QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
PERTIMBANGAN


__ADS_3

Queena masih membisu, saat seorang maid menyeka seluruh tubuh Queena memakai washlap serta air hangat. Sakit di sekujur tubuh Queena rasanya tak bisa lagi digambarkan dengan kata-kata. Queena hanya menatap kosong ke jendela besar di kamarnya yang tak lain hanya berfungsi sebagai pajangan semata.


Jendela besar itu bahkan tak bisa dibuka atau dipecahkan kacanya dan tak bisa membantu Queena untuk kabur dari mansion bodoh Brachon ini!


"Terus saja berontak, Queen!"


"Terus saja berontak agar aku juga bisa terus memberikanmu pelajaran!"


Kata demi kata yang pernah dilontarkan oleh Brachon, kembali terngiang di benak Queena. Membuat Queena berpikir keras dan berusaha untuk mencernanya. Mungkin sudah waktunya Queena berdamai dengan keadaan, menjadi Queen yang baik dan penurut untuk Brachon, agar pria itu juga berhenti menyiksa Queena dan mengizinkan Queena bertemu Barley secepatnya.


Ya, beberapa hari yang kalu Queena sudah mengatakan hal tersebut pada dirinya sendiri. Tapi saat Queena mulai berhadapan denfan Brachon, emosi Queena seolah tak bisa dikendalikan dan Queena selalu ingin memberontak pada pria itu.


Ada apa dengan Queena?


"Apa Brachon masih di mansion sekarang?" Tanya Queena pada maid yang kini sudah mulai memakaikan baju Queena. Selalu baju yang kurang bahan yang menonjolkan lekuk tubuh seorang Queena!


"Tuan Ley pergi pagi-pagi tadi, Nona!" Ujar maid menjawab pertanyaan Queena.


"Vincent ada?" Queena ganti menanyakan keberadaan asisten Brachon itu. Karena kadang saat Brachon pergi, Vincent akan tetap di mansion untuk mengawasi Queena.


"Tuan Vincent pergi bersama Tuan Ley," jawab maid lagi.


"Kau tahu kapan mereka kembali?" Tanya Queena sekali lagi.


"Maaf, saya kurang tahu, Nona!" Jawab maid seraya membimbing Queena agar bangun dan duduk.


"Aduh!" Queena meringis karena bagian belakang tubuhnya yang memang sakit sekali jika dipakai duduk.


"Maaf, Nona! Apa saya menyakiti anda?" Tanya maid takut-takut.


"Aku tidak bisa duduk. Kau mau apa memangnya?"


"Saya ingin menyisir rambut Nona Queen-"


"Berikan sisir dan kacanya! Aku akan menyisif rambutku sendiri!" Pinta Queena seraya menyodorkan tangannya kd arah maid.


"Maaf, Nona! Tapi tidak ada kaca-"


"Bagaimana bisa tidak ada satupun kaca du mansion sebesar ini?" Bentak Queena emosi yang langsung membuat maid beringsut ketakutan.


"Berikan aku sebuah kaca!" Perintah Queena emosi bersamaan dengan maid yang sudah keluar dari kamar. Kini Queena hanya bisa menggeram frustasi seraya memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan.


"Semua orang benar-benar menyebalkan!"


****


Hari berlalu dengan cepat. Queena yang merasa bosan, bangkit dari atas ranjang, lalu berusaha untuk berdiri,meskipun sesekali wanita itu masih harus meringis.


Tepat saat Queena akhirnya berhasil berdiri, pintu kamar dibuka dari luar, dan seorang maid masuk membawa troli berisi aneka makanan untuk Queena.

__ADS_1


"Makan malam anda, Nona!" Ucap maid yang langsung dengan cekatan menyusun beberapa makanan di troli tadi ke atas meja.


"Bantu aku! Kakiku sakit!" Titah Queena seraya mengulurkan tangannya ke arah maid.


Maid sigap membantu Queena untuk duduk di sofa dan menikmati makan malamnya. Pandangan Queena langsung menyapu ke aneka piring di atas meja dan di dalam troli, mencari satu peralatan makan yang siang tadi tak ada di troli.


Namun malam ini benda tersebut tetap tidak ada!


