QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
JANGAN LENGAH!


__ADS_3

Plak!


Brachon memukul bokong Queena dengan lumayan keras, hingga meninggalkan bekas kemerahan.


"Kenapa kau hanya diam, Queen?" Brachon mengulangi perbuatannya sembari menghujamkan miliknya ke dalam milik Queena.


Sementara Queena hanya menggigit bibir bawahnya, dan kedua tangannya mencengkeram erat punggung sofa. Sekuat tenaga, Queena menahan dirinya untuk tak mengeluarkan suara apapun. Queena sudah marah dan putus asa sekarang!


"Apa kau sudah tak bisa bersuara lagi sekarang?" Brachon mencabut miliknya, lalu membalik tubuh Queena dan menatap tajam pada wanita di hadapannya tersebut. Queena membalas tatapan tajam Brachon, namun tak umpatan apalagi makian yang dilontarkan oleh Queena. Wanita itu hanya diam seribu bahasa.


"Apa aku perlu mencekokimu dengan obat per*ngsang lagi, agar kau agresif, hah?" Brachon sudah ganti mencengkeram bawah dagu Queena sekarang. Pria itu juga sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Queena.


"Apa kau sudah selesai?" Tanya Queena dengan nada lirih dan ekspresi wajah datar.


Brachon sontak langsung melemparkan tatapan tajam penuh tanya.


"Aku mau bersih-bersih jika kau sudah selesai," ujar Queena lagi masih dengan ekspresi wajah datar.


"Aku belum selesai!" Brachon membalik dan mendorong tubuh Queena dengan cepat hingga wanita itu kini kembali membelakangi Brachon. Namun tak ada perlawanan sedikitpun dari Queena. Brachon akhirnya tak jadi melanjutkan aksinya dan pria itu malah berdecak berulang-ulang.


"Brengsek!" Umpat Brachon kesal.


Pria itu membalik tubuh Queena sekali lagi, lalu mendorongnya lagi hingga Queena telentang di sofa.masoh tak ada perlawanan apalagi umpatan dan makian dari Queena. Wanita itu hanya diam seribu bahasa. Brachon lalu mel*mat bibir Queena dengan kasar dengan maksud memancing emosi Queena. Namun sia-sia saja. Queena masih tak berekspresi apapun.


"Kenapa kau hanya diam, Serigala kecil!"


"Kenapa tidak marah atau memberontak, hah?" Cecar Brachon menuntut jawaban dari Queena.


"Bukankah ini yang kau inginkan? Queena yang penurut dan pasrah dengan semua yang kau lakukan," jawab Queena lirih, seraya memalingkan wajahnya. Brachon mendengus, lalu pria itu bangkit dari atas Queena.


"Kau membuatku kehilangan gairah!" Gerutu Brachon kesal. Brachon lalu pergi ke kamar mandi, meninggalkan Queena yang hanya menatap tanpa ekspresi pada pria tersebut. Queena memunguti satu persatu bajunya yang berserakan, lalu memakai baju-baju tersebut dengan cepat, sebelum Brachon selesai mandi.


Tepat saat Brachon keluar dari kamar mandi Queena sudah berbaring di atas ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu memejamkan mata.


"Apa kau sedang pura-pura tidur?" Decih Brachon seraya membuka lemari besar yang ada di kamar Queena. Brachon lalu mengambil baju miliknya yang tersimpan juga di kamar Queena.


Tak ada jawaban dari Queena dan wanita itu masih memejamkan kedua matanya.


Brachon yang sudah selesai berpakaian, kemudian menghampiri Queena dan mel*mat sekilas bibir Queena yang terlihat pucat.


Tunggu!


Kenapa bibir Queena menjadi pucat?


"Queen!" Brachon meletakkan punggung tangannya di kening lalu berpindah ke leher Queena.

__ADS_1


Demam!


"Barley!" Samar-samar, Brachon bisa mendengar Queena yang menggumamkan nama Barley dan memanggil-manggil putranya tersebut.


"Putramu tidak ada disini, Queen!" Jawab Brachon kesal, seraya meraih ponselnya di atas nakas. Brachon dengan celat menghubungi nomor prioritas.


"Vincent! Cepat panggil dokter!"


"Queen demam!" Perintah Brachon cepat dan tegas. Tanpa menunggu jawaban dari Vincent, Brachon sudah langsung menutup telepon saat kemudian kembali terdengar racauan Queena.


"Barley, maafkan Mama!"


"Barley!"


"Barley-"


"Barley tidak ada disini, Queen!" Brachon yang emosi menangkup kasar wajah Queena karena wanita itu tak berhenti meracau seraya memanggil-manggil nama sang putra.


