QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
ALASAN DAN TUJUAN


__ADS_3

"Bukankah cara terbaik menghancurkan seseorang adalah dengan memberikannya harapan yang indah, seolah dunia sedang berpihak kepadanya."


"Membuatnya merasa dicintai dan melambungkan perasaannya setinggi awan."


"Lalu saat ia sudah merasa di atas awan, saat itulah saat yang tepat untuk membantingnya ke dasar jurang yang terdalam."


"Menghancurkan semua harapan yang sudah di depan matanya." Queena tersenyum kecut setelah mengungkapkan semua rencananya pada Bagus.


"Kau tidak harus melakukan semua itu, Queen!"


"Kau pasti bisa lepas dari Brachon Ley, lalu pergi ke sebuah tempat. Memulai hidup baru-"


"Bersama denganmu dan Barley, Mas?" Sela Queena seraya menatap ke dalam manik mata Bagus. Queena tahu kalau pria di depannya tersebut masih belum sepenuhnya percaya, meskipun Bagus sudah mengatakan kalau ia percaya.


Tatapan mata pria itu sudah sangat berbeda!


"Iya! Kita bisa pergi ke suatu tempat," jawab Bagus yang suaranya terdengar ragu.


Queena seketika langsung mendes*h kecewa.


"Queen, dengar! Aku percaya kalau kau adalah Queena, istriku-"


"Kau masih belum percaya, Mas!" Sela Queena dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Namun Queena cepat-cepat menghapus genangan airmata di sudut matanya.


"Dan aku sadar, kalau aku memang bukan lagi Queena yang dulu."


"Aku tak lagi pantas untuk Mas Bagus," sambung Queena nyaris tanpa suara.


"Maaf," ucap Bagus lirih.


"Tidak!" Queena meraih tangan Bagus dan menggenggamnya dengan erat.


"Tidak perlu minta maaf!" Ucap Queena seraya mendongakkan wajahnya demi menahan airmatanya agar tak jatuh bercucuran.


"Kita bisa minta bantuan pada Abang Matthew, Queen!" Usul Bagus kemudian yang langsung membuat Queena menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Brachon pria yang kejam."


"Dia bisa menghabisi nyawa siapapun yang tak ia sukai...." Queena menggeleng sekali lagi dan suaranya tercekat di tenggorokan.


"Bawa Barley pergi dari kota ini, Mas! Biarkan aku yang menyelesaikan semuanya dan menghancurkan Brachon," ujar Queena lagi penuh tekad.


"Bawa Barley pergi secepatnya!" Ucap Queena lagi seraya bangkit berdiri dan hendak pergi. Namun kemudian Queena berbalik dan menatap pada Bagus yang hanya menatapnya dengan datar.

__ADS_1


"Boleh aku memelukmu untuk terakhir kali, Mas?" Pinta Queena memohon.


Bagus tak menjawab dan pria itu hanya mengangguk samar. Queena lalu segera menghambur ke pelukan Bagus dan memeluk pria yang pernah berstatus sebagai suaminya tersebut.


Bahkan hingga detik ini belum ada kata pisah di antara Queena dan Bagus. Lalu apa sebenarnya status mereka berdua?


Hanya sebentar Queen memeluk Bagus, sebelum kemudian wanita itu ganti menatap lekat wajah pria di depannya tersebut.


"Masih ada cara lain untuk menghancurkan Brachon-"


"Tidak ada!" Potong Queena tegas.


"Kenapa tidak memberikan saja racunnya pada Brachon ketimbang meracuni dirimu sendiri?" Tanya Bagus tak mengerti.


"Hal terburuk misalnya Brachon benar-benar mati, kau hanya akan masuk penjara. Lalu abang Matthew pasti bisa mencari cara untuk membebaskanmu."


"Lalu jika Brachon ternyata tak mati?" Queena mengungkapkan kemungkinan lain.


"Tak hanya aku yang akan dihabisi oleh pria keparat itu, Mas!"


"Tapi kau, Barley, lalu Mami dan Papi!"


