
"Mana Queen?" Tanya Vincent saat melihat dua pengawal Brachon yang biasa mengekori Queena turun ke lantai bawah tanpa Queena.
"Tadi Nona Queen sudah naik lift dan turun duluan, Tuan. Apa belum sampai?" Salah satu pengawal menjawab dengan ragu.
"Aku tak akan bertanya-tanya kalau Queen sudah sampai disini!" Dengkus Vincent pada dua pengawal tersebut.
"Vin!" Panggil Brachon dari dalam mobil yang sontak langsung membuat Vincent menggerutu.
"Cepat cari Queen!" Desus Vincent pada dua pengawal Brachon yang tak berguna itu.
"Vin! Apa Queen sudah turun?" Tanya Brachon yang akhirnya turun dari mobil karena Vincent yang tak kunjung menjawab panggilannya.
"Mana Queen?" Tanya Brachon lagi seraya menatap Vincent dengan tajam.
"Aku rasa Queen berencana kabur. Mungkin mau menemui suaminya yang miskin itu!" Jawab Vincent asal seraya mengendikkan kedua bahunya. Tatapan Brachon pada Vincent semakin tajam dan menusuk.
"Pengawalmu sedang mencari Queen, Brach!" Ujar Vincent akhirnya dan tak ada tanggapan apapun dari Brachon. Namun ekspresi wajah Brachon sudah cukup menggambarkan kemarahan pria itu.
Vincent yang tak mau memperkeruh keadaan, langsung mengayunkan langkahnya ke arah mall untuk ikut mencari Queena. Meskipun dalam hati Vincent tak berhenti menggerutu.
"Seharusnya wanita itu memang diborgol saja di kamar dan tak dibiarkan bebas berkeliaran!"
"Merepotkan saja!!"
****
Queena mendengus kesal, saat lift yang membawa Queena beserta tiga pengawal Brachon terus bergerak turun. Lift akhirnya berhenti di lantai paling bawah, dan pengawal Brachon tadi hebdak mencekal tangan Queena. Namun kemudian Queena menyentak dengan cepat dan wanita itu keluar duluan dari lift. Tepat di depan lift, Queena hampir menabrak Vincent yang rupanya sudah menunggu dirinya.
"Sudah selesai yang kelayapan? Merepotkan saja!" Gerutu Vincent seraya mendelik pada Queena. Tentu saja sikap Vincent tersebut langsung dibalas oleh Queena dengan delikan yang tak kalah tajam. Queena lalu berjalan cepat ke arah mobil Brachon yang masih berada di depan lobi apartemen.
"Brach!" Queena membuka pintu mobil dan langsung terlihat wajah marah Brachon yang kini sedang menatap Queena dengan tajam.
"Aku hanya jalan-jalan sebentar," ujar Queena seraya mengecup singkat bibir Brachon. Dan satu gerakan spontan dari Queena tersebut, sukses membuat Brachon terkejut.
"Kau akan bergeser, atau aku harus duduk di pangkuanmu?" Tanya Queena selanjutnya yang sudah ganti mengusap paha Brachon. Sekali lagi, pria dingin nan kejam di hadapan Queena tersebut tampak terkejut.
__ADS_1
"Apa kau sedang merayuku agar aku tak menghukummu?" Tebak Brachon seraya menggeser bokongnya ke jok di sebelah. Queena akhirnya bisa masuk dan duduk di samping Brachon. Queena tertawa kecil sembari tangannya memasang sabuk pengaman.
"Aku yakin kalau kau tetap akan menghukumku nanti karena aku jalan-jalan sebentar tadi." Tukas Queena yang masih tertawa kecil.
"Kau tidak sedang jalan-jalan!" Brachon tiba-tiba sudah menunjukkan sebuah video rekaman CCTV pada Queena. Terlihat jelas di layar ponsel kalau Queena sedang celingukan mencari seseorang. Lalu setelahnya, gambar berganti menjadi Queena yang sedang berusaha untuk memeluk Barley.
"Kau sedang menemui seseorang!" Brachon menatap tajam ke arah Queena yang langsung salah tingkah.
"Aku...." Queena berpikir untuk beberapa saat.
"Aku hanya mengikuti saranmu," tukas Queena yang akhirnya menemukan alasan.
"Saran?"
"Bukankah kau yang waktu itu memberikan aku saran untuk menemui putra dan suamiku?" Ujar Queena lagi mengingatkan perihal saran Brachon tempo hari.
"Kau ingat, kan?" Imbuh Queena lagi.
"Sekarang saran itu sudah tak berlaku!" Jawab Brachon tegas.
"Jangan pernah mengusik Barley atau Mas Bagus!" Sergah Queena memotong.
"Atau keluargaku yang lain!'
"Mereka tidak ada urusan denganmu!" Mohon Queena sekali lagi pada Brachon.
"Berhentilah menemui mereka kalau begitu!" Desis Brachon tajam.
"Tapi kenapa?" Queena menuntut alasan.
"Karena aku tak menyukainya!" Jawab Brachon tegas.
"Aku tidak suka, jika kau terus-terusan menemui keluargamu!" Ulang Brachon sekali lagi.
"Memang apa yang kau takutkan? Kau takut kalau aku akhirnya berhasil meyakinkan Mas Bagus kalau aku memanglah Queena?"
__ADS_1
"Kau takut kalau aku akan kembali pada Mas Bagus, lalu meninggalkan kau dan membuatmu menjadi Brachon yang kesepian lagi?" Queena mengolok-olok Brachon yang kini menatapnya dengan tajam.
"Seorang Brachon Ley ternyata punya rasa takut-" Suara Queena seketika tercekat saat Brachon sudah mencengkeram dagu wanita itu dengan tajam.
"Berhentilah mengoceh jika kau ingin aku tak mengusik keluargamu!"
"Dan aku tak pernah takut pada apapun! Aku sudah membuat skenario terbaik tentang kecelakaan itu, lalu aku juga sudah mengubah total wajahmu! Jadi tak perlu berharap kalau Bagus akan percaya pada cerita konyolmu kalau kau adalah Queena!" Brachon balik mencemooh Queena yang kini wajahnya terlihat kesal.
"Tidak akan ada yang percaya kalau kau adalah Queena Alesha Ferdinand!"
"Queena Alesha Ferdinand sudah mati terbakar satu setengah tahun yang lalu!" Tegas Brachon sekali lagi seraya melepaskan cengkeramannya pada dagu Queena.
Queena langsung menghela nafas dan memalingkan wajahnya dari Brachon.
"Dan kita akan pulang ke mansion setelah dinner!" Ucap Brachon sekali lagi yang tentu saja langsung membuat Queena terkejut.
"Aku lebih suka tinggal di apartemenmu, Brach!" Queena memohon pada Brachon yang tak berekspresi apapun apalagi menanggapi permintaan Queena.
Queena mendengus frustasi dan wanita itu kembali membuang pandangannya ke luar jendela.
Setelah hampir dua puluh menit berjibaku dengan kemacetan, mobil yang ditumpangi Brachon dan Queena akhirnya tiba di sebuah hotel. Queena rak terlalu peduli ia dibawa Brachon ke hotel apa sekarang. Karena yang ada di pikiran Queena hanyalah bagaimana caranya Queena nanti bisa menemui Barley lagi dan Mas Bagus mungkin untuk berpamitan.
Ya....
Queena akan berpamitan terlebih dahulu pada putra dan suaminya itu sebelum Queena menjalankan misinya.
Misi untuk menghancurkan Brachon Ley!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1