
Queena mengerjapkan matanya beberapa kali, saat samar-samar wanita itu mendengar suara Brachon yang sedang sedang bicara pada seseorang. Suara pria itu bahkan terdengar begitu jelas dan dekat. Apa yang saat ini sedang memeluk Queena adalah Brachon?
Queena membuka mata untuk memastikan.
Benar saja!
Brachon sedang memeluk Queena di dalam satu selimut yang sama. Brachon juga sedang meletakkan ponsel di telinganya sekarang dan sedang bucara entah pada siapa.
Mungkin Vincent!
"Siapkan saja semuanya sebelum aku kesana besok!" Pungkas Brachon saat pria itu merasakan Queena yang mulai menggeliat di pelukannya. Brachon meletakkan ponselnya ke atas nakas, lalu mengusap wajah Queena.
"Kenapa kau masih disini?" Tanya Queena dengan suara yang serak seeaya menatap pada wajah Brachon.
"Memangnya kenapa?" Brachon balik bertanya pada wanita di dekapannya tersebut.
Queena tersenyum tipis.
"Biasanya kau akan langsung pergi setelah kita selesai bercinta," tukas Queena yang hendak melepaskan dirinya dari pelukan Brachon, namun tentu saja tak berhasil karena gerakan Brachon untuk menariknya lebih cepat.
"Aku bukan lagi Brachon yang biasanya!" Ucap Brachon menatap tegas pada Queena. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Queena, lalu memagut bibir Queena sembari mencecapnya dengan penuh gairah.
"Good morning," ucap Brachon selanjutnya setelah pria itu sekesai mencecap bibir Queena.
"Good morning," jawab Queena seraya menyusupkan lagi kepalanya ke pelukan Brachon. Aroma khas dari tubuh Brachon langsung menguar dan memenuhi indera penciuman Queena.
"Kau akan pergi?" Tanya Queena memecah kebisuan.
"Hanya dua hari."
"Lusa aku sudah kembali," jawab Brachon seraya tangannya mengusap lembut kepala Queena. Bisa Queena rasakan juga, kecupan lembut dari pria itu di puncak kepalanya.
Ah, Queena tak mau terhanyut dengan semua sikap manis Brachon ini.
Tapi perlahan Queena juga mulai menikmatinya....
"Kemana?" Tanya Queena lagi.
"Ke kota di pesisir yang waktu itu pernah kita kunjungi-"
"Yang ada tebing di pantainya?" Tebak Queena menyela.
"Tepat!"
"Kau masih ingat rupanya." Brachon menipiskan bibirnya, lalu tangan pria itu bergerak dan merapikan rambut Queena.
"Tempatnya begitu indah."
"Aku boleh ikut bersamamu?" Queena kini sudah mengangkat wajahnya dari dekapan Brachon. Wanita itu menatap ke dalam wajah Brachon. Pria di depan Queena itu langsung berubah ekspresi wajahnya.
"Tidak!" Jawab Brachon tegas.
"Tapi aku ingin pergi ke tempat itu, Brach!"
"Ajak aku!" Mohon Queena seraya menangkup wajah Brachon.
"Kau sedang hamil, Queen! Jadi sebaiknya kau di sini saja-"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja!" Sergah Queena keras kepala.
"Aku tidak mau sesuatu yang buruk teejadi pada kau dan calon anakku," ujar Brachon mengungkapkan kekhawatirannya.
"Tidak akan ada hal buruk. Bukankah ada kau dan lusinan bodyguard yang pasti akan menjagaku?" Queena masih menangkup wajah Brachon dan wanita itu berusaha keras meyakinkan pria di depannya tersebut.
"Ajak aku bersamamu."
"Aku jenuh jika harus disini sendiri," ujar Queena beralasan.
Brachon yang tadi tegas menolak permintaan Queena, sekarang terlihat menimbang-nimbang.
"Brach," rayu Queena yang kembali mengusap wajah Brachon.
"Baiklah, kau bisa ikut," ucap Brachon akhirnya yang langsung membiat Queena bersorak dalam hati.
"Tapi ada syaratnya!" Ucap Brachon selanjutnya yang membuat senyum yang tadi hampir terkembang di bibir Queena menjadi pudar kembali.
"Syarat apa?" Tanya Queena mulai cemas. Queena seolah sudah bisa menangkap syarat yang dimaksud oleh Brachon.
Sial!
"Aku ingin kita pergi ke dokter untuk memastikan kalau-"
"Kau masih tidak percaya kalau aku sedang mengandung anakmu sekarang?" Queena menyela dan memotong kalomat Brachon.
"Bukan seperti itu!" Sergah Brachon cepat.
