QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
JATUH CINTA?


__ADS_3

Brachon baru keluar dari apartemen Queena, saat Vincent sudah menyambutnya beserta beberapa pengawal. Brachon sontak menatap tajam pada asistennya tersebut.


"Barangkali kau berubah pikiran, Brach! Aku hanya berjaga-jaga," tukas Vincent mencari alasan.


"CCTV sudah cukup untuk mengawasi Queen!" Ucap Brachon tegas. Pria itu lalu menganyinkan langkahnya ke arah lift.


"Kau yakin keputusanmu ini tidak gegabah?" Tanya Vincent lancang yang langsung membuat Brachon menghentikan langkah.


"Jika nanti Queen kabur-"


"Aku yakin kau akan bisa langsung mencari dan menemukannya!" Potong Brachon cepat seolah tak mau tahu.


Vincent langsung menghela nafas dan wajahnya terlihat kesal.


"Lagipula, kalaupun wanita itu pergi, memangnya dia mau kenana selain menemui Barley? Jadi awasi saja dari jauh dan jangan terlalu mengekangnya lagi!" Tukas Brachon sebelum pria itu melanjutkan langkahnya, lalu masuk ke dalam lift. Vincent sudah menyusul Brachon dengan cepat.


"Wanita itu sudah banyak mempengaruhimu," pendapat Vincent sedikit bergumam.


"Kau terlalu sok tahu!" Desis Brachon tak senang.


"Kau jatuh cinta pada Queen, Brachon Ley?" Tanya Vincent lagi lancang. Tak ada jawaban dari Brachon dan pria itu hanya menatap lurus pada pintu lift.


Lift terus bergerak turun, hingga akhirnya berhenti dan terbuka di lantai paling bawah.


"Singkirkan semua bodyguard dan awasi saja Queen dari kejauhan!" Perintah Brachon sekali lagi pada Vincent sebelum pria itu keluar dari lift, lalu langsung menuju ke mobil yang stdah menunggunya di depan lobi. Vincent mengekori Brachon sembari menelepon seseorang dan memerintahkan semua pengawal untuk menjaga Queena dari kejauhan seperti perintah Brachon.


****


Queena masih mengintip dari door viewer suasana di luar unit apartemen. Tak terlihat adanya pergerakan manusia di luar sana. Apa para pengawal Brachon sedang bersembunyi sekarang?


Queena lalu mencoba untuk membuka pintu di depannya. Dan benar saja, pintu tidak dikunci. Apa Brachon sengaja?


Queena melongokkan kepalanya keluar untuk memastikan apa ada pengawal Brachon di luar atau tidak.


Tidak ada siapa-siapa!


Queena memperhatikan ke lantai dimana hanya ada satu unit apartemen yang ia tempati. Disisi satunya ada jebdela besar yang sepertinya mengarah ke balkon. Queena memeriksa tempatvtersebut dan benar saja, itu adalah balkon terbuka yang menunjukkan pemandangan dari lantai lima puluh. Langit terlihat berwarna oranye, menandakan kalau hari sudah beranjak sore. Queena menikmati sejenak pemandangan dari balkon, sebelum kemudian wanita itu memutuskan untuk kembali ke dalam apartemen saja. Namun Queena baru berbalik, saat jantungnya nyaris melompat keluar karena Vincent yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


Sial!


"Sebaiknya kau tetap di dalam apartemen dan tidak berkeliaran, Queen!" Ucao Vincent sinis seraya meraih tangan Queena dan memaksa wanita itu kembali ke apartemen.


"Lepas!" Queena dengan cepat menyentak tangan Vincent.


"Kau siapa memangnya mengatur-atur aku? Brachon saja membebaskanku dan tidak lagi mengekangku!" Ucap Queena lagi dengan nada sombong.


"Siapa bilang Brachon tidak mengekangmu lagi? Kau tidak lihat CCTV dimana-mana itu?" Vincent mengendikkan dagunya ke beberapa CCTV yang mengarah ke tempat Queena berdiri.


"Brachon memantaumu dua puluh empat jam!" Lanjut Vincent lagi seolah sedang memperingatkan Queena.


Queena memutar bola mata, lalu wanita itu menghampiri satu CCTV dan menatapknya dengan tajam.


"Brach, kau mengawasiku?" Queena berbicara pada CCTV di atasnya dengan suara keras.


