QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
SYARAT


__ADS_3

Queen menggelengkan kepalanya dan teeus menolak makanan yang disuapkan maid kepadanya.


"Nona Queen, anda harus makan agar cepat sembuh!" Ucap maid memohon.


Beberapa jam lalu, saat Queena bangun, ia memang hanya mendapati maid di dalam kamar perawatannya. Brachon maupun Vincent sama sekali tidak ada.


Tapi baguslah, karena Queena juga sudah malas melihat wajah dua pria menyebalkan itu.


"Nona Queen!" Bujuk maid lagi.


"Singkirkan makanan itu karena aku tak akan memakannya!" Perintah Queena tegas dan sedikit galak.


"Tapi anda harus makan-"


"Aku tidak mau sembuh!" Potong Queena cepat.


"Aku ingin mati secepatnya! Jadi aku tak akan makan sekuat apapun kau memaksa!" Ujar Queen lagi seraya berbalik dan memunggungi maid.


Saat itulah terdengar decakan menyebalkan dari arah pintu kamar perawatan.


Brengsek!


Baru saja Queena merasa lega karena tak melihat Brachon, sekarang pria itu malah sudah datang ke kamar perawatan Queena.


"Jadi, kau ingin mati dan tidak ingin sembuh, Queen?" Tanya Brachon yang sudah berjalan mendekat ke arah ranjang perawatan Queena.


"Kau mau membuat Barley bersedih dan menangis tanpa henti karena kematianmu?" Brachon menatap tak percaya pada Queena, lalu pria itu geleng-geleng kepala.


"Ckckckck! Kau benar-benar seorang ibu yang tega! Apa kau tak kasihan pada Barley?" Lanjut Brachon lagi yang hanya membuat Queena berdecih.


"Barley mungkin sudah menangis dan merasa kehilangan aku sekarang! Sudah berbulan-bulan aku meninggalkannya dan semua itu karena kau!"


"Kau keparat, Brachon Ley!" Queena akhirnya tak tahan lagi untuk mengumpat pada Brachon.


"Kenapa kau tak mekepaskanku atau sekedar memberiku kesempatan untuk bertemu Barley?"


"Kenapa?" Teriak Queena pagi meluapkan kemarahannya pada Brachon.


"Kau ingin menemui Barley? Aku akan memberikanmu kesempatan," ucap Brachon tiba-tiba yang langsung membuat Queena melebarkan kedua matanya.


"Kesempatan dengan syarat!" Decih Queena yang seolah sudah paham.


"Cerdas!" Brachon tersenyum licik dan Queena benar-benar sudah muak pada pria di depannya tersebut.


"Tapi tenang saja, kali ini tak butuh waktu enam bulan." Brachon sudah menghampiri Queena, lalu mengusap sisi wajah wanita tersebut.


"Hanya butuh waktu sehari semalam saja. Dan jika kau bisa menjadi Queen yang aku inginkan dalam sehari semalam, kau boleh pulang dan menemui Barley!"


"Aku melepaskanmu," bisik Brachon yang sesaat langsung menumbuhkan lagi sebuah harapan di hati Queena.


"Apa yang harus aku lakukan selama sehari semalam itu?" Tanya Queena menatap pada Brachon.


"Menjadi Queen yang aku inginkan. Kau pasti sudah tahu harus bagaimana." Brachon melepaskan kancing di lengan kemejanya, lalu menggulung hingga ke siku.


"Aku akan melakukannya!" Ucap Queena tegas dan penuh tekad.


"Tapi yang pertama tentu saja kau harus bisa bangun dan bertenaga. Karena jika kau masih selemah itu, kau tidak akan bisa menjadi Queen yang aku inginkan!" Ujar Brachon mengingatkan tentang kondisi Queena yang saat ini masih terbaring di atas bed perawatan, dengan jarum infus yang tertancap di tangan kanannya.


"Aku akan bangun dan makan, lalu aku akan cepat pulang dan menjadi Queen yang kau inginkan," tekad Queena sekali lagi yang langsung membuat Brachon tersenyum puas.


"Bagus sekali, Queen! Aku menyukai semangatmu itu!" Bisik Brachon sebelum kemudian pria itu ******* bibir Queena.


"Balas, Queen yang aku inginkan!" Brachon memberikan aba-aba sembari menekan kepala Queena.


