
Queena terhenyak, saat mobil yang membawanya berhenti di sebuah mall yang masih menyati dengan sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Bukan bangunan atau kemewahan dari mall ini yang membuat Queena terdiam. Melainkan sebuah moment....
"Kok kesini, Mas?" Tanya Queena saat Bagus membelokkan motornya masuk ke sebuah kawasan mall yang menyatu dengan gedung apartemen.
"Iya! Kan dekat dari rumah," jawab Bagus.
"Tapi bukannya mall ini khusus buat penghuni apartemen saja?" Tanya Queena lagi bingung.
"Sudah dibuka untuk umum, Queen! Lihat banyak yang datang juga," tukas Bagus seraya mengendikkan dagunya ke beberapa pengunjung yang baru keluar dari dalam mall seraya membawa banyak paperbag di tangan mereka.
Queena hanya membulatkan bibirnya lalu wanita itu mendongak ke atas untuk menatap pada gedung apartemen setinggi lima puluh lantai di depannya tersebut.
"Kenapa? Mau tinggal di lantai paling atas itu?" Tanya Bagus seraya merengkuh kedua pundak Queena dan ikut mendongak.
"Mas Bagus punya uang memang buat sewa atau beliin unit di atas itu?" Jawab Queena seraya terkekeh.
"Nanti aku nabung dulu," ujar Bagus bertekad.
"Mahal!" Celetuk Queena seraya mencubit perut sang suami. Wanita itu lalu menarik tangan Bagus dan mengajaknya masuk ke dalam mall.
"Biarpun mahal, kalau itu bisa membuatmu bahagia, pasti aku usahain, Queen!" Ujar Bagus yang kini sudah ganti merangkul Queena.
"Dih, gombal!" Queena mencubit perut sang suami sekali lagi.
"Mana ada? Nanti aku usahain pokoknya!" Janji Bagus sekali lagi.
"Baiklah, nanti aku tagih janjinya."
"Sekarang beliin es krim viral dulu!" Ujar Queena seraya menarik Bagus ke sebuah gerai es krim yang berada tak jauh dari pintu masuk mall.
"Siap, Istriku Sayang!"
"Sudah selesai yang melamun?" Pertanyaan Brachon seketika langsung membuyarkan semua lamunan Queena tentang kenangannya bersama Bagus di mall di hadapannya tersebut.
Queena bahkan baru sadar kalau logo huruf L yang ada di bagian depan bangunan mall dan apartemen tersebut mengacu pada nama Leyland, perusahaan milik Brachon Ley!
Dan sekarang Queena sedikit menyesal karena dulu dirinya pernah mengagumi mall serta apartemen mewah ini!
Queena masih menatap pada Brachon yang sudah keluar duluan dari mobil, dan kini sedang menunggu Queena untuk keluar juga.
__ADS_1
Queena segera melepaskan sabuk pengamannya, lalu keluar dari mobil dan pemandangan tak asing langsung terlihat sepanjang mata memandang. Apalagi kalau bukan deretan pria-pria berpakaian serba hitam yang merupakan anak buah serta pengawal Brachon.
Lalu apa gunanya tinggal di apartemen, jika penjagaannya tetap ketat begini?
"Semua sudah dikosongkan, Brach! Queen bisa belanja sesuka hati di dalam mall," lapor Vincent yang tentu saja bisa didengar juga oleh Queena.
"Aku tak mau belanja apapun!" Sahut Queena lantang sebelum Brachon sempat buka suara.
"Aku tak butuh kau berikan mall atau apartemen mewah seperti ini! Aku hanya butuh kau kembalikan wajahku seperti semula dan kembalikan lagi hidupku seperti sedia kala!" Ujar Queena lagi seraya menatap sengit pada Brachon.
"Aku bukan Tuhan," jawab Brachon datar.
"Dan hidupmu tak akan pernah bisa kembali seperti dulu, Queen! Ini semua adalah konsekuensi karena kau berada di TKP pembunuhan Indah waktu-"
"Aku juga tak ingin berada disana waktu itu!" Potong Queena dengan suara lantang.
Vincent terlihat membisikkan sesuatu di telinga Brachon, sebelum kemudian pria itu menghampiri Queena.
"Kau mau apa, Asisten keparat?" Bentak Queena seraya melangkah mundur dan mendelik pada Vincent.
"Aku bisa melakukannya, Vin! Jangan menyentuh Queen!" Ujar Brachon lantang yang langsung membuat Vincent mengangguk, lalu pria itu mundur beberapa langkah dan Queena yang masih menatap awas pada Vincent tiba-tiba terkejut karena tubuhnya yang mendadak sudah diangkat oleh Brachon dan diletakkan dibahu pria itu.
