Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 36


__ADS_3

Indira tersenyum bahagia, melihat kedatangan Marcell dengan membawa bayinya. Ia mendekati Marcell dan mengambil bayinya. Indira menatap lekat wajah sang bayi, ternyata wajahnya persis seperti Amelia.


"Kenapa wajahnya harus mirip dengan si ****** itu? Bagaimana bisa aku mengurusnya, jika setiap melihat bayi ini akan mengingatkanku pada ibunya." Batin Indira dengan raut wajah tak senang.


Indira mencoba tersenyum dan menatap Marcell yang sedang sedih.


"Sayang, kenapa dengan wajahmu! Aku tidak senang melihatnya, kamu jangan lemah seperti itu." Tutur Indira.


Marcell tersenyum kecil. "Kamu bisa bicara seperti itu dengan mudah karena kami tidak melihat keadaan Amelia. Ia begitu histeris karena di pisahkan dengan bayinya secara paksa." Jawab Marcell.


"Ah, sudahlah! Jangan mengasihani wanita seperti itu. Wanita itu tak pantas jadi seorang ibu, coba kamu pikir ibu mana yang tega menjual rahimnya hanya karena uang." Tutur Indira yang sedang mencemooh Amelia.


Plakk...


Tamparan kecil mendarat di pipi Indira. Marcell benar-benar tak tahan dengan semua ucapnya. Ia mengambil bayinya dan membawanya pergi.


"Marcell, kemana ku mau membawa bayiku!" Teriak Indira menghentikan langkahnya.


"Ke ruang bayi, aku tak ingin bayi ini mendengar semua perkataan buruk mu. Berubah lah demi rumah tangga kita." Jawab Marcell sambil melenggang pergi.

__ADS_1


Indira nampak kesal dan mengelus pipinya yang terasa sakit. Ia tak menyangka, jika suaminya sudah termakan akan kata-kata Amelia.


"Aku tahu, kamu seperti ini karena kamu telah jatuh cinta. Bukan aku yang harus berubah, tapi dirimu." Ucapnya kesal.


Tanpa ingin ambil pusing, Indira menelpon sang mertua dan memberikan kabar baik ini. Ia tahu, jika mertuanya akan lebih menyayangi dirinya dengan kabar ini.


Tak lama, telpon di angkat. Indira tersenyum dan bahagia, dengan suara yang lemas ia berbicara.


"Ma...!"


"Iya sayang, ada apa?"


"Ma, aku sudah lahiran! Dan coba mama tebak bayinya perempuan dia cantik dan lucu."


Indira nampak heran, ada apa dengan sang mertua. Ia mencoba menelpon kembali dan handphonenya tidak aktif.


"Eeem, mungkin Baterai handphonenya habis!" Ucap Indira menenangkan pikiran.


Di tempat lain...

__ADS_1


Anita nampak panik, Ia langsung pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Amelia. Ia benar-benar kecewa dengan anak dan menantunya, yang tega memisahkan ibu dan anak.


Tak berselang lama, Anita sampai di rumah sakit. Ia bergegas menuju ruangan Amelia dan langsung masuk ke dalam. Amelia nampak tergeletak lemas dengan air mata yang masih basah di pipi.


Anita langsung memeluknya dengan erat. Amelia tak bisa bergerak, tubuhnya masih lemas karena efek dari obat penenang. Tapi air matanya terus mengalir dengan deras.


"Sayang, kamu harus sabar! Semua ini pasti akan berlalu." Ucap Anita sambil memeluknya dengan erat.


Setelah sekian lama, akhirnya efek obat berakhir. Amelia bangkit dan mencoba untuk berdiri.


"Tante, bantu aku temukan anakku!" Lirihnya.


"Kamu masih lemas dan dimana suamimu tinggal! Apakah kamu mengetahuinya?" Tanya Anita mencari alasan.


Amelia menggelengkan kepalanya dan menjatuhkan diri ke lantai. "Tante, mungkinkah ini hukuman untukku karena aku adalah seorang ibu yang gagal." Tutur Amelia.


"Semua ini bukan salahmu, hanya keadaan saja yang tidak berpihak padamu." Ucap Anita menenangkan Amelia.


"Tante...!" Ucap Amelia sambil menangis dan memeluk Anita dengan erat.

__ADS_1


Anita benar-benar tak tega melihat Amelia yang terpuruk seperti ini. Ia hanya bisa menenangkan Amelia dengan pelukannya.


"Kamu tenang saja, aku akan menjaga anakmu dan membuat Indira membayar semua ini." Batin Anita yang terguncang.


__ADS_2