Queena segera merenggangkan bibirnya dan memberikan akses lebih dalam pada Brachon. Wanita itu memejamkan mata saat merasakan cecapan dari bibir Brachon yang semakin dalam.


Ini tak akan lama lagi, Queen!

__ADS_1


Ini tak akan lama lagi!


****


"Selamat siang, Tuan Ley!" Sapa maid yang memang ditugaskan untuk menjaga Queena selama wanita itubdirawat di rumah sakit. Selain dua orang maid, ada beberapa pengawal juga tentu saja di luar kamar perawatan Queena yang selalu siaga dua puluh empat jam.


"Pastikan dia menghabiskan makanannya!" pesan Brachon tegas pada maid, sebelum pria itu melangkah keluar dari kamar perawatan Queena.


"Baik, Tuan Ley!"


Brachon melanjutkan langkahnya ke arah lift, dan Vincent yang sejak tadi menunggu Brachon di depan kamar perawatan, buru-buru menyusul langkah atasannya tersebut.


"Brach!"


"Brach, menurutku kau terlalu gegabah mengambil keputusan!" Ucap Vincent yang berusaha untuk menyamakan langkah dengan Brachon m.


"Bukankah sudah kukatakan untuk tidak lengah! Kenapa kau mudah terpengaruh oleh wanita itu belakangan ini?" Ujar Vincent lagi bersamaan dengan pintu lift yang sudah terbuka. Brachon tak langsung menanggapi pendapat Vincent barusan, dan pria itu masuk ke dalam.loft dengan ekspresi wajah santai.


"Brach!"


"Aku sudah memikirkannya matang-matang!" Ucap Brachon seraya menatap ke layar di atas pintu lift yang menunjukkan nomor lantai yang dilalui oleh lift.


"Tapi menurutku, kau tidak memikirkannya dengan matang! Kau sudah terpengaruh oleh Queen dan sekarang, malah wanita itu yang berkuasa atas dirimu!"


"Queen itu mainanmu, Brach! Kenapa kau mau disetir dan diatur oleh mainananmu?" Cerocos Vincent mengungkapkan pendapatnya, yang ternyata malah membuat Brachon naik darah sekarang.


Brachon mendorong tubuh Vincent hingga menabrak dinding lift, lalu pria itu mencengkeram kerah baju Vincent dan menatapnya dengan sengit.


"Sudah kubilang untuk tidak mengguruiku!"


"Aku tahu yang aku lakukan dan meskipun saat ini aku mengizinkan Queen bertemu dengan Barley atau keluarganya, wanita itu tetap tidak akan pernah lepas dari cengkeramanku!"


"Queen akan tetap menjadi tawananku sampai nanti aku merasa bosan padanya." Desis Brachon menatap takam.pada Vincent.


"Dan kau yang tak tahu apa-apa, lebih baik diam saja!" Gertak Brachon lagi setaya mendorong tubuh Vincent sekali lagi.


Suar lift yang menandakan kalau mereka sudah tiba di lantai tujuan, membuat Brachon segera melepaskan cengkeramannya pada Vincent. Brachon merapikan kemejanya, masih sambil menatap sengit pada sang asisten.


"Camkan itu!" Tuding Brachon sekali lagi bersamaan dengan pintu lift yang akhirnya terbuka. Brachon lalu melangkah keluar, meninggalkan Vincent yang hanya mampu menggerutu dalam hati, lalu mengekori Brachon.


Ya, meskipun kesal pada Brachon, tapi Vincent terap harus profesional karena bagaimanapun juga, ia tetaplah bawahan Brachon!


****


"Kapan saya bisa pulang, Dokter?" Tanya Queena setelah dokter selesai memeriksa kondisinya. Perawat lalu menyodorkan hasil test darah terbaru Queena.


"Obatnya bekerja dengan baik dan infeksinya sudah berkurang pesat." Dokter manggut-manggut.


"Mungkin besok atau lusa, jika kondisimu sudah benar-benar pulih-"


"Saya sudah pulih, Dokter!" Sela Queena seyakin mungkin.


"Masih belum Queen!"


"Kau harus benar-benar pulih dan sehat saat keluar nanti, sesuai permintaan Brachon, karena kalian akan melakukan perjalanan."


Queena langsung terkejut saat Dokter mengatakan tentang perjalanan.


Perjalanan kemana?


"Perjalanan apa?" Tanya Queena bingung.