"Aku akan pergi menemui Barley lagi sekarang!" Ucap Queena lagi seolah CCTV di depannya adalah Brachon.


"Aku pasti bisa meyakinkan putra dan suamiku, kalah aku memanglah Queena Alesha Ferdinand!"


"Dan saat hal itu tiba-"


Kriiing!


Suara dering ponsel dari saku kas Vincent menghentikan kalimat Queena. Vincent sudah mengangkat telepon dan tak berselang lama, pria itu menyodorkan ponselnya ke arah Queena. Sepertinya Brachon mrmang sesang memantau Queena sekarang. Teebukti pria itu langsung menelepon Queena!


"Aku akan pulang menemui Barley lagi!" Ucap Queena to the point setelah wanita itu meletakkan ponsel Vincent di telinga.


"Aku akan meyakinkan putra dan suamiku kalau aku benar-benar adalah Queena Alesha Ferdinand!"

__ADS_1


"Silahkan! Bagus akan mengusirmu lagi!"


"Aku akan meyakinkannya! Aku akan memberikan bukti meyakinkan-"


"Kau punya bukti apa memangnya? Queena Alesha Ferdinand sudah mati dan sudah dimakamkan satu setengah tahun lalu!"


"Vincent akan mengantarmu ke makan Queena nanti!"


"Kau keparat!" Maki Queena kesal.


"Tapi jika kau keras kepala, aku akan memberikanmu kesempatan, Queen!"


"Kau ingin meyakinkan anak dan suamimu? Silakan!"


"Dan jika kau berhasil melakukannya, aku akan melepaskanmu-"


"Aku tidak percaya!" Sergah Queena menyela.


"Kau bahkan tak pernah melepaskanku hingga kini!" Ucap Queena lagi emosi.


"Tapi aku sudah tidak mengekangmu! Apa kau melihat bodyguard di sekitarmu? Tidak ada kan?"


"Kau masih mengawasiku lewat CCTV!" Sergah Queena mengingatkan.


"Hanya memastikan kau dalam kondisi aman dan baik-baik saja!"


"Dan asal kau ingat, kemarin aku sudah melepaskanmu, tapi kau sendiri yang kembali lagi padaku-"


"Aku kembali karena aku ingin kau mengembalikan wajahku seperti semula, Baj*ngan!" Potong Queena menyalak pada Brachon. Langsung terdengar tawa menggelegar dari pria sinting itu.


"Aku akan menemui Barley dan aku tak akan kembali ke apartemenmu ini lagi!" Ucap Queena selanjutnya dengan nada berapi-api pada Brachon.


"Silahkan! Vincent akan mengantarmu-"


"Aku bisa pergi sendiri!!" Queena kembali menyalak pada Brachon, sebelum kemudian wanita itu memberikan ponsel Vincent dengan kasar pada sang empunya. Queena lalu segera menuju ke lift dan cepat-cepat menutup pintu saat Vincent berusaha mengejarnya.


Queena akhirnya berhasil meninggalkan asisten Brachon itu!


****


"Wanita itu pergi naik lift, Brach! Aku tak bisa mengejarnya!" Lapor Vincent ceoat sesaat setelah pintu lift tertutup dan Vincent gagal masuk. Queena sudah pergi meninggalkan Vincent sekarang.


"Sudah kubilang, kalau keputusanmu ini gegabah dan terburu-buru!" Omel Vincent lagi pada Brachon.


"Tidak usah mengguruiku!"


Vincent langsung diam setelah mendengar bentakan Brachon.


"Tetap minta para pengawal mengawasi Queena dari jauh, lalu kita lihat seberapa jauh wanita itu bisa lari dari seorang Brachon Ley."


"Aku tak perlu mengejarnya berarti? Bagus sekali! Aku akan berendam air hangat!" Ucap Vincent yang tak jadi masuk lift untuk mengejar Queena. Pria itu malah berbalik dan masuk ke apartemen Brachon.


"Lakukan yang aku katakan tadi!"


"Ya! Akan aku lakukan, Brach!" Punglas Vincent dengan nada kesal, sebelum telepon dari Brachon terputus.


Vincent ganti menelepon anak buahnya, sembari pria itu menatap ke jendela apartemen. Queena sudah keluar dari gedung apartemen, dan wanita itu terlihat menyeberang di jalan di depan gedung apartemen.


