QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
LEMAH LEMBUT


__ADS_3

Queena tak berhenti menatap keluar jendela mobil. Ada lautan luas yang terbentang dan nampak dari kejauhan. Namun sepertinya Queena tidak akan pergi ke pantai.


Mobil masih terus melaju, hingga akhirnya mereka masuk ke kawasan pelabuhan. Laju mobil mulai melambat dan tepat saat mobil berhenti, Queena langsung dibuat terperangah dengan benda yang kini terhampar dan menjulang di hadapannya.


Dulu, Queena hanya bisa melihat benda ini dari layar ponsel atau layar televisi saja. Namun kini....


"Welcome!" Ucap Brachon seraya mengulurkan tangannya ke arah Queena yang baru turun dari mobil. Penampilan Brachon bahkan lain dari biasanya.


Pria itu tak mengenakan kemeja hitam kesukaannya. Melainkan malah memakai kemeja warna putih dengan celana putih juga sebatas lutut. Hanya kacamatanya saja yang berwarna hitam yang kini menutupi wajah pria itu.


"Kau akan mengajakku naik kapal pesiar?" Tanya Queena seraya tertawa kecil.


"Ini bukan kapal pesiar!" Ujar Brachon mengoreksi dengan sedikit ketus.


"Oh, ya? Lalu apa namanya? Speedboat? Sepertinya bukan," Queena mencoba menerka-nerka.


"Kapal yacht!" Jawab Brachon akhirnya. Queena hanya mengangguk, lalu Brachon segera membimbing Queena untuk masuk ke dalam kapal mewah warna putih tersebut.


"Aku tidak melihat penumpang lain," komentar Queena serelah wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kapal.


"Memang tidak ada!"


"Kapal ini sudah aku sewa secara eksklusif dan tak akan ada penumpang lain selain kita berdua," jawab Brachon pongah yang langsung membuat Queena sedikit ternganga.


"Lalu apa alasanmu melakukan semua ini? Kau mau membuktikan sesuatu?" Tanya Queena lagi memancing.


"Sama sekali tidak!" Brachon sudah melepaskan genggaman tangannya pada Queena, lalu pria itu naik ke lantai atas dimana ada lapangan golf mini yang bersebelahan dengan kolam renang juga.


Brachon meraih satu stick golf, lalu memakainya untuk memukul bola yang sudah siap di tempatnya.


Puk!


Hanya satu kali pukulan dan bola sudah langsung melambung tinggi.


"Hebat!" Puji Queena seraya bertepuk tangan.


"Kau mau mengajariku?" Tanya Queena selanjutnya yang sudah berdiri di depan Brachon, lalu memegang tongkat golf yang masih dipegang oleh Brachon.


"Bagaimana caranya?" Tanya Queena lagi penuh semangat. Namun Brachon malah acuh dan pria itu melepaskan tongkat golf-nya begitu saja, lalu meninggalkan Queena yang hanya ternganga.


"Pelit!" Gerutu Queena seraya mengayunkan tongkat golf di tangannya dan mengambil ancang-ancang untuk memukul bola.


"Satu...."


"Dua...." Queena menghitung dan memberikan aba-aba untuk dirinya sendiri.


"Ti-"


"Kau akan mematahkan tongkat itu jika memukul begitu!" Ketus Brachon seraya menahan tangan Queena yang stdah hampir memukul bola.


"Tongkat ini terlihat kuat! Mustahil bisa patah!" Sergah Queena merasa sangsi.


"Ck! Kau keras kepala sekali!" Omel Brachon yang akhirnya kembali berdiri di belakang Queena. Pria itu lalu mengajari Queena cara yang benar untuk memukul bola.


"Satu kali lagi-"


"Aku capek!" Tolak Queena seraya meloloskan diri dari kungkungan Brachon. Wanita itu lalu berjalan ke arah kabinnya, meninggalkan Brachon yang masih lanjut bermain golf.


