
Queena masuk ke dapur diantar oleh dua pengawal yang sejak tadi mengekori serta mengawasi gerak-gerik Queena.
Sudah seperti tahanan saja!
Queena sejenak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut dapur untuk mencari celah kabur. Meskipun dirinya selalu mengatakan pada Brachon kalau ia tak akan kabur dari mansion inu, tapi tentu saja Queena tak benar-benar serius karena Queena bukan wanita bodoh yang akan selamanya menjadi tawanan Brachon. Queena harus berusaha untuk mencari celah sekecil apapun, karena saat ini yang bisa menolong Queena hanyalah diri Queena sendiri.
"Selamat datang di dapur, Nona Queen!" Sapa seorang pria paruh baya yang memakai baju ala koki. Pasti itu adalah kepala koki di mansion ini!
"Itu bahan-bahan apa?" Tanya Queena to the point seraya mengendikkan dagunya ke arah meja dapur.
"Cheesecake strawberry. Makanan kesukaan Tuan Ley, Nona," jelas koki yang langsung membuat Queena mengernyit dan sesaat wanita itu ingin tertawa terbahak-bahak sekarang.
Seorang Brachon Ley yang kejam menyukai cheesecake strawberry?
Queena lalu mendekat ke arah meja dapur untuk memeriksa satu persatu bahan yang sydah ditata rapi oleh koki.
"Anda sudah pernah membuatnya, Nona?" Tanya koki lagi yang kini berdiri di samping Queena.
"Ya! Tapi itu sudah lama," jawab Queena lirih.
"Nona Queen, Tuan Ley menelepon!" Lapor seorang bodyguard seraya menyodorkan ponselnya pada Queena.
"Halo!" Sapa Queena dengan nada malas.
"Sudah tahu sekarang makanan kesukaanku?"
"Ya! Sangat tidak sesuai dengan kau yang kejam,sadis, dan tidak punya perasaan!" Jawab Queena dengan nada sinis.
"Aku pulang besok saat makan siang. Jadi aku ingin kau belajar membuatnya hari oni, agar kau bisa membuat lagi besok siang untukku."
"Aku mau cheesecake buatanmu, dan kau juga yang harus menyajikannya untukku."
"Apa aku perlu menyuapimu juga?" Tanya Queena memotong dengan sinis.
"Tunggu saja besok!"
Tuut tuut!
Telepon terputus tanpa ada basa-basi.
Sudah biasa!
Queena mengembalikan ponsel pada bodyguard, sebelum kemudian wanita itu kembali dokus ke bahan-bahan kue di atas meja.
"Ajari aku cara membuat cheesecake tang disukai Brachon!" Titah Queena pada koki yang langsung mengangguk mengiyakan. Dan di detik selanjutnya, Queena sudah berkutat dengan bahan-bahan kue tadi untuk belajar bagaimana membuat makanan kesukaan Brachon.
****
Hari berganti.
Queena memakai apron memasak, lalu mencuci tangan dahulu, sebelum mulai membuat cheesecake untuk Brachon. Seperti kemarin, semua bahan dan peralatan sudah disiapkan oleh koki. Hanya saja bedanya, Queena akan memasak sendiri hari ini. Di dapur seorang diri.
Queena sedikit celingukan untuk memastikan apa ia benar-benar sendiri atau mungkin ada seseorang yang memata-matainya.
Oh, ya!
Ada dua pengawal Brachon yang menjadi ekor Queena kemana-mana dan tentu saja sekarang dua pria bertubuh besar itu juga sedang mengawasi Queena.
Queena akhirnya kembali fokus ke bahan-bahan kue di hadapannya dan tak lagi celingukan di dapur besar ini. Wanita itu sudah menyalakan mixer dan mulai memasukkan bahan-bahan kue. Queena melakukan semuanya dengan cekatan dan tanpa suara.
Hingga di detik Queena selesai memasukkan kue ke dalam oven, sebuah tangan tiba-tiba sudah merangkulnya dari belakang dan membuat Queena berhenggit serta jantungnya yang hampir melompat dari rongga.
__ADS_1
Sial!
Queena tentu sudah sangat hafal dengan aroma parfum ini.
Queena menarik nafas panjang dan berusaha mengusai dirinya yang tadi hampir meledak.