"Aku lebih suka memotong steak-ku sendiri! Kenapa kalian menyajikan steak yang sudah dipotong seperti ini?" Marah Queena pada maid yang hanya menundukkan kepalanya. Bahkan semua buah juga sudah dipotong dengan rapi saat disajikan. Para maid seolah enggan memberikan pisau untuk Queena.


Apa ini bagian dari perintah Brachon juga?


Konyol sekali!


Queena akhirnya menyantap makanan di piringnya. Bukan karena ia atuh pada Brachon tapi karena ia tak mah mati kelaparan disaat ada banyak makanan yang disajikan untuknya.


Lagipula, Queena juga butuh tenaga untuk melakukan perlawanan pada Brachon!


"Brachon sudah pulang?" Tanya Queena pada maid setelah ia selesai menyantap makan malamnya.


"Belum, Nona!" Jawab Maid yang juga sudah selesai membereskan bekas makanan Queena. Maid lalu undur diri dan keluar dari kamar Queena.


Queena menatap pada pintu kamarnya yang sudah kembali tertutup eapat. Wanita itu beralih ke jendela untuk memantau kondisi di luar.


Sepi!


Belum lagi lusinan CCTV yang dipasang Brachon dimana-mana kecuali di dalam kamar Queena!


Aneh memang!


Tapi Brachon sama sekali tak memasang CCTV di dalam kamar Queena. Tak tahu di depan kamar atau di luar jendela. Sepertinya ada di setiap sudut!


Queena menghela nafas, lalu duduk perlahan di sofa. Meraih buku yang selalu menjadi temannya di saat sendiri seperti ini.


Ya, satu-satunya hiburan yang diberikan oleh Brachon hanyalah setumpuk buku berisi cerita yang menjemukan tentang seorang gadis miskin bertemu pria kaya, lalu dipersunting, dan akhirnya hidup bahagia.


Padahal hidup tak pernah sesimpel itu!


Queena sudah larut menyelami kata demi kata dari buku yang ia baca, hingga langit di luar semakin hitam pekat, wanita itu masih belum beranjak dari sofa. Queena akhirnya terlelap di sofa sembari memeluk buku yang belum selesai ia baca.


****


Queena mengedarkan pandangannya ke sekeliling semak tempatnya bersembunyi. Para pengawal Brachon tak terlihat di manapun dan gerbang yang setengah terbuka hanya tinggal berjarak beberapa langkah saja dari posisi Queena saat ini. Wanita itu segera mengambil ancang-ancang untuk berlari dan melesat ke arah gerbang.


Satu


Dua,


Tiga!!

__ADS_1


Queena keluar dari semak-semak lalu segera menuju ke gerbang besi nan kokoh tersebut, saat tiba-tiba terdengar suara keras dari Brachon.


"Queeen!"


Queena tak menoleh!


Tidak, Queena tak mau menoleh karena Queena harus fokus pada langkahnya dan pada gerbang yang sudah semakin dekat.


"Berhenti, Queen!"


"Atau aku akan menebas leher Barley!" Seru Brachon yang seketika langsung membuat Queena berhenti berlari. Queena berbalik dan menyaksikan Barley yang sedang berada di depan Brachon.


"Mama!" Barley sudah bersimbah airmata.


"Tidak!"


"Tidak! Brachon, singkirkan pisaumu-"


Kalimat Queena belum selesai saat Brachon dengan tanpa perasaan sudah menebaskan pisau di tangannya ke leher Barley.


Queena membeku dan dunianya seketika terasa runtuh....


"Barley!!!!!"


Queena bangun dengan tubuh penuh keringat. Bayangan Barley yang bersimbah darah kembali menari-nari di dalam kepala Queena dan membuat Queena menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu hanya mimpi!"


"Itu hanya mimpi, Queen!"


"Barley pasti baik-baik saja!"


"Barley pasti baik-baik saja dan Mas Bagus pasti sedang menjaga Barley sekarang."


"Itu hanya mimpi!" Queena mengusap wajahnya berulang kali sembari tak berhenti menarik nafas panjang.


Mimpi yang barusan Queena alami benar-benar seperti nyata.


Queena meraih gelas di atas nakas, lalu meneguk isinya hingga tandas. Wanita itu bergegas melihat ke jendela kamar, saat akhirnya Queena menyadari kalau hari sudah hampir siang. Langit sudah berwarna biru dan Queena bergagas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Apa Brachon sudah pulang?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2