QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
VIDEO


__ADS_3

Queena sudah selesai menata potongan stroberi ke atas cheesecake. Wanita itu lalu menyiramkan saus stroberi, sebelum lanjut menyajikannya pada Brachon.


"Duduk!" Perintah Brachon seraya mengendikkan dagunya ke arah kursi di seberang meja. Queena langsung duduk tanpa berkata sepatah apapun. Sementara Brachon sudah memotong cheesecake berbentuk bulat tadi memakai pisau.


"Kau masih terobsesi dengan benda ini?" Brachon mengangkat pisau yang berlumuran saus stroberi seolah sedang memamerkannya pada Queena. Pria itu sudah beranjak dari duduknya, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan menyodorkan pisau berlumuran saus stroberi tersebut pada Queena.


"Bersihkan!" Perintah Brachon selanjutnya. Queena bergegas mengambil tisu, namun Brachon kemudian berdecak dan geleng-geleng kepala, memberikan kode kalau yang dilakukan Queena keliru.


"Memakai lidahmu!" Ucap Brachon lagi yang langsung membuat Queena menatap tajam pada pria itu.


"Tapi awas, tepi pisau ini tajam, dan jika kau salah menjilatnya, kau tak akan bisa menyebut nama Barley lagi untuk selamanya," ujar Brachon setengah berbisik seolah sedang menakut-nakuti Queena.


Queena akhirnya mengangkat tangan dan hendak mengambil pisau tadi, saat Brachon kembali berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Ckckckck! Terlalu berbahaya jika kau memegangnya sendiri, Queen!"


"Jadi biar aku yang memegangnya, dan lakukan saja apa yang tadi aku katakan!" Ucap Brachon tegas, dengan tatapan mata yang tegas juga. Queena akhirnya kembali menurunkan tangannya, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, dan mulai menjilati saus stroberi yang berada di sepanjang pisau yang kini dipegang oleh Brachon.


"Iya, seperti itu!" Gumam Brachon seraya tersenyum puas.


"Mainkan lidahmu, Queen!" Ucap Brachon lagi saat Queena masih terus menjilati inchi demi inchi saus stroberi yang menempel di pisau.


"Bagus sekali!"


"Sekarang sisi yang lainnya!" Brachon membalik pisau ditangannya, dan kembali menyuruh Queena untuk menjilati sisa saus stroberi di pisau.


"Queen yang penurut!" Ucap Brachon puas, setelah Queena selesai melakukan perintahnya. Queena bergegas mengambil gelas di depannya, lalu meneguk air putih di dalamnya hingga tinggal setengah.


"Sekarang makan!" Perintah Brachon selanjutnya, seraya menyodorkan potongan cheesecake ke hadapan Queena.


"Kau harus menyukai apa yang aku sukai," ujar Brachon lagi sebelum pria itu melahap satu potong kecil cheesecake dari piringnya.


"Kue ini sangat tidak sesuai dengan dirimu yang kejam dan tak berperasaan!" Komentar Queena yang ikut-ikutan melahap cheesecake hasil karyanya.

__ADS_1


Ya, rasanya memang enak, karena bahan-bahan yang digunakan adalah bahan-bahan premium. Kemarin saja setelah koki mengajari Queena cara membuat makanan ini, Queena langsung menghabiskan hampir setengah loyang.


"Menurutmu begitu?" Brachon meletakkan sendok kuenya dengan kasar, lalu pria itu bangkit berdiri, mengitari meja, lalu menghampiri Queena yang masih menikmati kuenya.


Brachon merangkulkan lengannya ke pundak Queena,lalu pria itu mendekatkan wajahnya ke samping wajah Queena.


"Enak, kan?" Tanya Brachon berbisik di telinga Queena. Namun hembusan nafas Brachon yang mengenai tengkuk Queena, refleks membuat wanita itu sedikit menggeliat.


Ya, belakangan ini kulit Queena sedikit sensitif karena terlalu sering disentuh oleh Brachon. Queena seolah jadi mudah bergairah dengan sentuhan atau kecupan yang diberikan oleh Brachon, padahal dalam hati Queena selalu menolak semuanya dan berusaha sekuat mungkin untuk menahan hasrat sialan dalam tubuhnya tersebut.


