, saat Brachon dengan tanpa perasaan sudah menyumpalkan alat yang yadi dibawanya, ke bagian belakang tubuh Queena. Rasa perih langsung menjalari setiap saraf tubuh Queena.
Dasar Brachon baj*ngan!!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1