"Aku percaya!"
"Aku hanya ingin memastikan kalau calon anakku baik-baik saja!" Lanjut Brachon lagi mengungkapkan alasannya.
Sial!
Queena akan langsung ketahuan nanti!
"Aku dan Queen akan ke rumah sakit siang ini!"
Queena masih merasa bimbang, saat kalimat Brachon mendadak membuyarkan lamunan Queena. Entah sejak kapan Brachon menghubungi temannya yang dokter itu dan mengatakan kalau oa dan Queena akan ke rumah sakit.
Sial!
Queena bahkan belum mengatakan setuju tadi!
Oh, tapi ini Brachon Ley!
Dan pria ini tentu saja tak butuh persetujuan Queena atau siapapun untuk melakukan apapun keinginannya!
Sial sekali!
"Siapkan semuanya!" Pungkas Brachon seraya menutup telepon. Brachon lalu menatap ke arah Queena yang tampak gugup.
"Kita akan ke rumah sakit nanti. Lalu jika kondisi calon anakku baik-baik saja, kau boleh ikut denganku," tukas Brachon yang akhirnya membuat Queena mengulas senyum meskipun terpaksa.
Sebaiknya Queena bergegas menyiapkan sebuah rencana!
****
__ADS_1
Dokter masih menggerakkan doppler USG di atas perut Queena sembari beberapa kali menatap penuh isyarat pada Queena.
"Bagaimana? Queen benar-benar hamil, kan?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Brachon Ley dan memecah kebisuan.
Dokter tak langsung menjawab dan malah menatap Queena lagi. Tentu saja Queena nemilih untuk tak menyia-nyiakan kesempatan ini dan wanita itu bergegas membalas tatapan sang Dokter dengan tatapan memohon.
Memohon agar dokter ini mau sedikit saja membantu Queena!
"Ya! Sudah terlihat kantung janinnya." Dokter akhirnya buka suara dan menjawab pertanyaan Brachon tadi.
Raut bahagia langsung nampak di wajah Brachon. Pun dengan Queena yang akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Queena benar-benar tak menyangka jika dokter yang entah siapa namanya ini mau membantu Queena.
"Selamat, Brach!" Ucap dokter itu lagi seraya mengulurkan tangannya pada Brachon.
"Apa kondisi kandungan Queen sehat, Jeff?" Tanya Brachon selanjutnya setelah membalas jabat tangan dokter yang dipanggil Jeff oleh Brachon barusan.
"Ya! Kalian bisa pergi berlibur. Aku akan mereswpkan beberapa vitamin untuk Queen," ujar Dokter Jeff seraya menuliskan resep. Disaat bersamaan, terdengar dering dari ponsel Brachon.
Brachon bergegas mengangkat telepon, lalu keluar dari ruangan. Sepertinya telepon yang penting.
Kini hanya tinggal Queen dan Dokter Jeff di dalam ruangan.
"Kau tidak hamil!" Ucap dokter Jeff seraya menatap tajam pada Queena.
"Tapi kau sudah membantuku untuk mengelabuhi Brachon. Aku benar-benar berterima-"
"Itu tidak gratis!" Sela Jeff yang langsung membuat Queena melebarkan kedua bola matanya. Sejentara Brachon masih belum kembali dari luar.
"Kau ingin imbalan apa?" Tanya Queena yang masih membalas tatapan Jeff yang sudah berubah dari sebelumnya. Tatapan dokter yang juga merupakan teman Brachon itu terlihat merendahkan Queena.
"Aku ingin tubuhmu!" Ucap Jeff to the point yang sudah bisa ditebak oleh Queena.
Bajngan!
Apa Jeff pikir Queena seorang pelcur?
"Bagaimana?" Desak Jeff yang masih menunggu jawaban Queena.
"Kau harus mencari waktu yang tepat karena kau tahu sendiri kalau pengawal Brachon ada dimana-mana-"
"Aku sudah memikirkannya." Ujar Jeff penuh percaya diri.
"Kau setuju berarti?" Jeff memastikan sekali lagi.
"Ya! Asal kau juga terus membantuku-" Queena tak melanjutkan kalimatnya karena Brachon sudah kembali.
"Obat dan vitamin untuk Queen sudah siap. Kalian bisa mengambilnya di apotik," tukas Jeff pada Brachon yang langsung mengangguk.
"Jangan lupa pesanku tadi, Queen!" Ujar Jeff lagi seraya menatap penuh isyarat pada Queena.
"Aku tidak akan lupa," jawab Queena seraya menggamit lengan Brachon. Dua orang itu lalu keluar dari ruangan Jeff dan segera menuju ke apotik rumah sakit.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.