"Brachon akan membawamu liburan," jelas Dokter seraya tersenyum. Di saat bersamaan, pintu kamar perawata sudah dibuka dari luar, dan Queena refleks menoleh untuk melohat siapa yang datang.


"Itu Brachon! Kau tanyakan sendiri saja," pungkas Dokter sebelum akhirnya dokter paruh baya tersebut pamit undur diri. Pintu kamar perawatan sudah tertutup kembali, dan kini hanya ada Queena dan Brachon di dalam ruangan.


"Kau sudah terlihat lebih segar!" Ujar Brachon yang langsung menghampiri Queena. Dan yang selanjutnya pria itu lakukan, tentu saja Queena sudah hafal di luar kepala. Karena selama sepekan Queena dirawat, Brachon pasti melakukannya setiap kali pria itu datang berkunjung.

__ADS_1


Ya, pria itu seolah datang mengunjungi Queena hanya untuk melampiaskan n*fsu bejatnua serta memenuhi obsesinya pada bibir dan tubuh Queena.


Queena juga masih tak paham.apa yang membuat Brachon tertarik pada dirinya yang jelas-jelas sudah menikah dan sudah punya seorang putra. Bukankah ada banyak wanita seksi di luaran sana yang bisa sangat mudah Brachon dapatkan?


"Mmmmpphhh!" Queena mengerang saat Brachon menekan kepalanya dengan semakin kuat dan memaksanya untuk bertukar saliva.


"Aku bisa memakaimu sebentar!" Gumam Brachon kemudian di sela-sela pagutannya bersama Queena.


Pria itu sudah menyibak selimut Queena, lalu menyibak juga baju pasien yang dikenakan oleh Queena.


"Kau akan melakukannya disini-" suara Queena tercekat saat Brachon sudah menyentak masuk dengan kasar tanpa pemanasan yang mumpuni.


Dasar baj*ngan!


Queena meringis dan tangannya mencengkeram kedua sisi bed perawatan saat Brachon mulai bergerak.


Sial!


Rasanya perih sekali!


"Kau mau membawaku kemana? Kata dokter-" Queena menjeda kalimatnya sejenak, saat gelenyar sialan itu mulai merasuki aliran darahnya.


Queena sudah berusaha untuk tak bergairah saat Brachon memperkosanya begini. Tapi ini reaksi normal tubuhnya dan Queena tak pernah bisa menolak.


"Dokter mengatakan apa padamu?" Tanya Brachon seraya menghujamkan lagi miliknya dengan lebih keras.


"Dokter mengatakan kalau kau akan membawaku liburan."


"Mmph-" Queena menahan des*hannya dan wanita itu segera menggigit bibir bawahnya.


"Jangan seperti itu!"


"Mendes*h saja karena aku suka mendengarnya!"


"Aku menikmatinya," ujar Brachon lagi seraya mengecup singkat bibir Queena. Pria otuasoh aktif bergerak di bawah sana


"Jadi, kau mau membawaku kemana, hah?"


"Membuangku ke hutan belantara?" Tanya Queena lagi di sela-sela des*han serta lenguhannya.


Ya, tak perlu menghakimi soal Queena yang menikmati permainan Brachon ini!


Karena Queena sangat-sangat tak menikmatinya dan semua des*han ini hanyalah reaksi normal dari tubuh Queena!


"Pikiranmu terlalu jauh!" Brachon tertawa kecil namun tenaga dari hujamannya tak terasa kecil.


"Kau ingat tentang janji satu hari menjadi Queen yang Brachon inginkan, kan?" Ujar Brachon lagi mengingatkan Queena.


"Ya."


"Aku ingin kita melakukannya di satu tempat yang istimewa!" Ujar Brachon lagi menjelaskan pada Queena.


"Dimana?" Tanya Queena penasaran.


"Kau akan tahu nanti!" Brachon menghujamkan miliknya dengan dalam, saat Queena merasakan sesuatu yang hangat membanjiri rahimnya.


Setidaknya, Queena tak perlu takut kalau ia akan mengandung benih dari pria baj*ngan di atasnya ini, karena Brachon sendiri sudah melakukan antisipasi dengan suntikan kontrasepsi yang rutin ia berikan pada Queena.


Saat ini yang menjadi kekhawatiran Queena adalah Mas Bagus.


Apakah suami Queena itu masoh akan menerimanya kelak, setelah semua hal menjijikkan yang dilakukan Brachon pada Queena?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2