
Marcell merapikan pakaiannya dan masuk kedalam. Ia memasang wajah yang datar dan menyapa Anita.
"Ma, ternyata ada tamu!
Anita menoleh dan menarik tangannya. "Marcell, ayo kemari kenalin ini namanya Amelia teman Mama!" Ucapnya pura-pura tak tahu Aher Amelia tak curiga.
Marcell tersenyum. "Aku sudah kenal, Ma! Dia partner bisnis kita yang baru." Jawab Marcell dengan lembut.
"Iya Tante, aku pikir Pak Marcell bukan anak Tante." Jawab Amelia.
Marcell duduk dan melihat Ziana yang tidur lelap di pangkuan Amelia. "Ma, Ziana kok tidur di Bu Amelia?"
"Tidak apa-apa, saya senang bersama dengan Ziana. Dia anak yang lucu dan mandiri, mungkin sifatnya menurun dari Papanya." Jawab Amelia sambil menatap ke arah Marcell.
Marcell terdiam dalam lamunan. "Sifatnya menurun dari ibunya yaitu kamu. Ziana merasa nyaman karena kamulah ibu kandungnya. Andai saja, aku bisa mendapatkan mu dan menjadi keluarga yang lengkap tanpa harus mengingat masa lalu." Batinnya yang sedih.
Anita menoleh ke arah sang anak yang sedang menatap kosong, Ia tahu apa yang dipikirkan anaknya.
"Mel, bagaimana kalau kamu jadi menantu Tante!" Ucap Anita.
Amelia dan Marcel nampak saling menatap. Ia mulai menggelengkan kepalanya. "Tidak Tante, sepertinya saya tidak cocok sama Pak Marcell!"
"Loh memangnya kenapa? Kalian kan sama-sama sendiri, dan Ziana juga sayang sama kamu. Atau mungkin kamu sudah punya pilihan hati?" Tanya Anita yang memecah keheningan.
__ADS_1
Amelia menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Belum! lagi pula saya belum kepikiran untuk menikah. Saya sedang fokus dengan pekerjaan dan mencari seseorang yang berarti dalam hidupku." Jawab Amelia.
Marcell tertegun dan menatap kecantikan Amelia. "Mungkinkah seseorang itu adalah aku, aku yakin kamu sudah mulai mencintaiku saat itu." Batinnya yang berharap.
Amelia menoleh ke arah Marcell dan terlihat pipinya mulai merah karena malu di tatap oleh Marcell.
Anita yang memperhatikan mereka sedari tadi nampak tersenyum dan Ia yakin keduanya akan bersatu.
"Ya sudah, tapi Tante sangat berharap kalian berdua akan berjodoh suatu saat nanti. Tante bahagia melihat Ziana tersenyum bahagia bersamamu." Jawab Anita.
"Ma, jangan bicara seperti itu terus. Kasihan Bu Amelia dan saya yakin di luar sana banyak lelaki yang berharap bisa meminangnya." Tutur Marcell.
"Ah pak Marcell bisa saja! Saya belum kepikiran untuk hal seperti itu. Saya ingin mendapatkan pasangan yang bisa menerima keadaan saya. Tanpa melihat status ataupun harta." Jawab Amelia.
"Hey, Tante ganggu kamu tidur yah! Maaf yah, kamu jadi kebangun karena Tante berisik." Ucap Amelia dengan lembut dan menatap Ziana.
"Tidak apa-apa Tante, lagi pula aku sudah tidur cukup lama. Oh iya Tante, tidur di pangkuan Tante lebih nyaman dari pada di ranjang empuk." Jawab Ziana.
Ziana bangun dan duduk. Ia menatap Marcell sang Papa.
"Papa sudah pulang! Oh iya, Tante ini adalah Tante bidadari yang ku ceritakan kemarin." Tuturnya.
"Pantas saja, kata-katanya benar-benar menyentuh. Ternyata Amelia adalah orangnya." Batinnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ziana Tante pulang dulu yah! Lagi pula ini sudah sore." Ucap Amelia.
Ziana nampak memonyongkan bibirnya. "Tante nginep aja disini, aku tidak mau Tante pulang." Rengek Ziana.
"Nanti Tante kesini lagi dan kamu juga bisa telpon Tante kalau kangen." Jawab Amelia dengan lembut.
Ziana mengangguk kepalanya dengan pelan. "Yah, sudah Tante hati-hati di jalan." Jawab Ziana.
Amelia tersenyum dan mencium kening Ziana. Tak lupa Ia pamit kepada Anita dan memeluknya.
"Tante aku pulang dulu!"
"Iya sayang, kami hati-hati dijalan. Marcell antarkan Amelia sampai rumahnya."
"Tidak usah Tante, saya bawa mobil!" Jawab Amelia.
"Ya sudah kalau begitu saya antar sampai depan!" Ucap Marcell menawarkan diri.
Amelia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka berjalan keluar rumah, setelah sampai di luar mereka berdua saling berjabat tangan.
"Terimakasih Pak Marcell!"
"Iya, Bu Amelia hati-hati di jalan." Jawab Marcell.
__ADS_1
Marcell menatap kepergian Amelia, ingin rasanya Ia menahan Amelia untuk tetap tinggal.