Rahim Bayaran Mr. M

Rahim Bayaran Mr. M
Bab 48


__ADS_3

Amelia terdiam, nama Anita mulai teriyang-iyang di pikirannya.


"Bu Anita, mungkinkah itu Tante Anita yang selama ini menolongku. Tapi kurasa itu tidak mungkin, dari penampilannya Tante Anita seperti wanita biasa." Batinnya menepis semua.


Dari pada Ia menunggu lama dengan sia-sia, Amelia lebih memilih sarapy bersama dengan sekertaris tersebut. Setelah mereka selesai sarapan, pelayang langsung membersihkan meja tersebut.


Amelia pamit untuk pergi ke kamar mandi. Dan dari kejauhan, terlihat seorang lelaki tampan nan gagah datang menghampiri sekertaris nya. Lelaki itu yang tak lain adalah Marcell, akhirnya dia bisa bangkit dari keterpurukannya setelah sekian lama ia terkurung dengan rasa bersalahnya.


Sekertaris tersebut nampak bangkit dari duduknya dan memberi salam dengan membungkuk kan badannya.


"Selamat pagi tuan Presdir! Saya turut senang atas kesembuhan anda!" Ucapnya dengan sopan.


"Terimakasih! Lalu dimana orang yang akan bekerja sama dengan kita." Tanyanya sambil melihat ke kanan dan kiri.


"Bu Amelia sedang pergi ke toilet!" Jawabnya.


Marcell mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari sekretaris tersebut. "Coba katakan sekali lagi, siapa nama partner kita?"

__ADS_1


"Bu Amelia! Ia adalah wanita yang sukses dan telah membuka cabang di setiap daerah dan dia juga...!" Ucap Sekertaris terhenti melihat isyarat tangan dari Marcell.


Marcell termenung. "Lucu sekali, bagaimana mungkin itu Amelia yang ku kenal. Amelia sudah meninggal 2 tahun lalu dan tidak mungkin dia bisa bangkit kembali." Batinnya.


Tap.. Tap...Tap...


Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, Marcell melihat kearah suara dan betapa terkejutnya jika wanita yang ada di hadapannya adalah Amelia.


Marcell bangkit dari duduknya dan mematung, Ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Meski Amelia sudah banyak berubah, tapi Ia masih ingat dengan wajah Amelia.


Tubuh Marcell nampak bergetar, mereka saling berjabat tangan dan saling menyapa.


"Marcell!"


Amelia nampak terdiam, sentuhan tangan itu terasa tak asing. Dan namanya juga serasa pernah mendengarnya. Tapi Amelia menepis semua pikirannya dan tersenyum.


Akhirnya mereka duduk dan tanpa pikir panjang, Amelia langsung menjelaskan restoran yang akan dia bangun. Dengan detail Ia menjelaskan dan tanpa ada keraguan.

__ADS_1


Sedangkan Marcell hanya bisa menatapnya dengan penuh perasaan yang tak menentu. Ingin rasanya dia marah kepada Amelia karena telah membuat hidupnya hancur dan telah memalsukan kematiannya. Tapi di sisi lain, Ia bahagia melihat Amelia masih hidup.


Marcell tak fokus, karena Ia benar-benar tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Amelia selesai menjelaskan dan Marcell langsung menandatangani surat kontraknya.


Amelia nampak heran tapi Ia bahagia. Akhirnya mereka mengakhiri meeting nya dan Marcel pamit untuk pergi.


Marcell masuk ke dalam mobil dengan suasana hati yang kacau. Ia tak percaya jika perkataan Amelia sebelum mereka berpisah menjadi nyata.


"Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi dan jika itu semua terjadi aku akan membuatmu merasakan rasa sakit yang kurasakan." Itulah perkataan Amelia yang selalu teriyang-iyang di telinganya.


Marcell nampak menangis dan tersenyum ketir. "Amelia kalau kau mengetahuinya, aku yakin kau akan tersenyum bahagia melihat kehancuranku. Tapi sayang, hanya aku yang mengenalmu tapi kau tidak mengenalku." Ucapnya dengan penuh luka.


Marcell kembali ke rumah, Ia langsung memeluk Mama Anita dengan erat sambil menangis.


"Ma....!"


Anita nampak panik melihat anaknya yang terlihat kacau. "Sayang kamu kenapa, apa yang terjadi?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Amelia... Amelia masih hidup."


__ADS_2