Brachon menatap wajah Queena yang kedua matanya masih terpejam. Namun Brachon juga bisa melihat butir bening yang turun dari kedua sudut mata Queena.


Ya, Queena sedang tidur, mengigau, lalu menangis.


Dan badan Queena terasa semakin panas saja!


Brachon kembali meraih ponselnya dan menelepon Vincent lagi.


"Kenapa lama sekali? Queen demam tinggi sekarang, Vincent! Cepat bawa Dokter kesini!" Brachon berteriak pada Vincent tanpa jeda. Pria itu lalu menutup telepon lagi, tetap tanpa menunggu jawaban Vincent.


"Dasar tidak berguna!" Umpat Brachon kesal,yang akhirnya mengangkat tubub Queena yang sudah mulai menggigil. Dan bibir wanita itu terus saja meracaukan nama Barley berulang-ulang.


Brachon menggendong Queena keluar dari kamar, saat beberapa pengawal sudah menyambutnya.


"Cepat siapkan mobil! Kalian semua sedang apa, hah?" Brachon berteriak pada para pengawalnya. Vincent juga sudah tergopoh-gopoh menghampiri Brachon yang masih menggendong Queena.


"Dokter sedang dalam perjalanan, Brach! Kata dokter-"


"Aku akan membawa Queen ke rumah sakit!" Potong Brachon seraya melanjutkan langkahnya dan mengabaikan ucapan Vincent.


Vincent hanya mampu geleng-geleng kepala, lalu pria itu akhirnya mengikuti Brachon dan mengemudikan mobil yang membawa Queena ke rumah sakit.


****


"Thypus, malnutrisi."


"Berapa hari Queen tidak makan, Brachon?" Tanya Dokter yang langsung membuat Brachon melempar tatapan tajam pada Vincent, seolah menuntut penjelasan dan tanggung jawab pria itu.

__ADS_1


"Aku bukan baby sitter-nya! Jadi mana aku tahu dia makan atau tidak," sergah Vincent mencari alasan dan pembenaran. Vincent juga sudah sigap menelepon seseorang. Sepertinya pria itu menghubungi maid yang biasa mengantar makanan ke kamar Queena.


"Halo, Tuan Vincent!" Sapa maid yang langsung bisa didengar juga oleh Brachon, karena Vincent sigap memasang loudspeaker.


"Kau yang biasanya mengantar makanan untuk Queen, kan?" Tanya Vincent to the point.


"Iya, Tuan."


"Lalu apa Queen memakan makanannya belakangan ini?" Tanya Vincent lagi.


"Maaf, Tuan! Tapi sudah hampir satu minggu ini makanan Nona Queen selalu utuh dan seperti tak disentuh-"


"Brengsek! Kenapa kau tak bilang atau melaporkannya padaku?" Teriak Brachon kesal yang hampir membanting ponsel Vincent. Beruntung Vincent bisa dengan cepat mencegah.


"Jelas sudah, Brach!" Dokter yang turut mendengarkan pengakuan dari maid hanya geleng-geleng kepala,lalu berbicara sebentar dengan perawat.


"Lakukan yang perlu kau lakukan dan sembuhkan Queen dengan cepat!" Perintah Brachon pada dokter.


"Kami akan berusaha," pungkas dokter sebelum akhirnya undur diri dari kamar perawatan Queena.


"Kau harus bertemu seseorang malam ini, Brach! Perlu akau jadwalkan ulang-"


"Tidak usah!" Sergah Brachon cepat sebelum Vincent menyelesaikan kalimatnya.


"Ya, sebaiknya memang tidak usah karena aku yakin kalau kau tak akan buang-buang waktu untuk menunggui wanita pembangkang ini!" Ucap Vincent dengan nada sinis seraya mengendikkan dagu ke arah Queena.


Brachon tak menyahut sepatah katapun.


"Ingatlah kalau Queen hanya mainanmu, Brachon!"


"Jadi sudah seharusnya kau yang berkuasa penuh atas diri Queen, dan bukan sebaliknya!" Vincent berucap seolah pria itu sedang memperingatkan Brachon yang sekilas mulai terlihat goyah.


"Jangan biarkan Queen-"


"Aku tak selemah itu, Vincent!" Potong Brachon tegas.


"Dan aku tahu apa yang aku lakukan,jadi kau tak perlu mengguruiku!" Pungkas Brachon sebelum kemudian pria iti berbalik pergi dan menuju ke pintu keluar. Meninggalkan Vincent yang langsung tersenyum sinis ke arah Queena


"Teruskan aktingmu, Queen! Kau aktris yang luar biasa!" Vincent bertepuk tangan dengan maksud mengejek pada Queena yang masih tertidur. Pria itu lalu keluar dari kamar perawatan Queena dan mengekori Brachon yang tadi sudah keluar duluan.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2