"Ya," ucap Queena lirih, menjawab pertanyaan dari Brachon. Queena masih berusaha untuk fokus menyantap cheesecake-nya. Namun di suapan selanjutnya, saat Queena hendak memasukkan ke dalam mulut, Brachon malah menyambarnya tiba-tiba.


Queena sedikit kaget. Dan tak cukup sampai disitu, karena setelah menyambar potongan kue Queena, Brachon malah langsung mel*mat bibir Queena dengan posisi cheesecake yang masih berada di mulut. Brachon seolah sedang menyuapkan cheesecake di mulutnya ke mulut Queena sekarang.


Menjijikkan!


Tapi Queena hampir tak bisa menolak, karena pria baj*ngan itu terus saja menekan kepala Queena dan lidah Brachon yang dingin terasa menari-nari di dalam mulut Queena.


"Mmmpphhh!" Queena memukul dada Brachon, saat akhirnya pria itu melepaskan pagutan kasarnya pada bibir Queena.


Brachon kemudian tersenyum miring, sebelum pria itu bangkit berdiri dan melepaskan cengkeramannya pada dagu Queena.


"Habiskan kuemu, Queen! Atau aku perlu menyuapimu lagi seperti tadi!" Desis Brachon tajam yang langsung membuat Queena cepat-cepat memakan sisa kue di piringnya. Sementara Brachon sudah kembali duduk di kursinya, dan pria itu juga kembali menyantap cheesecake di piring miliknya.


"Aku boleh istirahat setelah ini? Aku sudah membuatkanmu kue dan melayanimu tadi," tanya Queena memberanikan diri, setelah wanita itu menghabiskan kue di piringnya.


"Aku ada acara malam ini, dan aku mau kau menemaniku," jawab Brachon yang langsung membuat Queena mendengus.


"Dan itu artinya, kau harus bersiap-siap dulu sebelum pergi ke acara bersamaku," lanjut Brachon lagi sebelum pria itu menyumpalkan satu potongan cheesecake dalam ukuran besar. Brachon lalu memotong cheesecake lagi, dan memindahkan ke piringnya lagi.


Pria itu seperti sedang kelaparan!


"Baiklah, aku akan bersiap-siap sekarang-" Queena hampir beranjak dari duduknya, saat Brachon langsung menggebrak meja dengan keras.

__ADS_1


"Aku belum selesai makan!" Gertak Brachon tajam yang akhirnya membuat Queena kembali duduk di kursinya. Queena selanjutnya hanya diam dan sesekali memperhatikan Brachon yang lahap memakan cheesecake di piringnya.


Selesai dengan potongan kedua, Brachon masih melanjutkan ke potongan yang ketiga.


Ya, mungkin pria itu belum makan dari kemarin, hingga akhirnya dia kalap sekarang dan makan dengan barbar.


Brachon akhirnya selesai dengan potongan cheesecake yang ketiga, dan sekarang pria itu mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, lalu meletakkan benda tersebut ke atas meja.


"Kau sudah menjadi Queen yang baik dan penurut hari ini?" Tanya Brachon sedikit ambigu karena tak terdapat kata tanya dari kalimatnya. Namun nada yang digunakan Brachon seperti nada orang bertanya.


Brachon masih menatap pada Queena seolah menunggu jawaban.


"Ya," jawab Queena akhirnya sedikit ragu.


Brachon tersenyum sinis.


"Ya!"


Brachon meraih ponsel di hadapannya, lalu mengutak-atik sebentar ponsel tersebut. Brachon kemudian membalik ponselnya, dan menunjukkan sebuah video pada Queena.


"Kau ingat dia siapa, Queen?" Tanya Brachon dengan senyuman licik khas pria itu. Queena sontak membelalak saat menyaksikan video yang kini tengah diputar oleh Brachon.


Video tersebut menunjukkan tentang Brachon yang sepertinya sedang berada di dalam sebuah swalayan. Tapi bukan hal itu yang membuat Queena kaget, melainkan seorang bocah yang sedang digendong oleh Brachon, benar-benar membuat Queena kehilangan kata-kata.


Bocah itu adalah.....


"Barley....."


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2