"Kean, Lean," suara Queena terdengar semakin lirih. Wanita itu kembali menyeka kasar airmatanya.


"Lagipula, hidupku sudah hancur sejak Brachon menjadikan aku sebagai tawanannya."


"Kita bisa memulai semuanya dari awal, Queen-"


"Tak perlu memaksakan diri, Mas!" Sergah Queena dengan nada suara yang sudah meninggi.


"Aku benar-benar minta maaf!" Bagus berucap dengan frustasi dan pria itu terlihat merutuki dirinya sendiri.


"Aku berusaha untuk percaya. Tapi kau begitu asing, sekalipun aku yakin kalau kau adalah Queena!"


"Aku tahu!" sahut Queena cepat.


"Aku akan memeluk Barley sebentar!" Queena sudah melesat masuk ke dalam rumah, meninggalkan Bagus yang masih bergelut dengan kebimbangannya.


Barley memang sedang tidur siang, saat tadi Queena datang. Dan hingga Queena hendak berpamitan, Barley masih belum bangun.


Tapi itu lebih baik untuk Queena karena ia bisa memeluk Barley dengan puas tanpa ada sikap berontak ataupun tangisan dari bocah empat tahun tersebut.


Rasanya sungguh menyakitkan saat Barley menolak kehadiran Queena karena wajah Queena yang kini sudah jauh berbeda.

__ADS_1


Sepuluh menit berselang dan Queena sudah keluar dari rumah. Wanita itu kembali menghampiri Bagus yang sedang duduk termenung di teras.


"Bawa Barley pergi secepatnya, Mas! Jangan mengulur waktu lagi!" Pungkas Queena sebelum wanita itu pergi dan keluar dari pagar teras rumah Bagus.


****


"Papa!"


"Sedang baca koran?" Tanya Barley seraya naik ke pangkuan Bagus.


"Iya!" Jawab Bagus yang langsung melipat surat kabar di tangannya, lalu meletakkannya ke atas meja.


Headline yang berisikan berita kecelakaan yang menimpa seorang direktur muda pemilik beberapa hotel serta bisnis ternama di negeri ini kembali terpampang dengan jelas. Bagus segera membalik surat kabar di atas meja yang kini ganti menunjukkan gedung Ley Skyland yang juga adalah milik direktur muda yang mengalami kecelakaan tersebut.


"Kita nanti jadi menginap di rumah Opi dan Omi, kan, Pa?" Tanya Barley mengingatkan Bagus.


"Iya, jadi," Jawab Bagus seraya merapikan rambut sang putra.


Sudah satu tahun berlalu sejak pertemuan terakhir Bagus dengan Queena. Bagus dan Barley kini sudah pindah dan tinggal di kota yang sama dengan Papi Briel. Bagus juga sudah mendapatkan pekerjaan baru di tempat ini.


Ya, Bagus akhirnya memulai kehidupan baru disini bersama Barley, sesuai permintaan Queena yang mungkin sudah benar-benar pergi untuk selamanya sekarang.


Brachon Ley sudah hancur sesuai keinginan Queena!


Berdasarkan berita yang Bagus baca, Brachon Ley sudah mengalami depresi sebelum kecelakaan yang menimpanya.


Setidaknya, pengorbanan yang Queena lakukan tidak sia-sia!


Beristirahatlah dengan tenang, Queen!


*************TAMAT***********


Absurd 🙈


Terima kasih sebesar-besarnya untuk para reader yang sudah membaca cerita Queena sampai selesai. Mohon maaf jika masih banyak typo bertebaran serta kata-kata yang kurang pantas.


Terima kasih juga buat yang sudah memberikan komen, like, vote, hadiah, serta banyak dukungan untuk karya yang "mengerikan" ini.


Kenapa pada akhirnya Queena dibuat mati?


Anggap saja takdirnya begitu.


Cerita Queena aku akhiri sampai disini.

__ADS_1


Sampai jumpa tahun depan di judul cerita yang baru.


Bye 💜💜


__ADS_2