
"Brachon, dia sudah membuka mata."
Laporan Vin dari ujung telepon, membuat Brachon memejamkan matanya untuk beberapa saat.
Seharusnya satu bulan yang lalu Brachon membunuh wanita bernama Queena itu karena bisa saja Queena melaporkan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Brachon pada wanita bernama Indah itu.
Ya, Queena adalah satu-satunya saksi kunci pembunuhan yang dilakukan oleh Brachon . Untunglah waktu itu Brachon cepat menyadari adanya CCTV yang memberikannya petunjuk mengenai keberadaan Queena. Jadi Brachon bisa dengan cepat bertindak dan menangani wanita itu!
"Brachon!"
"Tetap awasi dan sterilkan kamar perawatan Queen! Aku tudak mau dia bertemu siapapun kecuali dokter dan perawat." Ucap Brachon akhirnya memberikan perintah pada Vin.
"Baiklah, aku mengerti."
Brachon tak berkata apa-apa lagi dan segera menutup telepon. Pria itu lalu meraih gelas di atas meja, lalu meneguk minuman di dalamnya dan sedikit meringis. Ingatan Brachon kembali melayang ke kejadian satu bulan lalu, saat Vin membawa Queena yang tak sadarkan diri ke hadapan Brachon.
"Silahkan! Dia ada di dalam," ucap Vincent seraya membuka lebar sebuah ruangan dengan nuansa serba putih.
Ada sesosok wanita yang kedua tangan dan kakinya terikat, serta mata yang ditutup dengan kain hitam. Wanita itu hanya diam dan tak bergerak dan sepertinya juga sedang tak sadar. Tatapan Brachon lalu beralih ke meja di samping ranjang tempat wanita tadi berbaring. Ada beberapa senjata tajam, pistol, bahkan jarum suntik berisi sebuah cairan.
Ya, Brachon terkadang suka menyiksa dulu targetnya saat ia sedang memiliki mood bagus. Namun saat mood Brachon berantakan, pria itu lebih memilih untuk langsung menghabisi saja korbannya, seperti langsung menggorok leher si korban seperti Indah kemarin. Atau menembak kepala korban dan melihat isi kepala tersebut keluar.
Ya, itu lumayan menyenangkan!
"Buka penutup matanya!" Perintah Brachon pada sang asisten.
Vincent tak berkata apa-apa dan segera membuka kain hitam yang menutupi mata Queena.
Wanita itu masih memejamkan kedua matanya.
"Efek biusnya mungkin hanya tersisa sepuluh menit lagi, Brachon," Ucap Vincent mengingatkan Brachon.
"Aku tahu!" Jawab Brachon ketus. Pria itu masih menatap pada Queena yang tetap diam dan memejamkan matanya. Brachon lalu melangkah ke arah nakas di samping tempat tidur. Pria itu menatap ke aneka senjata di atas meja. Tatapan mata Brachon lalu berhenti di pisau kecil yang terletak di barisan paling pinggir.
Brachon mengambilnya dengan cepat, lalu mengacungkan bensa itu ke arah dada Queena, tepat di jantung wanita itu.
Vincent sudah menunggu detik-detik pisau itu menancao di dada Queena, saat tiba-tiba Brachon malah menarik kembali pisau kecil tersebut dan tak jadi menikamkannya ke dada Queena.
"Brach, waktu semakin-"
"Aku tahu!" Potong Brachon emosi karena Vincent yang begitu cerewet mengingatkan tentang efek obat bius di tubuh Queena.
"Lalu kenapa kau tak kunjung melakukannya? Apa perlu aku ganti-"
__ADS_1
"Diam kau!" Brachon tiba-tiba sudah berbalik dan ganti mengacungkan pisau di tangannya ke arah Vincent. Asisten Brachon itu langsung mengangkat kedua tangannya dan melangkah mundur.
"Kau tidak ada hak untuk mengatur-atur aku, Vin!"
"Iya. Aku akan diam-"
"Dan keluar dari ruangan ini!" Usir Brachon selanjutnya pada Vincent yang langsung mengernyit. Ini benar-benar kali pertama seorang Brachon mengusir Vincent. Biasanya Brachon hobi memamerkan kesadisannya pada Vincent.
"Kau akan menghabisi wanita itu, kan?" Tanya Vincent memastikan sebelum pria itu keluar dari ruangan.
"Tentu saja!" Jawab Brachon emosi.
