
Queena memejamkan mata dan menghela nafas dengan berat, saatt dirinya merasakan dinginnya hembusan udara dari pendingin udara yang menerpa dirinya yang benar-benar sudah full naked tanpa tertutupi sehelai kainpun. Wanita itu lalu sedikit menggeliat untuk memeriksa seberapa kencang ikatan di kaki dan tangannya.
Yeah!
Pergerakan Queena sangat terbatas dan ikatan di kedua tangan serta kakinya terasa begitu ketat. Apa itu artinya Queena harus pasrah sekarang?
Queena kembali menghela nafas, saat kemudian tatapan wanita itu tertuju pada Brachon yang kini tengah menatapnya.
Atau menatap tubuh naked Queena lebih tepatnya!
Queena cepat-cepat mengalihkan dan membuang tatapannya ke arah lain. Muak tasanya jika Queena harus neradu pandang dengan pria mesum, kejam, dan psikopat itu!
Brachon masih tak berucap sepatah katapun, saat pria itu mulai melangkah perlahan untuk berpindah ke sisi lain ranjang, dengan pandangan yang masih fokus ke tubuh naked Queena.
Benar-benar membuat Queena menjadi jengah!
"Sedang memikirkan apa? Aku yang akan menyentuhmu dan memuaskanmu?" Decih Brachon dengan nada merendahkan.
"Bukan!" Sanggah Queena tegas.
"Aku hanya sedang memikirkan, kapan aku akan berhenti menatapku seperti itu!" Lanjut Queena lagu dengan nada geregetan.
"Kau mainanku, Queen!"
"Jadi aku bebas menatapmu dengan cara apapun, dan melakukan apa saja yang aku mau!" Ungkap Brachon menyombongkan kekuasaannya sekarang.
"Ya! Silahkan lakukan apapun yang kau mau!" Sergah Queena akhirnya dengan nada frustasi. Queena lalu memalingkan wajahnya kemana saja asal bukan kd arah dimana Brachon sedang berdiri.
Queena baru menghela nafas beberapa kali, saat kemudian wanita itu merasakan Brachon yang kini naik ke atas ranjang.
Baiklah, sekarang Brachon mau apa?
Kenapa pria itu melangkahkan saru kakinya untuk melompati tubuh Queena, lalu menatap licik pada Queena yang masih bertanya-tanya.
"Aku yakin kau sudah fasih melakukannya." Brachon tersenyum miring pada Queena, bersamaan dengan suara sabuk celana yang dikendorkan oleh pria itu.
Oh, ya ampun!
Queena mungkin akan muntah setelah ini!
Brachon masih berdiri di atas temoat tidur sembari melangkahi Queena dan kini posisi pria itu sudah tepat berada di atas dada Queena. Brachon membungkukkan tubuh besarnya, lalu mengulirkan tangan-tangan berjari besar itu ke depan mulut Queena.
"Kul*m!" Perintah Brachon dengan tatapan penuh intimidasi tentu saja. Queena mendelij sejenak pada pria di atasnya tersebut, sebelum akhir waniat itu membuka mulutnya, lalu melahap jemari Brachon yang mungkin ukurannya dua kali lebih besar dari milik Queena.
Queena memejamkan kedua matanya,saat merasakan jemari Brachon yang mulai menjelajah bagian dalam mulut Queena.
Sial!
Queena benci melakukan ini semua!
Queena juga tak seharusnya melakukan ini semua.
Mas Bagus.... Maaf!
"Buka kedua matamu dan tatap wajahku!" Perintah Brachon seraya menangkup wajah Queena dengan kasar.
Queena membuka mata perlahan, dan langsung melihat wajah Brachon yang kini sudah berlutut dan bertumpu pada kedua lututnya.
__ADS_1
Brachon mulai membuka celana kerja warna hitam yang ia kenakan, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sana,yang sebenarnya tak terlalu membuat Queena kaget atau berekspresi lebay.
Queena bukan remaja kemarin sore dan Q4adalah wanita dewasa yang sudah menikah hampir sepuluh tahun bersama Bagus!
"Kok sepi, Mas?" Tanya Queena saat Bagus mengajaknya mampir ke mess yang menjadi tempat tinggal sementara Bagus selama berada di kota ini. Queena dan Bagus memang basah kuyup setelah tadi dua sejoli itu nekat menerobos gerimis, karena hujan yang tak kunjung reda.
Tadinya Bagus memang berniat untuk langsung mengantar Queena ke rumah Papi Briel. Namun karena jalan menuju ke rumah Papi Briel melewati mess Bagus, akhirnya terbersit ide untuk mampir sebentar di kostan agar Queena bisa mandi seraya ganti baju, sebelum Bagus mengantar pacarnya ini pulang.
"Nggak tahu!" Bagus menjawab pertanyaan Queena seraya mengendikkan kedua bahunya.
"Mungkin lagi pada keluar," lanjut Bagus lagi.
"Yaudah, aku tunggu di luar-"
"Dingin, Queen! Baju kamu juga basah kuyup begini!" Bagus menunjuk ke palaian Queena yabg memamg basah kuyup terkena air hujan.
"Ayo masuk saja!"
"Tapi nanti kamar Mas Bagus basah!" Tolak Queena beralasan.
"Kamu mandi duluan kalau begitu! Biar pulang nggak basah-basahan!" Cetis Bagus tiba-tiba.
"Aku nggak bawa baju ganti, Mas!" Queena setengah berbisik pada Bagus.
"Pakai baju aku!" Bagus meraih tas ransel yang lumayan besar dari sudut ruangan, lalu mengambil satu kaus dan mengangsurkannya pada Queena.
"Aku mandi disini jadinya?" Tanya Queena lagi merasa ragu.