****


"Wow!" Queena berdecak kagum saat ia melihat lumba-lumba yang berenang di kejauhan. Wanita itu tersenyum sendiri seraya mengeratkan genggamannya di pagar pembatas kapal, saat tidak ada sepasang tangan yang sudah mendekapnya dri belakang.


Queena berjenggit, dan berakting seolah ia kaget. Padahal Queena juga sudah tahu suapa yang kini sedang memeluknya dari belakang.


"Kau suka kapal ini?" Tanya Bagus seraya menyusupkan kepalanya di ceruk leher Queena.

__ADS_1


"Kalau iya kenapa? Kau mau membelikannya untukku?" Queena sedikit berkelakat.


"Dalam mimpimu!" Jawab Brachon ketus yang tiba-tiba sudah membalik tubuh Queena, lalu kembali menciumi leher dan dada wanita itu.


"Aku belum makan malam, Brach!" Protes Queena saat Brachon memulai pergerakan mesumnya.


"Lalu kenapa? Aku akan memberikan hidangan pembuka sebelum kau menikmati makan malammu!" Brachon kembali memutar tubuh Queena lalu memaksa wanita itu untuk membungkuk. Tangan Brachon dengan cepat menelusup ke bawah gaun Queena.


"Kau tidak akan melakukannya di tempat terbuka, kan?"


"Kenapa memang kalau aku mau mencobanya?" Brachon menekan kepala Queen ke pagar pembatas kapal. Jari pria itu sudah melesak ke dalam milik Queena dan sukses membuat Queen melenguh.


"Pasti rasanya berbeda, jika kita melakukannya di atas geladak kapal yang sedang berlayar di lautan lepas.


"Kau gila!" Queena menyentak tangan Brachon dengan sekuat tenaga, sebelum kemudian wanita itu berusaha meloloskan diri.


"Kau mau kemana, Queen!" Brachon mengejar Queena dengan cepat, lalu menarik rambut wanita itu.


"Aaaakkhhh!"


Brachon sudah ganti mencengkeram kedua pundak Queena.


"Kenapa tidak melakukannya saja di kamar? Aku pasti akan dengan senang hati melayanimu!" Ujar Queena melakukan negosiasi.


"Kita sudah sering melakukannya di dalam kamar dan diatas ranjang!" Desis Brachon yang sudah mengeratkan cengkeramannya pada pundak Queena.


"Aaauuuwww!" Queena meringis dan membalas tatapan tajam Brachon.


"Kau menyakitiku, Brach!" Cicit Queena yang tatapannya ganti memohon.


"Kau mau bersujud dan memohon agar aku berhenti menyakitimu?" Tanya Brachon yang langsung membuat Queena terdiam.


Bersujud, memohon, lalu melakukan satu hal yang menjadi kesukaan Brachon.


"Aku akan mematahkan pundakmu, Queen!" Desis Brachon tajam.


"Lakukan saja!" Jawab Queena berani.


"Kau menantangku?" Brachon mendelik pada Queena yang balas mendelik juga pada Brachon.


"Padahal aku hanya menyuruhmu melakukan hal yang sangat mudah!" Brachon akhirnya melepaskan cengkeramannya dari pundak Queena. Seketika pundak Queena langsung terlihat kebiruan karena ulah Brachon tadi.


"Lihat yang kau lakukan!" Brachon menunjuk-nunjuk ke arah pundak Queena.


"Aku pasti melakukannya jika kau meminta dengan manis dan lemah lembut," ucap Queena mengajukan syarat.


"Apa katamu?" Brachon ganti mencengkeram dagu Queena sekarang.


"Kau bersikap manis dan lemah lembut kepadaku." Ulang Queena sekali lagi.


"Aku tak akan pernah melakukannya. Kau siapa memangnya?" Jawab Brachon ketus.


"Aku siapa? Aku adalah tawananmu yang sekarang sudah menjelma menjadi kekasihmu!" Jawab Queena blak-blakan yang langsung membuat Brachon berdecih.