"Sudah jadi cheesecake-nya?" Brachon sudah mencium tengkuk Queena, lalu membuat tanda kepemilikan du sana. Tangan Brachon juga sudah menyelinap ke bawah apron yang dikenakan oleh Queena, dan menangkup gundukan milik Queena.
Queena sedikit menggeliat dan pura-pura mengabaikan Brachon yang masih memeluknya dari belakang.
"Kuenya belun matang dan baru masuk oven-" Queena belum selesai menjawab saat tiba-tiba Brachon sudah membalik tubuhnya, lalu dengan cepat mel*mat bibir Queena.
"Kau akan menepati janjimu mulai hari ini, kan? Kau akan menjadi Queen yang penurut." Brachon berucap di sela-sela cecapannya di bibir Queena.
"Lalu-"
"Apa kau harus melakukannya di dapur juga?"
"Bagaimana-" Kalimat Queena sedikit tersendat karena l*matan bibir Brachon yang mulai kasar.
"Bagaimana kalau-" Kata-kata Queena lagi-lagi harus terpotong saat Brachon tiba-tiba sudah membalik tubuh Queena, lalu memaksa wanita itu untuk membungkuk ke atas meja yang ada di dapur.
"Bagaimana kalau anak buahmu melihat apa yang kau lakukan sekarang?" Tanya Queena yang akhirnya berhasil menyelesaikan Kalimat, sesaat sebelum wanita itu menggeliat, karena ciuman bertubi-tubi Brachon di tengkuk dan punggung Queena.
"Mereka tidak akan selancang itu!" Brachon sudah menghimpit Queena dari belakang, lalu tangannya menyusuri setiap lekuk tubuh Queena.
"Kecuali mereka memang ingin berhenti bekerja pada Brachon Ley dan menghabiskan sisa usia mereka dengan penuh penderitaan," lanjut Brachon lagi yang hanya membiat Queena mendengus.
"Kau akan memperkosaku di dapur sekarang?" Tanya Queena akhirnya yang mulai kesulitan bernafas karena tubuhnya yang kini terhimpit meja dan tubuh besar Brachon.
Dasar tidak pengertian!
"Kenapa aku harus memperkosamu, Queen?" Brachon kembali membalik tubuh Queena, lalu pria itu mendorong Queena ke atas meja danembiat wanita tersebut berbaring telentang dibatas meja dapur yang terasa dingin.
Brachon saja yang gila karena tiba-tiba malah menjadikan meja dapur ini sebagai ranjang darurat. Padahal jelas-jelas ada lusinan ranjang dan kamar di mansion ini!
"Bukankah kau alan melayaniku dengan sepenuh hati mulai hari ini, Queen yang penurut!" Lanjut Brachon lagi yang hanya membuat Queena berdecih dalam hati.
"Kau tidak akan ingkar janji dan memberontak lagi, kan?" Tanya Brachon memastikan, seraya mencengkeram bawah dagu Queena.
"Bukankah kau suka jika aku memberontak?" Jawab Queena dengan nada sinis.
"Hhhh! Kau masih keras kepala rupanya, Queen!" Brachon mengeratkan cengkeramannya dan pria itu kini mendelik pada Queena.
"Cengkeramanmu masih kurang kuat! Apa akuemang selemah itu?" Olok Queena yang sudah balas menatap Brachon dengan tatapan penuh ejekan.
"Brengsek! Kau sedang memancingku, hah?" Brachon tanpa aba-aba, tiba-tiba sudah melesakkan jarinya dengan kasar ke dalam milik Queena hingga membuat Queena memekik.
"Aaarrrgggh!"
"Kepa-" suara Queena tercekat di tenggorokan, saat Brachon mulaiengherakkan jarinya di dalam milik Queena, hingga membuat Queena harus menggigit bibir bawahnya dan menahan diri untuk tidak mendes*h.
"Kenapa menahan diri begitu, Queen?" Tangan Brachon yang satunya sudah bergerak ke bibir Queena, lalu mengusap sejenak bibir yang kini memerah karena digigit sendiri oleh Queena. Brachon lalu memaksa untuk membuka bibir Queena, sebelum kemudian pria itu menyumpalkan jarinya yang bekas ia lesakkan di dalam milik Queena tadi ke dalam mulut wanita itu.