"Iya!" Jawab Bagus seraya mengangguk.
Queena tak punya pilihan lagi dan gadis itu akhirnya masuk ke kamar mandi yang menyatu dengan kamar Bagus di mess.
"Iya!" Sahut Bagus seraya tersenyum tipis. Bagus lalu menanggalkan kausnya yang basah, sekalian celana jeans-nya yang juga basah. Namun baru saja Bagus hendak mengambil celana pendek rumahannya, mendadak Queena memanggil.
"Mas Bagus!"
"Ada apa, Queen?" Tergopoh-gopoh Bagus menghampiri sang pacar.
"Hah! Kok Mas Bagus pake underwear saja?" Cicit Queena saat melihat Bagus yang memang belum sempat pakai celana tadi.
"Iya kamu teriak-teriak! Aku kira kenapa," ujar Bagus beralasan.
"Sabunnya nggak ada, Mas! Masa mandi nggak sabunan," lapor Queena akhirnya menyampaikan keluhannya pada Bagus.
"Oh!" Bagus segera berbalik, lalu mengambil satu sabun dari dalam ranselnya.
"Ini!" Bagus mengangsurkan sabun tadi pada Queena yang memang hanya membuka setengah pintu kamar mandi.
"Makasih!" Ucap Queena seraya tersenyum pada Bagus. Namun baru saja Queena masuk kembali ke kamar mandi dan menutup pintu, petir tiba-tiba menyambar keras bersamaan dengan listrik di mess yang juga mendadak padam.
"Mas!" Jerit Queena dari dalam kamar mandi.
"Queen!" Bagus refleks meraih gagang pintu kamar mandi dan langsung mendorongnya. Tak ada kunci di pintu kamar mandi memang.
"Queen!"
"Aku takut, Mas!" Keluh Queena yang sepertinya sedang berjongkok tak jauh dari pintu.
__ADS_1
Bagus masuk ke dalam kamar mandi sambil meraba-raba ke tembok, karena suasana benar-benar gelap gulita.
"Queen!"
"Aku disini, Mas!" Cicit Queena yang masih diam di tempat. Mengandalkan suara dari Queena barusan, segera Bagus menghampiri sang kekasih.
"Queen." Bagus sudah hampir dekat dengan Queena, saat tiba-tiba gadis itu sudah menghambur ke pelukan Bagus. Disaat bersamaan, Bagus merasakan sesuatu yang benar-benar di luar dugaan karena dirinya yang memang tadi belum pakai baju dan juga Queena yang masih setengah naked. Dan kini tubuhnya danntibuh Queena saling mendekap.
"Aku takut!" Cicit Queena yang masih menyembunyikan kepalanya di pelukan Bagus. Entah Queena sadar atau tidak tentang sentuhan yang kini terjadi di antara mereka berdua.
Tapi sepertinya Queena terlalu takut hingga gadis itu tak menyadarinya. Barulah, saat Bagus mengusap punggung polos Queena, gadis itu berjenggit kaget.
"Mas-" Queena baru saja akan melepaskan dekapan Bagus, saat petir kembali menyambar, bersamaan dengan hujan yang tiba-tiba turun lagi dengan lebat di luar mess.
"Nggak jadi mandi?" Tanya Bagus yang masih mengusap-usap punggung polos Queena. Bagus menelan salivanya beberapa kali, saat merasakan kulitnya yang semakin banyak bersentuhan dengan kulit Queena terutama di bagian depan.
"Enggak!" Queena menggeleng.
"Baju yang tadi aku kasih kemana?" Tanya Bagus lagi seraya menghela nafas dengan berat. Ada sesuatu yang mendadak terasa mendesak di bawah sana.
"Masih di dalam." Jawab Queena lirih.
Usapan Bagus di punggung Queena sydah turun ke bawah, saat kemudian Bagus sadar kalau Queena juga sudah menanggalkan celanaya, dan kini gadis itu hanya mengenakan underwear saja, seperti halnya Bagus.
"Bisakah kita berhenti berpelukan, Queen?" Tanya Bagus seraya menghela nafas dengan berat.
"Hujannya di luar deras sekali," Queena mengalihkan pembicaraan bersamaan dengan gadis itu yang sudah melepaskan pelukan Bagus.
Queena mundur satu langkah, saat tiba-tiba Bagus sudah kembali menghampirinya dan menangkup wajah Queena.
"Mas Bagus bisa lihat?" Tanya Queena lirih.
"Lihat apa?" Bagus menatap lekat wajah Queena di dalam kegelapan. Petir masih menyambar sesekali dari luar, bersamaan dengan suasana di dalam kamar Bagus yang mendadak jadi hening. Bagus yang tadi hanya menangkup wajah Queena, sudah ganti mencecap bibir pacarnya tersebut.
"Uhuuk! Uhuuk!" Queena terbatuk-batuk saat milik Brachon terasa menyumpal tenggorokannya.
Lamunan Queena kembali buyar bersamaan dengan umpatan Brachon karena Queena yang sudah ganti berekspresi ingin muntah
Tidak!
Queena tidak sedang berakting!
Dia memang benar-benar ingin muntah karena tersumpal milik Brachon yang tidak bisa dibilang kecil tersebut.
"Ada apa, hah? Kau tak pernah melakukan hal ini pada suamimu yang miskin itu?" Brachon menangkup kasar bibir Queena dan memaksa untuk kembali membukanya. Pria itu lalu menyumpalkan lagi miliknya ke dalam mulut Queena.
Queena yang kesal dengan makian Brachon apalagi pria itu membawa-bawa tentang Mas Bagus, langsung menggigit kuat milik Brachon hingga akhirnya pria itu menjerit dengan keras.
"Aaaarrrggghhh!"
"Dasar j*lang keparat!!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.