
Saat Brachon mengatakan kalau malam ini Queena akan menemani pria itu menghadiri sebuah acara, Queena berpikir kalau mungkin akan banyak orang yang ia temui. Namun dugaan Queena salah!
Lagipula terlalu naif jika Queena berpikir demikian. Posisi Queena yang merupakan tawanan Brachon tentu saja membuat Brachon sangat sangat mustahil untuk menunjukkan Queena pada siapapun apalagi pada rekan kerjanya. Belum lagi kemungkinan Queena akan kabur jika Brachon membawanya bertemu banyak orang....
Ya, Brachon bukan pria bodoh dan pastinya pria itu sudah mempertimbangkan segala aspek. Dan Brachon tidak akan mengambil resiko apapun yang sekiranya merugikan dirinya.
Hhhh!
Kau sedang berhadapan dengan seorang psikopat gila, Queen!
Jadi apalagi yang kau harapkan?
Ting!
Suara lift menyentak lamunan Queena. Hembusan angin yang lumayan kencang langsung menerpa wajah Queena, begitu pintu lift terbuka.
Brachon menarik tangan Queena agar keluar dari lift. Dan dari tempat Queena berdiri saat ini, wanita itu hanya bisa melihat puncak dari gedung-gedung di sekitarnya.
Ya, Queena saat ini tengah berada di lantai paling atas dari gedung SkyLeyland Tower milik Brachon Ley. Belantara gedung tinggi di sekitar gedung milik Brachon Ley yang menjemukan di siang hari, malam ini berubah menawan dengan kerlap-kerlip lampunya.
"Kenapa tidak ada tamu lain?" Sebuah pertanyaan konyol terlontar darj bibir Queena.
"Karena ini acara private!" Jawab Brachon seraya menarik satu kursi untuk Queena.
"Duduk!" Perintah Brachon selanjutnya dan Queena hanya menurut. Brachon lalu membalik gelas yang ada di depan Queena dan menuang minuman dari botol ke dalam gelas Queena.
"Aku tidak pernah minum minuman keras, Brach!" Ujar Queena menolak, saat Brachon selesai mengisi gelas Queena dan gelasnya sendiri.
"Bisakah aku minum yang lain?" Tanya Queena lagi melakukan negosiasi.
"Tidak ada minuman lain!" Brachon menatap tegas pada Queena.
"Aku tidak perlu minum kalau begitu!" Gumam Queena seraya bersedekap.
"Tentu saja kau harus minum dan menghabiskannya, Queen!" Ucap Brachon enteng, seraya memasukkan dua buah pil ke dalam minuman Queena. Pil langsung bereaksi menciptakan gelembung-gelembung kecil dan tak butuh waktu lama, dua pil tadi sudah lenyap dan larut ke dalam minuman Queena.
Obat apa itu tadi?
Narkoba?
Atau obat per*ngsang?
Ah, iya!
__ADS_1
Queena pernah melihatnya di film.
Dua pil tadi adalah obat per*ngsang!
"Sekarang, minum minumanmu dan habiskan!" Desis Brachon dengan nada memerintah. Pria itu sudah mengangkat gelas Queena dan menyodorkannya pada Queena.
"Kenapa kau memasukkan obat per*ngsang ke dalam minumanku?" Tanya Queena seraya mebatap tajam pada Brachon yang langsung teryawa kecil.
"Kau sudah tahu rupanya!"
"Aku bukan wanita bodoh dan polos!" Desis Queena tajam.
"Ya! Aku percaya!" Brachon menatap remeh ke arab Queena.
"Aku sudah menjadi Queen yang penurut hari ini! Aku tak memberontak ataupun melakukan perlawanan dan mau sudah melakukan semua yang kau katakan-"
"Belum semuanya!" Sergah Brachon memotong.
"Kau belum menghabiskan minumanmu, Queen!" Ujar Brachon lagi.
"Aku tidak mau meminumnya!" Ucap Queena tegas dengan tatapan tegas juga pada Brachon.
"Kau bilang kalau kau tak akan memberontak, Queen! Apa kau mau aku menebas leher Barley?" Teriak Brachon melontarkan ancaman yang menjadi kelemahan Queena.
"Jangan pernah mengusik hidup putraku!" Desis Queena menahan amarah di dalam dirinya.
"Karena aku mau melihat seorang Queena yang agresif dan penuh gairah saat melayaniku!" Bisik Brachon lagi mengungkapkan alasannya memberikan obat setan tadi pada Queena.
"Seharusnya kau tak perlu melakukan itu!" Queena meraih gelasnya dari atas meja lalu menarik nafas panjang beberapa kali.
"Karena aku pasti akan melayanimu sepenuh hati!" Lanjut Queena lagi yang hanya membuat Brachon berdecih.