Queena hendak menolak, tapi tentu saja kalah kuat dengan Brachon yang sudah berhasil menyumpal mulit Queena dengan jari tengah dan jari telunjuknya.
"Bagaimana rasanya, Queen? Menyenangkan bukan?" Brachon tertawa puas saat Queena cepat-cepat bangun dari atas meja, lalu berlari ke wastafel untuk berkumur-kumur.
Namun sepertinya Brachon masih belum puas menyiksa Queena. Pria itu sudah kembali menghampiri Queena, lali menarik rambut wanita tersebut dan memaksanya untuk berlutut.
Brachon sudah membuka ritsleting celananya, lalu mengeluarkan miliknya ke depan mulut Queena.
__ADS_1
"Kul*m!" Perintah Brachon tegas, seraya menjambak rambut Queena.
Queena hanya bisa memejamkan mata, sebelum akhirnya wanita itu dengan sangat terpaksa melahap milik Brachon dan mulai mengul*mnya.
"Dorrr!"
Queena terlonjak, saat Bagus tiba-tiba sudah mengagetkannya, sembari menutup kedua mata Queena memakai telapak tangan.
"Mas Bagus, iiih!" Rengek Queena sambil bergegas menyingkirkan tangan Bagus.
"Aku lagi masak!" Ucap Queena lagi dengan nada geregetan.
"Masak apa?" Tanya Bagus yang sudah ganti melingkarkan kedua lengannya di pinggang Queena.
"Oseng buncis."
"Aku bantuin, ya!" Ucap Bagus seraya menyusupkan kepalanya di ceruk leher Queena.
"Bantuin apa dulu?" Queena sudah berbalik dan kini menghadap ke arah Bagus. Wanita itu menatap sang suami penuh selidik.
"Bantuin...." Bagus meraih dagu Queena, lalu mengecup bibir istrinya itu dengan lembut.
"Lagi!" Rengek Queena yang sudah merangkulkan kedua lengannya di leher Bagus.
Bagus tersenyum, lalu kembali mengecup bibir Queena. Kali ini langsung ada balasan dari Queena, hingga akhirnya pasangan suami istri tersebut berpagutan dengan cukup lama.
Queena dan Bagus masih larut dalam suasana yang penuh gairah, saat tiba-tiba tercium bau gosong masakan.
"Tumis buncisku!" Jerit Queena yang buru-buru mekepaskan pagutannya pada Bagus. Wanita itu langsung mematukan api kompor saat dirinya mendapati tumis buncisnya yang sudah kering kerontang dan gosong sebagian.
"Hahaha!" Bagis tertawa terbahak-bahak saat Queena merengut kesak seraya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
"Mas Bagus!" Queena yang kesal memukul-mukul pundak Bagus yang masih saja tergelak.
"Udah! Nanti kita makan di luar!" Ucap Bagus akhirnya seraya merangkul Queena.
"Ck!" Queena masih berdecak kesal, saat kemudian Bagus kembali mencecap bibir istrinya tersebut demi meredakan rasa kesal Queena.
Queena tersentak dan lamunannya seketika menjadi buyar, saat Brachon menyentak dengannkasar miliknya ke dalam mulut Queena hingga benda itu menabrak kerongkongan Queena.
"Aaarrrgggh!" Brachon mengerang dan Queena merasakan milik Brachon yang sudah menegang di dalam mulutnya, seolah siap menyemburkan isinya.
"Tahan!" Brachon menekan kepala Queena dan menaksa wanita itu untuk tak melepaskan kul*mannya.
Brengsek!!
"Aarrrgghhh!" Brachon akhirnya benar-benar menyemburkan cairan terkutuk itu ke dalam mulut Queena.
"Telan!" Paksa Brachon yang akhirnya mau tak mau terpaksa membuat Queena menelannya.
Queena benar-benar ingin muntah sekarang.
"Bagus sekali, Queen!" Puji Brachon selanjutnya seraya mengusap sedikit cairan yang meleleh keluar dari sudut bibir Queena.
Queena langsung bangkit berdiri dengan cepat, lalu menuju ke wastafel untuk berkumur-kumur.
"Brachon keparat!" Umpat Queena dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.