
Dokter Farel mengeluarkan kotak merah dari dalam saku celananya. Dan Ia menggenggam tangan Amelia.
"Mel, sekarang sudah saatnya. Tak ada perbedaan lagi di antara kita. Aku berharap kamu mau menerima lamaran ku." Tutur dokter Farel.
Amelia terdiam, Ia hanya menundukkan kepalanya. Dokter Farel mengerti dan menutup kembali kotak merah tersebut.
"Iya, aku tahu jawabannya!" Jawabnya dengan kecewa.
"Maaf, aku belum siap! Pengalaman buruk ku dengan laki-laki membuatku sedikit trauma." Tuturnya Amelia.
"Oke, gak apa-apa! Yang terpenting kamu selalu ada di sampingku." Ucap Dokter farel menenangkan.
Akhirnya Amelia bisa tersenyum kembali, Ia lebih nyaman menjadi sahabat dari pada harus menjalin kasih. Mereka nampak menekan makanan yang sudah sedari tadi bertengger di meja.
Setelah selesai, Amelia pamit untuk pergi. Ia berjalan menjauh dengan langkah pelan. Ia ingin menenangkan pikirannya dan berjalan ke taman yang tak jauh dari tempat itu.
Amelia melihat sekeliling dan bibirnya nampak tersenyum. Ia bahagia, karena setelah satu bulan ia sibuk dan akhirnya bisa menghirup udara segar.
Amelia sekarang menjadi pembisnis yang hebat. Ia membuka resort dan restoran yang tersebar hampir di setiap daerah yang strategis. Uang yang di berikan Marcell waktu itu menjadi modal untuknya. Karena Ia bertekad keras agar tidak kekurangan uang dan Ia tak ingin jika hal buruk semacam itu terjadi lagi.
Disaat Amelia tengah menikmati udara segar, terlihat seorang anak perempuan berlarian dan terjatuh. Ia nampak tegar, tapi wajahnya yang merah tidak bisa menutupinya.
Amelia menghampiri dan langsung meraih tangannya. "Ayo bangun biar Tante bantu!" Ajaknya.
Anak perempuan itu tersenyum dan bangkit sambil meraih tangan Amelia. Amelia mengajaknya duduk dan melihat lutut yang berdarah.
"Kamu terluka, biar Tante obati!" Ucapnya.
__ADS_1
"Tidak usah Tante, aku sudah terbiasa" Jawab anak itu dengan suara yang khas.
Amelia tersenyum dan mengobati lukanya. "Sekuat apa pun kamu menahannya, tapi rasa sakit ini akan berasa dan sulit untuk berjalan. Tante tahu kami merasa kesakitan." Ucapnya
"Enggak Tante, ini hanya luka kecil."
"Kami tuh lucu sekali, wajahmu sudah merah menahan rasa sakit tapi Tante sakit sana kamu."
"Salut kenapa?" Tanya anak perempuan itu.
"Kamu tidak menangis, dimana orang tuamu." Tutur Amelia.
"Aku pergi sendiri! Dan aku selalu kesini setiap aku sedih." Jawab anak itu.
Amelia tersenyum dan mengelus rambutnya. Anak perempuan itu merasa nyaman meskipun baru pertama kali bertemu. Begitu juga dengan Amelia Ia tersenyum sendiri dan melihat anak itu.
"2 tahun, 2 bulan Tante!" Jawab anak itu.
Amelia termenung, matanya mulai berkaca-kaca. "Mungkin kalau anakku ada disamping ku, dia pasti seumuran dengan anak ini." Batinnya.
Amelia menitikkan air mata, Anak itu menoleh dan langsung menghapus air mata Amelia.
"Tante, papa bilang kalau menangis itu hanya untuk orang yang lemah!" Tuturnya.
Ucap anak itu membuat Amelia tersenyum. "Sepertinya Papa mi orang yang keras! Ya menangis memang terlihat lemah, tapi setidaknya menangis bisa mengurangi beban di hati kita." Jawab Amelia.
"Benarkah...!" Tanya anak itu.
__ADS_1
"Iya, Tante juga sering menangis. Tapi ada tangisan yang wajib kamu keluarkan."
Anak itu mengerutkan keningnya. "Tangisan apa itu?"
"Tangisan kebahagiaan!" Jawab Amelia.
"Memangnya ada tangisan kebahagiaan? Seperti apa itu dan apakah air matanya berbeda!" Tanya anak itu yang tak hentinya bicara.
Amelia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Air matanya sama yang berbeda hanya rasanya. Kalau menangis sedih hati kita terasa hancur dan kalau menangis bahagia hati kita terasa berbunga-bunga." Jawabnya.
Anak perempuan itu tersenyum, Ia memeluk Amelia. "Terimakasih Tante, Oh iya boleh aku tahu namamu?" Tanyanya.
"Nana Tante Amelia!"
"Tante Amelia, tapi sepertinya nama itu tidak cocok untuk Tante." Ucap anak itu.
"Kenapa?"
"Boleh ku panggil dengan Tante bidadari?" Tanya anak itu.
"Kenapa...!" Ucap Amelia tersenyum.
"Karena Tante cantik dan telah menolongku!" Jawabnya.
"Baiklah, terserah kamu saja! Lalu siapa namamu?"
"Namaku Ziana Tante!"
__ADS_1
Amelia seketika terdiam, nama itu membuatnya teringat kembali dengan sang anak. Ia pernah berkata pada Anita, jika anak yang di lahirkan nya akan di beri nama "Ziana"