"Tidak usah munafik, Brach! Kau bahkan menuruti semua kemauanku belakangan ini dan melakukan semua hal yang aku inginkan-"


"Kau terlalu percaya diri!" Decih Brachon menyanggah kalimat Queena.


"Benarkah?" Queena tertawa kecil, lalu wanita itu berlalu dan meninggalkan Brachon yang hanya membisu.


****


"Auuw!" Queena mengaduh, saat pundaknya yang masih memar dicium oleh Brachon. Pasangan itu kini sudah sama-sama naked, dan Brachon masih berada di atas Queena sembari bergerak dengan berirama. Tak ada tindakan Brachon yang kasar malam ini.


Tumben!

__ADS_1


"Lain kali jangan pernah membantahku atau membuat aku kesal, agar aku juga tidak menyakitimu begini!" Omel Brachon pada Queena yang langsung mendengus.


Queena hendak memalingkan wajahnya, saat Brachon sudah mencegah dengan cepat,lalu pria itu ******* bibur Queena.


"Kau begitu manis, jika melakukannya dengan lembut begini," konentar Queena setelah wanita itu melepaskan pagutan Brachon.


"Aku lebih suka yang biasanya. Karena itu lebih menantang dan menyenangkan!" Ungkap Brachon blak-blakan.


"Benarkah? Yang seperti ini tidak menyenangkan?" Queena melakukan satu sentakan kecil di dalam miliknya yang langsung membiat Brachon terkesiap.


"Kau melakukan apa barusan?" Tanya Brachon penuh selidik.


"Melakukan apa?" Queena balik bertanya dan pura-pura tak mengerti.


"Lakukan lagi!" Perintah Brachon tegas.


"Ada syaratnya!" Jawab Queena cepat.


"Syarat apa? Kau ingin bertemu Bagus dan Barley?" Brachon berdecih dan Queena ikut berdecak.


"Bisakah kita berhenti membahas tentang Bagus dan Barley? Berapa kali harus kukatakan padamu kalau aku tak akan lagi menemui mereka berdua!" Tukas Queena panjang lebar sedikit jengah pada Brachon.


"Masih belum terbukti karena kita belum kembali ke apartemen lagi!" ucap Brachon sinis yang langsung membuat Queena mendengus.


"Lagipula, terakhir kali kau menemui mereka, kau menghabiskan waktu hampir tiga jam di dalam rumah Bagus!"


"Jadi mustahil rasanya jika kau hanya menitipkan surat untuk Barley waktu itu!" Brachon menyentak ke dalam milik Queena dengan kasar, hingga membuat Queena sedikit tersengal.


"Kau sedang apa sebenarnya selama tiga jam itu? Menjadi jal*ng juga untuk Bagus?" Brachon menyentak sekali lagi dan Queena mulai terengah-engah.


"Aku hanya bermain bersama Barley!" Ujar Queena beralasan.


"Barley tak takut lagi padamu?" Brachon mendelik tajam pada Queena.


"Aku membawakan Barley susu dan mainan. Lalu Bagus juga sedikit membujuk Barley," ungkap Queena menceritakan kronologi pertemuannya dengan Barley.


"Bagus sudah percaya kalau kau adalah Queena-"


"Tidak!" Sanggah Queena cepat.


"Bagus masih merasa ragu dan bahkan dia tidak mau memelukku!"


"Dia hanya pura-pura percaya. Mungkin karena iba padaku," lanjut Queena lagi seraya berekspresi kecut.


"Queen yang malang!" Brachon mengusap wajah Queena, lalu merapikan rambut wanita itu yang berserak di wajah.


"Memang sudah seharusnya kau pulang kepadaku dan bukan pada Bagus miskin itu lagi!"


"Kau adalah Queen-ku!"


"Dan kau milikku selamanya!" Klaim Brachon sebelum pria itu mel*mat bibir Queena sembari melesakkan miliknya dengan lebih dalam ke dalam milik Queena.


"Emmmppphhh!" Queena langsung tersengal dengan permainan Brachon yang sudah berubah kasar.


Lagi!


Baru juga Queena tadi memuji pria ini!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2