
Keesokan harinya...
Jam di dinding baru menunjukkan pukul 06 pagi. Amelia nampak sudah bersiap dan pergi tanpa sarapan. Semalam penuh, Ia tak bisa tidur karena memikirkan ucapan dokter Farel.
Akhirnya Ia melajukan mobilnya menuju rumah Marcell. Beberapa menit telah berlalu, Ia tiba dan langsung mengetuk pintu.
Anita membuka pintu dan terlihat senyumnya merekah. "Sayang, calon menantu mama sudah datang! Ayo masuk..." Ajaknya dengan bahagia.
Amelia hanya memberikan senyuman tipis, Ia mengikuti dari belakang dan terlihat Ziana menyambutnya dengan hangat.
"Tante Amelia!"
Amelia langsung memeluk Ziana dan terlihat air mata mulai menetes.
"Mungkinkah kamu ini adalah anakku, jika itu benar maafkan Mama karena baru bisa menemukanmu." Batinnya yang terlihat sedih.
Ziana melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Tante, pagi ini sepertinya berbeda. Apakah Tante sedang sakit?" Tanyanya yang menyadari sifat diam dari Amelia.
"Tante baik-baik saja! Hanya ada sedikit masalah yang membuat Tante kebingungan." Jawab Amelia sambil tersenyum.
Marcell yang baru datang, langsung tersenyum melihat tunangannya ada di rumahnya.
"Pagi sayang, apa kamu sudah rindu sama aku!" Sapanya dengan riang.
"Pagi Cell!" Jawab Amelia dingin.
__ADS_1
Marcell nampak heran dengan sikap Amelia yang seperti itu. Akhirnya, Ia memanggil Anita dan menyuruhnya untuk membawa Ziana pergi bersamanya. Marcell mengajak Amelia duduk dan membawakan secangkir teh.
"Sayang, are you oke!"
Amelia tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Marcell duduk di sampingnya dan mengecek suhu tubuh Amelia.
"Kamu demam, Sayang!" Ucapnya kaget.
"Iya, kepalaku sedikit pusing dan aku tidak bisa tidur." Jawab Amelia dengan suara pelan.
"Kamu istirahat saja, jangan kerja dulu. Kamu istirahat di kamarku yah, biar aku Carikan obat." Tuturnya dengan raut wajah khawatir.
"Tidak usah, aku tidak mau merepotkan mu!" Jawab Amelia sambil tersenyum.
Marcell masih kukuh, Ia membawa Amelia ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang.
Amelia menatap kepergian Marcell, hatinya terlihat sedih dan Ia memang sengaja merencanakan semua ini. Ia ingin mencari tahu semuanya dari kamar Marcell.
Amelia bangkit dan melihat sekeliling ruangan, Ia mencoba mencari bukti yang memberatkan Marcell. Hingga matanya tertuju pada satu arah, air matanya mulai mengalir dan tangannya gemetar.
"Topeng itu!" Ucap Amelia tak percaya.
Ia berjalan dan mendekati topeng tersebut, tangannya mencoba meraih meskipun terasa sulit. Ia meraba topeng tersebut dan ternyata memang benar. Topeng serigala inilah yang Ia cari dan hatinya seketika terasa hancur.
"Kenapa harus kamu, Cell?" Tanyanya dengan tak percaya.
__ADS_1
Sedangkan Marcell yang berjalan masuk dengan membawa kotak obat. Ia terlihat bahagia, tapi langkahnya terhenti saat melihat Amelia yang sedang memegang topeng.
"Mel...!" Sapanya dengan air mata.
Amelia tersenyum ketir dan berjalan mendekati Marcell. "Cell, kenapa harus kamu?"
Marcell menjatuhkan kotak obat dan meraih tangan Amelia. "Mel, aku bisa jelasin semuanya!" Jawabnya.
"Apa yang perlu di jelaskan? Topeng ini sudah cukup membuktikan segalanya. Aku pikir, kau adalah lelaki sempurna yang pernah kutemui tapi ternyata dugaan ku salah." Ucapnya dengan air mata yang mengalir.
"Mel, kita adalah korban dan kamu tahu betapa sakitnya hatiku saat merampas anakmu." Jawab Marcell yang tak bisa membendung air matanya.
"Kenapa kamu tidak jujur sama aku dari awal? Kenapa kamu menyakiti hatiku untuk kedua kalinya?" Teriak Amelia.
"Sayang, aku bisa jelasin semuanya!" Jawab Marcell sambil memeluk Amelia.
Amelia menolak keras dan mendorong tubuh Marcell hingga terjatuh.
"Aku benci sama kamu! Aku berharap kita tidak bertemu lagi." Teriak Amelia sambil berlari pergi.
Amelia keluar dari kamar Marcell dan Ia berpapasan dengan Anita.
"Aku pikir Tante orang baik di dunia ini, tapi ternyata dugaan ku salah Tante adalah otak dari konspirasi kehancuran ku." Teriak Amelia sambil berlari menjauh.
Anita yang melihat semua itu hanya bisa diam, Ia berjalan menuju kamar Marcell dan terlihat anaknya sedang terduduk di lantai.
__ADS_1
"Cell!"
"Aku benci sama diriku sendiri, seharusnya aku membuang topeng sialan ini." Teriak Marcell sambil menghancurkan topeng peninggalan dari Papanya.