Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 59


__ADS_3

Marcell menatap Amelia dan menggenggam tangannya. "Mel, maukah kau menjadi kekasihku sekaligus pendamping hidupku." Tutur Marcell dengan tatapan penuh harapan.


Amelia masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Pertemuan mereka terlalu singkat tapi Amelia juga merasa nyaman.


Amelia tersenyum sambil mengangguk. "Iya, tapi apakah ini tidak terlalu cepat?" Tanya Amelia.


Marcell tersenyum. "Tidak...! Aku sudah mengenalmu sangat lama dan hati ini tak bisa di bendung lagi." Jawab Marcell.


Pipi Amelia nampak memerah, Marcell mengelus pipi Amelia dengan lembut. "Apakah kamu serius menerima cintaku?"


"Iya!"


Marcell sangat bahagia, hingga air matanya menetes. Ia langsung memeluk tubuh Amelia dan mencium keningnya.


"Terimakasih, karena kamu telah memberikanku kesempatan." Tutur Marcell.


Amelia begitu bahagia dan nyaman di pelukan Marcell. Ia teringat kembali kepada Dokter Farel, meskipun mereka sudah menjalin hubungan yang lama tapi Ia tidak pernah senyaman ini.


Pelukan Marcell membuat Amelia terbuai, Ia teringat kembali dengan lelaki bertopeng yang telah mencuri hatinya dan membuangnya setelah dia mendapatkannya.


Dengan seketika, Amelia langsung mendorong tubuh Marcell. "Maaf!"


"Kenapa, apa ada yang salah?"

__ADS_1


Amelia menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku merasa pelukanmu sama dengan lelaki yang telah menghancurkan hidupku." Jawab Amelia.


Marcell nampak terdiam dan tangannya gemetar. "Mungkinkah dia bisa merasakannya. Lalu aku harus bagaimana, apakah aku harus jujur kepada Amelia jika akulah lelaki brengsek itu. Tapi aku takut kehilangan Amelia untuk kedua kalinya." Batin Marcell yang saling bertentangan.


Amelia menatap Marcell yang tengah terdiam. "Pak Marcell, maaf jika aku membuatmu terluka!" Tutur Amelia.


Marcell menatap Amelia dan tersenyum. "Jangan panggil aku Pak lagi, kita sudah resmi pacaran. Dan untuk masalah itu, aku ngerti kok. Semua orang pasti punya masa lalu dan begitupun juga aku." Jawabnya.


Amelia nampak terharu dan memeluk Marcell. "Terimakasih, hatiku memang tak salah untuk memilihmu menjadi bagian dari hidupku." Ujarnya.


Marcell membalas pelukannya dan terdiam. "Aku janji, tidak akan membuatmu sakit hati untuk kedua kalinya. Akan ku kubur semua masa lalu kelam itu, semua ini kulakukan demi kebaikan kita berdua." Batinnya.


Amelia melepaskan pelukan dan pamit untuk pergi. "Saya masuk dulu yah!" Ucapnya canggung.


"Seperti apa?"


Marcell memainkan alisnya sambil memonyongkan bibirnya. Amelia yang melihatnya hanya tersenyum.


"Ah, kita kan sudah tidak muda lagi. Masa harus melakukan semua itu." Tutur Amelia.


"Tidak ada yang melarangnya kan! Lagi pula, usiaku belum terlalu tua dan masih membutuhkan semua itu." Jawab Marcell.


Amelia meninggalkan Marcell sambil melambaikan tangannya. "Lain kali saja yah!" Teriak Amelia sambil tersenyum.

__ADS_1


Marcell yang mendengarnya nampak kecewa, tapi Ia bahagia bisa mendapatkan hati Amelia. Akhirnya Marcell pergi dan melajukan mobilnya.


Amelia masuk ke dalam rumah dengan senyum yang merekah. Di ruang tamu, terlihat Dimas sang adik sedang menunggunya dengan seseorang.


"Kak!" Ucapnya.


Amelia menghampiri sambil tersenyum. "Ada a..apa sa..!" Ucap Amelia terhenti melihat Dokter Farel yang sedang duduk.


Amelia menghampiri dan duduk bersama adiknya. "Kakak dari mana saja? Ini sudah larut, dan kak Farel sudah menunggu kakak dari sore." Tutur Dimas.


"Tadi kakak pergi makan malam bersama klien dan lebih baik kamu istirahat. Ini sudah malam, ayo ke kamar." Ucapnya sambil mengelus rambut Dimas.


"Iya, aku ke kamar dulu." Jawabnya sambil melenggang pergi.


Setelah Dimas pergi, Amelia dan dokter Farel nampak diam. Dan dokter Farel menatapnya dengan penuh keheranan.


"Kamu dari mana? Apakah yakin hanya klien?" Tanya Dokter Farel dengan dingin.


"Apa maksudmu? Dan kenapa kamu seperti sedang mengintrogasi kekasihnya." Jawab Amelia ketus.


Dokter Farel nampak kesal. "Mel, memangnya apa yang salah! Seharusnya kamu lebih memilih untuk membicarakan tentang hubungan kita." Tuturnya.


"Kita! Seharusnya itu kamu bukan aku. Dan untuk hubungan, aku lebih memilih untuk bersahabat dari pada yang lainnya."

__ADS_1


__ADS_2