"Pergilah sejauh yang kau bisa, Queen! Brachon pasti akan menyeretmu pulang tak lama lagi!" Gumam Vincent seraya mengendurkan dasinya. Queena tak lagi terlihat, setelah wanita itu berbaur dengan para karyawan dari perkantoran sekitar gedung apartemen yang baru saja pulang kerja. Tapi Vincent juga tak akan pusing memikirkan tentang Queena karena sudah ada anak buah Brachon yang mengawasi wanita itu dan siap melapor kapanpun!


****


"Cari siapa, Mbak? Yang punya rumah sedang keluar tadi!" Ucapan Mbak Asih yang tinggal di samping rumah dan biasa menjaga Barley, sedikit membuat Queena kaget.


"Mbak Asih!" Queena bergegas menyapa dan menghampiri wanita paruh baya di depannya tersebut. Namun kemudian Queena ingat pada wajahnya yang sydah berubah dan yang pasti ia tak lagi dikenali oleh Mbak Asih sekarang.


"Kok tahu nama saya, Mbak? Mbak ini siapa? Saudaranya Bagus, ya?" Tanya Mbak Asih penasaran.

__ADS_1


"Eeeee, iya saya saudaranya Mas Bagus, Mbak!" Jawab Queena sedikit tergagap.


"Jadi Mas Bagus dan Barley kemana?" Tanya Queena selanjutnya berbasa-basi pada Mbak Asih.


"Keluar tadi. Mungkin beli susunya Barley," jawabbak Asih menerka-nerka. Dusaat bersamaan motor Bagus sudah tuba di rumah.


"Nah itu, panjang umur! Baru juga diomongin," celetuk Mbak Asih kemudian.


"Ada apa, Mbak?" Tanya Bagus yang baru turun dari motor.


"Ini ada saudara kamu, Gus!" Ujar Mbak Asih yang langsung menunjuk ke arah Queena yang posisinya masih membelakangi Bagus yang kini mengernyit.


"Saudara?"


"Mbak, itu Bagusnya sudah pulang!" Mbak Asih memberitahu Queena yang nerasa ragu untuk menoleh pada Bagus.


"Mbak-"


"Kamu lagi!" Bentak Bagus setelah pria itu melihat wajah Queena.


"Loh, Gus! Dia siapa?" Tanya Mbak Asih heran karena Bagus yang malah berekspresi marah.


"Mas, aku Queena! Kamu percaya sama aku, Mas!" Ucao Queena seraya menahan tangan Bagus yang kini mendelik ke arahnya.


"Sudah kubilang untuk tidak mengaku-ngaku!"


"Tapi aku Queena, Mas! Aku berani bersumpah!" Queena lalu ganti menghampiri Barley yang masih berada di atas motor.


"Barley, ini Mama, Sayang! Kamu ingat, kan?" Queena hendak mengangkat Barley, saat Bagus sudah dengan cepat mencegah.


"Jangan mengganggu Barley!"


"Pergi kau, Wanita gila!" Usir Bagus lantang.


"Mas, aku Queena!"


"Aku Queena, istrimu!" Teriak Queena bersikeras.


"Mbak, jangan ngacau, deh! Queena sudah meninggal!"


"Mbaknya stress, ya?" Mbak Asih ikut-ikutan mengusir Queena.


"Tapi aku Queena, Mbak! Dan aku belum mati!" Ucap Queena tetap bersikeras.


"Gus, udah kami bawa Barley masuk saja! Sepertinya ini memang wanita gila!" Ujar mbak Asih memberikan saran untuk Bagus.


"Aku tidak gila, Mbak! Aku memang Queena!"


"Mas!" Queena mengejar Bagus yangvstdah membawa Barley masuk ke dalam rumah.


"Mas Bagus! Dengarkan dulu cerita aku!"


"Mas!" Queena menggedor-gedor pintu rumah dan mulai frustasi sekarang.


"Mbak, mending pergi deh! Atau kami bakal lapor Pak RT agar Mbak diusir paksa dari sini!" Mbak Asih sudah datang bersama suaminya untuk mengusir Queena yang masih mengetuk pintu rumah Bagus.


"Tapi aku Queena, Mbak Asih! Aku Queena!" Queena terus berteriak-teriak saat beberapa warga mulai berdatangan, lalu memaksa untuk mengusir Queena dari rumah Bagus.


Bagaimana Queena harus meyakinkan Bagus dan semua orang sekarang?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2