"Turunkan aku, Keparat!"
"Baj*ngan!" Qiw terus meronta, memaki dan mengumpat. Kedua tangan wanita itu juga tak henti-hentinya memukul-mukul punggung Brachon.
Lift melesat cepat ke lantai paling atas, dan pintu kembali terbuka. Brachon langsung membawa Queena masuk ke satu-satunya unit apartemen yang ada di lantai tersebut. Pria itu lalu membanting tubuh Queena ke atas sofa hingga Queena mengaduh.
"Sekarang kau bisa berteriak sesuka hatimu!" Ucap Brachon dengan nada kesal, sebelum pria itu membuka kancing kemejanya bagian atas, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
"Aku ingin kau kembalikan wajahku seperti semula!" Queena kembali mengulangi kalimat yang sejak tadi sudah ia katakan berulang kali.
Hening!
Tak ada jawaban dari Brachon.
"Aku ingin kau kembalikan lagi wajahku seperti semula, Brach! Apa kau tak bisa mendengar permintaanku?" Queena ganti berteriak pada Brachon karena rasa frustasi di dadanya.
"Tidak bisa!" Brachon akhirnya buka suara.
__ADS_1
"Wajahmu yang sekarang adalah itu, jadi terima saja!" Lanjut Brachon lagi yang langsung membuat Queena dengan cepat menghampiri pria itu lalu mencengkeram kerah kemejanya.
Brachon tak sedikitpun memberikan perlawanan dan pria itu malah lanjut meneguk minumannya dengan santai.
"Kau keparat!" Queena memaki Brachon sekali lagi.
"Kau penjahat, baj*ngan, keparat!" Queena terus memaki sembari memukul-mukul dada Brachon,dan ekspresi wajah pria di depan Queena itu masih sama seperti sebelum-sebelumnya, yaitu ahanya acuh dan seolah tak peduli.
Ponsel Brachon kemudian berdering. Segera pria itu mengangkatnya. Sedangkan Queena yang sudah selesai meluapkan amarahnya, kini duduk di kursi ruang makan dan hanya menatap kosong ke jendela besar di sisi meja makan.
"Ya, aku ingat! Aku akan turun sekarang!" Ucap Brachon yang entah sedang bicara pada siapa. Queena tak peduli dan wanita itu masoh sibuk dengan lamunannya.
Brachon yang sudah sekesai bicara di telepon, merapikan sedikit kemejanya yangvyadi diacak-acak oleh Queena. Pria itu lalu menghampiri Queena yang masih melamun sembari menatap keluar jendela.
"Aku akan kembali nanti malam, dan aku mau kau memakai lingerie untuk menyambutku," ucao Brachon seraya meraih dagu Queena, lalu mengusapnya sekilas. Tak lupa Brachon juga ******* sejenak bibir Queena.
"Kau pikir aku akan menuruti permintaanmu?" Queena berdecih pada Brachon.
"Aku bukan lagi tawanan atau peliharaanmu! Jadi aku tak akan lagi menuruti perintahmu, Ley!" Gertak Queena lagi seraya mendelik pada Brachon .
"Bagus! Jadi aku juga ada alasan untuk memperkosamu nanti!" Ucap Brachon licik yang benar-benar membuat Queena naik darah. Queena baru saja akan buka suara lagi, saat tiba-tiba wanita itu tersentak karena tangan Brachon yang entah sejak kapan sudah berada di pangkal pahanya. Queena sedikit menggelinjang saat yangan Brachon terasa menyibak underwear-nya, lalu satu jari Brachon menyusup ke dalam milik Queena dengan cepat.
"Emmmhhh!" Queena refleks mendes*h saat Brachon memainkan jarinya di dalam milik Queena.
"Kau tahu satu hal, Queen? Aku sangat menyukai saat kau berontak, meronta, dan melawan saat aku memakaimu!" Ucap Brachon blak-blakan.
"Keparat!" Gumam Queena kesal.
"Iya! Ayo mengumpat!" Brachon melesakkan jarinya semakin dalam hingga membuat Queena melenguh lagi. Namun tentu saja hal itu tak berlangsung lama karena Brachon juga sudah denga cepat mencabut jarinya yang kini terlihat basah. Brachon memamerkan jari tengahnya tersebut di hadapan Queena, lalu pria itu mengusapkan jarinya yang masih basah oleh cairan milik Queena ke pipi Queena yang langsung berekspresi enggan.
"Kau menikmatinya?" Brachon tersenyum licik, lalu pria itu berbalik dan pergi meninggalkan Queena. Tak lupa Brachon juga meraih tisu untuk membersihkan jarinya. Tak berselang lama terdengar pintu apartemen yang sudah ditutup kembali.
Sementara Queena langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.