"Kau pikir aku akan percaya dengan bualanmu itu?" Brachon ikut memegang gelas yang kini sudah betada di tangan Queena, lalu membimbing perlahan, agar Queena mulai meneguk isinya.
Queena memejamkan mata, saat pinggiran gelas mulai menyentuh bibirnya. Brachon mengangkat pelan kaki gelas tersebut hingga akhirnya, cairan di dalam gelas tadi masuk perlahan ke dalam mulut Queena.
"Iya, seperti itu, Queen!" Brachon tersenyum puas saat akhirnya Queena sudah meneguk habis minuman di gelasnya. Wanita itu langsung meringis karena merasakan tenggorokanmya yang seperti terbakar.
Ini benar-benar kali pertama Queena minum minuman keras dan sekarang tenggorokan Queena rasanya panas sekali.
Brachon meletakkan gelas Queena yang sudah kosong ke atas meja! Pria itu lalu meneguk minuman di gelasnya dan ekspresi wajah Brachon hanya biasa saja.
Ya, pria itu pasti sudah biasa minum minuman keras!
__ADS_1
"Sekarang ayo kita berdansa, Queen!" Ajak Brachon seraya membimbinh Queena agar bangkit berdiri. Queena sedikit terhuyung karena kepala Queena rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh jarum. Sepertinya ini efek dari minuman keras tadi, selain badan Queena yang mendadak merasa kegerahan.
Queena mengalungkan kedua lengannya di leher Brachon saat tatapan matanya perlahan terasa mengabur. Nafas Queena juga mulai memburu sekarang.
Samar-samar, Queena bisa merasakan alunan musik lembut yang entah datang dari dalam kepala Queena atau memang ada seseorang yang menyetelnya.
"Kau menyukainya?" Tanya Brachon yang tubuhnya sudah mulai bergerak mengikuti alunan musik yang Queena dengarkan juga. Queena yang masih mengalungkan lengannya di leher Brachon, ikut bergerak mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Brachon. Tangan Queena bahkan sudah mulai bergerak dan mengusap wajah Brachon.
Dengan nafas yang terengah-engah, Queena menatap ke dalam wajah Brachon. Tatapan penuh kabut gairah efek dari obat yang tadi dimasukkan Brachon ke dalam minuman Queena. Queena bahkan sudah menggerakkan tangannya dan ganti membelai wajah Brachon. Tebtu saja hal itu langsung membuat Brachon tersenyum puas.
"Merasa kepanasan?" Brachon mengusap ringan wajah Queena, saat kemudian wanita itu langsung memejamkan mata, seolah menikmati sentuhan yang dilakukan oleh Brachon.
"Tunggu!" Des*h Queena sembari tangannya menahan tangan Brachon agar tetap menyentuh wajahnya. Queena menggenggam tangan Brachon, lalu membimbing tangan itu untuk menyentuh setiap bagian dari kulitnya.
Ya, rasanya sungguh menyenangkan!
Nafas Queena semakin terengah, saat Brachon sudah berpindah posisi menjadi di belakang Queena. Pria itu lalu menciumi tengkuk Queena yang mulai menggeliat.
"Aku menginginkannya," racau Queena yang mulai kehilangan akal sehatnya. Queena sudah berbalik menghadap Brachon, lalu dengan pemuh n*fsu wanita itu meraup bibir Brachon.
Namun Brachon hanya mel*mat sebenatr bibir Queena, sebelum kemudian pria otu mengakhirinya.
"Brach!" Lenguh Queena memohon seraya menahan Brachon agar tak menjauh.
"Brach..." nafas Queena masih terengah dan wanita itu mencoba meraup bibir Brachon lagi. Namun sepertinya Brachon sengaja mempermainkan Queena dan tak langsung memberikan apa yang dipinta oleh Queena.
Queena pun mulai meracau tak jelas, dan wanita itu menjambak rambutnya sendiri, demi meluapkan gairahnya yang sudah naik di ubun-ubun. Queena butuh pelampiasan sekarang!
Queena butuh pelampiasan!
Sementara Brachon yang melihat Queena begitu gelisah, sembari menggeliat dan menjambaki rambutnya hanya tersenyum puas. Pria itu masih berdiri seraya menjaga jarak dari Queena. Brachon lalu mengambil botol berisi minuman dibatas meja, dan menenggak isinya hingga tandas.
"Brach! Kau dimana?"
"Kenapa kau meninggalkan aku." Queena terlihat kebingungan dan tubuh wanita itu mulai terhuyung kesana kemari.
Brachon yang sudah puas minum,akhirnya menghampiri Queena dan tanpa aba-aba langsung mel*mat bibir Queena dengan liar.
Queena yang awalnya gelagapan, akhirnya bisa mengimbangi pagutan Brachon. Dua manusia itupun larut dalam sebuah pagutan serta pergelutan panas, seolah mereka tak peduli, kalau kini mereka masih berada di area rooftop dari gedung SkyLeyland Tower.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.