"Baiklah, aku hanya memastikan! Dia menyaksikan secara langsung aksimu pada Indah kemarin, jadi wanita itu harus dilenyapkan!" Pungkas Vincent sebelum akhirnya pria itu benar-benar keluar dari kamar.
Pintu sudah ditutup kembali, dan kini hanya tersisa Brachon dan Queena yang masih memejamkan mata di dalam kamar.
Brachon meletakkan pisau di tangannya dan ganti mengambil gunting. Pria itu lalu menggunting baju yang dikenakan Queena dari bawah ke atas lalu kembali ke bawah lagi.
Brachon menyingkirkan baju Queena yang sudah koyak tak berbentuk, lalu pria itu tersenyum miring serelah memindai tubuh Queena dari atas hingga bawah
"Lumayan," gumam Brachon seraya melemparkan gunting di tangannya secara serampangan.
Brachon lalu duduk di samping Queena dannterus menatap pada tubuh Queena yang sudah nyaris naked tersebut. Sesekali, Brachon akan melihat ke arloji di tangannnya, sembari menghitung mundur, detik-detik saat akhirnya Queena terlihat menggeliat.
Queena menggeliat sembari mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan. Hingga akhirnya tatapan mata Queena bertubrukan dengan tatapan Brachon .
"Kau siapa?" Tanya Queena yang langsung menatap awas pada Brachon.
"Kau tidak mengenaliku? Sayang sekali!" Gumam Brachon yang sudah mulai melepaskan kancing kemejanya, lalu mengendurkan sabuk celananya. Queena tentu saja semakin menatap awas pada pria di depannya tersebut.
"Kau mau apa?" Tanya Queena galak.
"Mencicipimu tentu saja!" Jawab Brachon seraya tertawa mengejek pada Queena yang langsung mendelik tajam ke arah Brachon.
"Aku sebenarnya jarang melakukan ini sebelum-sebelumnya. Tapi berhubung hari ini aku sedang baik hati, jadi aku akan memberikanmu kenikmatan sebelum melenyapkanmu," Ucap Brachon lagi yang langsung membuat Queena refleks meludahi Brachon.
"Cuiih!"
"Kau pikir aku wanita murahan, hah? Aku punya suami dan-"
Plak!
Brachon menampar pipi kanan Queena tanpa segan.
__ADS_1
"Justru karena kau wanita bersuami, makanya aku penasaran denganmu," Brachon terkekeh, lalu mencengkeram bawah dagu Queena dengan erat seolah pria itu ingin mencekik Queena sekarang. Tatapan mata pria itu benar-benar sedingin es.
Dingin tapi kejam!
"Dan kau tak perlu repot-repot memberontak, karena kau memang tak akan bisa memberontak, Queen!"
"Bukankah menyenangkan bercinta dengan tangan dan kaki yang terikat kuat?" Brachon mengeratkan cengkeramannya di bawah leher Queena, sebelum kemudian pria itu naik ke atas tempat tidur dan menindih tubuh Queena.
"Baj*ngan! Lepaskan aku!" Maki Queena yang terus berusaha untuk memberontak. Queena meronta-ronta dan memalingkan wajahnya berulang kali, saat Brachon berusaha untuk mel*mat bibirnya.
Brachon yang mulai habis kesabaran, lalu menahan kepala Queena dan menekannya dengan kuat, agar wanita itu berhenti meronta dan berontak.
"Cuiiih!" Queena kembali meludahi Brachon yang hendak meraup serta mel*mat bibirnya.
Brachon sontak langsung menghadiahi Queena tatapan tajam membunuh.
"Lepaskan aku, Baj*ngan!" Teriak Queena sekali lagi sebelum tangan Brachon mencengkeram bibir dan mulut Queena dengan tiba-tiba. Brachon juga merem*s kuat mulut Queena yang berada di genggamannya, hingga membuat wajah Queena berubah merah padamu.
"Kau ingin main kasar, hah?"
"Ayo kita main kasar!" Brachon merem*s mulut Queena semakin kuat, hingga membuat Queena meronta kesakitan.
"Mmmppphhh!"
"Mmmmppphhh!" Queena terus meronta dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Brachon dari mulutnya.
"Kau senang sekarang?"
"Kau senang sekarang, Jal*ng??" Suara Brachon terdengar menggelegar bersamaan dengan tangan Brachon yang mulai berlumuran darah.
Darah segar yang mengucur dari bibir Queena akibat kuatnya rem*san tangan Brachon di bibirnya!
Pria psikopat!!
.
.
.
Cetak miring adalah flashback
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.